AWAS GROOMING AQIDAH, PEMURTADAN VIA SOSMED - Ahmad Sastra.com

Breaking

Rabu, 07 April 2021

AWAS GROOMING AQIDAH, PEMURTADAN VIA SOSMED

 



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Sebut saja inisialnya HU, seorang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Di tengah pandemi, dimana anak-anak belajar di rumah dan banyak berinteraksi dengan gadget. HU menjadi menjadi korban child grooming di sosial media. Jika pada banyak kasus grooming terkait dengan korban pelecehan seksual pada anak, namun yang menimpa HU adalah grooming aqidah.

 

HU mengalami perubahan drastis dari sisi pola pikir dan pola sikapnya. Tiba-tiba dia dengan emosianal membenci ibunya sendiri dan selalu menginginkan untuk pindah agama. Bahkan tak segan mencaci ibunya dengan kata-kata binatang, bahkan suatu kali hendak membunuh ibunya. Padahal anak ini masih tergolong anak-anak, karena masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

 

Dari segi pengertian, child grooming adalah sebuah upaya orang dewasa untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional dengan seorang anak atau remaja, sehingga mereka dapat memanipulasi atau mengeksploitasi, bahkan melecehkan korban melalui aplikasi seperti twitter, IG, atau FB.

 

Psikolog anak dari Universitas Indonesia, Anna Surti Artiani mengatakan, grooming ini bisa terjadi dalam berbagai bentuk dan bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk senior, guru les, orang yang tidak dikenal, atau mentor. Selain memanipulasi untuk tujuan seksual, pelaku yang secara sengaja memainkan emosi anak hingga ia terpuruk secara mental juga termasuk dalam kekerasan psikis, ujarnya. Dalam beberapa kasus, pelaku bisa saja turut mendekati keluarga korban, sehingga ia semakin tidak sadar sedang dimanipulasi.

 

Menurutnya, banyak anak yang terbuai dengan mereka yang berumur dewasa dengan alasan mereka lebih pengertian, mau mengalah saat berkonflik, atau selalu mengapresiasi dan memberikan penghargaan berlebih. Padahal, hal-hal tersebut bukan cara yang tepat untuk memperlakukan anak dan justru sebaliknya, itu bisa jadi adalah tindakan manipulatif, kata Anna.

 

Kasus yang dialami oleh HU tentu kasus baru, dimana seorang anak dimanipulasi oleh orang dewasa agar pindah agama dengan membangun hubungan komunikasi psikologis. Komunikasi emosional dibangun untuk mentautkan kepercayaan anak kepada pelaku grooming agar tujuan utama untuk memanipulasi bisa tercapai. Secara teknik, grooming aqidah dengan seksual tidak jauh berbeda, hanya tujuan akhir yang membedakan.

 

Sosial media adalah ruang besar yang kini dihuni oleh milyaran manusia dengan berbagai kepentingan. Semua ada di sosial media, dari yang baik hingga buruk, dari kebaikan hingga kejahatan. Dengan berkembangnya sosial media menjadikan media ini seolah menjadi sumber baru bagi banyak kebutuhan manusia, terutama informasi.

 

Masa anak-anak adalah usia paling mudah percaya kepada apa yang diucapkan oleh orang dewasa. Sebab, selain akalnya belum sempurna, orang dewasa juga memiliki cara dan gaya yang mampu memahami psikologi anak dengan baik. Dari kondisi inilah, para penjahat agama berkeliaran mencari mangsa untuk mengajak anak-anak masuk kepada agamanya.

 

Apa yang dialami oleh HU bisa jadi bukan yang pertama, sangat mungkin sudah banyak anak-anak yang jadi korban grooming aqidah ini. Orang tua di rumah harus benar-benar mendampingi anak-anaknya saat mereka berinteraksi dengan gadgetnya. Orang tua harus mulai mengatur dan membatasi anak-anaknya dalam berinteraksi dengan gadget. Sebab usia mereka belumlah cukup untuk mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, terlebih soal agama.

 

Karena itu, umat Islam harus terus waspada atas kejahatan aqidah yang kini telah merambah lewat sosial media. Berikan pemahaman yang baik tentang aqidah Islam hingga tertancap kuat pada generasi muslim. Pahamkan tentang kebenaran Islam yang akan bisa menyelamatkan. Pastikan anak-anak memiliki sahabat yang baik dan seaqidah. Cara efektif lainnya adalah memasukkan anak-anak ke pesantren agar tidak ada lagi waktu untuk berinteraksi dengan sosial media.

 

(AhmadSastra,KotaHujan,07/04/21 : 06.50 WIB)

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar