WABAH, SPIRITUAL DAN SAINS - Ahmad Sastra.com

Breaking

Kamis, 08 Juli 2021

WABAH, SPIRITUAL DAN SAINS



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Secara spiritual, hadirnya wabah adalah ujian Allah kepada manusia. Sementara manusia berkewajiban menyikapinya berdasarkan ilmu. Sebab mindset yang benar akan berimplikasi kepada solusi yang benar.

 

Allah berfirman : Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu (QS At Taghobun : 11).

 

Wabah pandemi covid 19 di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, sebaliknya justru cenderung berkembang secara eksponensial. Hampir setiap hari ada pertambahan jumlah orang yang terpapar, bahkan tidak jarang sampai menemui ajal. Kematian adalah takdir dari Allah, sementara sebab-sebab kematian bisa jadi karena kelalaian manusia itu sendiri.

 

Allah telah menegaskan dalam QS Ar Ruum ayat 41 : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

 

Agar manusia kembali ke jalan yang benar, tentu saja jalan Islam. sebab Islam adalah agama sempurna yang memberikan solusi berbagai persoalan yang dihadapi manusia, termasuk di dalamnya adalah masalah wabah yang telah menjadi pandemi, seperti covid 19 yang kini tengah dihadapi oleh dunia.

 

Sebab pada faktanya, masalah Covid-19 banyak disalahpahami, sehingga melahirkan sikap yang salah dan tentu akan menimbulkan kompleksitas. Jika sikap spiritual tidak diikui oleh pemahaman santifik, maka tidak akan banyak memberikan solusi. Pemahaman spiritual dan sains mutlak dimiliki oleh pemerintah agar melahirkan kebijakan yang efektif dan solutif.

 

Secara spiritual, virus adalah makhluk yang Allah yang memiliki karakteristik tertentu. Karakteristik virus corona ini bisa masuk ke dalam tubuh melalui dua lubang, hidung dan mulut, kemudian masuk dan bersarang di paru. Serangan virus ini bisa menyebabkan pengentalan bahkan darah beku, yang mengakibatkan penderita kekurangan oksigen.

 

Pada level spiritual, manusia harus yakin bahwa segala musibah yang menimpa manusia adalah atas kehendak Allah, meski penyebab turunnya wabah sangat beragam. Bila seorang muslim terkena musibah sakit, maka bisa jadi sebagai ujian kesabaran dari Allah, namun bisa juga karena kelalaian dirinya sendiri. Sebab Allah telah menciptakan takdirnya atas berbagai penyebab sakit, seperti bakteri dan virus, tugas manusia adalah berikhtiar memahami takdirnya, lantas berusaha melakukan pencegahan dan pengobatan.

 

…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al Mujadilah : 11).

 

Pendekatan saintifik atas pandemi covid 19 adalah ilmu yang berkaitan dengan kesehatan. Peradaban Islam telah melahirkan dokter-dokter hebat yang menjadi inspirasi bagi perkembangan kedokteran hingga sekarang. Dokter terbesar dalam sejarah Islam adalah Ibnu Sina yang juga seorang filsuf besar. Dia digelari Medicorum Principal alias Raja Diraja Dokter oleh tradisi kedokteran Eropa klasik. Ibnu Sina menulis banyak buku tentang kedokteran, seperti al-Qanun fi at-Tibb.

 

Selain Ibnu Sina, dalam peradaban Islam juga ada dokter seperti Ali at-Tabari, Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi, Abul Qasim az-Zahrawi al-Qurtubi (936-1013) yang dikenal di Eropa sebagai Abulcasis, termasuk dokter perempuan seperti Ukhtu al-Hufaid bin Zuhur dan putrinya adalah dokter wanita yang bekerja di Istana Khalifah al-Mansur di Andalusia.

 

Bahkan Imam Syafi’i sangat menghargai ilmu kedokteran dan sangat mengutamakan untuk dimiliki oleh seorang muslim. Berkata Imam Syafi’i : saya tidak mengetahui sebuah ilmu, setelah ilmu halal dan haram yang lebih berharga yaitu ilmu kedokteran, tetapi ahli kitab telah mengalahkan kita (Siyar A’lam An Nubala, 8/528, Darul Hadist).

 

Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada disana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan (kesehatan) badanmu (Adab Asy Syafi’i wa manaqibuhu, hal. 244, Darul Kutub Al Islamiyah).

 

Karena itu prokes 5 M, 3 T dan lockdown yang dianjurkan oleh para ahli adalah sebuah ilmu dan kebenaran dalam rangka ikhtiar menghadapi wabah covid 19. Rasulullah sendiri dalam hadistnya pernah bersabda : jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Jika terjadi wabah ditempat kamu berada, maka janganlah tinggalkan tempat itu (HR Al Bukhari).

 

Rasulullah juga melarang mencampurkan unta sakit dan yang sehat. Sikap yang dinyatakan oleh Rasulullah ini pernah dilakukan oleh Umar saat mendengar ada wabah di wilayah syam, tepatnya di daerah Sargh, sementara beliau sedang perjalanan menuju ke sana.

 

Karena itu, untuk  menangkal atau menghindari masuknya virus ini di dalam tubuh pertama-tama harus didasarkan oleh ilmu kesehatan, diantaranya disiplin memakai masker, tidak banyak bicara, vaksinasi, memperbanyak nutrisi, menghindari  interaksi dengan orang asing, menghindari kerumunan, cuci tangan secara rutin dan pola pemisahan yang jelas melalui 3 T yang dilakukan oleh pemerintah.

 

Pencegahan akan efektif jika wabah didekati secara pola, yakni pola manusia dalam arti memisahkan antara yang sakit dan yang sehat. Pola kedua adalah pola wilayah yakni memastikan wilayah yang banyak berkumpul penderita dan wilayah yang steril. Jika kedua pola ini tidak terbentuk akibat dari kesalahan kebijakan pemerintah, maka solusinya akan menjadi rumit.

 

Islam juga mengajarkan, selain ikhtiar secara saintifik, juga harus dilakukan ikhtiar secara non-fisik, baik secara psikis maupun spiritual. Itulah mengapa, Islam mengajurkan umatnya untuk senantiasa berdoa kepada Allah agar selalu diberikan kesehatan dan terhindar dari berbagai musibah.

 

Jika pendekatan spititual dan sains telah dilakukan dengan baik, maka akan melahirkan sikap yang benar berdasarkan kaidah : tidak boleh membahayakan diri dan membahayakan orang lain, menghilangkan kerusakan didahulukan dari pada meraih kemaslahatan, bahaya harus dihindari, dan kaidah tidak ada yang memudharatkan dan dimudaharatkan.

 

Disinilah urgensitas adanya sinergi antara rakyat dan penguasa yang didasarkan oleh pemahaman spiritual dan sains sehingga melahirkan sikap yang benar dalam menghadapi wabah. Komitmen dan konsistensi pemerintah dan rakyat juga sangat berdampak kepada percepatan berakhirnya wabah ini.

 

AhmadSastra,KotaHujan, 08/07/21 : 12.05 WIB)  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar