JADILAH GURU, APAPUN PROFESIMU



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)

 

Di tengah dunia yang semakin kompleks, kemajuan suatu bangsa tidak lagi hanya ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam, tetapi oleh kualitas sumber daya manusianya. Bangsa-bangsa yang memimpin dunia adalah bangsa yang berhasil membangun budaya ilmu, menghormati para pendidik, dan menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan peradaban.

 

Di sinilah Islam menawarkan sebuah paradigma yang sangat luhur: setiap Muslim pada hakikatnya adalah seorang pendidik. Mengajar bukan monopoli profesi guru di sekolah atau dosen di perguruan tinggi, melainkan misi setiap orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan.

 

Karena itu, pesan yang relevan bagi setiap Muslim adalah: jadilah guru, apa pun profesimu. Seorang dokter mengajarkan hidup sehat kepada pasiennya. Seorang pengusaha mengajarkan etika bisnis kepada karyawannya. Seorang notaris mengajarkan kepastian hukum kepada masyarakat.

 

Seorang petani mengajarkan ketekunan dalam mengolah tanah. Seorang ayah dan ibu mendidik anak-anaknya. Bahkan seorang pelajar pun dapat menjadi guru bagi temannya melalui ilmu yang dimilikinya. Dalam Islam, setiap ilmu yang bermanfaat mengandung amanah untuk diajarkan dan diamalkan.

 

Rasulullah ï·º: Guru Terbaik Sepanjang Sejarah

 

Misi utama kerasulan Nabi Muhammad ï·º adalah misi pendidikan. Allah SWT berfirman:

"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-Jumu'ah: 2)

 

Ayat ini menunjukkan bahwa tugas Rasulullah ﷺ bukan hanya menyampaikan wahyu, tetapi juga mendidik manusia (ta'līm), menyucikan jiwa (tazkiyah), dan membangun peradaban (tamdun). Oleh sebab itu, setiap Muslim yang mengikuti sunnah beliau sejatinya mewarisi sebagian dari misi pendidikan tersebut.

 

Rasulullah ï·º sendiri menegaskan: "Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai seorang pendidik." (HR. Sunan Ibn Majah). Hadis ini memperlihatkan bahwa pendidikan merupakan inti dakwah Islam. Mengajar bukan sekadar aktivitas profesi, tetapi bagian dari ibadah dan jalan menyebarkan rahmat kepada seluruh manusia.

 

Islam tidak memisahkan antara belajar dan mengajar. Keduanya merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Rasulullah ï·º bersabda: "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim." (HR. Sunan Ibn Majah)

 

Namun kewajiban itu tidak berhenti pada memperoleh ilmu. Ilmu harus diamalkan dan disebarkan. Rasulullah ï·º bersabda: "Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat." (HR. Sahih al-Bukhari)

 

Hadis tersebut mengajarkan bahwa siapa pun yang memiliki pengetahuan memiliki tanggung jawab moral untuk membagikannya sesuai kapasitasnya. Tidak harus menjadi profesor terlebih dahulu untuk mengajar. Tidak harus menjadi ulama besar untuk berbagi ilmu. Bahkan satu ayat, satu nilai, atau satu pengalaman yang bermanfaat dapat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

 

Kemuliaan Orang Berilmu

 

Islam memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada orang yang berilmu. Allah SWT berfirman: "Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)

 

Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan, kekayaan, atau popularitas, tetapi oleh iman dan ilmu yang dimilikinya. Dalam sejarah Islam, para ulama, guru, dan ilmuwan memperoleh penghormatan tinggi karena mereka menjadi penjaga ilmu dan pembimbing masyarakat.

 

Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum al-Din menjelaskan bahwa guru memiliki kedudukan yang sangat mulia karena pekerjaannya berkaitan langsung dengan penyempurnaan akhlak dan kecerdasan manusia. Menurutnya, tidak ada pekerjaan yang lebih luhur daripada membimbing manusia menuju kebaikan.

 

Mengajar dalam Islam bukanlah sekadar pekerjaan mencari nafkah. Mengajar merupakan ibadah yang menuntut keikhlasan. Allah SWT berfirman: "Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya." (QS. Al-Bayyinah: 5)

 

Keikhlasan menjadi ruh seluruh aktivitas pendidikan. Guru yang ikhlas tidak hanya mengejar penghargaan duniawi, tetapi menjadikan setiap pelajaran yang disampaikan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Keikhlasan inilah yang melahirkan keteladanan, kesabaran, dan kasih sayang dalam mendidik.

 

Meski demikian, keikhlasan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kesejahteraan guru. Islam mengajarkan bahwa penghargaan terhadap suatu pekerjaan juga diwujudkan melalui pemberian hak yang layak.

 

Jika guru memegang amanah membangun manusia, maka negara memegang amanah membangun sistem yang memungkinkan guru menjalankan tugasnya secara optimal. Guru yang hidup dalam kesulitan ekonomi berpotensi menghadapi hambatan dalam mengembangkan kompetensi profesionalnya. Oleh karena itu, kesejahteraan guru bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi investasi strategis bagi masa depan bangsa.

 

Banyak negara yang berhasil meningkatkan kualitas pendidikannya menjadikan profesi guru sebagai profesi yang bergengsi, selektif, dan sejahtera. Kajian Organisation for Economic Co-operation and Development menunjukkan bahwa kualitas guru merupakan salah satu faktor yang paling menentukan keberhasilan sistem pendidikan.

 

Negara-negara dengan performa pendidikan tinggi umumnya memiliki kebijakan yang kuat dalam rekrutmen, pengembangan profesional, dan dukungan terhadap kesejahteraan guru (OECD, 2019).

 

Di Indonesia, amanat tersebut juga tercermin dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menegaskan bahwa guru merupakan tenaga profesional yang berhak memperoleh penghasilan yang layak, perlindungan profesi, dan kesempatan mengembangkan kompetensi. Pemenuhan hak-hak tersebut bukan sekadar bentuk penghargaan kepada individu guru, tetapi bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional.

 

Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Seluruh ruang kehidupan merupakan sekolah besar tempat manusia belajar dan mengajar. Seorang pemimpin mendidik melalui kebijakannya.

 

Seorang jurnalis mendidik melalui informasi yang akurat. Seorang hakim mendidik melalui keadilan putusannya. Seorang pedagang mendidik melalui kejujuran dalam transaksi. Seorang ilmuwan mendidik melalui penelitian yang bermanfaat.

 

Dalam perspektif Islam, seluruh profesi memiliki dimensi pendidikan apabila dijalankan dengan ilmu, akhlak, dan keteladanan. Karena itu, ukuran keberhasilan seseorang bukan hanya apa yang ia miliki, tetapi juga seberapa besar manfaat ilmu yang ia wariskan kepada orang lain.

 

Rasulullah ï·º bersabda: "Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Sahih Muslim)

 

Hadis ini menempatkan ilmu yang bermanfaat sebagai salah satu amal yang pahalanya terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia. Dengan demikian, mengajar sesungguhnya merupakan investasi akhirat yang nilainya melampaui usia manusia.

 

Menjadi Guru untuk Membangun Peradaban

 

Sejarah membuktikan bahwa kebangkitan peradaban Islam pada masa klasik tidak hanya ditopang oleh para penguasa, tetapi juga oleh ribuan guru, ulama, ilmuwan, dan cendekiawan yang membangun tradisi ilmu di masjid, madrasah, perpustakaan, dan pusat-pusat kajian.

 

Mereka mengajarkan ilmu dengan penuh dedikasi sehingga lahirlah generasi yang melahirkan berbagai inovasi dalam bidang fikih, kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, dan teknologi.

 

Pelajaran besar dari sejarah tersebut adalah bahwa kemajuan bangsa selalu dimulai dari ruang-ruang pendidikan. Ketika masyarakat menghormati guru, memuliakan ilmu, dan membangun budaya belajar sepanjang hayat, maka fondasi peradaban akan menjadi kokoh.

 

Karena itu, marilah kita menjadikan diri sebagai guru, apa pun profesi yang kita jalani. Jadikan ilmu sebagai amanah, pekerjaan sebagai ladang dakwah, dan pengabdian sebagai jalan menuju rida Allah SWT. Pada saat yang sama, negara dan masyarakat perlu terus memperkuat kualitas serta kesejahteraan para guru sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa.

 

Sebab, dari tangan para guru lahir generasi yang akan menentukan arah masa depan. Membangun guru berarti membangun manusia, dan membangun manusia berarti membangun peradaban.

 

REFERENSI

Al-Ghazali. (n.d.). Ihya' 'ulum al-din [The revival of the religious sciences]. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2019). TALIS 2018 results (Volume I): Teachers and school leaders as lifelong learners. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/1d0bc92a-en

Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Republik Indonesia. (2005). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Sekretariat Negara Republik Indonesia.

UNESCO. (1996). Learning: The treasure within. Report to UNESCO of the International Commission on Education for the Twenty-First Century (J. Delors, Chair). UNESCO Publishing.

UNESCO. (2015). Rethinking education: Towards a global common good? UNESCO Publishing.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1397/18/07/26 : 08.43 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad