NEW NORMA(L) PASCA RAMADHAN - Ahmad Sastra.com

Breaking

Sabtu, 30 Mei 2020

NEW NORMA(L) PASCA RAMADHAN



Oleh : Ahmad Sastra

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al Baqarah : 183).

Mencapai derajat hamba-hamba Allah yang bertaqwa adalah impian bagi setiap muslim setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Sebab ketaqwaan adalah derajat yang sangat mulia dalam pandangan Allah. Bahkan keberkahan suatu negeri adalah disaat rakyatnya beriman dan bertaqwa.

Kemuliaan seorang muslim tidaklah diukur berdasarkan faktor-faktor primordial seperti harta, tahta, bangsa dan keturunan, namun diukur oleh kualitas spiritualnya. Esensi ketaqwaan adalah pemahaman, kedadaran, komitmen dan konsisten dalam melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah.

Hikmah besar bagi seorang muslim menjalani puasa Ramadhan 1441 H di tengah pandemi wabah covod 19. Tidaklah Allah menghadirkan musibah kecuali menjadi peringatan bagi manusia yang selama ini jauh dari Allah.

Dua hikmah besar bagi manusia dengan adanya musibah adalah agar manusia kembali ke jalan Allah yakni bertobat. Hikmah kedua adalah agar orang-orang beriman semakin meningkatkan kesabaran, keridhaan, ketawakalan, doa serta ikhtiar. Adalah semua menjadi kebaikan bagi seorang muslim, jika ada musibah bersabar dan jika diberikan nikmat maka bersyukur.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar Rum : 41)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS Al Baqarah : 155).

Istilah new normal yang kini sedang menjadi perbincangan masyarakat Indonesia meski dimaknai oleh seorang muslim dengan tepat, baik secara spiritual maupun dalam konteks kehidupan sosial. New normal secara Bahasa maknanya adalah hidup dengan kenormalan baru karena sebelumnya dianggap hidup dalam kondisi abnormal.

Abnormalitas pertama adalah dikaitkan dengan adanya pandemi global covid 19 yang telah menjadikan dunia seolah stagnan tak bergerak. Hampir seluruh sektor ekonomi dan sosial tidak berjalan secara normal. Kebijakan lockdown, stay at home, work from home dan social distancing telah mengubah kehidupan manusia seluruh dunia.

Namun, nampaknya kondisi ini tak mungkin bisa berjalan dalam waktu panjang, sebab sektor ekonomi prinsipnya harus tetap berjalan sebagai upaya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Meski demikian, sebetulnya sektor ekonomi mikro, semacam UMKM dan ekonomi berbasis keluarga juga bisa menjadi alternatif bagi kemungkinan krisis pangan. Sementara social distancing tetap bisa dipertahankan, mengingat perkembangan pendemi masih bersifat eksponensial dan vaksin corona juga belum ditemukan.

New normal dalam arti kembali membuka kehidupan normal seperti saat tidak ada pandemi, sementara faktanya pandemi masih belum usai adalah sebuah spekulasi yang harus diperhitungkan. New normal sektor pendidikan, dimana anak sekolah yang kini hampir mencapai 60 juta akan sangat rawan berdampak corona, sebab tingkat disiplinnya rendah.

Begitupun sektor pendidikan berasrama, seperti pendidikan model pesantren yang tinggal selama 24 jam di asrama, maka akan lebih beresiko terdampak corona. Hal ini mengingat intensitas interaksi yang sangat padat dan belum tersedianya fasilitas kesehatan yang memadai.

Sementara mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi mencapai 7,5 juta di seluruh Indonesia juga akan mengalami kerawanan terdampak virus corona ini. Sementara pendidikan berasrama model pesantren di Indonesia berjumlah sekitar 27 ribu di seluruh nusantara.

Hal ini harus benar-benar menjadi perhatian pemerintah sebelum mengambil keputusan new normal, mengingat vaksin corona belum ditemukan dan perkembangan kasus corona masih eksponensial. Faktor ekonomi memang penting, namun keselamatan nyawa rakyat jauh lebih penting. Disinilah sesungguhnya dibutuhkan sebuah pemikiran kreatif sebagai alternatif solusi.

Tugas negara memang berat, yakni mengurus urusan rakyat dengan menjamin keadilan, kesejahteraan, keamanan, keselamatan dan kemuliaan. Negara harus mengutamakan kepentingan rakyatnya serta keselamatan nyawa rakyatnya. Perhatian maksimal negara kepada rakyatnya telah dengan indah dicontohkan oleh khalifah Umar Bin Khattab. Inilah teladan yang pantas dijadikan acuan para pemimpin muslim di dunia.

New normal kedua adalah kehidupan yang lebih baik bagi seorang muslim pasca Ramadhan. New normal spiritual adalah lahirnya pribadi yang beriman dan bertaqwa sehingga Allah mendatangkan kehidupan yang penuh keberkahan bagi negeri ini.

New normal spiritual adalah lahirnya masyarakat Islami yang taat kepada aturan Allah dalam segala bidangnya. Masyarakat Islami adalah yang berpolitik semata-mata untuk mengatur rakyat dengan aturan Allah. Masyarakat islami adalah masyarakat yang beraktivitas ekonomi sejalan dengan syariah Allah. Masyarakat islami adalah adalah masyarakat yang berperilaku dan berbudaya penuh adab dan kemuliaan.

Inilah new normal yang mesti menjadi komitmen pasca Ramadhan, dimana seorang muslim benar-benar menjadi manusia yang lebih beriman dan bertaqwa. Berjalan diatas aturan Allah, baik dalam kehidupan individu maupun kehidupan sosial. New normal ini bukan hanya akan terjamin ekonomi, namun juga akan mendatangkan keberkahan. New normal muslim pasca Ramadhan adalah new norma, yakni lebih taat kepada norma dan aturan syariah.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al A’raf : 96).

(AhmadSastra,KotaHujan,30/05/20 : 06.16 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar