MENYEMAI GENERASI PENELITI - Ahmad Sastra.com

Breaking

Senin, 20 Januari 2020

MENYEMAI GENERASI PENELITI


Oleh : Ahmad Sastra

Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2019 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMP Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mampu memotret kompetensi para peneliti muda. Banyak gagasan berkualitas lahir dari budaya literasi para siswa SMP seluruh Indonesia ini.

Dari peningkatan jumlah jumlah naskah yang masuk pada tahun 2019 ini, membuktikan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki bibit-bibit unggul calon ilmuwan di masa depan. Tinggal mereka disemai dan dirawat dengan baik. Menyemai generasi peneliti bisa dilakukan dengan terus menciptakan kondisi akademik di sekolah dan dukungan pemerintah yang optimal. Semoga OPSI 2020 makin banyak lagi calon-calon peneliti yang ikut berkompetisi.

Dari bidang Ilmu Pengetahuan Sosial, Kemanusiaan dan Seni banyak menyoroti lebih tajam tentang fenomena kearifan lokal sarat nilai yang tersebar seantero nusantara. Bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Lingkungan banyak memotret lingkungan sekitar sekolah atau masyarakat yang sarat nilai santifik. Sementara bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan rekayasa pun tidak ketinggalan, banyak inovasi kreatif yang muncul.

Berbagai fenomena sosial, agama, lingkungan dan budaya yang bertebar di seluruh bumi nusantara diteropong dengan sangat baik oleh para siswa. Meski bangsa ini memiliki kompleksitas sosial budaya, namun dengan berbagai kajian ilmiah bisa ditemukan solusi berdasarkan analisa yang rasional dan empiris. Dengan pendekatan metode ilmiah yang menggabungkan antara paradigma rasional dan empiris, solusi yang ditawarkan oleh para peneliti, patut menjadi pertimbangnan dan renungan bagi bangsa ini.

Peneliti adalah manusia langka sekaligus istimewa. Karena itu calon-calon ilmuwan yang kini masih duduk di bangku SD atau SMP mestinya mendapatkan perhatian dan penghargaan yang istimewa juga. Sebab seorang ilmuwan selalu fokus kepada kaedah scientific base yang mampu memberikan lentera bagi gelapnya kompleksitas permasalahan yang lahir dari interpretatif base.

Menjaga dan merawat ilmuwan adalah menjaga lentera untuk tetap menyala. Matinya ilmuwan dan ulama adalah kegelapan bagi sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara. Menjaga dan merawat spirit ilmuwan adalah sebuah pertanda akan kemajuan peradaban sebuah bangsa. Sebaliknya, membonsai dan mengebiri peran ilmuwan adalah potret buram bagi sebuah bangsa. Biarkan ilmuwan bekerja dengan dunianya, negara hanya berkewajiban merawat, menjaga dan memberikan penghargaan tinggi bagi peran dan urgensitasnya.

Apalah jadinya kehidupan sebuah bangsa tanpa cahaya ilmu para ilmuwannya. Ilmuwan yang berkualitas ditopang karakter dan kepribadian yang mulia akan membawa sebuah peradaban bangsa maju dan unggul. Maju mundurnya peradaban sebuah bangsa bergantung kepada keunggulan SDM nya. Kerusakan epistemologi bisa membawa sebuah bangsa pada kubangan kegelapan, jika tak ada lentera ilmu pengetahuan dan nilai. Kerancuan epistemologi di dunia Barat tanpa topangan nilai kepribadian, telah menghasilkan fenomena sosial budaya yang destruktif, meski secara teknologi maju.

Ilmuwan tidak akan pernah puas jika hanya mengenal ilmu hanya dari perspektif ilmu itu sendiri. Dia ingin tahu hakikat ilmu dari sudut pandang lain, kaitannya dengan moralitas, serta ingin yakin apakah ilmu ini akan membawa kebahagian dan kebaikan diri dan manusia seluruhnya. Hal ini akan membuat ilmuwan tidak merasa sombong dan paling hebat. Di atas langit masih ada langit. Imam al Ghazali misalnya, pernah menyatakan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa. Inilah karakter dan cermin adab seorang ilmuwan yang berbasis nilai.

Seorang ilmuwan juga selalu berfikir mendasar atas segala fenomena alam dan sosial yang terjadi di sekitarnya. Sifat mendasar adalah sifat yang tidak saja begitu percaya bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmu itu benar ?. Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan ?. Apakah kriteria itu sendiri benar ?. Lalu benar sendiri itu apa ?. Seperti sebuah pertanyaan yang melingkar yang harus dimulai dengan menentukan titik yang benar. Disinilah karakter ilmuwan yang selalu obyektif dan berdiri di atas dasar kebenaran santifik.

Konstruksi berfikir seorang ilmuwan terdiri dari lima pilar. Pertama adalah ontologis yang mengkaji hakekat segala sesuatu. Kedua, epistemologis yang mengkaji definisi segala sesuatu yang dengannya manusia berinteraksi. Ketiga, aksiologis yakni nilai-nilai kebermanfaatan atas segala sesuatu atau temuan penelitian. Keempat, retoris yakni cara memilih bahasa sebagai alat komunikasi untuk mengungkap sebuah kebenaran. Kelima, metodologis yakni cara untuk bisa menganalisa dan membuktikan kebenaran.

Dalam membangun konstruksi keilmuwan, seorang ilmuwan akan menyusun sebuah lingkaran dan menentukan titik awal sebuah lingkaran yang sekaligus menjadi titik akhirnya dibutuhkan sebuah pemikiran, baik sisi proses, analisis maupun pembuktiannya. Akhirnya seorang ilmuwan dapat menawarkan dan memisahkan mana yang logis saintifik dan mana yang filosofis spekulatif.

Seorang ilmuwan atau peneliti akan terus berfikir mendasar dan menyeluruh, suatu cara berfikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Tak satu hal yang bagaimanapun kecilnya yang luput dari pemikiran seorang ilmuwan sesuai bidang kajiannya. Tak ada suatu pernyataan (postulat) yang bagaimanapun sederhananya yang diterima begitu saja tanpa pengkajian yang seksama.

Idealnya, seorang ilmuwan tidak hanya berfikir berdasarkan scientific base, tanpa visi spiritual. Bahkan Plato pernah berujar bahwa ada tujuan spiritual atas penciptaan alam semesta. Dengan spirit ilmu dan nilai, maka para ilmuwan telah meletakkan dasar-dasar peradaban mulia bagi sebuah bangsa, bukan malah dengan temuannya mengakibatkan kerusakan. Sebab selain kejujuran, keahlian, ilmuwan muslim juga berorientasi kepada kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan manusia.

(AhmadSastra,KotaHujan,20/01/20 : 11.14 WIB) _________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar