KONTEMPLASI KOLEKTIF - Ahmad Sastra.com

Breaking

Selasa, 05 Mei 2020

KONTEMPLASI KOLEKTIF



Oleh : Ahmad Sastra

Ramadhan 2020 begitu istimewa bagi manusia seluruh dunia, bahkan bisa jadi peristiwa yang hanya sekali dialami sepanjang hidup. Pandemi virus corona menyebar di hampir negara seluruh dunia ini ikut mewarnai hadirnya bulan suci Ramadhan yang sangat dirindukan oleh seluruh umat Islam di dunia. Istimewa, karena corona telah ‘memaksa’ manusia stay at home, entah akan berapa lama.

Hiruk pikuk kehidupan yang biasanya mewarnai bulan suci Ramadhan dengan berbagai aktivitas, seperti tarling, ngabuburit, umroh, bukber, dan mudik, kini tak lagi terlihat. Ramadhan di masa wabah ini cukup hening. Seluruh manusia, bukan hanya muslim dipaksa harus tinggal di rumah. Tinggal di rumah memberikan makna dan kesempatan untuk bermuhasabah.

Muhasabah kebangsaan adalah sebuah kontemplasi kolektif untuk merungkan dan mencari jawaban : mengapa Allah menghadirkan wabah yang mampu mengehentikan hampir seluruh aktivitas manusia di dunia. Hiruk pikuk kehidupan duniawi sontak berhenti yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Meski demikian, hadirnya Ramaadhan tetap disambut bahagia oleh kaum muslimin di dunia. Berbagai cara di berbagai negara dilakukan kaum muslimin untuk menyambut bulan mulia ini dengan penuh antusias dan hati gembira. Sebab rasa gembira menyambut datangnya bulan Ramadhan adalah bagian dari refleksi keimanan seorang muslim. Setiap perintah ibadah dalam Islam selalu memiliki dimensi vertikal dan horizontal, individual dan sosial. Meski puasa adalah perintah ibadah yang harus dilakukan oleh setiap individu kaum muslimin, namun tetap memberikan pesan-pesan spiritual sosial. Secara individual, pelaksanaan puasa Ramadhan memiliki dampak meningkatnya kualitas ketaqwaan.

Sebagaimana disepakati oleh jumhur ulama bahwa hakekat ketaqwaan adalah derajat mulia bagi seorang muslim karena mampu melaksanakan seluruh perintah Allah dan mampu menjauhi seluruh larangan Allah. Bahkan dalam Qur’an surgu juga disebut dengan istilah darul muttaqien, dan Sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan Itulah Sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa (QS An Nahl : 30).

Stay at home bagi seorang muslim harus lebih bisa merealisasikan tujuan puasa Ramadhan, yakni mencapai pribadi yang bertaqwa. Mungkin selama ini, derajat ketaqwaan belum bisa dicapai secara optimal, karena Ramadhan masih diisi dengan aktivitas-aktivitas yang bersifat duniawi.

Tidak sebatas individual, stay at home Ramadhan tahun ini juga mestinya bisa melahirkan ketaqwaan kolektif masyarakat muslim seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Ramadhan adalah jalan menuju ketaqwaan kolektif. Ketaqwaan kolektif akan menghasilkan keberkahan kolektif pula.

Ramadhan disebut juga sebagai bulan Al Qur’an karena di bulan suci inilah Al Qur’an sebagai petunjuk kehidupan diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah. Jika selama ini, ritual ibadah hanya membaca Al Qur’an, maka di masa pandemi ini mestinya Al Qur’an bukan hanya dibaca, namun dipahami, diajarkan, dan diperjuangkan untuk diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menuju negeri yang penuh keberkahan.

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A’raf : 96).l

Ayat ini juga mestinya menjadi kontemplasi kolektif bagi masyarakat non muslim di seluruh dunia, bahwa hanya Islam lah satu-satunya agama dan ideologi yang jika diterapkan secara kaffah akan melahirkan kebaikan bagi alam semesta. Penerapan Islam kaffah di zaman Rasulullah dan para khalifah telah membuktikan hal ini. Sebaliknya jika yang diterapkan ideologi kapitalisme demokrasi sekuler atau komunisme ateis, maka berbagai kerusakan lah yang akan terjadi.

Keberkahan suatu bangsa dan negara menurut Allah hanya bisa dicapai dengan keimanan dan ketaqwaan bangsa tersebut. Maka, jika negeri ini mau menerapkan hukum Allah secara kaffah di smua aspek kehidupannya, maka Allah berjanji akan menganugerahkan keberkahan itu.

Tapi sebaliknya, jika suatu bangsa justru abai terhadap hukum dan ketentuan Allah, maka kesempitan hidup yang akan didapatkan. Corona virus yang mendunia, bisa jadi adalah peringatan Allah kepada manusia yang telah mengabaikan hukum Allah. Allah berfirman, “ Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". (QS Thaha : 124).

Karena itu kontemplasi kolektif yang harus dilakukan oleh bangsa ini di bulan Ramadhan isitimewa ini adalah sudahkah bangsa ini menerapkan hukum Allah secara kaffah atau malah sebaliknya. Jika Islam justru dinistakan di negeri ini, para ulama dikriminalisasi, maka bersiaplah atas murka Allah. Untuk itu, mumpung masih ada waktu, saatnya Ramadhan istimewa ini menjadi jalan menuju ketaqwaan kebangsaan dan ketaqwaan sistemik.

Tanpa adanya negara Islam yang menyatukan kaum muslimin di seluruh dunia, maka umat Islam akan terus dalam kondisi terzolimi. Hanya negara Islam yang akan mempu melindungi umat Islam dari berbagai bentuk penjajahan atas izin Allah. Kontemplasi kolektif mestinya melahirkan konsolidasi aqidah dan pemikiran umat Islam di seluruh dunia untuk bangkit berjuang menegakkan Islam kaffah sebagai manifestasi ketaqwaan kepada Allah.

Syeikh Ahmad Yasin dengan lantang pernah berucap : Umat ini tidak akan pernah memiliki kemuliaan dan meraih kemenangan kecuali dengan Islam. Tanpa Islam tidak pernah ada kemenangan. Kita selamanya akan selalu berada dalam kemunduran sampai ada sekelompok orang dari umat ini yang siap menerima panji kepemimpinan yang berpegang teguh dengan Islam, baik sebagai aturan, perilaku, pergerakan, pengetahuan, maupun jihad. Inilah satu-satunya jalan. Pilihlah oleh Anda: Allah atau binasa.

Sementara di negeri pertiwi ini, dimana kaum muslimin adalah mayoritas juga tidak sepi dari berbagai cobaan dan ujian hidup. Kehidupan sempit tengah melanda negeri ini. Di negeri ini begitu mahal yang namanya keamanan, kesejahteraan, keadilan apalagi kebahagiaan. Kesulitan ekonomi dengan banyaknya pengangguran dan PHK tengah dirasakan oleh kaum muslimin. Ironisnya yang justru merasakan kesejahteraan materi adalah orang-orang asing yang diberikan ruang untuk menguasai sumber daya alam milik rakyat.

Negeri ini juga tengah menghadapi berbagai kerusakan kehidupan akibat runtuhnya sendi-sendi moral bangsa. Maraknya miras, pornografi, pornoaksi telah menjerumuskan bangsa ini kepada kubangan perilaku amoral. Akibatnya marak tindak kriminal, pembunuhan, pemerkosaan, seks bebas, LGBT, perzinahan, pelacuran hingga tawuran. Entah sudah berapa nyawa melayang akibat kriminalitas yang disulut oleh tenggakan miras ini. Padahal Allah sang Pemilik kehidupan ini telah dengan tegas mengharamkan biang dosa ini.

Baik di Indonesia maupun di belahan bumi lainnya, dapat disaksikan bagaimana kaum muslimin tengah menghadapi ujian berat dalam berbagai bentuknya. Kekompakan kaum muslimin di seluruh dunia dalam melaksanakan perintah puasa Ramadhan adalah refleksi ketundukan kepada Allah. Karena itu, hendaknya moment Ramadhan tahun ini semestinya dijadikan sebagai bentuk muhasabah kebangsaan atas apa yang menimpa kaum muslimin.

Kontemplasi kolektif kaum muslimin di seluruh dunia untuk kembali bersatu membangun kepemimpinan dan peradaban Islam dengan ikatan al Qur’an dan al Hadist semoga benar-benar terwujud. Umat Islam adalah bangsa yang satu dengan ikatan persaudaraan berdasarkan aqidah. Bukankah umat Islam diseluruh dunia memiliki Tuhan yang Satu, Kitab yang satu, Nabi yang satu, dan negara yang satu.

Ketaqwaan kolektif dan sistemik adalah kembalinya manusia dalam ketundukan kepada Allah semata. Kepemimpinan peradaban Islam inilah yang akan mampu memerdekakan kaum muslimin dari berbagai bentuk perpecahan, kezaliman dan segala bentuk keterjajahan. Semoga Ramadhan kali ini memberikan inspirasi agung bagi persatuan, kebangkitan dan kemerdekaan seluruh kaum muslimin hingga kembali menjadi umat terbaik dengan segala kemuliaannya. Semoga syariah Islam kembali menghiasi peradaban dunia.

(AhmadSastra,KotaHujan,05/05/20 : 10.35 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar