STEPHEN HAWKING DAN SINGULARITAS DEMOKRASI - Ahmad Sastra.com

Breaking

Rabu, 22 Januari 2020

STEPHEN HAWKING DAN SINGULARITAS DEMOKRASI



Oleh Ahmad Sastra

Dunia ilmu pengetahuan kehilangan salah satu ilmuwan fisika kenamaan Stephen William Hawking. Fisikawan jebolan PhD Universitas Cambridge itu meninggal Rabu [14/3/18] pada usia 76 tahun. Di Universitas itu, ia mempelajari dengan tekun tentang fisika teoritis kosmologi tentang teori spekulatif lubang hitam atau black hole, meski hampir seluruh tubuhnya lumpuh akibat penyakit motorik amyotrophic lateral sclerosis [ALS].

Dengan alat bicara synthesize, Hawking dengan tak mudah menyerah terus memproduksi teori-teori fisika hingga melahikan buku kosmologi super best seller A Brief History of Time [1988] dan The Grand Design [2010]. Secara spekulatif kedua buku itu memuat teori hukum-hukum fisika dan kosmologi dikaitkan dengan eksistensi Tuhan. Kesimpulan Hawking bahwa Tuhan itu tidak ada. Ironis ya ?.

Terlepas dari penghargaan usaha gigih Hawking, Allah jauh hari telah mengabarkan soal keberadaanNya dibalik asal penciptaan dan keteraturan makrokosmos alam semesta. Dalam Surat Al Anbiyya ayat 30 di tegaskan, “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman”.

Sebagai fisikawan teoritis spekulatif, Hawking telah banyak melontarkan teori-teori kosmologi seperti teori kebermulaan alam semesta secara singularitas [1970], teori bahwa lubang hitam mengeluarkan radiasi dan bisa dilacak [1974], teori tentang inflasi kosmis [1980], teori big bang pembentukan alam semesta, teori ketiadaan waktu sebelum big bang [1988] dan teori bahwa alam semesta awalnya tak memiliki keadaan tunggal [2006].

Meski dalam pandangan Hawking Tuhan itu tidak ada dan hukum alam ada dengan sendirinya, namun saat ditanya apakah alien itu ada, sebagai fisikawan visioner, Hawking mengatakan bahwa bisa jadi makhluk ruang angkasa Alien itu ada. Di akhir usianya, Hawking memandang bahwa bumi tak lagi mampu menampung jumlah manusia dan menganjurkan manusia untuk pindah ke planet lain agar manusia bisa lestari.

Dalam buku A Brief Story Of Time, Hawking menegaskan prinsip ateistiknya dengan melontarkan teori singularitas gravitasi yang menyatakan empat prinsip utama yakni tuhan sejatinya tidak ada, bukan tuhan yang menciptakan alam semesta, surga dan neraka hanyalah dongeng semata dan manusia sejatinya bisa hidup kekal. Namun kematiannya telah mampu membantah teori spekulasinya sendiri.

Jujur, saya bukan ahli fisika, meski saat SMA saya mengambil jurusan IPA, namun selanjutnya saya menekuni bidang sosial dan keagamaan. Karena itu saya akan hentikan kajian fisika dan mencoba mengkaitkan teori spekulasi Hawking dalam dunia politik. Ini hanya sebuah interpretasi epistemologi, substansinya bisa diperdebatkan. Jika mau membantahnya, silahkan saja.

Istilah politik yang saya maksud adalah sistem politik demokrasi, dimana politik dimaknai sebagai cara untuk meraih kekuasaan melalui mekanisme suara terbanyak. Demokrasi berasas kebermanfaatan pragmatis semata dan mengabaikan sistem nilai agama. Karena itu tak ada agama dalam demokrasi dan tak ada tata etika permanen di dalamnya. Demokrasi hanya menghajatkan spekulasi, hegemoni kepentingan dan konsensus belaka.

Nah, inilah yang akan dikaji lebih elaboratif berdasar inspirasi fisika teoritis Hawking ke dalam ilmu sosial. Mengingat Hawking adalah fisikawan teoritis yang juga tak memiliki banyak perhatian terhadap eksistensi Tuhan. Kelebihan Hawking adalah bahwa ia tak mudah menyerah dalam upaya menguak rahasia kosmologis berdasar subyektivitas worldviewnya sendiri.

Begitu pulalah yang namanya politik demokrasi dimana eksistensi Tuhan tak dihiraukan. Singularitas politik demokrasi adalah karena ketiadaan ikatan manusia dengan etika dan hukum agama. Seluruh paradigma yang dibangun didasarkan oleh subyektivitas kepentingan untuk meraih keuntungan pragmatis semata. Inilah yang menjadikan demokrasi sejak awal kelahiran telah mengamali singularitas, yakni kondisi ketidakberaturan atau berantakan.

Demokrasi singularistik inilah yang kemudian melahirkan tata kehidupan yang juga berantakan. Agama dan etika tak lagi dijadikan patokan perbuatan dalam politik demokrasi menjadikan perilaku korup dan penuh manipulasi. Tipu daya dan kebohongan publik kerap mewarnai pesta pemilu demokrasi. Akibatnya, rakyat kecil hanya dijadikan komoditas politik demi kepentingan segelintir kapitalis.

Dalam spekulasi Hawking tentang big bang mengakibatkan pembentukan tata surya yang memiliki keteraturan dengan sendirinya, namun big bang demokrasi faktanya mengakibatkan ketidakteraturan kehidupan manusia. Kebebasan dan HAM telah menyeret manusia ke dalam kehidupan ala binatang. Bahkan tidak jarang, binatangpun kalah hina dibandingkan perilaku manusia pemuja demokrasi, misalnya homoseksual.

Cepat atau lambat, demokrasi akan mati, sebagaimana kematian Hawking. Meski Hawking meyakini akan kehidupan abadi, tapi toh faktanya mati juga kan ?. Begitupun dengan demokrasi yang terlanjur dipuja dan dianggap sistem terbaik, sesaat lagi akan tumbang dan mati. Sebab tidak ada yang abadi di dunia ini, kecuali hanya Allah lah yang Maha Abadi.

Demokrasi bisa diibaratkan sebagai black hole atau lubang hitam kehidupan. Demokrasi adalah kegelapan bagi kehidupan dan peradaban manusia. Demokrasi akan menelan semua manusia ke dalam lubang hitamnya dan menyesatkan seluruh manusia pula. Lubang hitam demokrasi adalah kegelapan peradaban.

Meski demikian, seolah tidak ada sistem politik yang lebih baik dari demokrasi adalah pola fikir yang salam. Hawking saat ditanya tentang makhluk ruang angkasa Alien, maka jawabnya bisa jadi ada. Sementara sistem politik Islam yang lebih baik dari demokrasi sudah jelas ada, bukan mungkin lagi. Ideologi Islam adalah sistem kehidupan yang telah terbukti memberikan kebaikan bagi seluruh manusia. Islam rahmatan lil’alamin. Tentu ideologi ini saat terealisasi melalui daulah khilafah yang dijanjikan Allah.

[AhmadSastra,KotaHujan, 17/03/18 : 10.00 WIB]

_______________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar