RENUNGAN IDUL FITRI : SAATNYA KEMBALI KEPADA FITRAH



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Alhamdulillah, sepantasnya kita bersyukur kepada Allah SWT, sebab tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat, Ramadhan telah meninggalkan kita, hari ini kita telah sampai pada hari kemenangan, yakni Hari Raya Idul Fitri tahun 1447 H.  Merbahagialah bagi orang-orang beriman yang berpuasa Ramadhan karena telah sampai pada ujung perjalanan dan kemenangan, dan merugilah bagi orang-orang yang tidak mau berpuasa Ramadhan, karena dia mendapatkan kekalahan dan kegagalan.  Semoga kita semua dipertemukan kembalipada bulan suci Ramadhan tahun depan, aamiin.

 

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada kanjeng nabi Muhammad SAW yang telah mengajarkan kita bagaimana menjadi teladan dalam kehidupan. Sebagai orang yang mengaku umat Nabi Muhammad,  selayaknya kita meneladani nabi Muhammad SAW dalam menjalani kehidupan kita di dunia.  Ciri utama orang beriman yang akan mencapai kebahagiaan adalah orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti jalan Rasulullah Muhammad SAW.

 

Meskipun kita hari ini diliputi perasaan bahagia karena telah mencapai hari kemenangan, namun kita juga layak bersedih,  sebab berarti  kita telah berpisah dengan bulan Ramadhan yang mulia. Sebab bisa jadi Ramadhan kemarin adalah Ramadhan terakhir buat kita. Bukankah kematian bisa datang setiap saat, baik orang tua maupun anak muda, semua di antara kita akan mengalami kematian, capat atau lambat tinggal menunggu waktu.  

 

Dengan berakhirnya bulan Ramadhan dan masuknya bulan Syawal selalu ada harapan kita kembali ke fitrah. Kembali ke fitrah menjadi dambaan setiap muslim setelah menjalani puasa bulan Ramadhan dan memasuki bulan Syawal.  Terkait dengan makna fitrah, Allah telah berfirman dalam Al Qur’an :  " Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui", (QS. Ar-Rum [30] : 30).

 

Imam al Qurtubi dalam tafsir al Qurtubi, mengutip gurunya, Abu Abbas, menyatakan, "Ayat tersebut mengungkapkan bahwa Allah telah menciptakan kalbu (akal) anak Adam siap sedia menerima kebenaran sebagaimana mata diciptakan siap untuk melihat dan telinga siap untuk mendengar. Selama kalbu anak Adam tetap dalam fitrahnya itu, maka ia akan mengenali kebenaran. Agama Islam adalah agama yang benar"

 

Ayat diatas seakan menyatakan, " Hadapkanlah wajahmu pada agama Allah yang lurus. Tetaplah kamu diatas fitrahmu, yaitu tetaplah dalam karakteristik penciptaanmu dan potensi kemanusiaan dalam dirimu yang menjadikan kamu siap menerima kebenaran. Niscaya kamu akan siap menerima Islam dengan sukarela, ikhlas tanpa paksaan, wajar dan tiada beban".

 

Dengan demikian kembali pada fitrah memiliki arti kembali kepada Islam, dalam arti menjalankan perintah Allah dengan menetapi fitrah, yakni  menetapi karakteristik penciptaan manusia dan potensi insaniah untuk siap menerima kebenaran Islam. Kebenaran adalah Islam. Sebab Islam bersumber dari Allah zat yang telah menciptakan alam semesta dan manusia. Alhaqqu min robbika wa laa takunanna minal mumtarin, kebenaran hanya dari Allah, jangan pernah ragu.

 

Sebenarnya bulan Ramadhan telah menjadi moment yang sangat berharga dalam menumbuhkan kesadaran kita untuk menetapi fitrah tersebut. Ramadhan telah menjadi latihan jasmani dan rohani untuk senantiasa beramal semata-mata karena Allah. Dengan demikian Ramadhan telah menumbuhkan perasaan selalu membutuhkan penciptaNya dan membutuhkan petunjukNya.

 

Selama menjalankan puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, kita telah diarahkan untuk menjadi pribadi yang bertaqwa, hal ini sebagai Allah firmankan dalam Al Qur’an: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al Baqarah : 183)

 

Ciri orang bertaqwa menurut Imam Ali Bin Abi Thalib setidaknya ada 4, yakni : al khoufu minal jalil : takut kepada Allah. Kedua, al amalu bittanziil : beramal dengan al Qur’an. Ketiga, al qona’atu bil qoliil : mensyukuri nikmat Allah dan keempat al isti’daadu liyaumil rohiil : bersiap menghadapi hari pembalasan dari Allah.

 

Dengan demikian fitrah mengharuskan seorang muslim danmukmin menerima sepenuhnya hukum Islam, yakni hukum yang diturunkan Allah (at tanziil) dan melakukan perbuatan dengan menjadikan al Qur’an sebagai pedomannya. Islam diturunkan Allah sebagai agama dan jalan hidup  yang sesuai dengan fitrah manusia.

 

Hanya Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Fitrah hanya akan menerima aturan yang sesuai dengannya. Oleh karena itu sekali lagi bulan Syawal dengan harapan kembali ke fitrah dengan menetapi dan mengembangkan potensi manusia untuk selalu siap menerima kebenaran Islam, mengharuskan kita hanya menerima Islam secara sepenuhnya, secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan kita, baik sebagai individu, keluarga maupun bermasyarakat. 

 

Jika fitrah adalah karakteristik penciptaan manusia oleh Allah, maka menyimpang dari fitrah akan berdampak buruk bagi kehidupan manusia itu sendiri. Setidaknya ada tiga dampak buruk akibat dari penyimpangan manusia terhadap fitrahnya.

 

Pertama, hilangnya sifat kemanusiaan. Jika fitrah tak lagi ada dalam diri  manusia, maka sifat-sifat kemanusiaan akan tercerabut dari dalam dirinya. Sebab manusia itu akan menggunakan potensi penglihatan, pendengaran dan hati serta akalnya bukan untuk menerima kebenaran Islam, melainkan untuk bermaksiat, melanggar aturan Allah. 

 

Allah menilai manusia yang telah tercabut dari fitrahnya sebagai manusia yang lebih hina dari binatang. Hal ini sesuai dengan firmanNya:“Mereka mempunyai hati, tetapi hati itu tidak mereka gunakan untuk memahami ayat-ayat Allah; mereka mempunyai mata, tetapi mata itu tidak mereka gunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah; mereka mempunyai telinga, tetapi telinga itu tidak mereka gunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.” ( QS. Al A'raf [7]: 179)

 

Kedua, akhibat dari manusia yang telah tercabut dari fitrahnya adalah adanya hancurnya  tatanan kehidupan di segala bidang. Akibatnya lahirlah manusia serakah yang  menghalalkan segala macam cara untuk mencapai kekayaan.  Dalam bidang sosial akan melahirkan segala macam penyimpangan perilaku seperti seks bebas, aborsi, perjudian, pelacuran,  dan penyakit sosial lainnya. 

 

Inilah akibat dari ditinggalkannya fitrah atau Islam sebagai sistem hidup. Jika manusia telah meninggalkan  Islam sebagai aturan hidup, maka yang  terjadi adalah  kehidupan yang sempit. Sebagaimana firman Allah : Siapa saja yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya adalah penghidupan yang sempit (QS. Thaha [20] : 124)

 

Ketiga, akibat dari tidak adanya fitrah atau Islam dari tata hidup manusia adalah kerusakan alam. Manusia yang tak lagi menjadikan Islam sebagai pedoman hidup akan cenderung merusak alam. Gunung digunduli dan diambil kayunya, akibatnya banjir melanda dan meluluhlantakkan  desa dan kota.

 

Untuk itu setiap kali datang bulan Syawal dan seterusnya, semoga kita semua kembali kepada fitrah. Dalam arti memiliki kesadaran untuk kembali kepada Islam sebagai tuntunan hidup dalam berbagai aspeknya. Sebab, penyimpangan manusia dari fitrahnya telah terbukti membawa akibat buruk seperti yang  telah dicontohkan diatas.

 

Dengan demikian, marilah kita kembali kepada fitrah kita sebagai seorang muslim. Kembali kepada fitrah adalah menjadi pribadi dan masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, sepenuh-penuh keimanan dan ketaqwaan. Allah telah berjanji bagi penduduk suatu negeri yang beriman dan bertaqwa, maka akan diturunkan berbagai bentuk keberkahan, hal ini sebagaimana firman Allah :  Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al A’raf : 96)

 

Akhirnya dengan moment berbahagia Idul Fitri ini, semoga kita semakin meningkat kesadaran keislaman kita, keluarga kita, masyarakat kita dan para pemimpin kita. Semoga para pemimpin bangsa ini memiliki kesadaran untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan agar penduduk negeri ini mendapatkan kucuran berkah dari Allah SWT. Aamiin

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1307/19/03/26 : 10.58 WIB)

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad