NARASI MODERASI BERAGAMA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Jumat, 06 Desember 2019

NARASI MODERASI BERAGAMA

Dari Pluralitas Sosiologis ke Pluralisme Teologis

Oleh : Ahmad Sastra

Islam adalah manhaj kehidupan holistik bagi kebaikan manusia seluruhnya sebab ia berasal dari sang Pencipta manusia. Islam adalah manhaj kehidupan yang realistik, dengan berbagai susunan, sistematika, kondisi, nilai, akhlak, moralitas, ritual dan begitu juga atribut syiarnya. Ini semuanya menuntut risalah ini ditopang oleh kekuatan institusi yang dapat merealisasikannya secara kaffah. Islam juga harus disokong oleh manusia-manusia amanah dengan ketundukan jiwa secara totalitas.

Bernard Shaw memberikan penilaian atas kesempurnaan Islam dengan mengatakan bahwa ia berharap kepada Islam untuk menolong seluruh dunia, ia yakin tidak sampai 200 tahun lagi, seluruh dunia akan memeluk agama Islam.

Toyenbee lebih mendalam lagi dalam menganalisa dalam perspektif peradaban dengan mengatakan bahwa  Islam sejak lahir hingga sekarang tetap dalam status yang baik. Islam tidak suka dengan pertumpahan darah. Apa yang diperintahkan dan dikerjakan tidak pernah ada cacatnya. Peradaban dunia saat ini berasal dari jerih payah orang Islam. Peradaban dunia dibagi tiga : Barat [Eropa], Timur [Tiongkok] dan Islam.

Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri yang terbentang dari Cina, Indonesia, India, Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir hingga Maroko dan Andalusia. Islam juga mendominasi cita-cita dan akhlak mereka serta berhasil membentuk gaya hidup mereka. Islam telah membangkitkan harapan mereka serta meringankan permasalahan dan kecemasan mereka. Islam telah berhasil membangun kemuliaan dan kehormatan mereka…Mereka telah disatukan oleh Islam; Islam telah berhasil melunakkan hati mereka, meski mereka berbeda-beda pandangan dan latar belakang politik. (Will Durant, 1926. The History of Civilization, vol. xiii, hlm. 151).

Kesempurnaan Islam juga ditunjukkan melalui berbagai istilah yang disematkan dalam kata Islam yang berasal dari Al Qur’an. Berbagai kata yang disematkan Allah setelah kata Islam misalnya kaffah, rahmatan lil’alamin dan washatiyah. Ketiganya memiliki pengertian khas yang sahih karena berasal dari Allah langsung. Sementara istilah-isilah yang disematkan setelah kata Islam banyak yang telah menyimpang dari al Qur’an karena berasal dari epistemologi Barat yang sekuler.

Bahkan Barat yang tidak suka dengan Islam menginginkan keterpecahan kaum muslimin dengan strategi adu domba. Barat menginginkan polarisasi muslim dengan memberikan lebel dan kampling-kapling Islam sehingga menimbulkan berbagai friksi inteletual hingga fisik sesama muslim.

Beberapa postulat berikut merupakan ‘Islam’ buatan Barat yang dibangun oleh epistemologi Barat dan tentu tidak ditemukan dalam ajaran Islam. Diantara ‘Islam’ buatan Barat itu adalah : Islam moderat, Islam radikal, Islam Fundamentalis, Islam Nusantara, Islam progresif, Islam Liberal, Islam sekuler, Islam demokratis, Islam sosialis, Islam teroris, Islam tradisional dan  Islam modern.

Ragam Islam inilah hasil dari gerakan imperialisme epistemologi [ghozwul fikr] Barat ke dunia Islam.
Dalam kajian gender, dahulu Barat meluncurkan narasi pengarusutamaan gender dengan tujuan liberalisasi sosiologis. Dalam bidang agama, memunculkan narasi pengarusutamaan moderasi beragama dengan tujuan mengaburkan hakekat Islam, mencampur aduk ajaran Islam dengan agama lain, menumbuhkan Islam ritualistik dan melumpuhkan Islam politik serta pada ujungnya adalah menghapus ajaran Islam diganti dengan filsafat humanisme.

Genealogi  perang pemikiran ini telah berlangsung sekitar 3 abad hingga hari ini. Perang asimetrsi ini terbukti efektif, buktinya banyak kalangan intelektual muslim yang terpapar sekulerisme, liberalisme dan pluralisme. Ketiga paham ini adalah produk epistemology barat untuk mendekonstruksi ajaran Islam. Itulah mengapa tahun 2005, MUI mengeluarkan fatwa haram atas ketiga paham di atas.

Secara epistemologi, Islam adalah kebenaran, sedangkan moderasi Islam adalah kekacauan berfikir. Sebab kata Islam berasal dari wahyu, sementara kata moderasi berasal dari filsafat. Secara bahasa, keduanya tidak bisa dipadukan, sebab keduanya adalah dua hal yang berbeda.

Islam adalah suatu pengertian, suatu paham, suatu begrip sendiri, jang mempujai  sipat-sipat sendiri pula. Islam tak usah ‘demokratis’ 100%, bukan pada otokrasi 100%, Islam itu……jah, Islam”. (M. Natsir, Kapita Selecta : 453). Ungkapan penggagas partai Masyumi ini adalah salah satu pemikiran dan keyakinannya saat menanggapi pujian Soekarno kepada Kemal Attaturk yang mengubah ideologi Islam di Turki menjadi negara demokrasi  Barat.

Mengomentari pemikiran Natsir, HAMKA pernah menulis, “ M Natsir berpendapat, Islam bukanlah semata-mata suatu agama, adalah suatu pandangan-hidup jang meliputi soal-soal politik, ekonomi, sosial dan kebudajaan. Baginja Islam itu adalah sumber dari segala perdjuangan atau revolusi itu sendiri, sumber dari penentangan setiap matjam pendjadjahan : eksploitasi manusia atas manusia ; pemberantasan kebodohan, kedjahilan, pendewaan dan djuga sumber pembantrasan kemelaratan dan kemiskinan. Nasionalisme hanyalah langkah menuju persatuan manusia dibawah lindungan dan keridhaan ilahi. Islam tidak memisahkan antara keagamaan dan kenegaraan. Sebab itu, Islam itu adalah primair”.

Karena itu tidaklah sama antara makna Islam washatiyah dengan Islam moderat, bagai langit dan bumi. Istilah washatiyah berasal dari epistemologi Qur’an, sementara istilah moderat berasal dari epistemologi Barat. Meskipun banyak cendekiawan muslim memaksakan diri untuk menyamakannya. Menyamakan keduanya akan melahirkan epistemologi oplosan yang menyesatkan umat. Pengarusutamaan moderasi Islam adalah sia-sia karena merupakan produk gagal paham, dan karenanya pasti akan gagal.

Tanpa diberikan embel-embel moderat, Islam adalah agama yang penuh perdamaian, toleransi, adil dan menebarkan kebaikan kepada seluruh alam semesta. Dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam istitusi negara, maka kebaikan Islam baru akan dapat dirasakan oleh seluruh manusia di dunia. Islam tidak memerlukan label-label Barat yang menyesatkan, Islam ya Islam.

Toleransi seagama [tasamuh] sejak awal dibangun oleh Rasulullah, Sahabat, tabiin, atba tabiin, imam mujtahid dan kekhilafahan. Toleransi antaragama dalam Islam terbangun indah saat, di Spanyol, lebih dari 800 tahun pemeluk Islam, Yahudi dan Kristen hidup berdampingan dengan tenang dan damai. Di India sepanjang kekuasaan Bani Ummayah, Abbasiyah dan Ustmaniyah, muslim dan hindu hidup rukun selama ratusan tahun. Di Mesir umat Islam dan Kristen hidup rukun ratusan tahun sejak khulafaur Rasyidin.

Secara etimologi, makna al wasath adalah sesuatu yang memiliki dua belah ujung yang ukurannya sebanding, pertengahan [Mufradat al Fazh Al Qur’an, Raghib Al Isfahani jil II entri w-s-th]. Bisa bermakna sesuatu yang terjaga, berharga dan terpilih. Karena tengah adalah tempat yang tidak mudah dijangkau : tengah kota [At Tahrir wa At Tanwir jil II hal 17].

Umat wasath yang dimaksud adalah umat terbaik dan terpilih  karena mendapatkan petunjuk dari Allah. Jalan lurus dalam surat al Fatihah adalah jalan tengah diantara jalan orang yang dibenci [yahudi] dan jalan orang sesat [nasrani] [Tafsir Al Manar jil. II hal 4]. Karakter umat washtiyah ada empat : Umat yang adil, Umat pilihan [QS Ali Imran : 110], Terbaik  dan Pertengahan  antara ifrath [berlebihan] dan tafrith [mengurangi] [Tafsir Al Rari, jil. II hal 389-390]. Makna washatiyah dalam perspektif tafsir ini tidak sama dengan makna moderat dalam pandangan Barat.

Karena itu penting memberikan pencerahan kepada umat tentang bahaya imperialisme epistemologi Barat ini  dengan cara membentengi umat dari narasi moderasi beragama dengan menjelaskan kesesatan dan kerusakan ide Islam Moderat. Umat Islam harus diberikan penjelasan tentang hakekat Islam  yang sebenarnya sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits.

Narasi moderasi beragama (Islam) selain sebagai kekacauan berfikir, juga akan melumpuhkan ideologi Islam yang membawa kebangkitan kaum muslimin.

Pengarusutamaan moderasi beragama adalah upaya menarik pluralitas sosiologis menuju pluralisme teologis atas nama keberagaman dan toleransi. Karena itu narasi moderasi agama yang dikaitkan dengan narasi radikalisme adalah upaya menyerang Islam, maka waspadalah.

[AhmadSastra,KotaHujan, 05/12/19 : 23.00 WIB]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar