KISAH SERANGAN TENTARA ALLAH PADA ZAMAN FIR'AUN DAN NAMRUD - Ahmad Sastra.com

Breaking

Senin, 13 April 2020

KISAH SERANGAN TENTARA ALLAH PADA ZAMAN FIR'AUN DAN NAMRUD



Oleh : Ahmad Sastra

Jika negara punya pasukan tempur, pakah Allah juga punya tentara yang menjadi pasukan untuk menyerang musuh-musuhNya ?. Imam Ibnu Katsir dalam Kitab Qashasul An biyaa (terj) halaman 572 mengutip sebuah hadist tentang jaraad atau belalang.

Abu Dawud meriwayatkan, dari Abu Utsman An Nahdi, dari Salman Al Farisi, ia berkata, Nabi pernah ditanya mengenai belalang, lalu beliau menjawab, “Belalang adalah salah satu jenis tentara Allah yang paling banyak jumlahnya. Aku tidak memakannya, tapi aku juga tidak mengharamkannya.

Belalang sebagai tentara Allah diperintahkan Allah untuk menyerang tanaman hingga hingga sama sekali tidak tersisa tanaman, buah-buahan, sayur-sayuran, dedaunan atau bahkan rerumputan. Dari sinilah terjadi masa paceklil yang menjadikan orang-orang mengalami kelaparan panjang.

Bukan hanya belalang, kesombongan fir’aun dibungkam oleh Allah melalui banyak tentara Allah berupa binatang. Begitupun kecongkakan raja Namrud dibungkam oleh tentara Allah berupa nyamuk. Begitulah jika Allah menghendaki runtuhnya rezim zolim yang menentang hukum Allah.

Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa (QS Al A’raf : 133).

Topan dalam ayat diatas juga merupakan tentara Allah yang oleh Ibnu Abbas sebagai hujan deras yang menyebabkan banjir dan rusaknya tanaman dan pepohonan. Makna ini juga disampaikan oleh Said bin Jubair, Qatadah, As Suddi dan Adh Dhahhak. Sementara Atha’ menyebut topan sebagai banjir yang banyak menyebabkan banyak kematian.

Sementara mengenai al qummal (kutu) menurut yang ikut menyerang kekuasaan fir’aun menurut riwayat Ibnu Abbas adalah sejenis ulat yang keluar dari hasil tanaman, terutama gandum. Disebutkan juga sebagai belalang kecil yang belum bersayap. Sementara abdurahman bin Zaib menyebut sebagai kutu busuk yang biasa menyerang kepala kera dan saat itu masuk kamar-kamar penduduk.

Bahkan kekuasaan fir’aun juga diserang dengan wabah kodok (katak) yang jumlahnya tak terhitung. Kodok-kodok ini menyerang istana fir’aun dan penduduk kaumnya, sehingga masuk ke dalam bejana dan makanan. Bahkan dikisahkan, saat itu jika ada orang mau menyuap makanan, maka kodok terlebih dahulu masuk ke mulutunya.

Tidak samapi disitu, kekuasaan fir’aun bahkan diserang oleh daam atau darah, yakni bercampurnya darah dalam air yang mereka minum, mandi dan lainnya. Mereka tidak bisa memanfaatkan air, bahkan air di sumur dan sungai Nil juga berubah warna merah karena bercampur dengan darah kental.

Orang-orang kafir di zaman fir’aun selalu sombong disaat mendapatkan kebaikan seperti tanaman subur. Sementara ketika ada bencana seperti muslim paceklik dimana tanaman banyak yang mati, mereka justru menyalahkan Nabi Musa. Fir’aun dan para budaknya adalah manusia-manusia bodoh dan sombong, tidak mau menerima nasihat kebanaran.

Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir´aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran (QS Al A’raf : 130)

Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami". Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS Al A’raf : 131).

Sementara itu raja sombong Namrud juga diserang oleh pasukan Allah yakni hewan kecil bernama nyamuk hingga tewas dan runtuh kerajaannya. Ketika itu Allah mengutus raja lainnya untuk mengajak Namrus agar beriman kepada Allah. Raja itu mengajak beriman hingga tiga kali, namun Namrud menolak dan bertambah zolim.

Karena menolak, maka sang raja meminta Namrud mengumpulkan seluruh pasukannya karena besuk pagi akan diserang. Saat Namrud mengumpulkan semua pasukan sambil menunggu musuh, ternyata yang datang adalah pasukan Allah berupa nyamuk, bukan manusia.

Tentara Allah itu tak terhitung jumlahnya, bahkan dalam riwayat, saat itu matahari tidak terlihat karena tertutup nyamuk yang dikirim Allah untuk membinasakan kekuasaan rezim Namrud. Akhirnya pasukan nyamuk itu menyerang tentara fir’aun, menghisab darahnya, memakan dagingnya, hingga yang tersisa hanya onggokan tulang belulang.

Salah satu nyamuk mendatangi Namrud di istananya, sebab namrud pengecut, tidak ikut perang. Seekor nyamuk kecil itu masuk ke hidung namrud selama empat ratus tahun. Selama itu pula Namrud memukul kepalanya dengan tongkat besi untuk mengeluarkan nyamuk, hingga akhrinya dia binasa oleh seekor nyamuk yang kecil.

Mungkin secara logika tidak masuk akal, sebuah kekuasaan yang super power seperti Fir’aun dan Namrud tumbang terhina hanya oleh seekor kutu atau nyamuk yang berukuran kecil, bahkan mungkin disepelekan. Itulah hebatnya tentara Allah, tak perlu senjata cinggih, jika berkehendak menjungkirkan rezim zolim. Bahkan senjata secanggih apapun tak mungkin bisa menyasar nyamuk yang kecil. Melalui wabah atau tentaraNya ini, Allah hendak membinasakan penguasa zolim dan menyelamatkan umatnya yang beriman.

Namun kafir, tetaplah kafir, mereka tak juga beriman, meski sudah diingatkan oleh Allah melalui para Nabi dan tentaranya. Allah berfirman : Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih (QS Yunus : 96-97).

Nah, bagaimana dengan coronavirus, apakah tentara Allah juga ?

(AhmadSastra,KotaHujan,12/04/20 : 24.00 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar