Dosen Liberal - Ahmad Sastra.com

Breaking

Rabu, 22 Januari 2020

Dosen Liberal





Oleh Ahmad Sastra

Hari pertama memasuki semester 5, kampus Menara Insan masih nampak sepi. Mungkin karena hari masih pagi. Beberapa mahasiswa sudah mulai nampak memasuki gerbang kampus dengan kendaraan masing-masing, beberapa nampak berjalan kaki. Tak ketinggalan Furqon, mahasiswa jurusan sosiologi itu lebih awal sampai kampus, tidak seperti biasanya. Memasuki pintu kelas, ternyata teman-teman sekelasnya lebih awal telah duduk di kursi masing-masing.

Ada yang istimewa hari pertama semester 5 bagi anak-anak Sosiologi. Apalagi kalau bukan mata kuliah Studi Islam yang telah lama dinanti-nanti. Selain karena kelas Sosiologi jarang mendapat pembelajaran agama, dosennya juga dikenal memiliki pemikiran kritis terhadap Islam. Furqon mendapat kabar itu dari kakak kelasnya. Mata kuliah inilah yang mendorong Furqon untuk bersegera berangkat kuliah, tak mau ketinggalan dari awal.

Mobil dosen Studi Islam yang datang dari sebuah pergururuan tinggi Islam di Jakarta itu sudah nampak di lapangan parkir dekat kantor rektorat. Dosen yang biasa dipanggil Pak Har adalah lulusan sebuah perguruan tinggi di Amerika. Nama lengkapnya Suharjo. Meski pernah mengenyam belajar di pesantren, namun semua jenjang kesarjanannya hingga tingkat doktoral dijalani di Amerika dengan mengambil bidang Filsafat dan Humaniora program beasiswa. Bahkan kabarnya Pak Har pernah mengenyam jenjang postdoktoral di Perancis bidang Sosiologi Agama. Mungkin karena pernah belajar bidang Sosiologi Agama inilah, Pak Har diminta kampus Menara Insan untuk menjadi dosen tamu bidang Studi Islam.

Jam dinding kelas Furqon menunjukkan pukul 09.00 tepat. Seluruh mahasiswa nampak telah siap menerima mata kuliah yang sejak lama ditunggu. Furqon duduk di bangku paling depan dengan tujuan bisa menyimak seluruh penjelasan sang Dosen. Sebab selama belajar di Pesantren di Jawa Tengah, Furqon diajarkan oleh Ustadznya untuk selalu menyimak penjelasan guru di kelas. Tidak mengherankan jika Furqon dikenal sebagai mahasiswa teladan di jurusan Sosiologi di kampusnya.

Pintu ruang kelas perlahan terbuka. Seluruh mahasiswa terdiam. Masuklah sosok lelaki berumur sekitar 50 tahun dengan baju lengan pendek dibalut dengan celana panjang blue jean. Sepintas pak Suharjo nampak tersenyum dan langsung mengucapkan selamat pagi kepada seluruh mahasiswa. Dalam dugaan Furqon, Pak Har akan mengucapkan ucapan salam sebagai seorang muslim, namun ternyata ucapan selamat pagi yang justru meluncur dari Pak Har. Padahal dosen-dosen lain yang justru mengajar mata kuliah umum biasanya mengucapkan assalamualaikum setiap kali memulai pelajaran. Namun Furqon menahan rasa penasaran itu hingga sang dosen duduk di kursi dosen dengan meletakkan tas punggung yang nampak berat.

Sebelum rasa penasaran Furqon terjawab, Pak Har memulai pengajaran Studi Islam dengan menjelaskan bahwa pada prinsipnya agama-agama adalah sama satu sama lain karena semuanya mengajarkan kebaikan bagi manusia. Tidak ada agama yang mengajarkan kepada kejahatan. Ibarat roda, banyaknya jeruji adalah gambaran banyaknya agama-agama. Semua jeruji itu berpusat kepada satu titik yakni poros roda yang menggambarkan Tuhan.

Banyak jalan menuju kebenaran, bukan hanya satu jalan. Klaim kebenaran oleh sebuah agama dan menganggap agama lain salah adalah embrio terjadinya permusuhan dan ketidakharmonisan antar agama. Dengan demikian kalimat Syahadat dalam Islam mesti diterjemahkan menjadi tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar). Karena itulah Pak Har mengucapkan ucapan selamat pagi sebagai salam universal agama-agama. Furqon agak tertegun mendengarkan penjelasan awal yang mengalir lancar dari mulut Pak Har. Meski ada yang janggal, namun Furqon masih mencoba terus mengikuti setiap penjelasan dosen yang baru dikenal itu.

Sambil membukan tas besarnya dan mengeluarkan modul-modul, Pak Har melanjutkan penjelasannya bahwa sebagai Umat Islampun diperintahkan untuk senantiasa menegaskan bahwa semua orang, para penganut kitab suci yang berbeda-beda itu, sama-sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa, dan sama-sama pasrah kepada-Nya. Prinsip lain yang digariskan oleh Al Quran, adalah pengakuan eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas beragama dan, dengan begitu, layak memperoleh pahala dari Tuhan. Ayat-ayat surat Ali Imran ayat 19 dan 85 harus ditafsirkan dalam kerangka pluralisme, yakni Islam di dalam ayat itu, harus diartikan sebagai agama penyerahan diri. Semua agama sama.

Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar. Menurut Pak Har, tidak ada yang disebut "hukum Tuhan" dalam pengertian seperti difahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian, jual beli, pernikahan, pemerintahan dan aspek lainnya. Furqon kembali terhenyak dengan serentetan kata-kata Pak Har karena tidak berkesesuaian dengan pelajaran agama Islam yang ia dapatkan di pesantren dulu. Kali ini Furqon bermaksud bertanya maksud seluruh ucapan sang Dosen dengan mengangkat tangan. Namun oleh sang dosen nanti akan ada sesi pertanyaan khusus. Furqonpun mengurungkan niatnya.

Sambil menghitung modul-modul yang hendak dibagikan kepada mahasiswa, Pak har melanjutkan penjelasannya dengan lebih serius. Dia mengatakan bahwa seharusnya umat beragama membangun epistemologis teologi inklusif yang diawali dengan tafsiran agama sebagai sikap pasrah ke hadirat Tuhan. Kepasrahan menjadi ciri pokok semua agama yang benar. Bahkan, ungkap Pak Har, dalam Al-Qur’an, kata kafir tidak pernah didefinisikan sebagai kalangan nonmuslim.

Definisi kafir sebagai orang nonmuslim hanya terjadi di Indonesia saja. Buktinya, lanjut Pak Har memberikan agumen bahwa di masa Nabi Muhammad saw, orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak dikatakan sebagai kafir, tetapi disebut ahlul kitab. Ketiga agama itu sama-sama membawa pesan tauhid. Dalam benak Furqon tersembunyi pertanyaan besar, mengapa seorang dosen Studi Islam memiliki pemikiran yang aneh seperti itu. Apakah ini yang namanya pluralisme, batin Furqon. Belum terjawab pertanyaan dalam otaknya, sang dosen nampaknya akan membagikan modul yang sejak tadi dihitung.

Tanpa diduga sang dosen menunjuk Furqon untuk membagikan modul kuliah kepada teman-teman sekelasnya yang berjumlah 30 mahasiswa. Dengan sigap, Furqonpun membagikan seluruh modul kepada teman-teman sekelasnya sambil sesekali melihat judul modul yang dibagikan. Akhirnya Furqon bisa membaca dengan jelas judul modul dari sang dosen. Tertulis judul dengan huruf kapital, ” MODERASI AGAMA-AGAMA”. Dengan mata melotot, Furqon mencoba membaca beberapa kali judul modul tersebut dan mencoba memahami maksud judul tersebut. Tangan Furqon mulai membuka lembar pertama modul, namun sang dosen menyampaikan bahwa modul boleh dibaca setelah selesai penjelasan dosen. Akhirnya Furqon menutup kembali modul itu.

Sang dosen sambil duduk di kursi melanjutkan penjelasannya. Lelaki dari Jawa Timur itu mengangkat suara agak tinggi dengan mengatakan bahwa memahami agama yang dipeluk mesti dalam kaca mata universal sebagai sebuah ketundukan kepada Tuhan. Dengan kata lain memahami agama mesti dalam kaca mata pluralisme. Pluralisme agama adalah suatu gagasan bahwa agama-agama besar dunia merupakan persepsi dan konsepsi yang berbeda tentang, dan secara bertepatan merupakan respons yang beragam terhadap, yang real dan yang maha agung dari dalam pranata kultural manusia yang bervariasi . dan bahwa transformasi wujud manusia dari pemusatan diri menuju pemusatan kakekat terjadi secara nyata dalam setiap masing-masing pranata kultural manusia tersebut dan terjadi, sejauh yang dapat diamati, sampai pada batas yang sama.

Karena itu sang dosen mengajak kepada para mahasiswa bahwa jika konsekuen sebagai seorang Muslim merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad saw, maka adalah harus konsekuen merayakan malam Natal. Sebab Muhammad dan Isa adalah sama-sama utusan Tuhan. Karena itu penting kiranya al Qur’an ditafsirkan sejalan dengan perkembangan budaya dan realita manusia dengan pendekatan logika rasional. Sebab, Tafsir-tafsir klasik Al-Quran tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat hari ini. Perlu dilakukan upaya kontekstualisasi al Qur’an dengan metode rasional.

Tanpa memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertanya, sang dosen menjelasakan kedudukan al Qur’an hari ini dengan mengatakan bahwa Mushaf Utsmani adalah konstruk Quraisy terhadap al-Qur'an dengan mengabaikan sumber-sumber Mushaf lainnya. Pembukuan Mushaf Utsmani masih meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi teks maupun pemilihan bacaannya, yang terwarisi dalam mushaf tercetak dewasa ini. Dan penting diingat al Qur’an yang sering dibaca hari ini hanyalah sebuah tulisan dan diatas kertas. Sebab hakekat wahyu Tuhan adalah di langit bukan dalam kertas tersebut. Al Qur’an yang dibaca sekarang sama dengan buku-buku yang lain yang terdiri dari tinta dan kertas, karenanya tidak bersifat suci.

Mendengar perkataan sang dosen yang telah menyinggung al Qur’an yang selama ini disucikan, Furqon terpaksa angkat tangan bermaksud bertanya dan mengkritisi pendapat sang dosen. Namun tanpa disangka, sang dosen bukan memberikan kesempatan Furqon bertanya, justru meminjam al Qur’an yang ada di kantong baju Furqon. Dalam benak Furqon sang dosen akan membaca ayat dan menerjemahkan dengan subyektif, namun sang dosen justru menjatuhkan al Qur’an itu sekaligus menginjaknya dengan angkuh mengatakan bahwa al Qur’an itu sama dengan buku-buku lain yang tidak suci. Karena itu tidaklah berdosa menginjaknya, sebab al Qur’an sesungguhnya adalah apa yang ada di Laukhul Mahfudz.

Dengan cepat Furqon hendak mengambil al Qur’an miliknya dari kaki sang dosen. Namun sang dosen terus menginjak kitab suci itu tanpa merasa bersalah. Dengan reflek tangan Furqon menarik celana jean sang dosen dengan harapan kakinya bisa berpindah. Usaha Furqon gagal. Injakan kaki sang dosen terlalu kuat. Dengan sangat terpaksa Furqon kembali ke kursinya sambil terus berfikir bagaimana menyadarkan sang Dosen yang dianggap telah melakukan pelecehan terhadqap al Qur’an. Akhirnya dengan cepat Furqon mengangkat modul sang dosen tinggi-tinggi hingga kelihatan oleh dosen dan seluruh mahasiswa di kelas itu. Tanpa pikir panjang, Furqon melemparkan modul persis di depan sang dosen dan dengan cepat kaki kedua kaki Furqon menginjak modul sang dosen. Suasana kelas gaduh.

Dengan cepat sang dosen hendak merebut modul dari injakan kaki Furqon dengan mengatakan bahwa Furqon telah melakukan pelecehan terhadap karyanya. Tidak kalah cepat Furqon segera mengambil al Qur’an yang terlepas dari kaki sang dosen seraya mengatakan bahwa modul itu hanyalah sebuah kertas dan tulisan yang tidak ada harganya. Sebab ilmu dari modul itu hakekatnya ada di otak sang dosen sebagai penulis. Dengan nada tinggi sang dosen memprotes perkataan Furqon bahwa menginjak modul adalah sama dengan menginjak dirinya. Sebab isi modul itu dianggap mewakili dirinya.

Dengan tenang Furqon menjelaskan jika modul yang merupakan karya manusia harus dihargai, apalagi al Qur’an yang merupakan firman Allah sang Pencipta alam semesta dan seluruh manusia, tentu harus lebih dihargai, meski hanya berbentuk buku dan tulisan. Namun hakekatnya adalah mewakili firman Allah itu sendiri. Sambil memberikan modul kepada sang Dosen, Furqon terpaksa melakukan tindakan nekad itu sebagai cara untuk menghentikan agar sang dosen tidak terus menginjak al Qur’an miliknya. Kali ini sang dosen membisu seribu bahasa dan mengangguk pertanda setuju dengan logika dan argumen Furqon.

Saat diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, Furqon mengatakan bahwa Islam agama benar yang telah memancar dari kesadaran satu bangsa yang begitu bersahaja, tidak bersentuhan dengan kebudayaan lama yang manapun juga dan menduduki suatu daerah geografis tempat tiga benua bertemu bersama-sama. Peradaban baru itu telah menemukan suatu dasar kesatuan dunia dalam prinsip Tauhid. Islam sebagai suatu lembaga merupakan suatu cara praktis yang akan membuat prinsip itu sebagai faktor yang hidup dalam pikiran dan perasaan manusia. Islam menetapkan kesetiaan itu kepada Tuhan, bukan kepada mahkota. Dan selama Tuhan itu yang menjadi dasar rohaniah terakhir segala hidup, maka hakekat kesetiaan kepada Tuhan merupakan kesetiaan terhadap cita-citanya sendiri. Penghambaan kepada Tuhan bersifat kekal dalam kondisi dan perubahan apapun. Karenanya Islam mestinya menjadi dasar dan prinsip-prinsip yang abadi untuk mengatur kehidupan secara kolektif, sebab keabadian itu memberikan tempat yang aman bagi kita dalam suatu dunia dengan kondisi yang terus berubah-ubah secara terus menerus.

Namun Furqon juga menyadari bahwa umat Islam mengalami kemunduran yang terjadi hari ini yang menurutnya disebabkan oleh gerakan filsafat rasionalis yang lahir dalam pangkuan Islam dalam masa permulaan Abbasiyah, serta pertentangan-pertentangan pahit yang timbul karenanya, juga karena timbulnya kebiasaan sufi yang berangsur-angsur berkembang dibawah pengaruh pikiran yang bukan Islam, dari segi renungan semata, boleh dikatakan bertanggungjawab atas sikap ini.

Dari segi agama semata, tasawuf merupakan pemberontakan terhadap bermacam-macam dalih ahli-ahli hukum kita dahulu kala. Furqon melanjutkan bahwa puncak dari semua itu adalah jatuhnya Bagdad sebagai pusat segala kegiatan intelek muslim, yaitu pada pertengahan abad ketigabelas. Ini adalah suatu pukulan berat, dan semua ahli-ahli sejarah yang hidup pada zaman penyerbuan Tartar melukiskan Bagdad itu dengan setengah menekankan perasaan pesimismenya tentang nasib umat Islam di kemudian hari.

Sang dosen rupanya penasaran juga dengan penjelasan Furqon dan memberikan kesempatan kepada Furqon untuk melanjutkan penjelasannya. Dengan tenang Furqon mengkritik pemikiran sang dosen sebagau pemikiran “Islam produk Barat”. Sebab faktanya Barat telah menyebarkan paham-paham aneh yang dikaitkan dengan Islam. Barat yang dimaksud bukanlah letak geografis, melainkan Barat dalam makna pemikiran, ideologi dan peradaban yang sekuleristik dan liberalistik. Barat, menciptakan dua julukan bagi kaum muslimin, dua-duanya ciptaan barat.

Pertama, muslim fundamentalis atau radikalis yang harus dimusuhi bahkan diberangus karena dianggap mengancam hegemoni Barat. Kedua diberi julukan sebagai muslim moderat yang harus didukung eksistensinya karena dianggap mendukung dan menguntungkan Barat dengan memberikan kesempatan studi di Barat dan menyebarkan di negeranya masing-masing.

Furqon tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Alumnus pesantren itu melanjutkan penjelasannya dengan mengatakan bahwa semestinya seorang muslim melihat Barat dalam sudut pandang Islam yang obyektif, kritis dan syar’i. Barat sebagai ideologi sekuleristik dan imperialistik yang jelas-jelas telah merugikan sebagai besar negeri-negeri muslim. Sebab jika seorang muslim memandang Barat dari sudut pandangan Barat, maka identitas Islam sebagai peradaban dan muslim sebagai komunitas menjadi kabur. Cara pandang muslim dan sisi-sisi konseptual peradaban Islam terdistorsi oleh cara pandang ini. Selain hilangnya identitas kemusliman, cara pandang ini tidak memberikan sumbangan terhadap kemajuan Islam itu sendiri.

Karena itu, seorang muslim mesti berfikir cerdas untuk menyikapi pelabelan istilah-istilah Barat setelah kata Islam. Pelebelan dengan istilah muslim moderat atau muslim radikal dimaknai oleh Barat bahwa jika seorang muslim tidak mendukung Barat, maka akan dicap sebagai muslim radikal yang harus dimusuhi. Ironisnya, banyak kaum muslimin yang mengikuti arus ini, sehingga terjadi kondisi kaum muslimin yang saling mencurigai dan bahkan memusuhi antar sesama muslim. Pelabelan istilah Barat terhadap kata Islam adalah politik adu domba Barat yang harus disadarai oleh seluruh kaum muslimin di dunia.

Menjadi seorang muslim, lanjut Furqon, berarti menjadi manusia sesungguhnya yang memiliki pola fikir dan pola sikap yang sejalan dengan hukum-hukum Allah. Menjadi seorang muslim berarti menjadi seorang yang senantiasa menebarkan kebajikan dan mencegah setiap bentuk kezaliman. Menjadi seorang muslim berarti menjadi seorang yang senantiasa menjalin persatuan dan kesatuan seluruh kaum muslimin di dunia, tanpa terjebak kepada sekat nasionalisme, sebab Islam adalah transnasional. Dalam al Qur’an, identitas muslim sejati diindikasikan dengan keimanan, ketaqwaan dan amal sholeh.

Furqon mencoba menegaskan penjelasannya dengan nada tinggi bahwa umat Islam tak perlu menjadi moderat jika ingin ingin berbuat baik, santun dan ramah kepada seluruh manusia, meski beda agama. Sebab Islam memang mengajarkan kebaikan dan memiliki pandangan sendiri terkait sikap terhadap orang lain. Umat Islam juga tidak perlu menjadi radikal jika jika ingin bersemangat memperjuangkan Islam. sebab Islam memang harus diperjuangkan dengan cara-cara yang dicontohkan Rasulullah, yakni dakwah hingga tegaknya supremasi hukum Allah di tengah-tengah masyarakat.

Sebab istilah moderat atau radikal adalah jebakan Barat untuk memecah persatuan kaum muslimin. Yang terpenting adalah menjadi seorang muslim sejati yang kaaffah dan terus membendung virus pemikiran Barat yang merugikan kaum muslimin. Allah telah memilih kaum muslimin sebagai umat terbaik. Allah telah menurunkan kebaikan untuk seluruh manusia agar kaum muslimin menjadi saksi atas hal itu.

Sejenak suasana kelas lengang tanpa suara. Seluruh mahasiswa penasaran apa yang akan dilakukan oleh sang dosen setelah mendengarkan penjelasan Furqon. Perlahan sang dosen berdiri menghampiri Furqon dan menjabat tangannya seraya mengucapakan selamat siang sambil meninggalkan kelas. Furqon membisu.

(AhmadSastra,KotaHujan2020) ________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar