Menara Berkabut - Ahmad Sastra.com

Breaking

Jumat, 24 Januari 2020

Menara Berkabut



Oleh : Ahmad Sastra

Matahari telah terbenam. Gelap mulai menyelimuti dedaunan di perbukitan itu. Suara burung yang biasanya bersahutan sudah tak terdengar. Suasana begitu sunyi dan agak mencekam. Hanya sesekali suara jangkrik memecah kesunyian. Pesantren Nurul Huda yang terletak diantara bebukitan hutan pinus hanya diterangi oleh obor dan beberapa lentera kecil yang sedikit mengurangi kesunyian dan kegelapan malam itu.

Tak seperti biasanya, Kyai Hasyim agak terlambat datang di majelis kajian, biasanya kyai yang telah berusia hampir 70 tahun itu selalu lebih awal duduk di atas tikar usang untuk memberikan wejangan dan ilmu kepada para santri. Sementara para santri senior yang jumlahnya sekitar 20 orang telah sejak awal menanti dengan duduk rapi. Tak ketinggalan Ahmad, Mahmud dan Rasyid, duduk rapi diantara para santri yang ada.

Malam itu begitu istimewa sekaligus menegangkan bagi para santri pesantren Nurul Huda. Sebab sebagaimana janji Kyai Hasyim, malam itu beliau akan menyampaikan materi tentang sejarah Islam di Nusantara sekaligus sebagai malam pengajian terakhir. Kyai Hasyim, biasa mengistilahkan santri yang ditugaskan untuk berdakwah dengan istilah santri turun gunung. Istilah ini digunakan karena pesantren Nurul Huda memang terletak di bebukitan Gunung Merbabu yang dikelilingi oleh hutan Pinus. Hawa yang dingin dan jauh dari pemukiman warga menjadikan pesantren Nurul Huda cukup tersembunyi dari keramaian.

Pilihan Kyai Hasyim untuk mendirikan di tempat terpencil bukan tanpa alasan. Kyai Hasyim pernah bertutur bahwa semenjak beliau pulang dari belajar di Mekkah sekitar 40 tahun yang lalu, beliau selalu diteror oleh orang-orang jahat karena tidak suka kepada Kyai Hasyim yang gigih menyebarkan Islam di desa kelahiran beliau. Di desa Wates, tempat lahir beliau hingga kedua orang tuanya meninggal, dahulu didominasi oleh budaya klenik, perjudian dan pembunuhan.

Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, Kyai Hasyim muda meninggalkan desanya mengikuti setiap langkah kakinya. Perjalan tujuh hari tujuh malam menembus berbagai rintangan fisik dan binatang, sampailah Kyai Hasyim ke sebuah bukit hutan pinus di lereng gunung Merbabu dan mendirikan pesantren Nurul Huda hingga kini.

Tak disangka, ternyata di sekitar pesantren Nurul Huda yang diduga tak ada kehidupan manusia, ternyata merupakan wilayah persembunyian para perampok dan pembunuh. Namun berkat kesabaran, kesungguhan dan keikhlasan dakwahnya, kini para perampok dan pembunuh justru bertobat dan mengikuti Kyai Hasyim menimba ilmu agama di Pesantren Nurul Huda. Awalnya ada tiga santri bekas perampok yang bernama Marjo, Sutopo dan Tugiyo yang kini diganti namanya menjadi Ahmad, Mahmud dan Rasyid oleh Kyai Hasyim setelah bertobat. Ketiganya kini menjadi santri kesayangan Kyai Hasyim.

Seiring perjalanan waktu ketiga santri kesayangan Kyai Hasyim mengajak orang-orang yang bersembunyi di belantara hutan pinus untuk bertobat. Berkat keberanian dan keikhlasan ketiganya, kini santri Kyai Hasyim menjadi 20 orang. Tidak banyak santri Kyai Hasyim, namun mereka adalah santri-santri mumpuni yang telah banyak mewarisi jiwa juang dan keilmuwan Kyai Hasyim. Nurul Huda diambil sebagai nama pesantrennya bukan tanpa alasan, Kyai Hasyim bercita-cita pesantrennya menjadi cahaya yang menerangi jalan gelap sehingga mendapat petunjuk ke jalan yang lebih terang. Tiga puluh tahun sudah pesantren Nurul Huda itu berdiri dan mengantarkan usia Kyai Hasyim hingga 70 tahun. Kyai Hasyim sejak remaja telah mengenyam pendidikan di Mekkah mendalami berbagai bidang ilmu dan tsaqafah Islam.

Saat-saat yang menegangkan akhirnya tiba juga. Kyai Hasyim yang sejak tadi ditunggu oleh para santri akhirnya muncul dari balik anyaman tirai bambu yang sudah agak usang. Dengan sigap Ahmad, Mahmud dan Rasyid mendekati beliau, mencium tangannya dan memapah menuju tempat duduknya. Dengan janggut yang telah memutih namun selalu tertata rapi dan sorban putih penutup kepala, Kyai Hasyim berusaha duduk di atas tikar menghadap ke arah para santri. Sejenak mata Kyai Hasyim memandang para santri dengan bibir tersenyum seraya mengucapkan salam. Malam itu adalah malam terakhir pengajaran dari Kyai Hasyim, setelah puluhan tahun para santri menyenyam dan menimba tsaqafah Islam dari kyai yang berjiwa tulus, jujur, rendah hati namun pemberani itu.

Setelah mengucapkan salam dan kesyukuran kepada Allah, Kyai Hasyim mulai menuturkan sejarah peradaban Islam dimulai dari kisah mengharukan sosok pembawa risalah Islam yang mulia, dialah sosok Muhammad Rasulullah saw yang dilahirkan di kota Mekkah untuk menebarkan Islam ke seluruh penjuru bumi. Kyai Hasyim mengutip firman Allah surat At Taubah ayat 111, Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Menjelaskan ayat ini, dengan suara yang menyejukkan Kyai Hasyim mengungkapkan bahwa masa lalu adalah akar hari ini dan pijakan masa depan. “digging up the past” kata Kyai Hasyim untuk menggambarkan sebuah usaha mengungkap masa lalu melalui usaha penemuan dan penggalian kisah-kisah bersejarah. Dari usaha penggalian itulah akan melahirkan sebuah rekonstruksi kehidupan atau peradaban pada masa lalu yang diharapkan bisa memberikan pelajaran kepada kehidupan sekarang dan masa mendatang.

Kyai Hasyim lantas memberikan wejangan kepada para santrinya bahwa warisan sejarah bukanlah sekedar sebuah romantisme tanpa makna atau hanya sekedar menjadi berhala tanpa ruh yang dibanggakan dan diceritakan dimana-mana. Sejarah juga bukan sekedar dokumentasi naratif yang hanya dipampang di rak-rak perpustakaan. Sejarah Rasulullah adalah sebuah warisan nilai yang dibangun diatas keyakinan dan ghirah perjuangan. Karenanya sirah nabawiyah bukan sekedar warisan konseptual belaka melainkan juga merupakan warisan metodologis yang bisa kita aplikasikan pada masa kini untuk meraih kemajuan Islam hari ini dan masa mendatang.

Kyai Hasyim tiba-tiba berubah raut wajahnya. Nampak dari kulit wajahnya yang putih bersih tersimpan sebuah gurat kekecewaan dan kesedihan. Kerut wajahnya jelas nampak menghiasi keningnya. Sejenak mulutnya tak mengeluarkan sepatah katapun. Para santri dengan wajah keheranan menanti apa yang sebenarnya membuat sedih Kyai Hasyim. Wajah yang sudah nampak sepuh itu semakin menunjukkan kesedihan yang mendalam.

Akhirnya Kyai Hasyimpun angkat bicara lagi. Kesedihan yang mendalam yang menghembus ke hatinya adalah karena selama ini telah terjadi kejahatan penulisan sejarah dakwah Islam oleh orang-orang Barat. Kegemilangan sejarah Islam ibarat sebuah menara tinggi menjulang menyinari dunia. Namun sayang, penulisan yang tidak adil menjadikan gambaran menara itu tertutup kabut tebal oleh penulis-penulis sejarah yang menyimpan kebencian terhadap Islam itu sendiri. Kyai Hasyim lantas memberikan pesan kepada para santrinya untuk menyibak kembali menara berkabut itu dengan penggalian ulang mutiara-mutiara kegemilangan sejarah Islam melalui usaha pemikiran, penelitian, penelusuran, pendidikan dan dakwah Islam.

Seorang santri, lanjut Kyai Hasyim, adalah mereka yang senantiasa memikirkan dibalik realitas kehidupan, manusia dan seluruh jagad raya sebagai sebuah maha karya Allah swt. Kyai Hasyim memperkuat nasehatnya seraya mengutip firman Allah surat ali Imran ayat 190 dan 191. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

Dengan penuh penasaran dan sedikit emosional, Mahmud yang sejak awal sangat serius mendengarkan kajian sejarah oleh Kyai Hasyim memberanikan diri untuk bertanya. Dengan menahan nafas agar suaranya bisa lebih tertata dan tidak terkesan emosional, santri yang berasal dari Jawa Timur itu menanyakan agar Kyai Hasyim memberikan penjelasan lebih detail tentang upaya pengaburan sejarah Islam itu yang oleh Kyai Hasyim dianggap sebagai sebuah kejahatan.

Kyai Hasyim mendengar dan menyimak pertanyaan Mahmud dengan penuh perhatian. Kyai Hasyim berusaha menjelaskan kepada para santri dengan suara yang agak pelan namun sangat jelas. Untuk mempermudah pemahaman para santri, Kyai Hasyim memberikan contoh upaya pengaburan sejarah yang terjadi di Nusantara. Setidaknya ada 3 kejahatan penulisan sejarah yang bertujuan untuk mengaburkan peran Islam dalam sejarah bangsa dan negara ini.

Kyai Hasyim lantas mencontohkan pengaburan sejarah perjuangan para kyai dan santri bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Resolusi Jihad seharusnya menjadi bagian fundamental penulisan sejarah perjuangan Indonesia. Bila sejarah pergerakan kemerdekaan ditulis secara jujur, mestinya akan terbaca sangat jelas peran besar para santri yang tergabung dalam Hizbullah dan para kiai yang tergabung dalam Sabilillah, dalam periode mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kyai Hasyim melanjutkan kisahnya dengan penuh kesedihan bahwa resolusi atau fatwa itu telah mendorong puluhan ribu muslim, utamanya di Surabaya, untuk bertempur melawan Belanda dengan gagah berani. Peristiwa heroik di Hotel Oranye, Surabaya, itulah yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan, 10 November. Tanpa resolusi itu, mungkin semangat melawan Belanda dan sekutu tidak terlalu tinggi. Namun, dalam buku sejarah, peristiwa penting itu tidak ditulis. Sungguh aneh, peristiwa 10 November selalu disebut-sebut, tetapi Resolusi jihad yang membuat peristiwa 10 November bisa terjadi malah disembunyikan.

Usaha kedua yang diungkapkan Kyai Hasyim terkait pengeburan sejarah adalah pengaburan peristiwa sejarah dengan memberikan contoh pengaburan tokoh kebangkitan nasional yang seharusnya adalah HOS Cokroaminoto. Dialah yang harus disebut sebagai cikal bakal kesadaran nasional melawan penjajah, bukan Boedi Oetomo yang selama ini digaungkan di mana-mana.

Dan yang ketiga menurut Kyai Hasyim adalah pengaburan konteks peristiwa sejarah Islam. Kyai sepuh ini melanjutkan kisahnya bahwa yang seharusnya berhak menyandang sebagai pelopor pendidikan Nasional adalah KH Ahmad Dahlan, bukan yang lain. Sebab sejak tahun 1912, pendiri Muhammadiyah telah merintis lembaga pendidikan di negeri ini.

Untuk memperkuat pemahaman sejarah para santrinya, Kyai Hasyim lantas mengisahkan peristiwa jauh ke belakang untuk lebih menekankan betapa para Kyai dan santri telah lama menjadi pilar-pilar perjuangan Indonesia. Kyai Hasyim menegaskan bahwa spirit Islam sesungguhnya telah lama menjadi dasar perjuangan kemerdekaan pada masa lalu. Peperangan yang terjadi pada abad ke-19 melawan Belanda tidak lain didorong oleh semangat jihad melawan penjajah. Saat Pangeran Diponegoro memanggil sukarelawan, kebanyakan yang tergugah adalah para ulama dan santri dari pelosok desa.

Begitu juga pemberontakan petani menentang penindasan yang berlangsung terus-menerus sepanjang abad ke-19 selalu di bawah kibaran panji-panji Islam. Perlawanan yang dilakukan oleh Tengku Cik Di Tiro, Teuku Umar dan diteruskan oleh Cut Nyak Dien dari tahun 1873-1906 adalah jihad melawan londo-londo. Begitu juga dengan Perang Padri. Sebutan Padri menggambarkan bahwa perang ini merupakan perang keagamaan. Jadi jelas sekali, menurut Kyai Hasyim bahwa ada usaha sistematis untuk meminggirkan bahkan menghilangkan peran Islam dalam sejarah perjuangan kemerdekaan serta menghilangkan spirit Islam dari wajah sejarah bangsa dan negara ini.

Kyai Hasyim merasa begitu penting pemahaman sejarah bagi para santrinya. Menurutnya bahwa yang benar Islam masuk Indonesia pada abad ke 7 Hijriyah, dengan berimannya orang perorang. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang rame dan bersifat internasional melalui selat Malaka yang menghubungkan dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad ke 7. Sejarah kedatangan Islam ke Nusantara ini juga dikaburkan dalam penulisan sejarah. Ada yang menulis abad 9 dan bahkan ada yang mengatakan abad ke 13. Menurut Kyai Hasyim berita itu merupakan bentuk kejahatan sejarah karena telah menutupi fakta sejarah. Terangnya cahaya menara sejarah peradaban Islam kini nampak berkabut tebal, tutur Kyai Hasyim.

Seluruh santri masih dengan sangat serius mendengarkan kisah yang sangat berharga dari Kyai mereka. Mereka begitu tergugah dengan fakta sejarah yang seharusnya menjadi pemahaman seluruh anak bangsa terutama kaum muslimin. Mereka begitu yakin dan bersemangat untuk mengabarkan kembali kepada masyarakat bahwa sesungguhnya Islam hadir untuk kebaikan Indonesia. Melalui perjuangan dan pendidikan para kyai di pesantrenlah, kini Indonesia menjadi negara bangsa yang mayoritas penduduknya muslim.

Sungguh betul kata Kyai Hasyim bahwa keberadaan pesantren telah menjadi mutiara bagi Indonesia, bisik Rasyid dalam hatinya.

Kyai Hasyim melanjutkan kisahnya. Kali ini beliau mengungkapkan fakta sejarah bahwa Islam masuk Indonesia dan berhasil mempengaruhi institusi politik yang ada saat itu. Hal ini nampak pada tahun 100 H (718 M). Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayah meminta dikirimkan dai yang mampu menjelaskan Islam.

Dengan sangat lancar, Kyai Hasyim menuturkan kembali bunyi surat yang pernah ditulis oleh Raja Sriwijaya kepada sang Khalifah, “ Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang cucunya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kabur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada raja Arab yang tidak mengekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, namun sekedar tanda persahabatan. Saya ingin anda mengirimkan kepada saya seorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.”.

Kini Ahmad yang nampak sangat penasaran akhir dari kisah Raja Sriwijaya itu. Ahmad memberanikan diri untuk menanyakan lebih jauh dampak dari surat itu terhadap diri sang raja. Kyai Hasyim mengisahkan bahwa dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambipun dikenal dengan nama Sribuza Islam. Sayang, pada tahun 730 M, Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha.

Mahmud yang semenjak tadi lebih banyak mencatat setiap tuturan Kyai Hasyim juga tak mau kalah dengan sahabat-sahabatnya untuk bertanya kepada Kyai Hasyim.

“Afwan kyai, nyuwun pangpunten sak derengipun, bagaimana dengan penyebaran Islam di daerah-daerah lain di Nusantara Kyai”, tanya Mahmud.

Dengan tutur kata yang tegas dan penuh semangat, Kyai Hasyim memaparkan raja-raja di Nusantara yang masuk Islam karena bersentuhan dengan dakwah Islam, terutama dakwah Wali Songo.

“Diantara mereka adalah Kesultanan Islam Peureulak, Sumatera, berdiri 1 Muharam 225 H/12 November 839 M. Kerajaan Islam Ternate Maluku, berdiri tahun 1440 M dengan Raja Muslim Bayang Ullah, menerapkan Islam setelah menjadi Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Zainal Abidin 1486 M. Kerajaan Islam Tidore dan Bacan Maluku, banyak kepala suku Papua yang masuk Islam. Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjung Pura, Menpawah, Sintang dan Kutai serta samudra Pasai, Aceh Darussalam, Palembang”, tutur Kyai Hasyim.

“Berbagai institusi politik Islam saat itu juga telah berdiri seperti Kesultanan Demak dan dilanjutkan kesultanan Jipang, kesultanan Pajang, kesultanan Mataram di Jawa. Kesultanan Banten dan Cirebon didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng, dan Luwu. Di Nusa tenggara, penerapan Islam dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima”, kata Kyai Hasyim melanjutkan kisahnya.

Para santri tertegun mendengar setiap kisah yang keluar dari lisan Kyai Hasyim. Tak terasa malam kian larut.

Malam itu para santri begitu larut dalam suasana yang mengharukan. Setiap perkataan Kyai Hasyim menancap kuat dalam hati dan pikiran para santri. Mereka begitu sedih malam itu karena merupakan malam terakhir belajar di pesantren Nurul Huda. Esuk hari mereka harus turun gunung untuk mengemban amanah pendidikan dan perjuangan di masyarakat yang lebih luas. Seluruh santri dengan dada berdegup kencang menanti kemana mereka akan ditugaskan oleh Kyai Hasyim.

Para santri begitu ingat ungkapan yang pernah disampaikan oleh Kyai yang dikenal tegas tapi lemah lembut itu bahwa usaha bijak dan pengorbanan yang cerdas, pertama kali harus diorientasikan untuk membangun masyarakat yang baik. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang dibangun berdasarkan manhaj Allah. Ketika masyarakat telah mengalami kerusakan total, ketika jahiliyah telah merajalela, ketika masyarakat dibangun dengan selain manhaj Allah dan ketika bukan syariat Allah yang dijadikan asas kehidupan, maka usaha-usaha yang bersifat parsial tidak akan ada artinya. Ketika itu usaha harus dimulai dari asas dan tumbuh dari akar, dimana seluruh energi dan jihad dikerahkan untuk mengukuhkan kekuasaan Allah di muka bumi. Jika kekuasaan ini telah tegak dan kuat, maka amar ma’ruf dan nahi munkar akan tertanam sampai ke akar-akarnya.

Bahkan suatu saat ketiga pengajian tentang fikih dakwah, Kyai Hasyim pernah berpesan kepada seluruh santrinya dengan mengatakan bahwa dakwah Islam memerlukan keimanan dan pemahaman tentang realitas sebagai hakekat keimanan dan wilayahnya dalam sistem kehidupan. Keimanan dan tataran inilah yang akan menjadikan kebergantungan secara total kepada Allah, serta keyakinan bulat akan pertolonganNya kepada kebaikan serta perhitungan akan pahala di sisiNya, sekalipun jalannya sangat jauh. Orang yang bangkit untuk memikul tanggungjawab ini tidak akan menunggu imbalan di dunia, atau penilaian dari masyarakat, namuan hanya untuk menggapai ridho Allah. Kyai Hasyim lantas mengutip firman Allah surat al An’am ayat 162.

Dengan kata-kata yang agak terbata-bata dan genangan air mata yang nampak semakin jelas, Kyai Hasyim menyampaikan 20 nama santrinya beserta tempat tugas yang harus mereka datangi. Dua puluh santri terbagi menjadi 4 zona perjuangan yakni Sumatera, Aceh, Sulawesi dan Papua. Ahmad, Mahmud dan Rasyid yang merupakan teman akrab harus terpisah oleh zona perjuangan. Sebab Ahmad ditugaskan di Aceh, Rasyid ditugaskan di Sulawesi, sementara Mahmud ditugaskan oleh Kyai Hasyim untuk berjuang di tanah Papua.

Malam itu tangis dan air mata tak terbendung lagi. Mereka tidak sedih karena harus bertugas dan menyebar ke seluruh penjuru Indonesia. Mereka bersedih karena harus berpisah dengan guru yang sangat mereka cintai yang kini telah berusia senja. Kyai Hasyim berpesan kepada santrinya bahwa mereka harus mengemban amanah perjuangan itu dengan baik. Seolah itu pesan terakhir dari sang Kyai. Peluk dan tangis mewarnai malam itu.

Pepohonan diam mematung. Angin tak terdengar desisnya. Suara jangkrik menghilang. Langit agak gelap. Rerumputan menunduk. Hutan pinus terasa sunyi malam itu. Malam semakin larut.

Mentari pagi tak sabar hendak menyapa pagi, hendak menyinari perjalanan perjuangan para santri esuk hari. Perjalanan panjang membawa visi mulia : dari pesantren untuk peradaban Indonesia dan dunia.

[AhmadSastra,Sukabumi,24/01/20 : 06.45 WIB]

________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar