MENGHIDUPKAN LENTERA DAKWAH - Ahmad Sastra.com

Breaking

Kamis, 05 Maret 2020

MENGHIDUPKAN LENTERA DAKWAH



Oleh : Ahmad Sastra

Salah satu kewajiban setiap muslim adalah dakwah. Dakwah bukanlah kewajiban seorang ustadz semata yang selama ini disalahpahami. Sebab perintah dakwah yang tertera dalam Surat An Nahl ayat 125 bersifat umum dan berlaku untuk setiap muslim.

Dakwah menyeru kepada jalan Allah yang diungkap dalam Surat Fushilaat ayat 33 adalah sebaik-baik perkataan seorang muslim. Dakwah adalah cinta dalam makna kepedulian agar manusia selamat di dunia dan di akherat dengan cara menunjukkan manusia kepada jalan ketundukan kepada Allah semata.

Ujung dari sebuah aktivitas dakwah adalah sebuah perubahan pemikiran dan kesadaran individu dan masyarakat dari kegelapan menuju cahaya. Kesadaran manusia atas Islam akan mendorong mereka memiliki sikap dan perilaku mulia, meninggalkan segala perilaku jahiliyah yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Seluruh nabi adalah muslim sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 136 yang ditugaskan untuk berdakwah menyeru kepada jalan Allah dan membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam. Allah tidak membeda-bedakan diantara para Nabi dan RasulNya dikarenakan semuanya adalah muslim.

Namun demikian, dakwah bukanlah pekerjaan yang mudah. Jalan dakwah penuh liku dan mendaki. Hanya muslim yang tinggi imannya dan beranilah yang mampu memikul kewajiban dakwah ini. Perjalanan dakwah akan selalu diringi dengan adanya tantangan dan hambatan.

Dakwah amar ma’ruf nahi munkar akan dihadapkan dengan musuh-musuh Allah. mereka siang malam akan terus berusaha memadamkan cahaya Allah dengan menghambat dan menjegal laju dakwah Islam. Demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin... (QS al-An’am : 112).

Imam Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa ujian yang disebutkan Allah SWT dalam ayat ini tidak hanya menimpa Rasulullah SAW, tetap juga berlaku umum bagi orang-orang yang mengikuti beliau dalam dakwah.

Dulu Nabi SAW yang mulia pernah disebut sebagai sebagai orang gila (QS al-Hijr: 6), tukang sihir (QS Shad: 4), penyair gila (QS Shaffat: 37), pemecah-belah persatuan kaumnya, dsb.

Tak hanya diri Rasul, ajaran Islam juga tak lepas dari berbagai cacian. Al-Quran, misalnya, disebut sebagai ayat-ayat sihir (QS al-Muddatsir: 24), kumpulan dongeng (QS al-Muthaffifin: 13); juga dituding sebagai karya orang ‘ajam (non Arab), bukan kalamullah (QS an-Nahl: 103).

Dan kaum Muslim yang mengikuti Rasulullah SAW pun senantiasa diejek dan disebut sebagai orang-orang tersesat. Allah SWT berfirman: Jika mereka melihat orang-orang Mukmin, mereka berkata, “Sungguh mereka itu benar-benar sesat.” (TQS al-Muthaffifin [83]: 32).

Begitulah karakter dakwah, selalu dihadang dan dihalang-halangi. Namun kita tak boleh mundur sedikitpun dari jalan dakwah dan perjuangan Islam, sebab Rasulullah sebagai suri tauladan kita juga tidak pernah mundur dari jalan dakwah meski banyak dihadapkan dengan ujian dan penjegalan.

Dakwah harus terus dihidupkan dan berlangsung selamanya, tidak boleh berhenti. Sebab kematian dakwah berarti hidupnya berbagai kemungkaran di tengah kehidupan masyarakat. Ketika kemungkaran merajalela di sebuah negeri, maka itu artinya pintu bencana terbuka bagi semua orang, termasuk orang-orang salih. Sebaliknya, jika jika masyarakat suatu negeri beriman dan bertaqwa, maka keberkahan dari langit dan bumi akan Allah turunkan.

(AhmadSastra,KotaHujan,05/03/20 : 19.30 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar