RENUNGAN IDUL FITRI: MOMENTUM MEMBANGUN RELASI KETAKWAAN DAN PERSATUAN UMAT



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Alhamdulillah. Segala pujian milik Allah. Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam, Allah curahkan kepada Baginda Rasulullah Muhammad saw.; kepada keluarganya yang mulia, kepada para Sahabatnya yang utama, serta kepada siapa saja dari umatnya, yang tetap setia menjadikan beliau sebagai teladan kehidupan paripurna.

 

Hari ini adalah hari yang penuh dengan cahaya kemenangan. Tentu bagi kaum beriman. Hari ini langit dipenuhi takbir, bumi dipenuhi syukur, dan hati dipenuhi harapan.

 

Ramadhan baru saja berlalu. Seperti tamu agung yang lama dirindu. Ia meninggalkan jejak haru dan syahdu. Ia datang membawa aneka pahala. Lalu pergi meninggalkan pesan takwa. Demikian sebagaimana firman Allah SWT:  Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 183).

 

Demikianlah. Ramadhan adalah madrasah besar pembentuk takwa. Takwa tentu memiliki sejumlah tanda. Para ulama telah menjelaskan hakikat dan ciri-cirinya. Di antaranya, sebagaimana yang dinukil dari Imam Ali bin Abi Thalib ra.: Takwa adalah: takut kepada Tuhan Yang Mahaagung; mengamalkan al-Quran; merasa cukup dengan yang sedikit; dan mempersiapkan bekal (amal-amal shalih) untuk menghadapi hari saat digiring dan dikumpulkan (Hari Penghisaban).

 

Dengan demikian takwa bukan sekadar rasa takut. Takwa adalah cara hidup. Takwa adalah ketika hati kita senantiasa tunduk dan jiwa kita selalu taat. Takwa adalah saat kita lebih khawatir berbuat dosa. Daripada takut miskin atau kehilangan dunia.

 

Lebih dari itu, takwa adalah ketika hidup kita diatur hanya oleh al-Quran yang mulia. Bukan oleh hawa nafsu manusia. Al-Quran ini tentu wajib kita amalkan secara keseluruhannya. Bukan hanya sebagiannya saja. Demikian sebagaimana yang Allah nyatakan dalam firman-Nya: Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi siapa saja yang berlaku demikian, kecuali kehinaan dalam kehidupan di dunia, sementara di akhirat dia dilemparkan ke dalam azab yang sangat menyiksa. Allah tidak lengah terhadap apa saja yang kalian kerjakan (QS al-Baqarah [2]: 85).

 

Berdasarkan ayat ini, tak layak kita hanya mengamalkan kewajiban shalat, puasa dan ibadah-ibadah ritual lainnya. Lalu kita mencampakkan kewajiban untuk menerapkan hukum-hukum al-Quran dalam berbagai perkara lainnya; seperti politik/pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial, hukum pidana.

 

Demikian sebagaimana firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian (QS al-Baqarah [2]: 208).

 

Takwa sejati pasti melahirkan kepedulian. Orang bertakwa tidak mungkin hidup tenang ketika saudaranya kelaparan. Orang bertakwa tidak mungkin hidup nyaman ketika saudaranya kesusahan atau mengalami penderitaan. Orang bertakwa tidak mungkin diam ketika menyaksikan ragam kezaliman.

 

Inilah yang tersirat dalam al-Quran: Bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhan kalian, juga menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi kaum yang memiliki ketakwaan, yakni: mereka yang menginfakkan harta mereka dalam kelapangan maupun kesempitan; yang bisa menahan amarah dan mudah memaafkan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan (QS Ali Imran [3]: 133-134).

 

Ayat ini menunjukkan bahwa takwa selalu melahirkan kepedulian yang otentik. Bukan malah memunculkan sikap individualistik. Apalagi egoistik. Takwa harus menciptakan masyarakat yang penuh dengan kasih sayang dan sikap empatik.

 

Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan kaum Mukmin dalam cinta, kasih-sayang dan empati mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Rasulullah saw. bahkan bersabda: Sungguh aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya lebih aku cintai daripada beritikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan lamanya (HR ath-Thabarani).

 

Bayangkan. Itikaf di Masjid Nabawi adalah ibadah yang sangat mulia. Satu rakaat shalat di dalamnya setara dengan 1000 rakaat shalat di masjid-masjid selainnya. Namun demikian, membantu saudara-saudara dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, adalah jauh lebih utama dan lebih besar nilainya.

 

Karena itu sudah seharusnya orang-orang yang berpuasa bukan saja menyibukkan diri dengan tadarus al-Qur’an, qiyamul layl, atau berzikir, tapi juga meringankan beban sesama Muslim. Apalagi saat ini, di Sumatra, misalnya, saudara-saudara kita yang sudah lebih dari tiga bulan lalu tinggal di tenda-tenda sangat darurat akibat rumah-rumah mereka hancur terkena bencana, hingga saat ini masih sangat membutuhkan uluran tangan kita. Bukankah membahagiakan sesama juga menjadi jalan takwa menuju surga dan ridha Allah SWT?

 

Idul Fitri juga harusnya menjadi hari perenungan. Hari saat hati kita seharusnya bertanya dengan nada cemas: Mengapa umat Islam yang jumlahnya hampir dua miliar masih banyak yang tertindas? Mengapa saudara-saudara kita di Gaza terus dibombardir dan terus mengalami kekerasan? Mengapa darah kaum Muslim terus tertumpah di Myanmar, Xinjiang, Kashmir hingga Sudan? Mengapa jeritan mereka seolah tidak mampu mengguncang dunia dan saudara seiman? Bahkan, di dalam negeri, mengapa duka Sumatra dan sejumlah wilayah lain akibat bencana belum bisa kita hapuskan?

 

Jawabannya adalah karena umat Islam saat ini tercerai-berai. Terpisah-pisah oleh batas-batas imajiner yang sengaja dibuat oleh bangsa-bangsa kafir penjajah. Kita sudah menjadi negara-bangsa (nation-state) dan nasionalisme sempit. Akibatnya, ketika satu negeri Muslim diserang, negeri Muslim lainnya tidak mampu membela sebagai satu kekuatan. Padahal Allah SWT telah menegaskan: Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara (QS al-Hujurat [49]: 10).

 

Persaudaraan dalam Islam tentu bukan sekadar ada di kata-kata. Ia adalah ikatan akidah yang melampaui ras, bangsa dan batas negara. Pernahkah kita bertanya mengapa kondisi umat yang terpecah belah ini terus terjadi, sehingga terus diporakporandakan di berbagai belahan dunia? Apakah karena jumlah umat Islam sedikit dan tak berarti? Tidak sama sekali!

 

Rasulullah ï·º telah memperingatkan keadaan ini jauh sebelumnya:  “Hampir saja bangsa-bangsa mengeroyok kalian sebagaimana orang-orang yang lapar berebut hidangan makanan.” Para Sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu kami berjumlah sedikit?” Beliau menjawab, “Tidak. Bahkan saat itu kalian berjumlah banyak. Akan tetapi, kalian seperti buih di lautan.” (HR Abu Dawud).

 

Rasulullah ï·º lalu menjelaskan akar penyebab ketidakberdayaan ini. Itulah penyakit “al-Wahn” yang telah lama menjangkiti umat ini. Al-Wahn memiliki arti: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).

 

Ketika cinta dunia merasuk ke dalam jiwa, manusia mudah tunduk kepada sesama manusia. Ketika cinta dunia masuk ke dalam hati-sanubari, sebagian penguasa Muslim begitu mudah bersekutu dengan Amerika dan Zionis Yahudi. Padahal Allah SWT telah memperingatkan sejak dini: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil sebagai pemimpin kalian dari kalangan Yahudi dan Nasrani (QS al-Maidah [5]: 51).

 

Karena itu kaum Muslim tentu tidak selayaknya menggantungkan harapan kepada lembaga-lembaga kafir internasional dan kekuatan Kapitalisme global. Termasuk kepada lembaga-lembaga ilegal, seperti Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, yang jelas-jelas tak akan berlaku adil. Apalagi BoP ini dipimpin oleh Donald Trump, seorang penjahat internasional. Itulah Amerika Serikat sebagai pengusung utama ideologi Kapitalisme global. Sejak tahun 1798-2022, Amerika Serikat telah melakukan 469 kali intervensi militer ke berbagai negara secara brutal. Baik dengan atau tanpa legitimasi internasional. Seperti menduduki dan menjajah Afganistan; menciptakan kekacauan di Libya, Somalia, Sudan, Yaman, Suriah, dll; serta menyerang dan menduduki Irak dengan tudingan palsu memiliki senjata pemusnal massal.

 

Karena itu Idul Fitri sesungguhnya harus menjadi hari kesadaran. Hari saat kita memahami bahwa umat ini pernah memimpin dunia dengan penuh keadilan. Hari manakala kita mengerti bahwa umat ini pernah menjadi pelindung bagi bangsa-bangsa yang tertindas dan menjadi korban kezaliman.

 

Dulu, saat umat Islam sedunia memiliki kepemimpinan global yang menyatukan, mereka menjadi umat yang disegani dan diperhitungkan. Tak mudah bagi musuh-musuh mereka untuk melecehkan dan menistakan. Sebabnya, kaum Muslim selama berabad-abad lamanya berada dalam naungan dan perlindungan Khilafah Islam.

   

Saat Khilafah masih berjaya, ia sanggup mengerahkan ribuan tentaranya. Hanya untuk membela kehormatan seorang Muslimah. Itu terjadi di era Khalifah al-Mu’tashim Billah. Saat Khilafah masih berdiri, kaum Muslim begitu disegani dan ditakuti. Bahkan oleh Kerajaan Romawi. Pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid, misalnya. Sang Khalifah dikenal sebagai penguasa Muslim yang sangat tegas dan berwibawa.  Ketika Kaisar Romawi Timur (Bizantium) saat itu, Nikephoros I, mengirim surat yang bernada meremehkan dan menolak membayar upeti (jizyah), Khalifah Harun ar-Rasyid segera membalas dengan surat bernada keras dan penuh ancaman, “Dari Harun, Amirul Mukminin, kepada Nikephoros, Anjing Romawi! Aku telah membaca suratmu. Jawabannya adalah apa yang akan segera kamu lihat! Bukan apa yang akan kamu dengar.” Segera setelah itu, sang Khalifah mengerahkan ribuan pasukannya untuk menyerang Romawi. Akhirnya, Romawi pun kalah dan kembali tunduk pada kekuasaan Khilafah (Al-Khathib al-Baghdadi, Taariikh Baghdaad, 8/364; Ibnu Katsir, Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, 10/184).

 

Bahkan hanya pada era Khilafah pula, penguasa Muslim pernah dengan gagah menghadapi Amerika. Pada abad ke-18, Amerika pernah terpaksa membayar upeti (jizyah) kepada Khilafah Utsmaniyah agar kapal-kapal mereka bisa melintas dengan aman di Afrika Utara (Aljazair, Tripoli, Tunis). Amerika mengakui hal ini secara resmi dalam perjanjian internasional (Treaty of Tripoli [1796], Pasal 10) (Frank Lambert, The Barbary Wars, hlm. 45–52).

 

Semua kecemerlangan Khilafah ini adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Fakta-fakta ini membuktikan satu keniscayaan: Khilafah bukan sekadar simbol. Ia adalah institusi pemerintahan Islam global. Sepanjang sejarahnya, Khilafah mampu memelihara kemuliaan Islam serta melindungi kehormatan dan darah kaum Muslim.

 

Pentingnya Khilafah sebagai pelindung dan pemersatu umat ini telah diingatkan Rasulullah ï·º Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai (pelindung). Orang-orang berperang di belakang dia dan berlindung kepada dirinya (HR Muslim).

 

Maknanya, kata Imam an-Nawawi rahimahulLaah:  (Imam/Khalifah itu) seperti pelindung. Sebabnya, ia menghalangi musuh untuk menyakiti kaum Muslim...serta melindungi kemuliaan Islam (An-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘alaa Muslim, 6/315).

 

Hadis ini menggambarkan betapa pentingnya kepemimpinan Islam. Betapa urgennya Khalifah sebagai perisai dan tameng yang menjaga kaum Muslim,  sekaligus sebagai permersatu seluruh kekuatan umat Islam.

 

Selain kebutuhan kita, Khilafah adalah tuntutan dan kewajiban umat Islam sedunia. Rasulullah ï·º telah sangat jelas bersabda: Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada seorang khalifah), maka ia mati seperti mati jahiliah (HR Muslim).

 

Hadis ini menunjukkan bahwa membaiat seorang khalifah atau mewujudkan Khilafah bukanlah sekadar pilihan. Ia adalah kewajiban syar‘i yang sangat besar bagi umat Islam. Inilah yang ditegaskan oleh para ulama sepanjang sejarah Islam.

 

Hal ini karena, sebagaimana yang dinyatakan Imam al-Haitami rahimahulLaah:  Sungguh para Sahabat—semoga Allah SWT meridhai mereka—seluruhnya telah berijmak bahwa mengangkat imam (khalifah) setelah masa kenabian berakhir adalah kewajiban. Bahkan mereka menjadikan kewajiban ini sebagai kewajiban paling urgen. Buktinya, mereka mendahulukan memilih dan mengangkat khalifah seraya menunda sementara pemakaman Rasulullah saw. (Al-Haitami, ash-Shawaa’iq al-Muhriqah, 1/25).

 

Di antara fungsi Khilafah yang paling menonjol—yang tidak mungkin diperankan oleh para penguasa sekuler dalam sistem demokrasi saat ini—adalah sebagaimana ditegaskan oleh Dr. Mahmud al-Khalidi saat mendefiniskan Khilafah: Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim sedunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia (Al-Khalidi, Al-Qawaa’id li Nizhaam al-Hukmi fii al-Islaam, hlm. 226).

 

Alhasil, marilah kita menjadikan Idul Fitri ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, menjadikan kita lebih peduli, serta mempererat persatuan dan persaudaraan Islam yang hakiki. Marilah kita berjuang agar kehidupan umat kembali diatur oleh syariah Allah di semua lini. Di bawah naungan sistem pemerintahan Islam sejati. Itulah Khilafah Islam yang berjalan di atas manhaj Nabi saw., yang kehadirannya benar-benar dinanti dan dirindui.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1306/19/03/26 : 10.40 WIB)

 

 

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad