MENABUR KASIH SAYANG - Ahmad Sastra.com

Breaking

Sabtu, 28 Maret 2020

MENABUR KASIH SAYANG



Oleh : Ahmad Sastra

Ketika pemerintah memilih untuk tidak melakukan lock down, maka orang-orang miskin yang mestinya melakukan social distancing dan stay at home sebagai upaya memutus penularan wabah tidak bisa terwujud. Sebab orang miskin tidak mendapat jaminan dari pemerintah, maka mereka akan terus beraktivitas keluar rumah agar dapur tetap ngebul.

Meski kebijakan pemerintah sangat mengecewakan, namun kita sebagai seorang muslim tidak juga boleh berdiam diri. Selama kita punya kemampuan, maka sudah selayaknya membantu saudara-saudara yang tidak mampu. Saatnya kita menabur kasih sayang, sebagaimana Allah yang memiliki kasih sayang yang luas kepada semua manusia.

Hal ini sejalan dengan hadist : Sahal bin Said ra, bertutur bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : ‘ Demi Zat Yang jiwaku berada di tanganNya, andai dunia ini dimata Allah hanya seharga sayap seekor nyamuk, niscaya tidak seorang kafripun akan diberikan minum barang seteguk pun dari air di dunia ini’ (Dinukil oleh Ibnu Abi Dunya’ dalam Kitab Az Zuhd,1 / 2).

Inilah gambaran betapa harga dunia ini sangat murah di hadapan Allah dibandingkan kenikmatan kelak di surga. Karena sangat murah, maka Allah dengan samudera kasih sayangnya memberikan orang-orang yang membangkang diriNya tetap bisa menikmatinya sepuasnya. Sebab mereka tidak akan bisa mendapatkan kenikmatan surga.

Hadis ini juga bisa memberikan pelajaran kita kita sebagai seorang muslim dan mukmin agar tidak tenggelam dalam penyakit al wahn. Sebab cinta dunia dan takut mati akan menggelapkan hati dan pikiran sehingga bisa melalaikan Allah dan diperbudak oleh dunia.

Dunia sesunggunya hanyalah media untuk memperbanyak ibadah dan amal sholih sebagai bekal kehidupan kekal di akherat. Kenikmatan dunia seperti harta dan tahta bisa bisa menjadi malapetaka jika salah niat. Sebaliknya keduanya bisa menjadi media untuk menabung amal sholih.

Menjadi seorang muslim adalah menjadi orang yang selalu memberikan manfaat dan kebaikan kepada kehidupan di sekitarnya. Berbuat baik itu tidak mengenal siapa obyeknya, apakah ras, suku dan bahkan agama sekalipun. Bahkan Islam mengajarkan agar umatnya menyayangi binatang, tidak boleh berbuat aniaya.

Rasulullah adalah manusia sempurna yang menjadi teladan bagi kehidupan seorang muslim. Rasulullah diutus Allah untuk menebarkan rahmat bagi alam semesta. Dengan perantara kasih sayang Rasulullah kepada manusia telah menjadi wasilah hidayah kepada mereka yang sebelumnya menjadi pembangkang Allah dan RasulNya.

Dalam masa-masa kritis akibat merebaknya wabah coronavirus seperti yang tengah melanda negeri-negeri di belahan dunia awal 2020 ini, umat Islam harus meningkatkan keimanan dan kemanusiaan. Muslim adalah yang senantiasa peduli kepada nasib saudaranya yang kurang beruntung. Berbuat baiklah selama pandemi coronavirus ini.

Selain bertobat, membantu semampunya, maka musibah mengingatkan manusia agar kembali ke jalan Allah, jangan pernah mendustakan agama ini. Para pemimpin yang di pundaknya diberikan amanah mengurus rakyat juga harus serius memperhatikan keselamatan nyawa rakyatnya. Jangan sampai mengabaikan keselamatan nyawa rakyat, meski hanya satu orang.

Secara syariat, manusia harus berusaha sekuat tenaga untuk bisa menghilangkan wabah penyakit, sementara secara hakekat, manusia harus yakin bahwa segala musibah hanya bisa dihilangkan oleh Allah SWT. Setelah berusaha, berdoa, maka seorang muslim harus bertawakal kepadaNya dengan berharap kepada Allah agar segera menghilangkan segala macam musibah dan wabah penyakit.

Dalam suasana karantina wilayah, social distancing dan stay at home, maka tidak semua keluarga memiliki kemampuan finansial yang memadai. Disinilah saatnya kita ikut memperhatikan kondisi sesama saudara dengan memberikan bantuan semampunya. Meskipun pemerintahlah yang paling bertanggungjawab atas kondisi rakyatnya. Namun inilah kesempatan kita berlomba dalam kebaikan dengan memperbanyak sedekah.

Ingatlah akan hadist : “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”. [HR Muslim: 2699, at-Turmudziy: 1930, 1425, 2945, Abu Dawud: 4946, Ibnu Majah: 225 dan Ahmad: II/ 252, 296, 500, 514. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy Shahih]. Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Pemberian pertolongan seorang hamba terhadap saudaranya itu dapat menyebabkan pertolongan Allah kepada hamba tersebut”.

(AhmadSastra,KotaHujan,28/03/20 : 09.50 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar