Oleh : Ahmad Sastra
Ramadhan adalah bulan dimana
manusia beriman mencapai puncak ketaatan kepada Allah. Ramadhan juga merupakan
pemisah antara orang yang beriman dan tidak beriman. Sebab ibadah puasa adalah
ibadah yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan Allah, orang lain tidak
pernah tahu akan puasa orang lain. Bahkan Allah sendiri yang akan memberikan
balasan kebaikan bagi orang-orang yang berpuasa. Ibadah puasa begitu istimewa
di hadapan Allah.
Dikatakan sebagai puncak ketaatan orang-orang beriman adalah disebabkan karena
pada saat berpuasa inilah seluruh waktunya akan dimanfaatkan untuk kebaikan.
Sebab jika tidak, maka pahala puasa tidak akan didapatkan, kecuali hanya haus
dan lapar. Apalagi perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan puasanya seperti
makan dan minum secara sengaja, semua akan dijauhkan atas dasar keimanan kepada
Allah.
Orang-orang
yang berpuasa yakin betul akan janji Allah yakni surga yang akan dihadiahkan
kepada mereka kelak di akherat. Orang berpuasa rela lapar, haus dan manjauhkan
segala perbuatan maksiat semata-mata demi meraih janji Allah berupa rahmat,
ampunan dan kebahagiaan surga.
Sebab salah satu ciri orang
bertaqwa adalah mereka yang meyakini yang ghoib. Pahala, surga, neraka,
pertolongan Allah adalah perkara-perkara ghoib yang mesti diyakini oleh orang
beriman dan terealisasi dalam sikap taqwa.
Puncak ketaatan seorang yang berpuasa juga ditandai oleh bagaimana mereka
mengisi waktu sepanjang Ramadhan untuk melakukan berbagai aktivitas ibadah
individual maupun sosial. Banyak bentuk ibadah yang bisa dilakukan selama
Ramadhan, misalnya tilawatul qur’an, qiyamul lail, berzikir, mencari ilmu,
membaca buku, bersedekah, membayar zakat, berdakwah, dan membantu sesama muslim
yang membutuhkan.
Perjalanan
spiritual selama bulan suci Ramadhan adalah perjalanan perjuangan seorang
muslim. Jika diibaratkan perlombaan lari, maka tidak semua orang akan sampai
kepada garis finish dan memenangkan perlombaan. Bahkan dalam perlombaan ada
orang yang tidak ikut bertanding. Artinya masih banyak muslim yang bahkan tidak
melaksanakan puasa Ramadhan.
Kemenangan dalam lomba hanya akan
diraih oleh yang ikut lomba dan memenuhi persyaratan ketentuan lomba. Itulah
sebabnya Rasulullah bersabda yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i, Ibn Majah,
ad-Darimi, al-Hakim bahwa betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan
apa-apa, kecuali hanya lapar dan dahaga.
Hari Raya Level Satu
Karena itu
ujung dari perlombaan puasa Ramadhan adalah Hari Raya Idul Fitri yang maknanya
adalah hari kemenangan, kembali kepada kesucian diri. Makna kemenangan adalah
menang dari berbagai godaan selama puasa Ramadhan dengan kembali kepada
kesucian diri, menjadi pribadi bertaqwa dan kualitas keimanan yang meningkat.
Sebab hari raya bukanlah pakaian yang baru (jadid), melainkan keimanan yang
bertambah (yazid).
Dengan demikian merayakan Hari Raya
Idul Fitri sebagai perayaan kemenangan seetelah berjuang selama sebulan penuh
mengendalikan diri dari yang membatalkan puasa dan mengurangi pahala. Namun
demikian Idul Fitri adalah hari raya level satu, yakni hari raya atau hari
kemenangan yang dirayakan di dunia. Masih ada level hari raya yang mesti diraih
jika menginginkan kemenangan hakiki dunia akherat.
Allah
menegaskan bahwa kesuksesan seorang muslim bukan hanya sebatas di dunia,
melainkan sukses juga di akherat kelak. Allah berfirman dalam Qur`an surat Al
Baqarah ayat, Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami,
berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami
dari siksa neraka”. Inilah sebaik-baik doa bagi kaum Muslim.
Hari Raya Level Dua
Setiap umat ada ajalnya. Saat ajal
tiba, tidak seorangpun mampu memajukan atau memundurkan. Rasulullah bersabda
yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa sesungguhnya setiap amalan tergantung pada
akhirnya. Karena itu hari raya sebagai tanda kemenangan pada level dua adalah
saat seorang muslim masih istiqamah hingga ajal menjemputnya. Hari raya level
dua adalah saat seorang muslim mendapatkan khusnul khatimah saat ajal tiba.
Akhir
kematian yang baik akan mengantarkan kepada kesuksesan saat dibangkitkan dari
alam kubur dengan meraih catatan amal perbuatan dengan tangan kanan. Tangan
kanan yang membawa catatan amal selama di dunia adalah pertanda baik, meski
harus melewati level hari raya berikutnya.
Hari
Raya Level Tiga
Di padang makhsyar, dimana seluruh
manusia harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya di hadapan Allah Sang
Maha Adil. Inilah hari perhitungan yang akan memposisikan apakah manusia lolos
dan masuk surga atau terjerat amal buruknya sehingga mengantarkan menjadi
penghuni neraka. Hari raya level tiga adalah saat manusia sukses dan lulus
dalam pengadilan pertanggungjawaban amal perbuatan selama di dunia.
Hari Raya Level Empat
Level ke-empat dari hari raya adalah saat manusia mampu melewati dengan selamat
saat melintasi titian shirat, karena tak ada jaminan bagi siapapun untuk lolos
darinya. Sebagaimana firman Allah, “Tak seorang pun di antara kalian, kecuali
pasti menjadi santapan neraka. Hal itu bagi Tuhan-Mu merupakan keputusan yang
pasti.” [QS. Maryam: 71]. Ayat ini sungguh menakutkan siapapun, termasuk orang
beriman sekalipun, sebab sebagai manusia biasa tak akan ada yang sempurna.
Hari Raya Level Lima
Merayakan
hari raya level lima adalah puncak hari raya, yakni saat manusia telah
diputuskan oleh Allah untuk menghuni surga. Sebab surga adalah tempat terbaik
dan abadi yang selalu dirindukan oleh seluruh manusia di dunia, meski tidak
semua mampu meraihnya. Hanya orang-orang yang beriman dan bertaqwa serta
mendapatkan keridhoan Allah lah yang berhak menjadi penghuni surga.
Sebagai
level tertinggi dari hari raya, maka surga adalah puncak kemenangan dan
kesuksesan manusia. Sebab di surga seluruh yang diingin oleh penghuninya, maka
akan langsung dikabulkan oleh Allah. Surga juga merupakan tempat paling indah,
tak pernah terbayangkan walau hanya sedetik.
Seluruh
kewajiban seorang muslim ditiadakan selama tinggal di surga, kecuali hanya
mulut yang akan terus mengucapkan zikir sebagai ekspresi kesyukuran atas
karunia Allah Yang Maha Agung ini. Bahkan ada kenikmatan tertinggi dari segala
kenikmatan di surga, yakni kesempatan untuk langsung bisa berjumpa dengan
Allah.
Subhanallah, Allahu Akbar.
Kemenangan hakiki adalah saat mampu merayakan seluruh level hari raya ini, baik
di dunia hingga akhirat, yakni menjadi penduduk surge. Lebih dari itu puncak
tertinggi hari raya seorang mukmin adalah disaat berjumpa dengan Allah SWT,
Sang Pemilik surga. Semoga kita bisa menapaki lima level hari raya ini.
Orang
yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka (idul fitri),
dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya."
(HR. Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim)
(Ahmad Sastra, Kota Hujan,
1308/21/03/26 : 19.39 WIB)

