URGENSITAS AGAMA DALAM PETA JALAN PENDIDIKAN INDONESIA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Senin, 15 Maret 2021

URGENSITAS AGAMA DALAM PETA JALAN PENDIDIKAN INDONESIA



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa kembali menggelar Forum Group Discussion ke-10 pada Sabtu, 13 Maret 2021 dengan mengangkat tema Peta Jalan Pendidikan Indonesia. Forum ini secara serius selalu ikut andil saran gagasan untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik, tentu saja dalam perspektif Islam. Inilah bentuk nyata kepedulian dan kecintaan kepada negeri ini.  

 

FGD kali ini diadakan dalam merespon draf kebijakan pemerintah dalam menata sistem pendidikan 2020-2035 dalam formulasi peta jalan pendidikan. Disebut peta jalan (roadmap) semestinya sebuah gambaran yang mengarah kepada kemajuan dan kualitas pendidikan. Namun sayang, peta jalan itu justru menuai berbagai protes dari berbagai kalangan. Pasalnya frasa agama justru dihilangkan dari peta jalan, padahal secara filosofis, agama adalah jalan yang mengarahkan kepada kebaikan. Apa jadinya pendidikan tanpa cahaya agama ?.

 

Karena itu,  Prof. Dr. Syahidin, M.Pd mengapresiasi inisiatif menteri pendidikan atas rumusan peta jalan sekaligus mempertanyakan hendak kemana arah pendidikan di negeri ini, apakah mengarah ke Roma atau Makkah, mengarah ke ridha Allah atau murka Allah, bahagia duniawi atau dunia akhirat ?  

 

Guru Besar UPI ini justru menilai peta jalan pendidikan Indonesia cenderung pragmatis dan mengabaikan nilai keimanan. Beliau menyoal mengapa pemerintah sering membuat kegaduhan atas hal sensitif dan cenderung diam-diam. Lebih jauh, Prof Syahidin mengingatkan bahwa sekarang ini bukan saja sedang terjadi ghozwul fikr, namun sudah masuk dalam ghozwul ideologi. 

 

Mencontohkan Jepang sebagai negara yang bisa ditiru karena maju tanpa agama adalah sebuah kesalahan, sebab disana maju tapi tidak bahagia, gila kerja tapi gersang jiwanya, bahkan banyak kasus bunuh diri di Jepang. Apakah seperti itu yang mau diwujudkan di negeri ini ?.

 

Menguatkan kegundahan Prof. Syahidin, Direktur INQIYAD, Dr. Fahmi Lukman, M.Hum, mantan atase pendidikan di Mesir ini menegaskan posisi agama sebagai pembentuk manusia menjadi baik. Di Indonesia, posisi agama merupakan basic values dan nafas bagi bangsa ini, karena itu mengabaikannya dalam pendidikan adalah sebuah kesalahan mendasar.

 

Dalam pandangan Dr. Fahmi Lukman, skema peta jalan pendidikan ini telah keluar dari landasan konstitusi negeri ini yang justru secara eksplisit mencantumkan agama, terkhusus dalam UUD Pasal 31 ayat satu dan dua, sementara pasal tiga mencantumkan landasan sains dan budaya. Lebih jauh, Fahmi Lukman menekankan bahwa negeri ini jangan sampai berjalan ke arah sekuler liberal atau komunis ateis. Untuk itu agama sebagai pengikat konsep dan implementasi bagi negeri religius dan mayoritas muslim ini menemukan urgensitasnya.

 

Religiusitas pendidikan tidaklah bertentangan dengan kemajuan sains teknologi dan kemajemukan negeri ini. Justru kemajuan sebuah negeri harus ditopang oleh agama yang menekankan kepada keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia agar terwujud negeri yang baldatun thoyyibatun warofun ghofur. Semakin maraknya kasus kriminalitas mestinya menjadi tamparan bagi negeri ini, apalagi jika ditambah meniadakan nilai agama dalam pendidikan.

 

Gagasan ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar, profesor riset dan intelektual muslim,  yang menandaskan bahwa teknologi menjadikan hidup mudah, namun agamalah yang menjadikan hidup menjadi terarah dan berkah. Beliau juga memberkan motivasi bahwa umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia dengan menyitir QS Ali Imran : 110.

 

Sementara pandangan Prof. Dr. Ir. H. Ari Purbayanto, M.Sc, ketua Asosiasi Profesor Indonesia, bahwa agama adalah modal penggerak berbangsa dan bernegara, bukan penghambat kemajuan. Mestinya visi pendidikan adalah mewujudkan kehidupan bahagia duniawi dan ukhrawi, bukan pragmatis duniawi semata. Karena itu, beliau memberikan dorongan kepada kaum intelektual muslim untuk terus memberikan masukan kepada pemerintah agar negeri ini tidak salah arah, terkhusus dalam soal pendidikan.

 

Sementara Prof. Daniel Rasyid, Ph.D. M.RINA, seorang pakar pendidikan dan peradaban Islam menilai peta jalan pendidikan Indonesia cenderung kepada sistem persekolahan yang bertujuan untuk menyiapkan tenaga kerja. Oleh karena itu, beliau menghimbau agar umat Islam tidak mengikuti peta jalan pendidikan jika tidak sejalan dengan visi pendidikan Islam. Negeri ini, menurut beliau, belum merdeka dalam menyusun regulasi, karena masih dipengaruhi oleh regulasi global yang bercorak sekuler.

 

Sebagai salah satu nara sumber FGD Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa, Prof. Suyanto, Ph.D, Guru Besar UNY, menilai bahwa peta jalan pendidikan Indonesia adalah ahistoris. Menurutnya bahwa Indonesia ini berdiri tidak bisa dilepaskan oleh peran umat Islam di masa lalu. Bahkan beliau menjeskan bahwa upaya untuk melepaskan frase agama (iman dan taqwa) dalam visi pendidikan sudah terjadi sejak lama di negeri ini. Karena itu umat Islam terutama para cendekiawan muslim harus terus memberikan amunisi berupa kritik kepada pemerintah. Kritik tidak mesti ada solusi, sebab jika ada solusi namanya konsultan yang tentu saja mahal bayarannya.

 

Mendapat giliran terakhir sebagai narsum, penulis menilai berdasarkan latar belakang munculnya draf Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035, bahwa peta jalan ini sarat dengan paham materialisme yang hanya berorientasi kepada penyediaan tenaga kerja bagi industri milik kaum kapitalis. Semenara visi pendidikan dalam draf peta jalan cenderung berpaham sekulerisme yang hanya akan melahirkan generasi liberal tanpa ikatan nilai agama.

 

Dari FDG ini dapat disimpulkan bahwa betapa urgentnya posisi agama dalam peta jalan pendidikan Indonesia. Sebab pendidikan adalah investasi jangka panjang yang akan menentukan wajah peradaban bangsa tersebut. Pendidikan tanpa agama akan melahirkan peradaban sekuler liberal, bahkan bisa komunis ateis. Apakah mau bangsa ini menjadi bangsa yang sekuler dan ateis ?.

 

(AhmadSastra,KotaHujan,14/03/21 : 23.44 WIB)   

 

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar