Surat dari Ibu untuk Fatih - Ahmad Sastra.com

Breaking

Sabtu, 25 Januari 2020

Surat dari Ibu untuk Fatih



Oleh : Ahmad Sastra

Fatih dilahirkan dari keluarga kaya. Ayahnya seorang saudagar sapi yang sukses. Bahkan bisa dikatakan keluarga paling kaya di desanya. Ayahnya yang berdagang sapi potong mengantarkan keluarganya memiliki ladang dan kekayaan yang melimpah. Sejak kecil Fatih telah mendapat perhatian dari sang ayah. Saat baru duduk di bangku Sekolah Dasar, Fatih telah menjadi bos bagi teman-teman sebayanya. Dengan uang yang dimiliki, ia selalu mentraktir teman-temannya.

Perjalanan hidup masa kecil Fatih diwarnai dengan kesenangan dan kebahagiaan sebagai anak-anak. Sebab disaat teman-teman sepermainan masih dalam kondisi yang tidak menguntungkan, Fatih telah mendapatkan keinginan-keinginannya. Sang ayah selalu memberikan apa yang diinginkan oleh Fatih. Ada yang istimewa dari diri Fatih, meskipun ia telah mendapatkan segalanya dalam kehidupan, namun ia tetap seorang murid yang rajin belajar sehingga selalu mendapatkan juara pertama dan atau kedua selama belajar di bangku sekolah dasar. Fatih selalu menjadi rujukan teman-temannya jika mereka menghadapi kesulitan dalam memahami pelajaran di sekolah.

Perjalanan hidup sungguh singkat. Pada suatu saat ayah Fatih yang memang sudah berusia lanjut mengalami musibah. Ayahnya jatuh dari tebing samping rumahnya. Akibatnya ayah Fatih mengalami cedera serius. Ibu Fatih berusaha memberikan pengobatan di berbagai tempat, namun sakitnya tak kunjung pulih. Telah banyak biaya dikeluarkan untuk penyembuhannya, namun kesembuhan belum juga berpihak pada ayahnya Fatih. Entah telah berapa jumlah uang yang dikeluarkan untuk kesembuhan sang ayah.

Pada akhirnya ketika Fatih menginjak bangku kelas satu SMP, ayahnya meninggalkan Fatih dan keluarganya untuk selama-lamanya. Hampir semua harta keluarga Fatih habis, kecuali hanya rumah tua dan yang berdiri di atas sebidang tanah yang tersisa. Ironisnya, kedua kakak Fatih masih duduk di bangku sekolah SMA justru berhenti sekolah tanpa alasan yang jelas dan kakak pertama hanya lulus sekolah dasar. Keluarga Fatih sepeninggal ayahnya didera kemiskinan, sebab selain harta peninggalan sang ayah habis terjual, anak-anak yang lainnya belum bisa menghasilkan uang.

Memasuki bangku SMP, Fatih dalam kondisi yang sangat kontras dibandingkan ketika masih di sekolah dasar. Alih-alih bisa menjadi ’ bos’ seperti dulu, sekedar untuk ongkos angkot menuju sekolah yang hanya 50 rupiah pun tak punya. Sang ibu tak lagi memiliki uang untuk kehidupan sehari-hari. Kondisi ini tidak mengundurkan semangat fatih untuk terus melanjutkan sekolah. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakak-kakaknya yang berhenti sekolah. Dia bertekad untuk menjadi anak yang bersekolah lebih tinggi, agar kelak bisa membantu ekonomi keluarga.

Kondisi ini memaksa Fatih berjalan kaki menuju sekolah yang jaraknya sekitar 10 kilometer. Jarak yang cukup jauh untuk anak seusia Fatih. Jalan yang naik dan turun membuat perjalanan ke sekolah semakin melelahkan. Apalagi ketika Fatih harus menahan lapar sejak berangkat sekolah, sebab di rumahnya jarang ditemukan makanan untuk sekedar sarapan pagi. Perjalanan pulang sekolah, Fatih masih dalam kondisi yang tidak berbeda, lapar, lelah dan harus berjalan kaki pulang ke rumah. Perjalanan pulang, Fatih harus menelusuri jalan mendaki menuju desanya.

Namun demikian, Fatih masih beruntung. Sebab, ketika melewati sebuah desa menuju sekolah, Fatih tak jarang diajak teman sekelasnya untuk bersama-sama berangkat dengan sepeda motor milik temannya tersebut. Sebab untuk sampai ke sekolah, Fatih harus melewati lima desa. Tawaran naik sepeda motor tidak selalu menghampiri Fatih. Fatih beruntung, kadang dia mendapat bonus uang jajan dari teman-teman SMP nya bahkan ongkos angkot 50 rupiyah, karena Fatih selalu mengajari teman-temannya yang tidak paham dengan pelajaran sekolah. Fatih punya kebiasaan meminjam buku-buku pegangan dari teman-temannya untuk dia kuasai dan menjelaskannya kembali kepada pemilik buku tersebut. Sebab Fatih tak memiliki cukup uang untuk sekedar membeli buku.

Selama satu tahun duduk di bangku kelas satu SMP hasil belajar Fatih sangat baik, sehingga dia mendapatkan juara satu. Juara telah menjadi tradisi Fatih sejak usia sekolah dasar. Hati Fatih tersentak melenyapkan rasa bahagia karena sesaat lagi akan duduk dibangku kelas dua. Pasalnya ibunya meminta Fatih untuk berhenti dari sekolah dengan alasan tak ada lagi biaya. Dengan hati yang sangat berat Fatih mengikuti anjuran ibunya. Seminggu sudah Fatih tak lagi sekolah.

Memasuki minggu kedua tiba-tiba Fatih diminta ibunya untuk kembali ke sekolah karena ibunya baru saja mendapatkan uang arisan. Bahagia campur cemas Fatih berangkat dengan langkah pasti menuju sekolah. Cemas karena khawatir ibunya tak lagi punya uang untuk bayaran bulan depan. Fatih menceritakan kondisinya kepada guru BK. Guru BK dengan penuh simpati memberikan solusi yang akhirnya Fatih mendapatkan beasiswa sampau lulus.

Fatih lulus dari SMP dengan predikat siswa terbaik. Namun kelulusan itu diiringi kecemasan, sebab Fatih belum yakin apakah dia bisa melanjutkan ke jenjang SMA atau tidak. Disaat genting guru BK di masa SMP menawarkan biaya sekolah kepada Fatih selama di SMA namun tidak memberikan uang transport kendaraan. Akhirnya ibunya tak sanggup menerima tawaran tersebut. Tanpa disangka tawaran beasiswa datang lagi. Kali ini datang dari seorang guru yang memiliki jaringan dengan sekolah di luar kota.

Fatih ditawari untuk sekolah asrama di kota Surabaya dengan beasiswa penuh, konsekuensinya Fatih harus berpisah dengan ibunya untuk sekian lama. Dengan berat hati sang ibu merelakan Fatih sekolah di luar kota. Karena keterbatasan, sang ibu hanya bisa membekali doa dan melepas dengan uraian air mata. Dengan uang di saku yang hanya 5000 rupiyah dari pamannya, Fatih berangkat ke Surabaya diantar sang guru.

Terkejut. Itulah kata pertama yang tepat untuk menggambarkan hati Fatih saat pertama kali sampai di sekolah yang dituju. Bukannya langsung sekolah, Fatih di uji mentalnya dengan membantu pekerjaan sekolah selama satu tahun, barulah tahun depan bisa sekolah. Dengan tekad baja Fatih menjalani hari-hari membantu pekerjaan sekolah. Satu tahun Fatih diberikan tugas untuk menjadi bagian kebersihan, mengumpulkan dan membuang sampah setiap hari, belanja ke pasar untuk kebutuhan makan siswa-siswa lain, mengantarkan makanan untuk guru-guru, dan menanam serta memupuk pohon-pohon.

Aktivitas yang berat itu mengakibatkan Fatih harus mengalami sakit typhus lima kali. Dorongan sang ibu dengan mengirimkan surat-surat motivatif lah yang telah menjadi energi besar bagi Fatih untuk bertahan di tanah rantau. Tekad kuat mengantarkan Fatih lulus SMA dari sekolah itu dengan nilai yang memuaskan. Meskipun saat wisuda perpisahan siswa kelas tiga SMA tak dihadiri oleh sang ibu karena tak memiliki uang untuk ke Surabaya. Usai wisuda, Fatih langsung ke kamar menumpahkan air mata rindu kehadiran sang ibu sebagaimana teman-teman yang lain yang berbahagia berfhoto bersama keluarga usai wisuda. Lebih sedih lagi saat Fatih tak bisa pulang ke kampung untuk sekedar bertemu sang ibu mengabarkan kelulusannya karena keterbatasan biaya.

Kesedihan itu terobati setelah Fatih mendapat anugerah dari Allah berupa tawaran tes beasiswa di perguruan tinggi. Dengan jumlah perserta tes yang banyak, Fatih dengan penuh kesungguhan dan keyakinan mengikuti semua jenjang tes yang ada. Dari sekian banyak peserta akan dipilih 20 peserta terbaik yang berhak mendapat beasiswa studi selama kuliah S1. Doa ibu terasa mengalir dalam aliran darah Fatih. Diapun lulus tes dan berhak untuk mendapatkan beasiswa selama 4 tahun dan tinggal di asrama kampus. Empat tahun dilalui dengan semua suka dukanya hingga tiba saat paling bahagia yaitu wisuda sarjana. Lebih bahagia lagi karena sang ibu bisa menemani wisuda. Cium peluk penuh kerinduan mewarnai pertemuan Fatih dan ibunya.

Tekad Fatih sejak kecil untuk menjadi kebanggaan keluarga dengan bersekolah tidak pernah lekang. Usai menyelesaikan jenjang kesarjanaannya, Fatih melanjutkan jenjang S2 dengan biaya bantuan dari berbagai orang yang sejak awal mendukung Fatih. Meskipun bantuan biaya itu tidak sepenuhnya. Akhirnya Fatih menambal kekurangan biaya kuliah dengan cara menulis buku. Beberapa buku diterbitkan oleh penerbit dengan royalti yang mencukupi hingga jenjang S2 pun diselesaikan Fatih dengan baik.

Tidak sia-sia ibunya memberi nama Fatih yang artinya sang penakluk. Usai jenjang masternya diselesaikan kurang dari dua tahun. Fatih kembali mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sebuah seleksi beasiswa jenjang doktoral. Tatangan ini sangat berat, sebab Fatih harus bersaing dengan peserta seluruh Indonesia yang kebanyakan lulusan luar negeri. Allah kembali mengabulkan doa sang ibu. Fatih lulus seleksi dan menjadi peserta beasiswa S3 dengan duapuluh peserta yang lain.

Kini Fatih telah menjadi seorang dosen di beberapa perguruan tinggi di kota hujan. Setiap tahun Fatih pulang kampung untuk mencium dan memeluk sang ibu, wanita tegar yang selama ini mendampingi setiap langkah Fatih dengan doa-doanya. “ Terima kasih ya Allah, terima kasih ibu. Guratan wajahmu menyiratkan semangat hidup dan ketulusan. Aku berjanji akan terus mewarisi semangatmu dengan mengguratkan sejarah hidup. Aku akan terus menaklukkan mimpi-mimpi hingga ujung senja kelak. Izinkan ya Allah, aku ingin disaksikan ibu disaat mimpi yang kini belum tercapai bisa saya taklukkan. Ya Allah berikanlah usia yang panjang untuknya. Sebab aku ingin terus mencium kakinya di saat rindu ini menerpa ini”, doa Fatih di suatu malam sunyi. Desiran angin malam menelusup memasuki telinga membisikkan pesan sang ibu. “ taklukkan terus mimpi-mimpimu nak, doa ibu di nadimu”

(AhmadSastra,KotaHujan,2020)

_________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar