MENULISLAH, SEBAB SETIAP HURUF AKAN JADI AMAL SHOLEH - Ahmad Sastra.com

Breaking

Kamis, 14 November 2019

MENULISLAH, SEBAB SETIAP HURUF AKAN JADI AMAL SHOLEH

Oleh : Ahmad Sastra

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia akan melihat balasannya (QS Al Zalzalah : 7-8).

Setiap kebaikan manusia akan mendapat balasan dari Allah SWT, meski sekecil dzarrah sekalipun. Demikian pula perbuatan yang buruk akan mendapat balasan yang setimpal, meski sekecil atom sekalipun. Sungguh Allah Maha Cepat Perhitungannya kelak di akherat.

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukakan), begitu juga kejahatan yang telah dikerjakan, ia ingin kalua kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh (QS Ali Imran : 30). Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan (tertulis) (QS Al Kahfi : 49).

Ayat-ayat diatas, oleh Syaikh Abdurahman bin Nashir As Sa’di dalam tafsir Al Karimir Rahman h. 932 dimaknai sebagai ayat motivasi agar manusia selalu berbuata baik meskipun hanya sedikit dan menunjukkan ancaman bagi yang beramal jelek wlalupun kecil.

Menulis adalah salah satu cara untuk menyampaikan pesan kepada para pembaca. Berbicara adalah cara menyampaikan pesan kepada para pendengar. Keduanya merupakan sebuah perbuatan yang bisa mengandung kebaikan maupun keburukan.

Namun sebaik-naik perkataan, kata Allah adalah yang mengajak kepada jalan Allah.
Siapakah yang lebih baik perkatannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata,”Sesungguhnya aku termasuk seorang muslim (menyerahkan diri) (QS Fussilat : 33).

Perkataan menyeru kepada Allah dimaknai sebagai dakwah, baik lisan maupun tulisan. Amar ma’ruf nahi mungkar bisa dilakukan dengan berbagai uslub. Menulis adalah salah satu uslub dakwah yang menyasar para pembaca. Kelebihan dakwah dengan tulisan adalah mampu menjangkau pembaca yang sangat luas, sebab tidak harus bertemu langsung, cukup membaca tulisannya.

Kelebihan dakwah dengan tulisan juga lebih awet dibandingkan ucapan. Seseorang yang lupa akan materi dakwah, bisa melihat kembali materi dakwah yang sudah tertulis. Jika dakwah dengan lisan bisa menjangkau seratus orang jamaah di suatu tempat, maka dakwah dengan tulisan bisa menjangkau jutaan orang di tempat lain.

Terlebih sekarang adalah era modern dimana fasilitas dakwah begitu melimpah. Sosial media adalah salah satu wasilah dakwah tulisan yang paling efektif. Aplikasi seperti facebook, twiter, whatapps, telegram dan lain sebagainya adalah fasiltas efektif bagi dakwah era tehnologi sekarang ini.

Bayangkan jika kita punya WAG sepuluh saja yang masing-masing ada 200 anggota, berarti sudah 2000 orang dalam jangkauan kita. Jika kita menulis satu artikel dakwah dan disebarkan ke sepuluh WAG yang kita miliki, maka aka nada 2000 orang yang bisa membaca. Jika 2000 orang lantas menyebarkan lagi ke WAG masing-masing 10 saja, maka dalam waktu singkat tulisan kita akan terbaca oleh 20.000 orang. Luar biasa bukan.

Jika tulisan dakwah kita ternyata memberikan inspirasi dan kesadaran agama, maka betapa banyak kebaikan yang akan kita dapatkan dari satu tulisan saja. Jika satu tulisan minimal 700 kata atau sekitaar 3500 huruf, maka setiap huruf dari tulisan kita akan mendapat balasan kebaikan dari Allah. Sebab Allah akan membalas kebaikan walau satu Dzarrah, atau dengan kata lain, walau satu huruf kebaikan.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. [QS Ali Imran : 110]. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegar dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imron: 104)

Rasulullah sendiri sering menulis surat dalam rangka dakwah kepada para penguasa pada zamannya. Misalnya surat dakwah Rasulullah  buat Heraclius [romawi] itu dibawa oleh Dihyah bin Khalifah al-Kalbi. Surat kepada Kisra [persia] dibawa oleh Abdullah bin Hudzafah. Surat kepada Najasyi dibawa oleh Amr bin Umayyah.

Ada juga surat kepada Muqauqis oleh Hatib bin Abi Balta'ah. Surat kepada penguasa Oman dibawa oleh Amr bin Ash. Surat kepada penguasa Yaman oleh Salit bin Amr. Surat kepada Raja Bahrain oleh Al-'Ala bin Al-Hadzrami. Surat kepada Harith Al-Ghassani, Raja Syam, dibawa oleh Syuja' bin Wahab.  Surat kepada Harits Al-Himyari, Raja Yaman, dibawa oleh Muhajir bin Umayyah.

Ini contoh tulisan dakwah Rasulullah yang ditujukan kepada Heraclius  : “Dengan nama Allah, Pengasih dan Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Heraclius pembesar Romawi. Salam sejahtera bagi yang mengikuti petunjuk yang benar. Dengan ini saya mengajak tuan menuruti ajaran Islam. Terimalah ajaran Islam, tuan akan selamat. Tuhan akan memberi pahala dua kali kepada tuan. Kalau tuan menolak, maka dosa  orang-orang Arisiyin—Heraklius bertanggungjawab atas dosa rakyatnya karena dia merintangi mereka dari agama—menjadi tanggungiawab tuan. Wahai orang-orang Ahli Kitab. Marilah sama-sama kita berpegang pada kata yang sama antara kami dan kamu, yakni bahwa tak ada yang kita sembah selain Allah dan kita tidak akan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, bahwa yang satu takkan mengambil yang lain menjadi tuhan selain Allah. Tetapi kalau mereka mengelak juga, katakanlah kepada mereka, saksikanlah bahwa kami ini orang-orang Islam”.

Nah, kapan lagi kalua bukan sekarang kita mentradisikan literasi sebagai sarana dakwah, mumpung masih banyak fasilitas yang tersedia untuk menyebarkan tulisan kita agar dapat dibaca oleh banyak orang. Bayangkan jika setiap huruf dari tulisan kita mendatangkan kebaikan dari Allah. Jika satu tulisan 3500 huruf, maka sebanyak itu pula tulisan dakwah kita akan dapat balasan kebaikan dari Allah.

(AhmadSastra,KotaHujan,13/11/19 : 17.10 WIB)

__________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar