CORONA, ANTARA SAINS DAN TAKDIR - Ahmad Sastra.com

Breaking

Sabtu, 11 April 2020

CORONA, ANTARA SAINS DAN TAKDIR



Oleh : Ahmad Sastra

Coronavirus yang menjadi pandemi global di awal 2020 di hampir 200 negara mungkin merupakan penularan tercepat dan terluas. Pandemi virus sebagai mikro organisme patogen yang menginfeksi sel makhluk hidup sebenarnya berulang kali terjadi sepanjang sejarah.

Di kalangan saintis masih terjadi perdebatan soal apakah virus terkategori makhuk hidup atau sekedar struktur organik yang berinteraksi dengan makhluk hidup. Sebab tidak sebagaimana manusia, hewan dan tumbuhan, virus hanya dapat bereplikasi di dalam sel makhluk hidup karena tidak memiliki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri.

Dalam perspektif virologi, virus disebut virion ketika berbentuk partikel independen karena tidak sedang berada di dalam sel atau tidak dalam proses menginfeksi sel. Virion terdiri atas materi genetic berupa asam nukleat seperti DNA dan atau RNA yang diselubungi lapisan protein yang disebut kapsid.

Karakter dasar virus adalah hanya bias berkembang biak disaat berada dalam sel makhluk hidup tertentu seperti manusia, hewan dan bahkan tumbuhan. Dalam bahasa teologis, virus ditakdirkan memiliki sifat-sifat tidak seperti makhluk hidup lainnya. Meski demikian, disaat menginfeksi, maka virus bias menyebabkan penyakit dan kematian.

Karena itu karakter khas virus terasosiasi dengan penyakit tertentu pada makhluk hidup. Banyak virus yang menginfeksi manusia seperti virus HIV dan influenza. , virus yang menginfeksi hewan misalnya virus flu burung dan virus tumbuhan semisal virus mosaik tembakau.

Sejarah mencatat banyak virus yang mewabah sepanjang sejarah peradaban manusia. Namun baru di tahun 1728, virus didefinisikan sebagai agen yang menyebabkan infeksi penyakit dan baru ditemukan oleh Dmitri Ivanovsky pada tahun 1892. Meskipun endemik virus telah terjadi pada zaman sebelum masehi, salah satu yang terkenal adalah virus smallpox yang menyerang masyarakat Tiongkok pada tahun 1000.

Dari beberapa penemuan para ilmuwan dilaporkan adanya infeksi virus dalam hieroglif di Memphis, ibu kota Mesirkuno (1400 SM) yang menunjukkan adanya penyakit poliomyelitis. Selain itu, Raja Firaun Ramses V meninggal pada 1196 SM dan dipercaya meninggal karena terserang virus smallpox.

Sementara coronavirus yang kini menjadi pendemi global di akhir 2019 yang berawal dari Kota Wuhan Tiongkok disinyalir sebagai virus jenis baru, meski SARS dan MERS juga disebabkan oleh coronavirus. Corona Wuhan oleh WHO sebagaimana dikutif dari Popular Mechanics disebut sebagai 2019-nCov.

Dalam pespektif teologis, virus adalah makhluk Tuhan yang telah ditakdirkan memiliki karak terkhas, meskipun tidak memiliki free will sebagaimana manusia. Sebagaimana sperma yang juga merupakan makhluk ciptaan Allah yang bergerak mengikuti kehendak dan perintah Allah. Begitupun katak dan nyamuk yang pernah diperintahkan Allah untuk meruntuhkan peradaban Fir’aun dan Namrud.

Karakter khas yang merupakan takdir (qadar) Allah inilah yang kemudian menggerakkan manusia untuk melakukan berbagai riset untuk mampu menaklukkan persebaran virus. Riset adalah usaha ikhtiari manusia yang tidak bertentangan dengan Islam. Sebab Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bersikap fatalism dalam menghadapi masalah.

Dalam hal ini Allah menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS Ar Ra’d : 11)

Ayat diatas menunjukkan korelasi kuat antara saintifik riset yang rasional dengan keyakinan teologis. Keduanya bukanlah dua hal yang saling bertentangan, namun saling menguatkan. Disaat Allah menakdirkan virus sebagai asbab munculnyapenyakit, maka manusia diperintahkan berfikir bagaimana bias terhindar dari penyakit. Meminjam bahasa Khalifah Umar adalah berpindah dari satu takdir ke takdir lain.

Dalam pandangan Islam diyakini bahwa disaat Allah menurunkan penyakit, maka Allah menurunkan juga obatnya. Disinilah manusia diperintahkan untuk beramal sholih berfikir untu mencari obat itu. Jadi munculnya coronavirus dalam timbangan saintifik dan takdir akan melahirkan perilaku produktif dan kontributif.

Meski demikian, secara teologis juga dipahami bahwa virus adalah bagian dari musibah yang diberikan Allah dan menyasar siapapun yang dikehendaki. Tak seorangpun bias menghalangi kehendak Allah. Ini adalah soal keyakinan yang bersifat transenden yang tidak bias dijangkau oleh rasionalitas. Keduanya harus berjalan beriringan, sebab Islam melarang hambanya melakukan bunuh diri.

Rasulullah sendiri dan para sahabat telah lebih awal memberikan contoh pendekatan saintifik rasional dalam menghadapi wabah. Ada beberapa hadist yang menunjukkan usaha-usaha rasional dalam menghadapi wabah. Mungkin pada hari ini apa yang yang perintahkan Rasulullah disebut dengan istilah lockdown dan physical distancing.

Rasulullah bersabda, ‘ Janganlah engkau mencampurkan orang yang sakit dengan yang sehat (HR Al Bukhari). Jauhilah penyakit kusta, sebagaimana engkau lari dari kejaran singa’ (HR Ahmad). Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasukinya. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah keluar darinya (HR Al Bukhari).

Karena itu selain pendekatan saintifik sebagai ikhtiar karena setiap ada penyakit pasti ada obatnya, penanganan wabah virus corona juga harus diselesaikan dengan muhasabah spiritual. Sebab Allah menegaskan dalam Surat Asy Syura : 30 bahwa musibah yang menimpa manusia dikarenakan oleh ulah dan perbuatan buruk manusia.

Karena itu selain bertobat, harus ada upaya maksimal untuk menyelamatkan nyawa manusia dari paparan virus corona ini. Sebuah hadist dengan tegas menyatakan : Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah disbanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak. (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Disinilah pentinya seorang pemimpin negara itu memiliki ketaqwaan yang tinggi sekaligus memiliki kecerdasan. Dalam Islam generasi seperti ini disebut ulil albaab. Pemimpin yang cerdas dan bertaqwa sebagaimana Umar bin Khattan akan menyelesaikan wabah dengan pendekatan rasionalitas sekaligus spiritualitas.

Dua pendekatan ini akan cepat bisa menyelesaikan masalah wabah ini. Jika hanya satu pendekatan rasional, maka manusia bisa terjerumus kepada kesombongan, sementara jika hanya spiritualitas, manusia bisa terjerumus kepada sikap fatalisme. Pemahaman wabah corona dalam timbangan sains dan takdir akan melahirkan sikap positif, produktif dan kontributif.

(AhmadSastra,KotaHujan,11/04/20 : 10.00 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar