ANTARA PEMIKIRAN, AKAL DAN KESADARAN - Ahmad Sastra.com

Breaking

Kamis, 13 Februari 2020

ANTARA PEMIKIRAN, AKAL DAN KESADARAN



Oleh : Ahmad Sastra

Apakah pemikiran sama dengan akal ?. Apakah akal sama dengan kesadaran ?. Apakah pemikiran, akal dan kesadaran adalah tiga postulat yang memiliki kesamaan makna dan esensi. Benarkah pemikiran mempengaruhi sikap ?. Mengapa perilaku muslim berbeda dengan perilaku orang sekuler atau ateis ?. Kajian filsafat kali ini akan menggali ketika istilah ini.

Pemikiran, akal, dan kesadaran pengertiannya adalah sama dan merupakan nama-nama yang berbeda untuk satu sebutan. Kadang-kadang digunakan kata pemikiran dan yang dimaksud adalah proses berpikir. Dapat digunakan dengan maksud hasil pemikiran, yakni suatu yang telah sampai pada manusia melalui suatu proses berpikir. Pemikiran dengan arti proses berpikir, tidak memiliki organ tubuh tertentu yang dapat ditunjuk, melainkan merupakan suatu proses yang rumit yang melibatkan empat unsur yaitu: fakta yang terindera, panca indera manusia, otak manusia, dan informasi sebelumnya yang berkaitan dengan fakta tersebut dan dimi¬liki oleh manusia. Jika keempat unsur tersebut tidak terkumpul dalam suatu proses berpikir maka pemikiran, akal dan kesadaran tidak pernah terwujud.

Oleh karena itu, orang-orang terdahulu telah mengalami suatu kekeliruan dalam membahas hakekat akal. Dimana mereka mencoba berusaha menentukan tempat keberadaannya, apakah ada di kepala, di hati, atau tempat lainnya. Yang jelas mereka menduga, bahwa akal adalah suatu organ tertentu dalam tubuh, atau bahwa akal itu memiliki organ tertentu yang bekerja secara aktif. Orang-orang modern pun telah me-lakukan kekeliruan, tatkala menjadikan otak sebagai tempat bersemayam¬nya akal, sekaligus sebagai pusat kesadaran, atau pemikiran. Baik mereka itu yang berpendapat bahwa pemikiran adalah refleksi otak terhadap kenyataan ataupun yang mengatakan sebaliknya bahwa pemikiran adalah refleksi kenyataan ke otak.

Sebab, otak adalah salah satu organ sebagaimana organ tubuh yang lain. Tidak ada suatu refleksi apa pun yang terdapat padanya. Sebab yang dimaksud dengan refleksi adalah memantulnya cahaya pada suatu benda atau memantulkan suatu benda yang di dalamnya terdapat kemam¬puan untuk direfleksikan; yang disertai adanya cahaya. Misalnya, cahaya lampu listrik yang mengenai suatu benda dipantulkan kembali oleh benda tersebut, sehingga tampaklah bersama-sama dengan cahaya itu.

Demikian juga dengan cahaya matahari, bulan dan cahaya-cahaya lainnya. Atau sampainya gambaran suatu benda pada cermin disertai dengan adanya cahaya, maka terjadilah pemantulan cahaya, sehingga terjadi pemindahan gambar benda itu pada cermin, dan terlihat sebagaimana adanya. Pantulan gambaran benda itu seolah-olah tergambar di balik cermin (bayangan maya) sampai bisa dilihat. Padahal sebenarnya hal itu tidak tergambar di sana. Yang terjadi adalah refleksi (pencerminan), sebagaimana refleksi cahaya terhadap benda apa saja. Inilah yang dimaksud dengan refleksi.

Dalam proses berpikir, tidak terjadi suatu refleksi apapun, tidak menghasilkan suatu refleksi, dan tidak ada refleksi kenyataan terhadap otak. Yang jelas di sini tidak ada suatu bentuk refleksi sama sekali. Adapun mata yang disangka dengan perantaraannya dapat menimbulkan suatu refleksi, ternyata tidak terjadi dan tidak menghasilkan apapun. Yang terjadi adalah suatu pencerapan. Sebab suatu benda yang terlihat, tidaklah terpantul gambarnya keluar. Yang terjadi adalah suatu pencerapan dengan sampainya gambaran benda tersebut. Jika gambaran benda yang tampak itu tercerap dan terdapat di bagian dalam mata, maka terlihatlah benda itu.

Tidak mungkin terjadi suatu pemantulan di bagian belakang mata, dan tidak mungkin terjadi atau dihasilkan suatu pantulan. Dengan demikian, otak bukanlah tempat bersemayamnya akal atau pemikiran. Yang sebenarnya terjadi adalah suatu perpindahan gambaran tentang fakta yang terindera oleh otak melalui perantaraan indera manusia yang lain. Jenis "gambar" tersebut tergantung pada indera yang memindahkannya. Bila indera yang digunakan adalah indera penglihatan (mata), maka yang akan sampai adalah bentuk gambarnya. Jika yang digunakan adalah indera pendengaran, maka yang akan sampai adalah "gambaran" suara.

Dan jika yang digunakan adalah indera penciuman, maka yang akan sampai adalah "gambaran" baunya, demikian seterusnya. Jadi fakta itu tergambar seba¬gaimana yang sampai ke otak atau sesuai dengan gambar yang disampai¬kan. Dengan demikian terjadinya suatu penginderaan terhadap fakta belaka, belum merupakan suatu pemikiran. Yang terjadi hanyalah suatu identifikasi yang berasal dari naluri; apakah hal itu mengenyangkan, menyakitkan, menggembirakan, memberi kenikmatan atau sebaliknya, dan lain sebagainya, tidak lebih dari itu. Di sini belum terjadi pemikiran.

Namun demikian, jika informasi sebelumnya berkaitan dengan fakta tersebut, di sini akan terjadi jalinan. Maka daya ingat yang ada dalam otak manusia terhadap kenyataan yang diindera dan telah tergambar dalam otak, maka terjadilah suatu proses berpikir, dan selanjutnya menghasilkan kesadaran terhadap hakekat benda tersebut. Jika tidak ada informasi sebelumnya, maka tidak mungkin mengetahui hakekat benda tersebut, yang ada hanyalah semata-mata penginderaan atau sekedar hanya identifik-asi yang berasal dari naluri --seperti apakah hal itu mengenyangkan atau tidak, tak lebih dari itu-- dan tidak akan menghasilkan suatu pemikiran.

Dengan demikian, proses berpikir tidak akan berlangsung, kecuali dengan terwujudnya empat unsur, yaitu: fakta yang diindera, satu atau beberapa alat indera, otak, dan informasi sebelumnya yang berkaitan dengan benda yang diindera. Jika salah satu dari keempat unsur tadi tidak ada, maka sama sekali tidak akan terjadi suatu proses berpikir.

Usaha berpikir yang dilakukan tanpa adanya fakta yang diindera atau tidak adanya informasi sebelumnya, adalah suatu khayalan/ imajinasi yang tidak ada wujudnya, dan bukan merupakan suatu pemikiran. Hanyut dalam khayalan dengan menjauhkan diri dari fakta yang terindera atau informasi sebelumnya tentang masalah tersebut, akan menjerumuskan kepada ilusi dan kesesatan. Bahkan mungkin akan menyebabkan kerusakan otak, sehingga tertimpa bencana tidak waras, epilepsi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, haruslah terdapat fakta yang terindera dan informasi sebelumnya disamping adanya alat indera dan otak manusia.

Jadi pemikiran, akal dan kesadaran adalah penangkapan suatu kenyataan dengan perantaraan indera ke otak disertai informasi sebelum¬nya tentang fakta tersebut yang berfungsi menafsirkannya. Dikatakan penangkapan kenyataan bukan gambarnya. Sebab, yang ditangkap adalah pencerapan fakta, bukan gambaran fakta tersebut seperti halnya gambar fotografi (potret) yang merupakan gambar suatu kenyataan yang dapat diindera. Maka lebih tepat jika dikatakan sebagai penangkapan fakta, dari pada memindahkan gambaran fakta. Sebab, gambar suatu yang ditangkap adalah pencerapan fakta bukan sekedar gambarnya.

Itulah definisi pemikiran, akal dan kesadaran. Proses ini terjadi dalam diri si pemikir yang menghasilkan pemikiran, bukan yang menerima pemikiran. Sebab dalam diri orang yang menerima pemikiran tidak ber¬langsung proses ini karena pemikiran itu telah ditemukan lalu menghilang. Kemudian, si penemu itu memberikan kepada orang banyak, dan terus berpindah di kalangan manusia, yang kemudian mereka ekspresikan dengan simbol-simbol bahasa atau simbol-simbol lainnya. Meskipun yang paling menonjol adalah ekspresi dalam bentuk bahasa.

Suatu pemikiran yang disampaikan kepada seseorang perlu dilaku¬kan langkah-langkah peninjauan sebagai berikut: Jika pemikiran tersebut memiliki fakta yang dapat diindera dan sebelumnya telah diindera oleh orang tersebut, atau ia menginderanya pada saat menerima pemikiran itu; atau ia belum pernah menginderanya baik sebelumnya atau saat ia mene¬rima pemikiran itu, tetapi dapat membayangkan dalam benaknya sebagaimana yang disampaikan kepadanya, lalu ia membenarkan dan menjadikan¬nya fakta dalam benaknya, seolah-olah telah mengindera dan menerima-nya seperti fakta yang benar-benar terindera, maka dalam dua keadaan seperti ini ia telah menyadarinya. Dengan adanya fakta tersebut, terben¬tuklah dalam benaknya suatu persepsi (mafhum) dan menjadi suatu pemikiran yang nyata seolah-olah dia sendiri yang menghasilkan pemikiran itu.

Akan tetapi jika belum terdapat suatu kenyataan pada diri orang yang menerima¬nya, kendati telah memahami rangkaian kalimat, pemikiran dan apa yang dimaksud dengan pemikiran itu, namun pemikiran itu belum mempunyai fakta dalam benaknya, baik dengan menginderanya, meyakininya, atau menerimanya maka ia hanya merupakan informasi (maklumat) belaka. Dengan kata lain hanya sekedar pengetahuan tentang berbagai benda saja, sekalipun itu merupakan pemikiran, ditinjau dari keberadaan unsur-unsurnya, tetapi bagi orang yang belum memahami realitanya tidak lebih dari sekedar pengetahuan saja.

Oleh karena itu yang dapat berpengaruh pada diri manusia bukanlah informasi melainkan persepsi. Sebab persepsi merupakan pemikiran-pemikiran dalam benak orang-orang yang memahaminya. Karena itu, adalah suatu keharusan untuk mengetahui hakekat pemikiran agar dapat diketahui bagaimana pemikiran itu dapat mempengaruhi manusia. Benar kata pepatah yang mengatakan bahwa apa yang dipikirkan adalah gambaran dirinya. Sebab dari pemikiran akan melahikan sikap dan perilaku. Itulah mengapa perilaku seorang muslim sangat berbeda dengan perilaku seorang sekuler atau ateis.

(AhmadSastra,KotaHujan,13/02/20 : 09.18 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar