TAK ADA KEJAHATAN YANG SEMPURNA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Selasa, 26 Januari 2021

TAK ADA KEJAHATAN YANG SEMPURNA



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Sepandai-pandai tupai melompat, pada ujungnya akan terjatuh juga. Sepandai-pandai bangkai dipendam, pada ujungnya bau busuknya tercium juga. Serapat-rapat kejahatan disembunyikan, pada akhirnya akan terlihat jejaknya. Tak ada kejahatan yang sempurna.

 

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS Yusuf : 111).

 

Salah satu kisah yang bisa kita jadikan pelajaran adalah kejahatan yang menimpa Nabiyullah Yusuf. Berbagai fitnah dan cerita hoak menyelimuti kisah kezaliman yang menimpa beliau. Namun, pada akhirnya kejahatan itu terkuak juga. Begitulah yang juga akan terjadi dengan berbagai kejahatan yang menimpa kaum muslimin sepanjang sejarah. Pada akhirnya manusia-manusia zalim itu akan terbongkar kebusukan dan kejahatannya.

 

Kisah nabi Yusuf mengajarkan kepada kepada kita agar selalu menjadi orang yang sabar dan pemaaf meskipun mendapatkan ujian yang sangat berat. Dalam al-Quran, kisah Nabi Yusuf secara keseluruhan tertera dalam surat Yusuf (QS.12), diturunkan di Mekah, terdiri atas 111 ayat, dan terletak setelah surat Hud (11) dan sebelum surat Ar-Ra'ad (13). Menurut Quraish Shihab, turunnya surat ini bertujuan untuk menguatkan hati nabi yang saat itu sedang dirundung kesedihan akibat wafatnya istri dan pamannya; Siti Khadijah dan Abu Thalib.

 

Adapun menurut al Biqâ’i, tujuan utama turunnya kisah ini adalah untuk membuktikan bahwa kitab suci Al-Quran benar-benar merupakan penjelasan menyangkut segala sesuatu yang mengantar pada petunjuk (tilka âyâtul kitâbil Mubîn), berdasar pengetahuan dan kekuasaan Allah swt secara menyeluruh, baik yang nyata maupun yang gaib.

 

Kisah Nabi Yusuf terdiri atas 10 bagian, yaitu mimpi Nabi Yusuf, Nabi Yusuf disingkirkan saudaranya, Nabi Yusuf dijual kepada orang Mesir, rayuan istri orang kepada Nabi Yusuf, jamuan makan, dalam penjara, mimpi raja dan kebebasan Nabi Yusuf, Nabi Yusuf menjadi pejabat pemerintah, pertemuan dengan keluarga, dan i’tibar dari kisah Nabi Yusuf.

 

Kisah pilu yang menimpanya diawali oleh rasa iri saudara-saudaranya karena ketampanan, kebaikan, kesabaran dan kasih sayang ayahnya kepada beliau. Rasa iri itu akhirnya mengantarkan beliau dimasukkan ke dalam sumur. Namun atas pertolongan Allah, kebohongan saudara-saudaranya di depan ayahnya akhirnya terbongkar juga. Sekali lagi tak ada kejahatan yang sempurna, sebab pada akhirnya bau busuknya akan tercium juga.

 

Umat Islam sejak dimulai dari para Nabi selalu mendapatkan ujian berupa berbagai bentuk kezaliman dari manusia-manusia zalim yang memusuhi Islam dan kaum muslimin. Allah juga sudah menegaskan dalam Al Qur’an bahwa kaum kafir dan munafik akan selalu membenci dan memusuhi umat Islam selamanya.

 

Salah satu sahabat Rasul bernama Abdullah bin Ubay bin Sahlul di kenal seorang yang munafiq dan selalu menjadi pengkhianat sampai ajal menjemputnya. Penyebab Abdullah bin Ubay bermental munafiq disebabkan terlalu tinggi berharap kepada kekuasaan ( Raja di Yasrib) atau Madinah. Demi kekuasaan,  Abdullah bin Ubay bin Sahlul rela melakukan apapun walaupun harus menjual dirinya. 

 

Abdullah bin Ubay bin Salul begitu dengki dan membeci Nabi Muhammad karena menganggapnya sebagai penghalang dirinya untuk menjadi penguasa Madinah. Iya, semula Abdullah bin Ubay direncanakan akan diangkat sebagai tokoh dan penguasa Madinah karena menjadi salah satu tokoh yang berhasil meredam ketegangan antara kabilah Aus dan Khazraj.

 

Pada saat Rasulullah proses perjalanan hijrah dari Kota makkah menuju Madinah (yasrib), orang kafir Quraisy mengirim surat kepada Abdullah bin Ubay yang intinya Abdullah bin Ubay diminta untuk mengganggu dan merintangi hijrah Rasul ke Madinah. Demi kekuasaan Abdullah bin Ubay bin Sahlul bersedia bekerja sama dengan orang-orang  kafir Quraisy yang ada di Makkah maupun di Madinah, walaupun usahanya itu gagal. 

 

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS An Nisaa’ : 60)

 

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu Lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS An Nisaa’ : 61)

 

Sepandai-pandai orang kafir dan munafik menutupi makar dan kejahatan kepada orang muslim, maka sesungguhnya Allah adalah pembalas makar yang terbaik. Perhatikan firmanNya :  Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS Ali Imran : 54).  

 

Bahkan andaipun tak terkuak di dunia, maka kezaliman akan terkuak di mahkamah pengadilan Allah di akhirat. Siapapun berbuat zalim kepada Islam dengan menframing sebagai agama radikal atau kepada muslim dengan mengkriminalisasi atau menfitnah, maka kebusukan itu pada akhirnya akan terkuak juga, cepat atau lambat. Adakah manusia yang mampu melawan makar Allah. Sebab, no perfect crime, tak ada kejahatan yang sempurna.

 

(AhmadSastra,KotaHujan,26/01/21 : 11.45 WIB)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar