SEMUA MURID, SEMUA GURU - Ahmad Sastra.com

Breaking

Kamis, 12 Mei 2022

SEMUA MURID, SEMUA GURU



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Bicara masalah murid dan guru, maka berkaitan erat dengan ilmu. Ilmu sangat menentukan kualitas seseorang. Katakanlah : Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS Az Zumar : 9). ”Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR. Tabrani).

 

Islam adalah ilmu dan peradaban. Itulah mengapa Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu. Setiap pribadi muslim hakikatnya adalah seorang murid yang maknanya adalah penuntut ilmu, dari buaian hingga liang lahat. Berhenti menuntut ilmu adalah saat jasad telah terkubur. Ilmu adalah cahaya yang akan menerangi pemiliknya dan juga lingkungan kehidupannya. Setiap muslim adalah murid yakni penuntut ilmu.

 

Islam mendorong dan menganjurkan para penganutnya mencari ilmu dan menuntut pengetahuan, karena dengan ilmulah orang dapat membedakan antara haq dan bathil, antara kebajikan dan kejahatan, antara yang salah dari pada yang benar, antara hidayah dan sesat, antara baik dan jelek, antara yang bermanfaat dan yang madharat. Dan ilmu itu bagi akal manusia umpama cahaya bagi mata, yang tanpa cahaya itu mata menjadi buta.

 

Allah berfirman : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS Al ‘Alaq : 1-5). ....niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah :11).

 

Rasulullah SAW bersabda : Menuntut ilmu itu hukumnya wajib, bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan. Dari Abi Umamah r.a. berkata, aku” mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ”Bacalah Ai-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu pada hari Kiamat akan memberikan syafa’at kepada pembacanya.” (HR. Muslim). Berkatalah orang-orang yang dikaruniai ilmu, 'Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar (QS Al Qashash : 80).  

 

Ibn Taimiyyah dalam Majmu Fatawa mendefinisikan ilmu secara istilah dengan pengetahuan yang didasarkan oleh dalil.  Dalil yang dimaksud oleh Ibn Taimiyyah bisa berdasarkan wahyu Al Qur’an ( al naql al mushaddad) dan bisa juga berupa hasil penelitian ilmiah (al bahts al muhaqqaq). Ilmu yang memberi manfaat dalam pandangan Ibn Taimiyyah adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah. Karenanya sesuatu bisa dikatakan ilmu jika dari proses penukilan yang benar dan penelitian yang benar.

 

Bagi Ibn Taimiyyah ilmu juga berkaitan erat dengan keyakinan. Jika seseorang yakin berarti menunjukkan bahwa ilmu telah bersemayam dalam dirinya. Dengan kata lain, kalau pemikiran-pemikiran filosofis seperti yang berlaku dalam metafisika tidak mendatangkan keyakinan, itu berarti pemikiran-pemikiran itu belum bisa dikatakan sebagai ilmu. Sebab jika pemikiran-pemikiran semacam itu berstatus ilmu, pasti akan mendatangkan keyakinan.

 

Ibn Qayyim dalam Madarik al Salikin baina manazil iyyakana’budu wa iyyakanasta’in, mendefinisikan ilmu hakiki sebagai pengetahuan yang dihasilkan dengan syawahid (empiris) melalui panca indera dan adillah (dalil syar’i) melalui keyakinan. Ilmu yang diperoleh tidak berdasarkan dimensi empirik dan dalil syar’i, maka tidak ada jalan untuk mempercayainya atau dengan kata lain bukan ilmu.

 

Ibn Qayyim melanjutkan bahwa memang benar terkadang ilmu yang diperoleh melalui syawahid akan menjadi kuat dan bertambah kekuatannya, hingga sampai dimana sesuatu yang diketahui  itu   seakan-akan menjadi sesuatu yang dapat dilihat, atau sesuatu yang ghaib seakan-akan menjadi sesuatu yang tampak oleh mata, ilmu yakin seakan-akan menjadi ‘ain al yakin.

 

Jadi, permasalahannya terjadi melalui perasaan terlebih dahulu, kemudian beralih kepada kiasan, kemudian dugaan, kemudian ilmu, kemudian ma’rifah, kemudian ilmu yakin, kemudian haqq al yakin,  hingga setiap tingkatan akan melebur kepada tingkatan yang lebih tinggi darinya. Pada tingkatan tersebut kendali hukum ada padanya, tanpa yang lain. Maka inilah yang benar.

 

Menurut Imam Az-Zarnuji dalam Kitab “Ta’limul Muta’allim” salah satu penyebab tidak manfaatnya ilmu yang dimiliki oleh para generasi sekarang adalah kurang tawadhu’ atau kurang hormatnya siswa kepada guru. Indikasi tidak bermanfaatnya ilmu itu adalah ilmu yang dimilikinya itu tidak mampu mendekatkannya kepada Allah dan tidak melahirkan kepatuhan kepada-Nya, bahkan semakin menjauhkannya dengan Allah, serta tidak dapat mendatangkan kemanfaatan bagi orang banyak, bahkan sebaliknya seringkali malah merugikannya orang lain. Akibatnya seperti yang dapat kita lihat di negeri ini, banyak orang pinter yang pada akhir karirnya tidak selamat akibat olahnya sendiri.

 

Menuntut ilmu tentu saja akan mendapatkan ilmu yang dicari. Orang yang memiliki ilmu berkewajiban mengajarkan ilmunya. Dengan demikian hakikat setiap pribadi muslim adalah guru. Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893). Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari no. 3461).

 

Dari Usman bin Affan r.a. ia berkata, Rasullah Saw. bersabda: “orang terbaik dari kamu ialah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR al-Bukhari). Secara luas, setiap orang yang membagikan ilmu baik di lingkungan pendidikan formal atau yang nonformal maka dia adalah seorang guru. "Everyone is teacher, everywhere is school" (setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah), begitulah kata pepatah.

 

Guru adalah aktivitas yang mulia karena telah mengajarkan ilmu kepada orang lain. Al-ghozali mengatakan bahwa siapa yang memilih pekerjaan mengajar sesungguhnya ia telah memilih pekerjaan yang sangat mulia. Di dalam Islam, guru memiliki banyak keutamaan. Rasulullah bersabda : Sesungguhnya Allah, para malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR. Tirmidzi).

 

Rasulullah SAW pernah bersabda : Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) : sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang soleh (HR. Muslim). Ilmu yang bermanfaat tentu saja salah satu indikatornya adalah yang mampu memberikan arah dan bimbingan kepada orang lain. Mengajarkan ilmu artinya mengajarkan cahaya yang mampu menjadi penerang bagi perjalanan hidup manusia hingga tak terjerumus kepada kegelapan.

 

Ilmu itu sangat penting bagi kehidupan manusia. Dengan ilmu manusia dapat mengetahui segala hal termasuk mengetahui  kebesaran dan kekuasaan Allah, sehingga dengan begitu manusia dapat selalu dekat dengan Sang Maha Penciptanya. Karena dengan ilmu itu manusia dapat mengetahui kedudukannya di hadapan Allah dan bagaimana ia harus berbuat. Disamping itu, dengan ilmu pula manusia dapat mengetahui rahasia – rahasia ciptaan Allah, sehingga ia dapat melaksanakan fungsi- fungsi kekhalifahannya di bumi, yakni memanfaatkannya untuk kesejahteraan hidup manusia di dunia dan di akhirat.

 

Manfaat ilmu yang diajarkan juga bisa mengantarkan seseorang menjadi beriman dan bertaqwa. Ilmu bisa mengatarkan seseorang mengenal Allah dan mengetahui kedudukan dirinya hidup di dunia. Keimanan dan ketaqwaan akan mendatangkan keberkahan. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al A’raf : 96).

 

(AhmadSastra,KotaHujan,12/05/22 : 00.30 WIB)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Categories