APAKAH KONSER CORONA BULAN RAMADHAN SEBAGAI REPRESENTASI PENGAMALAN PANCASILA ? - Ahmad Sastra.com

Breaking

Rabu, 20 Mei 2020

APAKAH KONSER CORONA BULAN RAMADHAN SEBAGAI REPRESENTASI PENGAMALAN PANCASILA ?



Oleh : Ahmad Sastra

Konser korona yang digagas oleh lembaga representasi tertinggi pemahaman dan pengamalan pancasila di Indonesia, yakni MPR dan BPIP menuai polemik. Betapa tidak, sebab konser itu justru dilakukan disaat umat Islam sedang khusu’ melaksanakan ibadah puasa. Bahkan konser juga diadakan disaat pelaksanaan kebijakan PSBB di tengah pandemi wabah corona. Permintaan maaf ketua MPR karena merasa bersalah melanggar protokol PSBB dianggap angin lalu oleh rakyat.

Ada pertanyaan fundamental, apakah konser corona di bulan Ramadhan merupakan ajaran pancasila yang karenanya menjadi pendidikan dan teladan bagi rakyat ?. Atau malah justru sebaliknya bahwa konser itu justru menciderai kesucian bulan Ramadhan sekaligus bentuk intoleransi ?. Apakah konser corona di bulan Ramadhan itu murni karena pemahaman, penghayatan dan pengamalan Pancasila atau ada misi lain ?.

Padahal sebelumnya BPIP melalui ketuanya beberapa waktu yang lalu juga menuai kontroversi yang tajam akibat ungkapannya yang mengatakan bahwa agama adalah musuh terbesar Pancasila. Meskipun sudah diklarifikasi, namun malah menambah polemik hingga berujung tuntutan rakyat agar BPIP dibubarkan. Sebab sebagai sebuah nilai filosofis, maka pemaknaan pancasila tidak mungkin dibatasi oleh segelintir orang.

Sebagai pengajar mata kuliah filsafat, penulis akan mencoba mengkaji apakah konsep corona di bulan Ramadhan adalah representasi sila persila pancasila atau justru sebaliknya sebagai bagian dari kesalahan memahami makna pancasila. Sebab jika sampai MPR dan BPIP salah memahami nilai pancasila, maka apa yang bisa diharapkan dari lembaga ini.

Terkait konser corona bulan Ramadhan, jika dilihat dari esensi nilai-nilai Pancasila, maka wajar jika rakyat kemudian memberikan kritik. Sebab rakyat adalah mareka yang diurus oleh pemerintah. Tidak ada yang salah jika rakyat menuntut agar pemerintah menjaga dan menghargai agama-agama.

Mestinya disaat umat muslim, umat mayoritas negeri ini sedang khusu’ beribadah, pemerintah justru ikut khusu’ menghargainya. Lihatlah disaat ada peringatan nyepi di Bali, bukankah semua umat beragama lain juga diminta menghargainya. Padahal sila pertama pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa yang sangat erat dengan agama. Secara esensi, konser corona bulan Ramadhan adalah bentuk intolerasi dan blasphemy.

Adalah wajar juga jika rakyat menuntut pemerintah agar mewujudkan kehidupan yang adil berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab menuntut pemerintah tidak diskriminasi kepada seluruh rakyat Indonesia yang beragam agama ini. Jika umat lain dihargai oleh negara saat menjalankan ajaran agamanya, maka begitupun mestinya kepada umat Islam, itulah keadilan. Keadilan sangat dengan dengan ketaqwaan, maka adil itu beradab. Sebaliknya ketidakadilan sangat identik dengan perilaku tidak beradab.

Wajar jika perasaan kaum muslim begitu terluka saat pemerintah atas nama pancasila mengadakan konser di tengah pandemi dan bulan suci. Apalagi saat protokol covid-19 tak diindahkan oleh para pengunjung konser, sementara disatu sisi rakyat diminta untuk taat kebijakan PSBB, maka inilah yang disebut ketidakadilan karena inkonsistensi. Sementara Habib Bahar justru ditangkap lagi sehari setelah bebas karena delik pelanggaran PSBB, mestinya malu pemerintah dengan semua ini, jika pakai akal sehat.

Ada juga paradoks, disaat pemerintah mengadakan konser yang melanggar protocol covid-19, pasar dan mall dibuka, namun disisi lain sholat jamaah justru dilarang, bahkan sholat idul fitri juga tidak diizinkan. Keputusan ini menambah deretan ketidakadilan pemerintah kepada umat Islam.

Memang masa pandemi ini tidak boleh disepelekan, jika dilarang berkumpul, maka mestinya diberlakukan secara umum, tidak diskriminatif. Jika alasannya pasar dibuka dengan protocol ketat, maka mestinya itu juga berlaku untuk sholat jamaah, dimana yang sholat jamaah yang dipastikan yang sehat.

Penulis beradai-andai, jika pembukaan kembali fasilitas umum di tengah pandemi yang belum berakhir diniatkan untuk herd immunity karena negara mulai kewalahan atas kondisi ekonomi, maka inilah kezaliman penguasa kepada rakyatnya. Ketidakadilan disebut kezaliman. Contohlah Umar Bin Khattab yang justru sangat memperhatikan nyawa rakyatnya.

Dalam ajaran Islam, salah satu ikhtiar menghadapi pandemi wabah adalah lock down, stay at home dan social distancing, bukan malah menyepelekan dan melawan dengan cara membiarkan masyarakat berinteraksi tanpa batas. Mestinya dalam situasi yang tidak menentu ini, umat Islam tetap tinggal di rumah. Sementara sholat di masjid berjamaah harus dengan protokol yang ketat, jika tak ada jaminan, maka sholat di rumah pun tak apa.

Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mestinya selalu menjadi visi utama setiap rezim berkuasa. Bangsa Indonesia adalah bangsa religius yang selalu menjadikan keyakinan agama sebagai visi hidup dan matinya. Oleh karenanya, nilai-nilai agama mestinya menjadi spirit bagi ketatalaksanaan negara ini.

Adalah paradoks jika mengaku sebagai negara Pancasila disatu sisi, namun mengabaikan hukum agama disisi lain. Adalah paradoks mewujudkan sila kelima jika yang diterapkan justru sistem ekonomi kapitalisme yang materialistik. Kapitalisme adalah sistem ekonomi yang tidak berorientasi kepada keadilan sosial, tapi berorientasi kepada materialisme.

Islam adalah agama sempurna yang mengajarkan tentang nilai-nilai kebaikan bagi kehidupan manusia seluruhnya. Beberapa kata dalam Pancasila seperti adil, beradab, musyawarah, rakyat, perwakilan dan hikmah justru berasal dari terminologi Islam. Keadilan dalam Islam adalah bersifat universal, karenanya bukan hanya manusia Pancasila yang akan merasakan rahmat, namun seluruh manusia dan alam semesta.

Ketaatan kepada hukum dan aturan agama justru akan mendatangkan keberkahan dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Sementara mengingkarinya justru akan mendatangkan kesempitan hidup bagi rakyat semuanya. Manusia Pancasila adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Pencipta manusia dan alam semesta.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS Al ‘Ashr : 1-3)

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS Az Zariyat : 56). Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al An’am : 162) Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". (QS Thaha : 124).

Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadaNya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (QS Ali Imran : 102). Manusia pancasila mestinya adalah manusia yang beragama dan bertuhan. Menghadapi musibah pandemi corona, seharusnya sebagai manusia beragama adalah dengan bersabar, bertawakkal, ridho, ikhtiar, bertobat dan berdoa. Kenapa harus bertobat, sebab musibah dihadirkan Allah bisa jadi sebagai teguran atas dosa-dosa yang telah dilakukan bangsa ini.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar Ruum : 41)

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A’raf : 96).

(AhmadSastra,KotaHujan,20/05/20 : 03.00 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar