DAKWAH DAN FILOSOFI AIR - Ahmad Sastra.com

Breaking

Selasa, 23 Maret 2021

DAKWAH DAN FILOSOFI AIR



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS Al Fushilat : 33). Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. [QS Ali Imran : 110].

 

Dakwah adalah bentuk cinta hakiki para Nabi kepada umatnya agar selamat di dunia dan akhirat. Seluruh Nabi dan Rasul yang diutus Allah membawa risalah utama yakni Islam untuk diajarkan dan didakwahkan kepada umatnya. Sementara risalah Islam yang terakhir yang dibawa oleh Rasulullah diperuntukkan untuk kebaikan seluruh manusia di dunia. Inilah salah satu keistimewaan Rasulullah dibandingkan dengan Nabi yang lain.

 

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma´il, Ishaq, Ya´qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami semua adalah muslim " [QS Al Baqarah : 136]

 

Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS Al Anbiyaa : 107). Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. [QS. Saba’ : 28]

 

Katakanlah: “Hai manusia, sesung-guhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu semua, yaitu Alloh yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Alloh dan RosulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Alloh dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. [QS. Al-A’raf : 158]

 

Dari Jabir bin Abdulloh, bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Aku diberi (oleh Allah) lima perkara, yang itu semua tidak diberikan kepada seorang-pun sebelumku. Aku ditolong (oleh Allah) dengan kegentaran (musuh sebelum kedata-nganku) sejauh perjalanan sebulan; Bumi (tanah) dijadikan untukku sebagai masjid (tempat sholat) dan alat bersuci (untuk tayammum-pen). Maka siapa saja dari umatku yang (waktu) sholat menemuinya, hendaklah dia sholat. Ghonimah (harta rampasan perang) dihalalkan untukku, dan itu tidaklah halal untuk seorangpun sebelumku. Aku diberi syafa’at (oleh Allah). Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelum-ku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya. [Hadits Shohih Riwayat Bukhori, no: 335]


Selain sebagai bentuk kecintaan para Nabi kepada umat manusia seluruhnya, dakwah juga merupakan fardhu ‘ain setiap individu muslim untuk memantaskan diri sebagai umat terbaik. Sebagai fardhu ‘ain, maka dakwah harus dilakukan oleh setiap individu tanpa bisa diwakilkan oleh siapapun. Dakwah adalah mengajak manusia agar masuk Islam dan melaksanakan syariah secara kaffah. Meski demikian, dakwah hendaknya dilakukan secara berjamaah dan terorganisir yang rapi, sebab Allah mencintai umatnya yang memiliki shaf kuat dalam berjuang.

 

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegar dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran: 104). Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS Shaf : 4).

 

Itulah mengapa setiap Nabi dan Rasul memiliki tugas utama dari Allah untuk mendakwahkan Islam agar manusia mentauhidkan Allah dan hanya menyambah kepada Allah serta mentaati seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan Allah. Dakwah adalah ajakan menuju keimanan dan ketaqwaan. Itulah juga mengapa dakwah tidak akan berhenti sampai hari kiamat dan juga tidak bisa dihentikan oleh siapapun, sebab Surat Keputusan Kewajiban Dakwah (SKKD) itu datang langsung dari Allah.  

 

Dakwah itu ibarat air yang akan terus mengalir tanpa bisa dihalangi. Jika air yang mengalir dibendung, maka air itu akan mencari celah-celah terkecil dari bendungan. Jika airnya mengalir terus, maka bendungan itu akan dilampaui oleh aliran air. Jika air itu mengalir sangat deras, bahkan akan mampu menjebol bendungan itu. Menghalangi dakwah adalah kesia-siakan, jika tidak hendak disebut sebagai kebodohan.

 

Menghalangi dakwah ibarat hendak mematikan cahaya matahari, hal yang mustahil bukan ?. Bisa saja manusia-manusia durjana seperti fir’aun yang menghalangi dakwah Nabi Musa, namrud yang menghalangi dakwah Nabi Ibrahim atau abu jahal yang menghalangi dakwah Nabi Muhammad SAW, namun toh mereka akhirnya binasa, sementara dakwah makin menggelora. Bisa jadi ada manusia yang mencabut bunga-bunga di taman, namun tak ada satupun manusia yang bisa menghentikan datangnya musim semi.

 

Nah, jika hari ini masih saja ada orang-orang durjana yang ikut-ikutan mempersoalkan dakwah Islam, bahkan berusaha menghalanginya, maka dia akan dijungkalkan oleh Allah sebagaimana yang terjadi pada dalam sejarah para Nabi terdahulu. Meskipun adalah hukum alam, dakwah selalu dihalangi. Dimana ada dakwah, maka disitu ada pula orang yang menghalanginya. Namun, sejarah membuktikan, dakwah Islam tak akan pernah kalah.

 

Untuk para pejuang dakwah Islam, teruslah mengalir dan menari seperti air. Teguhkan hati untuk selalu memberikan pencerahan Islam kepada seluruh manusia. Teruslah mencari celah jalan sekecil apapun. Manfaatkan setiap detik waktu kita untuk mendakwahkan Islam. Rendah hatilah seperti air yang tidak menyakiti bebatuan di sungai. Lembutkan hati dalam dakwah seperti Musa kepada fir’aun atau seperti Rasulullah kepada Abu Thalib. Sebab memilih jalan dakwah adalah sebuah kemenangan diri, sementara hidayah dan kemenangan Islam adalah hak Allah semata.

 

Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. [Al Qashash/28 : 56]

 

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat (QS An Nashr : 1-3)

 

(AhmadSastra,KotaHujan,23/03/21 : 09.40 WIB)

 




  

 

 

 

 

 

 

 






 

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar