KONSEP ISLAM NUSANTARA TIDAK ISLAMI - Ahmad Sastra.com

Breaking

Senin, 17 Februari 2020

KONSEP ISLAM NUSANTARA TIDAK ISLAMI



Oleh : Ahmad Sastra

MENYELISIHI AL QUR’AN. Postulat islam nusantara adalah dua kata yang mengandung suatu makna tertentu. Banyak definisi yang diberikan oleh kyai, cendekiawan hingga kaum liberal terhadap istilah ini. Uniknya diantara definisi itu saling berseberangan satu dengan yang lain. Ini membuktikan bahwa istilah islam nusantara hanyalah interpretasi epistemology segelintir orang saja. Tapi yang jelas istilah ini tidak ditemukan dalam al Qur’an. Artinya istilah islam nusantara tidak didasarkan oleh dalil al Qur’an. Al Qur’an hanya menyebutkan kata Islam, tanpa embel-embel nusantara. Selain menyalahi Al Qur’an, istilah Islam nusantara juga merupakan kerancuan berfikir.

MENYELISIHI AS SUNNAH. Begitupun As Sunnah, yakni apa yang dilakukan dan diucapkan oleh Rasulullah. Dalam hadist tidak akan ditemukan satupun yang menyatakan adanya istilah islam nusantara. Istilah-istilah yang merujuk kepada tempat mamng banyak ditemukan semisal Arab, namun tidak ditemukan Islam Arab. Dengan demikian, istilah islam nusantara tidak ada pijakan dalil hadistnya. Dalam hadist hanya menyebut kata Islam tanpa embel-embel lain.

MENYELISIHI MAZHAB FIKIH. Empat Imam Mazhab yang kita kenal seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal dalam kajian fiqih hasil ijtihad mereka tidak ada satupun yang memperbincangkan istilah islam nusantara. Padahal para Imam inilah yang menjadi rujukan perilaku ritual masyarakat nusantara. Imam Syafi’i yang menjadi sentral rujukan bagi masyarakat indonesia pada umumnya juga tidak pernah menyinggung sedikitpun tentang islam nusantara dalam istinbat hukumnya.

MENYELISIHI AQIDAH. Secara definitif, istilah islam nusantara cukup beragam, namun bisa diperdebatkan. Ada diantara difinisi yang ditawarkan oleh kalangan liberal, yang memang istilah ini dimulai dari mereka, justru mengakomodasi aliran syiah dalam lingkup islam nusantara. Ada juga seorang tokoh agama yang justru mengakomodasi mitos dewi sri sebagai ritual sebelum menanam atau panen.

Ada juga yang mendefinisikan islam nusantara dibangun berdasarkan interaksi dengan budaya lokal, artinya tidak lagi sebagai agama Islam yang murni, namun telah bercampur. Dengan demikian, definisi dan praktek islam nusantara akan menyelisihi aqidah islam jika di dalamnya mengandung unsur kemusyrikan, pencampuradukan dan liberalistik. Secara definitif, islam nusantara cenderung berakar kepada sentimen nasionalisme, bukan berakat kepada aqidah, syariah dan fikih.

MENYELISIHI SYARIAH. Syariah islam adalah hukum dan aturan yang kaffah, meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Dari hukum yang mengatur individu hingga yang mengatur masyarakat berbangsa dan bernegara. Hukum Islam itu holistik dan komprehensif, tidak dibatasi oleh hukum-hukum wilayah tertentu. Tidak heran jika saat syariah Islam didakwahkan Rasulullah, masyarakat Arab justru menolaknya, karena tidak sejalan dengan hukum jahiliyah saat itu. Sekedar bertanya, apakah Islam musantara akan menerima penerapan syariat Islam secara menyeluruh dibawah institusi daulah Islam ?. secara genealogis, lahirnya islam nusantara justru sebagai anti tesis terhadap perjuangan penerapan syariah Islam secara kaffah. Jika demikian, Islam nusantara menyelisihi syariah Islam itu sendiri.

MENYELISIHI MISI ISLAM. Misi Islam adalah memberikan rahmat bagi alam semesta dan seluruh manusia tanpa membedakan ras, suku bangsa dan agama. Jika syariah Islam diterpakan secara kaffah oleh daulah Islam, maka akan memancarkan keadilan dan kesejehtaraan bagi semua. Jangankan kepada sesama muslim yang beda bangsa, bahkan kepada manusia berbeda agamapun, Islam memberikan kebaikan. Islam tidak membatasi misinya hanya kepada satu wilayah tertentu dan membenci bangsa tertentu. Karena itu jika istilah Islam nusantara disebutkan Islam yang santun dan toleran tidak sama dengan Islam Arab yang keras dan intoleran, maka istilah islam nusantara selain salah secara etimologi dan terminologi juga menyelisihi misi Islam yang rahmatan lil’alamin.

KEKELIRUAN ONTOLOGIS. Ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakekat sesuatu. Apakah sesuatu itu ada sehingga layak dikaji dan diperbincangkan. Keadaan ada bisa dilihat secara empirik maupun normatif. Secara ontologis, maka istilah islam nusantara ini adalah sesuatu yang sebenarnya tidak ada, jika ada berarti hanya diada-adakan. Sebab secara normatif maupun historis, istilah ini tidak pernah ditemukan. Kesimpulannya, islam nusantara itu tidak ada, ia hanya sekedar interpretasi epistemologi berbasis tafsir hermeneutika. Wacana islam nusantara cenderung utopis dan dipaksakan. Entah jika ada udang dibalik batu, ada kepentingan dibalik wacana islam nusantara. Entahlah.

KEKELIRUAN EPISTEMOLOGIS. Epistemologi adalah kajian filsafat tentang ilmu. Ilmu adalah alat untuk menunjukkan kebenaran dan kebaikan. Sumber ilmu adalah wahyu, akal dan indera dalam menginterpretasikan fakta. Jika ilmu dijauhkan dari sumber wahyu, maka lahirlah ilmu yang beraliran sekuler. Jika ilmu dijauhkan dari akal, maka lahirlah ilmu yang liberal. Jika ilmu dijauhkan dari indera, maka lahirlah mitos. Dari kajian dan definisi yang diajukan, maka istilah islam nusantara tidak memiliki pijakan epistemologi yang kuat, masih terkesan prematur. Dengan demikian, islam nusantara belumlah dikatakan sebagai ilmu, mungkin masih dalam level mitos. Sementara prakteknya yang diklaim sebagai ajaran islam nusantara justru banyak melanggar hukum Islam itu sendiri. Sekulerisasi Islam yang dilakukan oleh Kemal Attaturk di Turki, adalah contoh buruk dan jahat atas ajaran Islam. Sekulerisasi Islam hakekatnya adalah deislamisasi.

KEKELIRUAN AKSIOLOGIS. Aksiologi adalah filsafat yang mengkaji tentang nilai-nilai. Ada banyak nilai dalam kehidupan manusia, seperti nilai kemanusiaan, nilai moral, nilai materi, nilai mental, nilai budaya, nilai ekonomis, nilai politis dan banyak lagi. Secara aksiologis, istilah islam nusantara muncul justru disaat menjelang pemilu 2019. Bahkan istilah islam nusantara yang beraroma agama, namun banyak juga disosialisasikan oleh para penguasa negeri ini. Sering orang bilang jangan mempolitisasi agama, namun secara aksiologis, istilah islam nusantara ini justru terkesan mengandung nilai politik yang kental, jika tidak hendak dikatakan sebagai politisasi agama. Islam memang mencakup ajaran politik, namun berbeda dengan politisasi Islam.

KEKELIRUAN LINGUISTIK. Dalam ilmu linguistik, dua kata yang belum mengandung makna kalimat disebut sebagai frasa. Contoh frasa misalnya rumah baru, meja bundar, orang utan dan penduduk desa. Hubungan kata dalam frasa bisa bermakna sebagai sifat, seperti rumah baru. Jika yang dimaksud nusantara adalah sifat dari Islam, maka yang akan terjadi adalah proses menusantarakan Islam. Padahal Islam justru melakukan proses islamisasi Arab saat itu. Tentu dua hal yang jauh berbeda antara islamisasi dengan arabisasi, apalagi nusantaraisasi. Kebenaran postulat bisa dibuktikan oleh fakta yang terindera. Yang sebenarnya terindera adalah adanya muslim yang tinggal di suatu tempat. Maka secara linguistik, frasa islam nusantara adalah keliru, yang benar sesuai fakta adalah muslim indonesia, yakni muslim yang tinggal di indonesia.

Tulisan ini bisa jadi juga keliru, silahkan ditanggapi secara proporsional, agar kita bertambah produktif. Bagi penulis, postulat islam nusantara tidak islami,tidak islami artinya batil, oleh karenanya, demi menjaga aqidah, konsep ini harus ditolak.

[AhmadSastra,KotaHujan,03/08/18 : 08.46 WIB].

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar