DEMOKRASI DAN KEMUNAFIKAN POLITIK - Ahmad Sastra.com

Breaking

Rabu, 18 Desember 2019

DEMOKRASI DAN KEMUNAFIKAN POLITIK

Oleh : Ahmad Sastra

Demokrasi adalah bentuk kemunafikan politik. Mulut teriak kebebasan, tapi jika umat Islam yang bersuara, justru dibungkam. Ngakunya demokratis, tapi dakwah Islam dianggap intoleran. Seruan penerapan Islam kaffah dianggap sebagai radikalisme. Inilah watak asli demokrasi sekuler yang anti formalisasi Islam, hingga melahirkan kemunafikan politik. Dengan kata lain, demokrasi adalah ideologi anti Islam. 

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ?. Mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS An Nisa’ : 60) 

Thaghut maknanya adalah yang selalu memusuhi Nabi dan kaum muslimin dan ada yang mengatakan Abu Barzah seorang tukang tenung di masa Nabi. Termasuk thaghut juga: 1. orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu. 2. berhala-berhala. Thaghut bisa diterjemahkan juga sebagai setan. 

Demokrasi adalah  ideologi politik transnasional yang lahir dari kultur Barat sekuler. Secara definitif,  kata demokrasi   sangat multi-interpretatif, baik teoritis maupun  implementatif.  Tak bisa dipungkiri bahwa setiap penguasa negara berhak mengklaim negaranya sebagai negara demokratis, meskipun nilai politik kekuasaannya yang diadopsi amat jauh dari prinsip dasar demokrasi. 

Karena sifatnya yang multi-interpretatif itu, lahirlah berbagai tipologi demokrasi seperti demokrasi liberal, demokrasi rakyat, demokrasi proletar, demokrasi komunis, demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila, demokrasi parlementer, dan bentuk subyektifitas demokrasi lainnya. 

Sebenarnya perdebatan intelektual hubungan Islam dan demokrasi apakah kompatible atau kontradiktif sudah terjadi sejak lama, terutama saat kaum intelektual muslim bersentuhan dengan intelektualisme Barat. Meski demikian, belum ada hasil yang benar-benar disepakati oleh kaum muslimin, sebab fakta di lapangan justru negera-negara demokratis banyak yang menolak Islam itu sendiri. 

Padahal Amerika dikenal sebagai gembongnya  demokrasi. Bahkan saat kaum muslimin dengan partai Islamnya mengikuti perhelatan demokrasi dan  memenangkan pemilu justru dianggap tidak sah dan dianulir seperti yang terjadi di Mesir dan Aljazair di masa lalu. Berderet  fakta-fakta historis penolakan sekulerisme demokrasi terhadap eksistensi Islam itu sendiri. Ini sebenarnya membuktikan bahwa demokrasi sekuler adalah ideologi  anti Islam. 

Akar atau  sumber epistemologi  demokrasi adalah filsafat sekulerisme. Sekulerisme sendiri adalah paham yang mendistorsi peran etika Tuhan dalam ranah publik. Karena itu dalam paradigma sekulerisme, agama di posisikan di ruang private. Adapun di ruang publik yang berlaku adalah konsensus elite otoritas kekuasaan untuk mengaturnya. 

Meski tak dipungkiri, demokrasi seringkali hanya sebagai kuda tunggangan kaum kapitalis untuk menghegemoni ekonomi suatu negara. Itulah kenapa dalam negara demokrasi, kemiskinan rakyat tak kunjung dapat diselesaikan. Wajah demokrasi lebih sering nampak sebagai alat imperialisme atas negara-negara ketiga dibanding formula politik bagi kesejahteraan rakyat. 

Para pemuja demokrasi biasanya mulutnya berbusa teriak kebebasan berekspresi dan bersarikat atau berkumpul, namun saat umat Islam berekspresi menyuarakan tegaknya hukum Islam, justru dituduh sebagai anti pancasila. Ketika kaum muslimin mematuhi perintah Allah dan RasulNya untuk amar ma’ruf nahi munkar, demokrasi justru menuduhnya sebagai intoleransi. Demokrasi adalah tipu daya, beda di mulut, beda lagi di hati. 

Apabila dikatakan kepada mereka: "marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS An Nisa’ : 61) 

Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: "Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna". (QS An Nisa’ : 62). 

Kemunafikan sangat dekat dengan kekafiran, keduanya saling menopang dan membela. Ciri orang munafik justru membenci sesama muslim tapi begitu memuja dan mencintai kepada orang kafir. Kemunafikan dan kekafiran adalah setali mata uang, tak bisa dipisahkan. Orang munafik selalu berharap mendapatkan duniawi dari orang-orang kafir yang berkuasa. Orang kafir berusaha merusak kaum muslimin melalui proyek-proyek yang dikekola oleh gerombolan kaum munafik. 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (QS Ali Imran : 118) 

Padahal orang-orang munafik diancam oleh Allah disiksa dikeraknya api neraka, sebab pada hakekatnya orang munafik lebih jahat dibandingkan orang kafir. Allah berfirman, “ Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. (QS An Nisa’ : 145) 

Maka orang muslim yang memuja dan menyembah demokrasi sangat mungkin akan terseret kepada kemunafikan politik ini. Tujuan berpolitik demokrasi hanyalah untuk harta dan tahta, bukan untuk menegakkan hukum Islam. Saat ditawarkan hukum Islam, biasanya orang-orang munafik akan berapologi dengan semaunya yang pada intinya dia menolak penerapan syariah Islam. Maka waspadalah wahai orang-orang muslim, jangan mau dijerat demokrasi. Sebab demokrasi akan menyeret kaum muslimin menjadi seorang munafik yang diancam Allah dengan siksa neraka. 

Ketika kaum muslimin di Palestina dibunuh, dibantai dan dizolimi oleh kaum kafir Israel, maka kaum munafik biasanya akan melontarkan apologi dari menolak jihad hingga menyalahkan kaum muslimin dan membela kaum kafir. Sebab orang munafik biasanya telah mendapatkan dunia dari kaum  kafir. Orang-orang munafik telah menjual Islam kepada orang-orang kafir. 

Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. kepada mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)". mereka berkata: "Sekiranya Kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah Kami mengikuti kamu". Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan (QS Ali Imran : 167) 

Ucapan ini ditujukan kepada Nabi dan sahabat-sahabat beliau sebagai ejekan, karena mereka memandang Nabi tidak tahu taktik berperang, sebab beliau melakukan peperangan ketika jumlah kaum muslimin sedikit. Ucapan ini dapat digunakan untuk mengelakkan cercaan yang ditujukan kepada diri orang-orang munafik sendiri.

Karena itu, wahai kaum muslimin, tinggalkan demokrasi sekarang juga. Sebab ia bisa menyeret kepada kemunafikan yang dibenci Allah. Sebaliknya masuklah Islam secara kaffah, sebagaimana firmanNya, “ Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS Al Baqarah : 208). 

[AhmadSastra,KotaHujan,18/12/19 : 10.00 WIB]
__________________________________________
Website : https://www.ahmadsastra.com
Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1
Facebook : https://facebook.com/sastraahmad
FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76
Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial
Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar