BUAT APA ADA NEGARA, JIKA RAKYAT MAKIN SENGSARA ? - Ahmad Sastra.com

Breaking

Rabu, 08 April 2020

BUAT APA ADA NEGARA, JIKA RAKYAT MAKIN SENGSARA ?



Oleh : Ahmad Sastra

Sebagai institusi politik, keberadaan negara adalah untuk mengurusi urusan rakyat. Negara adalah pelembagaan sistem kepemimpinan politik yang menjadi wadah bagi kepengurusan rakyat. Sistem ideologi yang diadopsi sebuah negara sangat berpengaruh kepada jati diri negara tersebut. Sebab ideologi melahirkan sistem aturan, bahkan peradaban.

Secara umum, ideologi (Arab: mabda') adalah pemikiran paling asasi yang melahirkan sekaligus menjadi landasan bagi pemikiran-pemikiran lain yang menjadi turunannya. (M. Muhammad Ismail, 1958). Pemikiran mendasar dari ideologi ini dapat disebut sebagai akidah ('aqîdah), yang dalam konteks modern terdiri dari: (1) materialisme; (2) sekularisme; (3) Islam.

Akidah ini berisi pemikiran fundamental dan global mengenai manusia, alam semesta, dan kehidupan dunia; tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia; berikut kerterkaitan ketiganya dengan kehidupan sebelum dan setelah dunia ini. (M. Husain Abdullah, 1990).

Akidah ini kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran cabang yang berisi seperangkat aturan (nizhâm) untuk mengatur sekaligus mengelola kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya—politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Akidah dan seluruh cabang pemikiran yang lahir dari akidah itulah yang disebut dengan ideologi.

Dengan ungkapan yang lebih spesifik, ideologi (mabda') dapat didefinisikan sebagai keyakinan rasional (yang bersifat mendasar, pen.) yang melahirkan sistem atau seperangkat peraturan tentang kehidupan (An-Nabhani, 1953: 22). Pada kenyataannya, di dunia saat ini hanya ada tiga ideologi: (1) Sosialisme-komunis, yang lahir dari akidah materialisme; (2) Kapitalisme-sekular, yang lahir dari akidah sekularisme; (3) Islam, yang lahir dari akidah Islam.

Negara komunis berbasis ideologi materialisme. Materialisme adalah akidah yang memandang bahwa alam semesta, manusia, dan kehidupan merupakan materi belaka; materi ini mengalami evolusi dengan sendirinya secara subtansial sehingga tidak ada Pencipta (Khalik) dan yang dicipta (makhluk).

Dalam perspektif Karl Marx, peletak dasar ideologi Sosialisme-komunis, alam mengalami evolusi mengikuti hukum gerak materi; alam tidak membutuhkan Akal Holistik (Pencipta) (Ghanim Abduh, 2003: 3). Senada dengan Marx, Lenin, ideolog sekaligus realisator Marxisme, dengan mengutip filosof Heraclitus (540-480 SM), menyatakan, "Alam adalah wujud tunggal yang tidak pernah diciptakan oleh Tuhan atau manusia manapun. Ia telah ada, selalu ada, dan akan selalu ada sebagai api yang terus menyala selama-lamanya." (Vladimir Ilich, 1870-1924).

Oleh karena itu, penganut akidah materialisme pada dasarnya adalah atheis (mengingkari Tuhan). Bahkan, penganut akidah ini memandang bahwa keyakinan terhadap Tuhan (agama) adalah berbahaya bagi kehidupan. Dalam bahasa Lenin, keyakinan terhadap agama adalah "candu" masyarakat dan "minuman keras" spiritual. Dalam manifesto politiknya, Lenin secara ekstrem menyebut agama sebagai salah satu bentuk penindasan spiritual yang, dimana pun ia berada, amat membebani masyarakat (Lenin, 1972: 83-87).

Pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan ini kemudian melahirkan sebuah keyakinan, bahwa dunia ini harus diatur berdasarkan prinsip dialektika materialisme yang melibatkan semua unsur materi, yakni: manusia, alam, dan sarana kehidupan (alat-alat produksi). Dari sini muncullah negara berbasis ideologi sosialisme-komunis, yang didasarkan pada akidah materialisme, yang berisi seperangkat aturan yang khas, yang mengatur seluruh aspek kehidupan rakyat; tentu di luar aspek religiusitas dan spiritualitas manusia yang telah diingkarinya.

Hidup di negara komunis tentu penuh kesengsaraan karena penuh tekanan dari negara. Rakyat tak ubahnya hanya sebagai materi belaka, maka tidak ada kebahagiaan batin yang dirasakan. Sebab kebutuhan manusia akan tuhan adalah bersifat naluriah, jika tidak terpenuhi, maka akan sengsara.

Prinsip sama rata sama rasa juga adalah utopia belaka, sebab setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Peraturan yang sangat ketat atas segala sesuatu membuat rakyat di negeri komunis penuh dengan tekanan. Hidup tanpa ruh, nilai dan etika akan membuat rakyat melakukan apa saja yang diinginkan. Justru disinilah letak malapetaka ideologi komunis bagi kehidupan rakyat. Jadi untuk apa ada negara komunis, jika membuat sengsara rakyat.

Negara demokrasi berbasis ideologi kapitalisme sekuler. Sekularisme pada dasarnya adalah akidah yang mengakui eksistensi Tuhan, tetapi tidak otoritas-Nya untuk mengatur manusia. Dengan kata lain, akidah ini mengakui keberadaan agama tetapi tidak otoritasnya untuk mengatur kehidupan. Singkatnya, sekularisme adalah akidah yang menetralkan (baca: memisahkan) agama dari kehidupan.

Secara historis, sekularisme merupakan akidah "jalan tengah" yang lahir pada Abad Pertengahan, sebagai bentuk kompromi para pemuka agama yang menghendaki kehidupan manusia harus tunduk pada otoritas mereka (dengan mengatasnamakan agama), dengan para filosof dan cendekiawan yang menolak otoritas agama dan dominasi para pemuka agama dalam kehidupan. Dengan demikian, para penganut sekularisme sebetulnya tidak mengingkari Tuhan (agama) secara mutlak; mereka hanya menginginkan agar Tuhan (agama) tidak mengatur kehidupan mereka.

Pengingkaran terhadap otoritas Tuhan ini selanjutnya melahirkan sebuah pandangan bahwa manusialah—melalui mekanisme demokrasi—yang berwenang secara mutlak untuk mengatur kehidupannya sendiri secara bebas, tanpa campur tangan Tuhan (agama). Dari sini lahirlah negara dengan ideologi kapitalisme-sekular, yang berisi seperangkat aturan yang khas, yang mengatur seluruh aspek kehidupan rakyat; tentu di luar aspek agama yang telah mereka singkirkan dari kehidupan.

Kapitalisme sekuler berciri khas liberalisasi sumber daya alam yang menjadikan kekayaan hanya beredar pada segelintir kapitalis. Hidup di negara kapitalisme menjadikan yung kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Imperialisme kapitalisme menjadikan negara-negara berkembang menjadi obyek jajahan.

Hidup di negara kapitalis sekuler akan didapatkan rakyat yang sebagian besar adalah miskin. Kapitalisme adalah ideologi pemiskinan sistematis. Sekulerisme juga berarti menjauhkan nilai-nilai agama dari kehidupan. Akibatnya terjadilah berbagai penyimpangan perilaku seperti LGBT, seks bebas, prostitusi, narkoba dan bentuk amoralitas lainnya. Jadi untuk apa ada negara kapitalis sekuler, jika hanya menyengsarakan rakyat.

Sedangkan negara Islam berlandaskan ideologi Islam. Islam adalah akidah yang meyakini eksistensi Tuhan sebagai Pencipta alam, manusia, dan kehidupan ini; sekaligus mengakui bahwa Dialah satu-satunya yang memiliki otoritas untuk mengatur kehidupan manusia. Singkatnya, akidah Islam mengajari manusia tentang keyakinan dan kepasrahan total kepada Tuhan sang Pencipta, yakni Allah Swt.

Keyakinan terhadap eksistensi sekaligus otoritas Tuhan inilah yang kemudian melahirkan keyakinan bahwa Tuhanlah satu-satunya Yang mutlak dan berhak membuat hukum, sementara manusia hanya sekadar pelaksananya saja. Dari sini lahirlah negara berlandaskan ideologi Islam, yang juga berisi seperangkat aturan dalam berbagai aspek kehidupan rakyat; termasuk yang menyangkut aspek religiusitas dan spiritualitas manusia, atau yang menyangkut agama.

Jika dalam negara komunis, semua aspek dikuasai oleh negara sedangkan di negara kapitalis semua bisa dimiliki individu (privatisasi), sementara dalam Islam konsep kepemilikan terbagi menjadi tiga yakni milik negara, milik umum/rakyat dan milik individu. Dari sini jelas bahwa Islam adalah sistem ideologi yang paling sempurna dan penuh keadilan. Meskipun Islam bukanlah sistesis dari tesis kapitalisme dan antitesis komunisme.

Sumber daya alam yang menjadi faktor kesejahteraan rakyat dalam Islam tidak boleh dimiliki oleh individu, namun harus dikuasai negara untuk kesejahteraan rakyat. Kepemilikan negarapun dalam Islam diperuntukkan hanya untuk kesejahteraan rakyat. Sementara secara individu, Islam juga mengatur kepemilikan individu diikuti dengan kewajiban membayar zakat.

Sederhananya, jika kapitalisme sekuler diterapkan, maka akan muncul kemiskinan yang luar biasa, sebab sistem ini berasal dari manusia. Sementara jika komunisme ateis diterapkan, maka akan melahirkan kesengsaraan lahir batin, sebab sistem ini berasal dari manusia juga. Sementara jika Islam di terapkan secara kaffah dalam negara, maka kesejahteraan lahir batin bisa dicapai oleh rakyat. Sebab syariah Islam berasal dari Allah yang Maha Adil dan Maha Penyayang.

Maka, untuk apa ada negara kapitalis sekuler dan komunis ateis, jika hanya menggores sejarah kesengsaraan lahir batin bagi manusia dan kemanusiaan. Sementara, dengan negara berlandaskan syariah Islam, rakyat bukan hanya sejahtera lahir batin, namun bahkan menyelamatkan kehidupan rakyat di dunia hingga akherat. Sebab Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia dan alam semesta yang membawa hasanah di dunia dan akherat.

(AhmadSastra,KotaHujan,08/04/20 : 20.00 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar