STAY AT HOME, MENULISLAH SATU BUKU - Ahmad Sastra.com

Breaking

Senin, 23 Maret 2020

STAY AT HOME, MENULISLAH SATU BUKU



Oleh : Ahmad Sastra

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (pena), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS Al ‘Alaq : 1-5).

Stay at home adalah salah satu langkah baik untuk menghindari dan mencegah penyebaran coronavirus yang makin mengganas ini. Tahun 2020 adalah sejarah bagi Indonesia dan dunia atas mewabahnya virus corona ini. Namun, sebagai seorang muslim, tidak boleh putus asa, harus menjalankan syariat dan hakekat sekaligus. Syariatnya adalah selalu ikhtiar berdasarkan hukum kausalitas misalnya lockdown, social distancing dan stay at home.

Sementara pendekatan hakekat adalah keyakinan penuh bahwa segala musibah yang menimpa manusia adalah atas kehendak Allah semata, maka Allah pulalah yang mampu menghilangkannya jika berkehendak. Mati dan hidup adalah dalam geneggaman Allah semata, jika ajal tiba, maka manusia tak mungkin memajukan atau mengakhirkan. Disinilah pentingnya pemerintah memiliki spiritualitas sebagai basis pertimbangan kebijakan.

Nah selama stay at home, seorang muslim bisa memanfaatkan dengan berbagai aktivitas positif. Jika biasanya jam 06.00 sudah berangkat ke kantor dan pulang sehabis Isya, kini semua waktu dihabiskan di rumah. Selain untuk menemani anak-anak belajar di rumah, kita juga bisa memanfaatkan stay at home untuk menulis buku. Kita harus punya semangat untuk menulis, meskipun hanya satu buku, sebelum ajal menjemput. Tulisan ini akan sedikit mengulas soal menulis buku.

Budaya membaca dan menulis mestinya menjadi kebiasaan setiap individu muslim. Seorang muslim, oleh Allah disebut sebagai umat terbaik, diantaranya karena memiliki iman, ilmu dan amal. Sebab ilmu digali dari aktivitas membaca dan ilmu dirawat dan ditumbuhkan melalui aktivitas menulis. Dari setiap individu yang berbudaya literasi akan menjadi keluarga berbudaya literasi, hingga masyarakat dan bangsa berbudaya literasi.

Sebenarnya setiap individu tidak asing dengan dunia literasi, bukankah hampir setiap hari membaca WA dan juga menulisnya. Terlebih yang telah menjadi sarjana, pernah menulis skripsi. Hanya saja, perlu diakui juga bahwa skripsi mampu diselesaikan karena dorongan pragmatis yakni sebagai syarat kesarjanaan. Tidak benar-benar lahir dari dorongan untuk menjadi penulis. Sebab budaya literasi lahir dari sebuah kesadaran untuk berkarya dan menginspirasi.

Aspek pertama untuk membudayakan menulis adalah memiliki bahan yang bisa diolah menjadi tulisan. Bahan itu adalah informasi, ilmu dan atau pengalaman. Ilmu pengetahuan adalah modal utama dalam menulis. Ilmu lahir dari proses berfikir dan belajar dengan menggunakan panca indera, otak dan pengetahuan dalam memaknai realitas.

Hal kedua untuk melahirkan tulisan adalah antusias dan perasaan bergembira saat menulis, jangan ada beban sedikitpun. Menulis mestinya harus seperti sedang menangguk emas. Menulis harus dilakukan dengan ringan dan mengalir, tidak ada beban, tidak ada tekanan.

Namun bila menulis masih terasa berat meski telah memiliki bahan, berarti belum menganggap menulis sebagai sesuatu yang berharga seperti emas. Bila demikian, harus tetap menulis, jangan berhenti. Tenang saja karena merasa berat dalam memulai segala hal adalah biasa. Tetapkan tujuan dan target menulis sebagai energinya.

Untuk menghasilkan tulisan berkualitas memang tidak mudah, tapi bisa diupayakan. Akan ada banyak pain (kesakitan) dalam proses menulis, akan ada banyak masalah sepanjang jalan menuju tambang emas itu (gain). Memang demikianlah aturan mainnya. Dan untuk itu, setiap individu harus bekerja keras untuk mengusahakan sesuatu yang sangat diinginkan.

Jika semua lancar-lancar saja, jika semuanya mudah-mudah saja seperti semudah membalikkan telapak tangan, maka impiannya mungkin terlalu kecil, atau sesuatu itu tidak layak diimpikan. Impian besar, biasanya, kesakitan atau tantangannya juga besar. Penulis besar lahir dari tantangan yang besar pula.

Bila telah memiliki knowledge, menulislah dengan senang hati, dan saat menghadapi banyak masalah, berhentilah sejenak, lalu teruslah lanjutkan berusaha dan jangan mudah menyerah. Sebenarnya, dengan melakukan tiga hal di atas : mau belajar, bekerja dengan senang hati, bekerja keras, berarti sudah dekat dengan puncak kesuksesan.

Dengan tiga hal tadi berarti sudah berada di track yang benar. Pensil, pena, keyboard komputer adalah saksinya. Kursi, meja, lantai dan dinding kamar telah melihat usaha itu. Keluarga, teman, tetangga juga tahu bahwa kita telah melakukan hal yang benar. Lebih-lebih Allah sang Pencipta diri kita.

Bagi yang ingin menjadi penulis, percayalah bahwa segalanya adalah mungkin bagi orang yang sungguh-sungguh. Segalanya akan terjadi bila Anda telah menulis dengan segenap jiwa, dengan seluruh raga, dengan semua doa. Apalagi sudah banyak orang yang sukses dalam menulis. Anda harus lebih yakin lagi bahwa Anda pun bisa seperti mereka.

Bila sudah ada satu, dua, tiga orang telah berhasil menangguk emas, maka hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil bagi orang keempat, kelima, keenam untuk melakukan hal yang sama. Maka mulailah menulis, jadilah inspirasi bagi keluarga dan tetangga untuk mengikuti jejak Anda.

Hal penting lainnya untuk menjadi seorang penulis adalah segera mengambil keputusan. Mengambil keputusan dalam hidup pasti ada konsekuensi dan resiko, namun tidak mengambil keputusan dalam hidup akan lebih beresiko. Seorang penulis dimulai saat dia mengambil keputusan untuk menjadi penulis. Selebihnya adalah komitmen dengan keputusannya dengan banyak membaca dan latihan menulis.

Baca tulis (literasi) merupakan kegiatan yang menjadikan penulis sebagai pembaca dan pembaca sebagai penulis (Goodman 1987, Tierney 1983, Tompskin dan Hoskisson 1995). Penulis sebagai pembaca artinya saat menulis, ia membaca tulisannya serta mencari referensi bacaan untuk mendapatkan ide dan informasi. Pembaca sebagai penulis artinya saat membaca, ia melakukan aktivitas seperti yang dilakukan penulis (menemukan topik, tujuan, pemecahan masalah, rekonstruksi bacaan, editing dan kaitan antargagasan).

Bercermin dari sejarah, maka kita akan dapati para ilmuwan muslim adalah mereka yang telah melek literasi Islam yang fokus kepada tradisi membaca, menulis dan riset. Mereka adalah generasi ulil albab yang mempelopori kejayaan peradaban Islam. Selain kokoh di bidang aqidah, luas di bidang syariah, mereka juga adalah orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah.

Sebut saja di bidang matematika kita mengenal Al Khawarizmi, Abu Kamil Suja', Al Khazin, Abu Al Banna, Abu Mansur Al Bagdadi, Al Khuyandi, Hajjaj bin Yusuf dan Al Kasaladi. Di bidang Fisika kita mengenal Ibnu Al Haytsam, Quthb Al Din Al Syirazi, Al Farisi dan Prof. Dr Abdus Salam. Dalam bidang kimia ada Jabir bin Hayyan, Izzudin Al Jaldaki, dan Abul Qosim Al Majriti. Dalam bidang biologi ada Ad Damiri, Al Jahiz, Ibnu Wafid, Abu Khayr, dan Rasyidudin Al Syuwari.

Dalam bidang kedokteran ada Ibn Sina, Zakariyya Ar Razi, Ibnu Masawayh, Ibnu Jazla, Al Halabi, Ibnu Hubal dan masih banyak lagi. Dalam bidang astronomi kita mengenal Al Farghani, Al Battani, Ibnu Rusta Ibnu Irak, Abdul rahman As Sufi, Al Biruni dan tokoh ilmuwan muslim lainnya. Dalam bidang geografi kita mengenal Ibnu Majid, Al Idrisi, Abu Fida', Al Balkhi, dan Yaqut al Hamawi. Dan dalam bidang sejarah kita mengenal Ibnu Khaldun, Ibnu Bathutah, Al Mas'udi, At Thabari, Al Maqrisi dan Ibnu Jubair.

George Sarton, seorang ahli sejarah ilmu pengetahuan dari Universitas Harvard dalam bukunya Introduction on The History of Science bahwa buku –buku berbahasa Arab menjadi rujkan utama kemajuan manusia para abad 8 hingga 11. Robert Stephen Briffault menulis dalam bukunya Making of Humanity mengakui bahwa kemajuan ilmu di Eropa adalah berkat jasa bangsa Arab.

Rom Landau menulis dalam bukunya The Arab Heritage of Western Civilization mengakui bahwa para ahli ilmu pasti dan perbintangan Barat seperti Keppler, Copernicus, Galileo dan Newton tak akan pernah mampu jika tidak dirintis oleh para ilmuwan muslim sebelumnya. Carra De Vaux mengatakan bahwa umat Islam telah mengajarkan Barat ilmu hitung yang belum pernah diketahui oleh para ilmuwan Yunani sekalipun.

Max Mayerhof mengatakan bahwa kedokteran Islam dan ilmu pengetahuan yang lain telah menyinari Helenisme hingga Eropa mengalami Renaissance “ Oleh karena itu Islam harus tetap bersama kita” ungkap Max. John William Droper, guru besar Universitas New York dalam bukunya History of The Conflict Between Religion and Science (1876) mengatakan bahwa jasa besar umat Islam dalam pengembangan ilmu pengetahuan adalah karena mereka melakukan pengamatan dan percobaan ala Iskandariyah bukan metode perenungan ala Athena.

Beberapa langkah teknis berikut bisa dijadikan pertimbangan sebelum menulis. Pertama, Temukan sebuah ide. Sebelum mulai menulis, dibutuhkan ide dan gagasan. Ide adalah benih untuk karya tulis. Tapi, menemukan sebuah konsep bisa terasa sulit. Ide-ide biasanya berdatangan saat ada keterbukaan untuk mengalami banyak hal. Ya, cara terbaik untuk menemukan ide adalah pergi keluar rumah dan beraktivitas.

Kedua, lakukan riset mengenai konsep. Begitu Anda menemukan konsep yang masih samar, mulailah menelitinya agar Anda memperoleh lebih banyak ide. Ketiga, kembangkan konsep. Setelah menemukan ide-ide yang bisa dicantumkan dalam cerita, Buatlah konsep jadi makin kompleks. Kembangkan konsep itu hingga berakhir dengan kesimpulan logis. Pikirkan apa yang akan terjadi akibat serangkaian peristiwa, atau apa pun yang menjadikan ide-ide itu lebih kompleks.

Keempat, pertimbangkan pembaca. Ketika menemukan dan mengembangkan konsep, Anda perlu mempertimbangkan pembaca Anda. Untuk siapa Anda tulisan itu ditujukan. Beda orang, beda pula minat baca dan temanya.

Penting juga untuk memilih metode penulisan. Bagaimana cara Anda menulis karya tulis? Seiring perkembangan teknologi, tentunya pilihan makin banyak. Anda perlu memutuskan, metode apa yang paling cocok untuk Anda. Tentukan tempat untuk menulis. Anda butuh ruangan yang cukup lega, di mana Anda bisa menulis tanpa gangguan. Tempat itu harus bisa mengakomodir metode penulisan yang Anda pilih, cukup nyaman, dan tidak disertai banyak gangguan.

Misalnya, kafe, kantor, atau perpustakaan. Sediakan kenyamanan. Anda harus pastikan bahwa Anda takkan terganggu saat menulis. Karenanya, siapkan terlebih dulu segala yang Anda butuhkan. Beberapa orang punya kebiasaan tertentu, yang harus siap tersedia saat mereka menulis, misalnya makanan favorit atau duduk di kursi tertentu. Pastikan kebutuhan unik Anda terpenuhi sebelum Anda mulai menulis.

Selain beberapa langkah teknis diatas, untuk menjadi seorang penulis, maka kita harus memiliki master mind. Master mind adalah sekumpulan orang yang memiliki hobi yang sama. Ingin menjadi penulis, maka bergabunglah dengan komunitas-komunitas penulis. Salah satu contoh komunitas penulis di Indonesia adalah Forum Lingkar Pena yang digagas oleh novelis Helvy Tiana Rosa. Selain itu harus rajin mendatangi sumber-sumber pustaka, seperti perpustakaan, toko buku, pameran buku dan internet jika perlu.

Selain itu menjadi seorang penulis juga bisa dimulai dengan aktivitas copy the master. Copy the master adalah membaca buku-buku dari penulis yang kita kagumi. Dengan aktivitas ini, secara tidak sadar kita telah belajar menulis dengan meniru model dan gaya penulisannya. Copy the master bisa dimulai dengan cara menulis resensi buku yang kita baca. Terakhir, penulis hebat sekalipun pasti memiliki guru. Karena itu carilah guru ahli untuk bisa mengajarkan teknik menulis. Belajar apapun sebaiknya dipandu oleh seorang guru yang memiliki keahlian dibidangnya. Begitupun menulis.

Ada pepatah yang mengatakan, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, sementara manusia mati meninggalkan karya. Maka berkaryalah untuk menjadi inspirasi bagi orang lain. Menulislah minimal satu buku, sebelum ajal menjemput kita. Manfaatkan stay at home dengan aktivitas positif, produktif dan kontributif. Meski hanya satu buku seumur hidup, namun jika memiliki manfaat bagi orang lain, maka pahala jariyahnya akan mengalir hingga liang kubur dan akherat.

[AhmadSastra,KotaHujan,23/03/20 : 07.00 WIB)

Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar