KETIKA BIRAHI KEKUASAAN MAKIN BERGOLAK - Ahmad Sastra.com

Breaking

Kamis, 18 Juli 2019

KETIKA BIRAHI KEKUASAAN MAKIN BERGOLAK

Berebut Kursi Di Atas Tumpukan Mayat Korban Pesta Demokrasi

Oleh : Ahmad Sastra

Selain diduga terjadi banyak kecurangan, hajatan pemilu 2019 yang menelan ratusan korban jiwa, ribuan terkapar sakit dan puluhan tewas terkena tembakan pascapemilu, akhirnya KPU menetapkan salah satu pasangan sebagai pememang. Pesta demokrasi yang terburuk karena cenderung anarki ini akhirnya berakhir dengan menyisakan banyak persoalan.

Meski telah dinyatakan menang, namun mayoritas rakyat tak bergeming, bahkan tak ada reaksi gembira sama sekali. Bahkan  pasangan pemenang juga tak banyak mendapat ucapan selamat dari rakyat. Bahkan gugatan pasangan lain ke Mahkamah Konstitusi ditolak untuk seluruhnya.

Namun, walau bagaimanapun pesta telah usai, pertarungan telah berakhir dan pemenang telah dikukuhkan. Biasanya usai pesta, seperti pesta perkawinan, yang tersisa adalah kelelahan. Bagi rakyat yang tersisa adalah harapan-harapan untuk  realisasi dari janji-janji kampanye. Meski sejak dulu, janji-janji pemilu biasanya tak ditepati.

Bagi rakyat pesta pemilu 2019 juga menyisakan duka yang mendalam. Banyak para petugas pemilu yang harus kehilangan salah satu anggota keluarganya karena meninggal saat bertugas. Belum lagi yang meninggal dalam aksi menuntut keadilan pascapemilu. Rakyat akan tambah sengsara lagi jika janji pemilu ternyata hanya bualan belaka. Sempurnalah penderitaan rakyat yang konon katanya yang memiliki kedaulatan.

Secara filosofis, pemimpin yang dipilih rakyat adalah pelayan rakyat, sementara rakyat adalah rajanya yang harus dilayani. Adalah paradok jika yang terjadi adalah sebaliknya, pelayan jadi raja, dan raja jadi pelayan. Adalah kezoliman jika yang terjadi justru para pelayan kaya raya, sementara rakyat sebagai raja makin miskin dan sengsara.

Pesta politik telah usai dan kalkulasi untung rugi mulai dihitung. Politik transaksional gaya demokrasi adalah pesta politik yang sangat mahal. Lebih dari 25 trilliun uang rakyat telah dihamburkan. Modal para cukong kapitalis juga tentu tidak sedikit. Sebab tanpa bantuan para pengusaha, pesta demokrasi tidak akan bisa berjalan.

Sementara pertaruhan para partai pendukung harus dibayar dengan kursi yang telah dijanjikan. Maka jangan heran jika, sesaat setelah salah satu calon dinyatakan sebagai pemenang, para pendukung langsung berebut kursi. Birahi kekuasaan partai langsung bergolak, bahkan cenderung mengabaikan ceceran darah dan hilangnya nyawa rakyat yang menjadi korban pesta mereka.

Penulis jadi teringat janji fir’aun kepada para tukang sihir yang membantunya untuk mengalahkan Nabi Musa. Setelah dilobi, maka Fir’aun, maka fir’aun menjanjikan kursi-kursi kekuasaan kepada para tukang sihir jika mampu mengalahkan Nabi Musa. Meski pada akhirnya fir’aun tumbang dan bahkan banyak tukang sihir yang berbalik arah menjadi pengikut Musa. Kisah politik fir’aun adalah fragmen sempurna bagi sebuah cerita politik di seluruh penjuru dunia dibawah ideologi demokrasi sekuler dan komunisme ateis.

Dalam bahasa Ahmad Syafii Maarif, demokrasi itu cacat dan banyak bopengnya. Maarif membeberkan gambaran demokrasi yang tak kunjung menemukan bentuk yang memuaskan. Diakui bahwa demokrasi merupakan sistem politik yang sarat dengan praktek politik uang (money politic). Bahkan demokrasi juga jauh panggang dari api soal pemerataan kesejahteraan rakyat. Dalam hal pemerataan kesejahteraan rakyat, bagi Syafii, demokrasi sangat mengecewakan. Indonesia akan terus bergelut dan berputar dalam lingkaran setan yang melelahkan (Republika,16/04/19).

Komunisme dan kapitalisme adalah dua ideologi yang penuh nafsu dan tidak punya tenggang rasa. Tuhan telah mati dalam kesadarannya. Manusia merupakan sasaran penipuan. Yang satu bangkit untuk dahaga revolusi, yang lain giat mengejar pajak. Di antara dua batu, manusia remuk binasa (Sir Muhammad Iqbal, Javid Nama, h. 52).

Pascapemilu, siapapun rezimnya akan menghadapi beban berat atas bangsa ini. Lima beban berat ekonomi yakni kenaikan utang luar negeri, merosotnya nilai rupiah terhadap dolar, defisit neraca perdagangan, rendahnya target  pertumbuhan ekonomi dan lesunya perekonomian sektor riil. Bagaimana dengan keadilan sosial, kemanusiaan, dan kesejahteraan rakyat ?.

Menurut sosiolog muslim terkemuka, Ibnu Khaldun (1332-1406), tanda kehancuran suatu negara adalah saat negara tersebut menarik pajak yang tinggi. Masih menurutnya, suatu peradaban akan runtuh disebabkan oleh lima hal. Pertama, ketidakadilan, yang menyebabkan jarak antara orang kaya dan miskin begitu lebar. Kedua, merajalelanya penindasan, yang kuat menindas yang lemah. Ketiga, runtuhnya adab atau moralitas para pemimpin negara. Keempat, pemimpin yang tertutup, tidak bisa dinasehati, meski berbuat salah. Kelima, bencana alam besar-besaran.  Ironisnya, kelima indikator ini ada di negeri ini.

Oleh karena itu, betapa menjadi tontonan rakyat yang memuakkan jika masa depan negeri ini tampak makin suram dengan beban hutang yang makin menggunung, sementara para pendukung justru berebut kursi kekusaan dengan penuh nafsu dan tak ada rasa malu. Perebutan kursi yang penuh kerakusan justru akan menambah luka batin rakyat jelata yang sejak dulu belum pernah merasakan hidup berkeadilan dan sejahtera.

[AhmadSastra,KotaHujan,18/07/19 : 23.00 WIB]*

_________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar