SIAPA SESAT LOGIKA ? - Ahmad Sastra.com

Breaking

Sabtu, 15 Februari 2020

SIAPA SESAT LOGIKA ?



Oleh : Ahmad Sastra

Ketika saya membuka laman FB, banyak orang yang mengomentari potongan tulisan saya yang terkait istilah jihad dan pancasila. Bisa jadi kesimpulan itu setelah membaca keseluruhan tulisan saya, bisa jadi juga kesimpulan itu hanya didasarkan oleh gambar yang kini memang telah viral. Inti tulisan saya adalah bahwa menggunakan istilah-istilah itu harus hati-hati.

Salah satu akun (tidak saya sebut nama demi menjaga nama baik dan menghargai setiap pendapat) ada yang menyebut dan mengingatkan netizen agar mewaspadai Ahmad Sastra karena dianggap terpapar logika sesat. Saya sih sama sekali tidak marah, cukup disenyumi saja. Di waktu senggang ini, saya coba menulis dan mengurai soal logika sesat ini. Apakah benar Ahmad Sastra terpapar logika sesat, atau malah sebaliknya ?. Yuk kita simak tulisan ini sambil ngopi dan jangan lupa bahagia ya……

Postulat bisa dilihat dari dua jenis, pertama secara bahasa (etimologi) dan secara istilah (terminologi). Etimologi mengarah kepada ontologis, sementara teminologi berkaitan dangan pandangan orang atas realitas. Secara terminologi, definisi sebuah fakta sangat mungkin mengalami perbedaan. Definisi seseorang terhadap fakta sangat bergantung kepada sudut pandang dan timbangannya.

Etimologi biasanya melihat sebuah istilah dari sudut pandang asal bahasa istilah tersebut. Misalnya kata karakter, apakah sama artinya dengan kata akhlak. secara genealogi, kedua istilah ini berasal dari asal kata yang berbeda. Akhlak berasal dari terminologi Islam, sementara karakter berasal dari terminologi Barat.

Begitupun istilah jihad adalah istilah yang berasal dari terminologi Islam, sementara pancasila berasal dari terminologi sansekerta. Apakah keduanya sama atau berbeda, jelas berbeda kan ?. Islam dan pancasila secara etimologi maupun terminologi adalah dua hal yang berbeda sama sekali.

Saya berikan satu contoh lagi yang sederhana, apakah manusia dan binatang sama atau berbeda. Kalau menggunakan logika sehat bisa ditemukan kesamaan sekaligus perbedaan. Secara esensi keduanya adalah makhluk ciptaan tuhan, namun secara fakta empiris keduanya memiliki perbagai perbedaan.

Jika ada orang secara egois dan emosi mengatakan bahwa langit dan bumi adalah sama, apa penilaian kita atas orang tersebut. Apakah mengatakan langit dan bumi itu berbeda sama artinya mempertentangkan keduanya. Apakah jika mengatakan islam dan pancasila berbeda maknanya keduanya adalah musuh ?. Apakah jika mengatakan suami dan istri itu berbeda artinya keduanya adalah musuh ?.

Islam dengan pancasila itu seperti langit dan bumi, apa maknanya ?. Postulat ini bisa dimaknai dengan banyak penjelasan. Jika menggunakan pola pikir sains, maka melalui riset akan ditemukan bahwa langit dan bumi memang memiliki perbedaan, mulai dari tata letak, bentuk, fungsi, bahan dan bahkan warna dan ukuran. Jika menggunakan pola fikir rasional atau logika, maka langit dan bumi secara logis adalah dua hal yang memang berbeda. Justru jika ada yang mengatakan bahwa langit dan bumi itu sama, maka orang itu mengalami sesat kesimpulan dan logika.

Pola pikir sains (thariqah ilmiah) adalah suatu metode pengkajian yang dapat ditempuh agar seseorang sampai pada tahap mengetahui hakekat sesuatu yang diteliti, melalui berbagai macam percobaan ilmiah. Tetapi proses pencapaian hanya berlaku bagi benda-benda yang bersifat empiris, dan tidak terhadap idea-idea (abstrak). Thariqah ilmiah ini dapat diterapkan dengan cara memperlakukan benda pada situa¬si/keadaan tertentu bukan pada situasi/kondisi yang alami.

Hasil yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan hasil percobaan pada situasi/kondisi alami yang telah ada (kon¬trol). Dari percobaan dan hasil yang diperoleh serta per¬bandingan yang dilakukan, dapat diambil suatu kesimpulan tentang hakekat benda yang diteliti dan dapat diserap oleh indera. Bentuk percobaan ini telah lazim dilakukan di laboratorium.

Thariqah ilmiah, mengharuskan adanya "peniadaan" terha¬dap segala bentuk informasi yang diperoleh sebelumnya ten¬tang materi/benda yang diteliti. Kemudian, dimulailah langkah-langkah pengamatan dan eksperimen terhadap materi atau benda tersebut. Thariqah ini mengharuskan seseorang yang hendak melakukan penelitian, terlebih dahulu harus meniadakan setiap pandangan, pendapat, atau keyakinan ten-tang benda/materi tersebut yang telah dihasilkan melalui eksperimen sebelumnya. Kemudian mulai melakukan pengamatan dan eksperimen, dilanjutkan studi komparasi, klasifikasi sampai mencapai suatu kesimpulan yang diperoleh berdasarkan tahapan/proses ilmiah tadi.

Apabila seseorang telah sampai pada suatu kesimpulan setelah melakukan eksperimen, maka hasil penelitiannya itu berupa kesimpulan ilmiah, yang biasanya didasarkan pada suatu penelitian/eksperimen. Kesimpulan itu tetap merupakan kesimpulan ilmiah, selama belum dapat dibuktikan adanya kesalahan dalam salah satu penelitiannya.

Kesimpulan yang dihasilkan oleh seorang peneliti mela¬lui thariqah ilmiah, meskipun disebut sebagai suatu fakta ilmiah atau etika/tata-cara ilmiah, akan tetapi belum fixed (pasti), yakni masih mengandung "faktor kesalahan". Bahkan adanya "faktor kesalahan" dalam thariqah ilmiah merupakan paradigma yang paling mendasar yang harus diperhatikan dalam thariqah ilmiah, sebagaimana yang ditetapkan etika ilmiah.

Kesalahan dalam mengambil kesimpulan sering terjadi dan telah terbukti berbagai kekeliruan di bidang pengetahuan sains, setelah sebelumnya dianggap sebagai faktor ilmiah yang fixed (pasti). Sebagai contoh teori ilmiah tentang atom, yang sebelumnya dikatakan sebagai partikel kecil dari suatu benda, yang tidak dapat dipecah lagi. Akan tetapi kemudian terbuktilah kekeliruannya, yang juga menggunakan metode ilmiah yang sama. Ternyata, atom masih dapat dipecah lagi.

Dari sini dapat dipahami, bahwa thariqah ilmiah hanya¬lah berlaku untuk benda/materi saja. Karena termasuk ker¬angka berfikir paling mendasar dalam thariqah ilmiah ini adalah melakukan eksperimen terhadap benda dengan memperlak¬ukannya pada kondisi teertentu dan bukan dalam kondisi/situasi yang alami (khusus dilakukan dalam ilmu terapan). Hal itu tidak dapat dilakukan terhadap sesuatu yang berbentuk ide atau pemikiran (abstrak). Oleh sebab itu pula, kesimpulan yang dihasilkan dari thariqah ilmiah adalah kesimpulan yang bersifat dugaan dan tidak pasti, serta mengandung "faktor kesalahan".

Sedangkan pola fikir rasional/logika (thariqah aqliyah), adalah suatu metode pengkajian yang dapat ditempuh agar seseorang sampai pada tahap mengetahui hakekat sesuatu yang sedang dikaji, melalui indera yang menyerap obyek. Proses penyerapan tersebut dilakukan melalui panca indera menuju ke otak, dibantu oleh pengetahuan/informasi sebelumnya yang akan menafsirkan dan memberikan keputusan (sikap) atas fakta tersebut. Keputusan tersebut dinamakan pemikiran atau idea (thought) yaitu pemahaman yang diperoleh akal secara lang¬sung.

Thariqah ini mencakup pengkajian materi/obyek yang dapat diindera (ilmu fisika), maupun yang bukan materi/abstrak (berkaitan dengan pemikiran). Dan ini satu-satunya metode yang alami yang ada dalam diri manusia untuk memahami segala sesuatu. Yaitu dengan terbentuknya pemiki¬ran atau pemahaman terhadap sesuatu. Pola fikir seperti ini merupakan definisi akal. Dengan cara inilah, manusia dalam kedudukannya sebagai manusia bisa memahami segala sesuatu yang telah lalu, baik yang telah ataupun yang ingin ia ketahui.

Hasil yang diperoleh melalui thariqah aqliah, mengan¬dung dua kemungkinan. Jika kesimpulan itu berkaitan tentang "ada" atau "tidak adanya wujud" sesuatu, maka ia bersifat pasti/fixed dan sedikitpun tidak mengandung faktor kesala¬han. Sebab, keputusan itu diambil melalui penginderaan terhadap sesuatu, sedangkan alat indera manusia tidak mung¬kin salah dalam menentukan "adanya" sesuatu yang bersifat nyata, karena penyerapan indera manusia terhadap "adanya" sesuatu kenyataan bersifat pasti, sehingga keputusan akal untuk menentukan "adanya" sesuatu yang terindera adalah pasti.

Kesalahan yang mungkin tejadi dengan metode ini diaki¬batkan kesalahan penginderaan. Misalnya saja fata morgana yang disangka air, atau pensil yang lurus terlihat bengkok dan patah ketika dicelupkan ke dalam air. Namun demikian hal itu tidak berarti meniadakan adanya sesuatu, yaitu adanya fatamorgana dan pensil.

Kesalahan ini teletak pada fenomena yang ada, yaitu memancang fatamorgana sebagai air, dan pensil yang lurus dikatakan bengkok atau patah. Demiki¬an juga dalam memahami berbagai fenomena-fenomena yang lain, sesungguhnya penginderaan manusia tetap tidak akan salah dalam menentukan adanya sesuatu, jika ia merasakan/mengin¬dera sesuatu maka berarti sesuatu itu pasti ada, begitu pula terhadap keputusan yang ia lihat/rasakan bersifat pasti.

Adalah mudah dan sederhana, jika menggunakan logika sehat, maka Islam dan pancasila adalah dua hal berbeda. Bahkan secara istilahnya saja keduanya sudah berbeda. Jumlah huruf keduanya saja berbeda. Jika keduanya dibacakan, maka di telinga kita, suaranya pun akan berbeda. Ini adalah kerja logika sehat. Tapi logika sesat akan mengatakan dan ngotot bahwa keduanya adalah sama. Logika sesat cenderung emosional, sementara logika sehat cenderung rasional.

Apabila kesimpulan atau keputusaan tersebut berkaitan dengan hakekat atau fenomena dari sesuatu, maka bersifat tidak pasti dan mengandung faktor kesalahan. Sebab keputu¬san tersebut diambil berdasarkan informasi yang diperoleh atau interpretasi terhadap fakta yang terindera melalui informasi yang telah ada, namun terdapat kemungkinan menyu¬sup unsur kesalahan. Akan tetapi, ia dianggap sebagai pemikiran yang "benar" sampai terbukti kesalahnya. Pada saat itulah diputuskan bahwa kesimpulannya salah. Sedangkan sebelumnya, tetap dipandang sebagai kesimpulan yang tepat atau pemikian yang benar.

Adapun penelitian yang menggunakan cara berfikir logika (mantiq), sesungguhnya bukan metode berfikir, melainkan salah satu cara pembahasan yang dibangun berdasarkan pola fikir rasional. Sebab, pola fikir logika dilakukan dengan cara membangun suatu pemikiran/ premis diatas pemikiran/premis lain yang kesimpulannya dapat diindera.

Dengan cara ini, kemudian dihasilkan suatu kesimpulan ter¬tentu. Misalnya premis pertama menyatakan papan tulis itu terbuat dari kayu; premis kedua setiap kayu mempunyai sifat terbakar; maka kesimpulannya papan tulis itu mempunyai sifat terbakar. Begitu pula misalnya, seekor kambing yang disembelih dikatakan mati jika tidak bergerak; ternyata kambing yang disembelih tidak bergerak; maka kesimpulannya kambing ini mati.

Contoh lagi sebuah logika. Semua yang berasal dari Allah adalah benar dan semua yang berasal dari manusia adalah relatif. Islam berasal dari Allah, sementara pancasila berasal dari manusia. Bela Islam adalah kebenaran sebab perintah Allah, bela pancasila siapa yang menyuruh ?. Jihad bela Islam adalah postulat yang relevan, sementara jihad bela pancasila, dimana letak relevansinya. Jika ada orang mau membela pancasila itu hak setiap orang, namun menggunakan istilah jihad untuk bela pancasila adalah sesat pikir dan logika sekaligus.

Oleh sebab itu, kebenaran pola fikir logika tergantung pada premis-premisnya. Jika premisnya benar, maka akan diperoleh kesim¬pulan yang benar. Tetapi jika premisnya salah maka akan diperoleh kesimpulan yang salah (kontadiksi). Disyaratkan pada premis berupa pernyataan yang dapat menghantarkan pada suatu yang dapat diindera. Hal ini berarti kembali pada pola fikir rasional, dan dengan penginderaan dapat menentu¬kan benar-salahnya kesimpulan. Maka dapat dipahami, bahwa pola fikir logika merupakan salah satu pola fikir yang dibangun berdasarkan pola fikir rasional. Dalam pola fikir logika terkandung unsur kesalahan atau kemungkinan adanya kekeliruan.

Untuk menguji kebenaran pola fikir logika, maka lebih baik menggunakan pola fikir rasional dalam menggali dan menentukan kesimpulan, tanpa mempertimbangkan lagi pola fikir logika --walaupun hal itu bisa digunakan--, tetapi dengan syarat premis-premisnya harus benar, yang hal ini dapat diketahui dengan hanya menggunakan pola fikir rasion¬al. Misalnya, PU : Semua manusia pada akhirnya akan mati. PK : Ahmad Sastra adalah manusia. K : Ahmad Sastra pada akhirnya akan mati.

Pola fikir rasional adalah dasar dalam berfikir. Hanya dengan pola fikir tertentu dapat diperoleh pemikiran yang tidak dapat dicapai dengan cara pola fikir sains ataupun pola fikir logika. Dengan pola fikir rasional dapat diketa¬hui setiap realita ilmiah melalui pengamatan eksperimen dan penarikan kesimpulan. Dengan metode itu pula dapat diketa¬hui realita setiap kesimpulan yang dihasilkan oleh pola fikir logika, dan lain sebagainya.

Maka, jika saya mengatakan bahwa Islam dan pancasila itu berbeda, baik dari genealogis, ontologis dan epistemologis, dimana kesalahan saya, bukankah itu berdasarkan fakta. Jika saya mengatakan bahwa islami itu berbeda dengan pancasilais, dimana kesalahan saya. Jika saya mengatakan bahwa kata jihad itu untuk Islam sejalan dengan kitabullah dan sunah Rasulullah, dan bukan untuk pancasila karena tidak ditemukan di dalam kedua sumber hukum islam itu, dimana kesalahan saya ?. Maka berfikirlah dan jangan marah.

Jadi sebenarnya siapa yang sesat logika, apakah Ahmad Sastra atau yang menuduhnya ?. Silahkan tulisan ini dijawab dengan narasi berdasarkan akal sehat, jangan dengan emosi apalagi logika tidak sehat.

(AhmadSastra,KotaHujan,15/02/20 : 08.45 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar