MERANCANG PERUBAHAN TATANAN DUNIA PASCA CORONA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Selasa, 07 April 2020

MERANCANG PERUBAHAN TATANAN DUNIA PASCA CORONA



Oleh : Ahmad Sastra

Pandemi global coronavirus telah banyak mengubah dunia. Simbol-simbol kapitalisme mengalami keruntuhan yang tidak terduga. Hampir seluruh aspek kehidupan mengalami disrupsi. Aspek ekonomi, pendidikan, budaya, politik, hubungan luar negeri terdampak kuat sejak corona muncul pertama kali di Wuhan China akhir tahun 2019 lalu.

Jika dahulu kerajaan fir’aun runtuh diserang kodok, kerajaan namrud ambruk diserang nyamuk, maka kini serangan wabah coronavirus tengah menghantui dunia. Meski beredar luas tentang teori konspirasi, namun faktanya wabah ini telah menjadi ancaman tersendiri bagi peradaban kapitalisme. Yang pasti wabah kodok dan nyamuk zaman dahulu adalah para tentara Allah yang diutus untuk meruntuhkan kesombongan peradaban fir’aunisme dan namrudisme.

Bukan hanya itu, coronavirus juga telah merenggut banyak nyawa. Wabah coronavirus makin menyebar dan telah banyak merenggut nyawa rakyat di seluruh dunia. Dari laporan TV One tanggal 28 Maret 2020 tercatat bahwa coronavirus telah memapar 199 negara di dunia dan rakyat yang terinfeksi sebanyak 601.478 jiwa. Sementara kematian yang tercatat di seluruh dunia sebanyak 28.299 jiwa dan sembuh sebanyak 130.587 pasien. Apakah fenomena ini sinyal bagi runtuhnya hegemoni peradaban kapitalisme materialisme ?.

Bangun dan runtuhnya sebuah peradaban adalah sunnatullah, meski selalu diikuti oleh sebab dan pemicunya. Peradaban seperti Mesir kuno yang bertahan hingga 3000 tahun pada akhirnya runtuh juga. Tak terkecuali, peradaban Persia dan Romawi yang tanpa diduga juga mengalami keruntuhan.

Ibnu Khaldun, seorang sosiolog muslim telah melakukan riset terkait berdiri dan runtuhnya sebuah peradaban. Baginya ada lima sebab yang menjadikan sebuah peradaban bisa runtuh. Pertama, ketidakadilan, yakni ketika jarak antara si miskin dan si kaya terlalu lebar. Kedua, merajalela penindasan dari kelompok kuat kepada kelompok lemah. Ketiga, runtuhnya moralitas para pemimpin negara. Keempat, pemimpin yang bersifat tertutup, tidak mau dikritik dan diberi nasehat. Dan kelima ketika terjadi bencana besar atau peperangan.

Peradaban suatu bangsa adalah cermin dan jati diri suatu bangsa tersebut. Peradaban berdiri karena ditopang oleh sistem nilai agama, kepercayaan atau ideologi. Jati diri atau huwwiyah, menurut Ahmad Muhammad Said adalah suatu watak asli yang dimiliki suatu bangsa yang membentuk identitas. Agama, menurut Naquib Al Attas mampu memberikan worldview atau pandangan hidup yang menyeluruh tentang diri manusia, alam semesta dan kehidupan. (Lihat Jati Diri dan Psikik Melayu, 2009 : 59)

Peradaban kapitalisme yang kini sedang menghegemoni dunia adalah peradaban yang ditopang oleh worldview sekulerisme, dimana Tuhan tidak dianggap berperan dalam konstruksi peradaban. Peradaban kapitalisme sekuleristik ditopang oleh akal dan sains, minus spritualitas. Inilah mengapa kapitalisme demokrasi bersifat antroposentrisme dan antropomorpisme. Tidak ada kehadiran tuhan dalam kesadaran peradaban ini.

Begitupun peradaban komunisme yang berdiri dengan topangan worldview materialisme dimana Tuhan dan agama dianggap tidak ada. Agama, bagi peradaban komunisme justru dianggap sebagai candu yang bisa menghambat kemajuan. Karl Marx misalnya mengatakan bahwa jika suatu bangsa ingin maju, maka satu-satunya jalan adalah dengan menjauhkan rakyat dari agama. teori anti agama Karl Marx bisa disebut dengan istilah revolusi mental.

Pandemi global coronavirus tengah menguji sekuat apa peradaban kalitalis materialisme ini. Peradaban yang dibangun berdasarkan akal dan sains mengalami kegoncangan. Amerika dan China saling tuduh soal persebaran coronavirus, namun keduanya justru paling banyak terjadi kematian. Selain kematian rakyat, kedua negara ini juga mengalami kemadegan ekonomi. Negara-negara yang menjadi satelitnya juga mengalami hal yang sama.

Meminjam bahasa Prof. Daniel M Rosyid bahwa pendemi Covid 19 sebagai ujian puncak atas sistem global saat ini, dimana manusia saat ini tengah memasuki a post American world. Dunia pascacorona membutuhkan public policy yang berpihak kepada rakyat, bukan kepada elit oligarki politik atau kaum kapitalis.

China sendiri seminggu sebelum muncul coronavirus di Kota Wuhan, melalui presidennya Xi Jinping menyatakan bahwa tidak akan ada kekuatan yang bisa menghambat kemajuannya negaranya. Namun, oleh corona yang bahkan tak terlihat mata telah mempu memporak-perandakan negara tersebut. Sementara di Amerika, korban coronavirus, makin hari makin banyak jumlahnya.

Bagaimana umat Islam mestinya melihat fenomena ini ?. Bagi seorang muslim yang memiliki keimanan kepada Allah, maka tidak ada rumus putus asa dalam menghadapi musibah. Seorang muslim justru harus bisa mengambil hikmah dibalik musibah yang dihadirkan Allah di akhir zaman ini. Runtuhnya peradaban Islam yang pernah berjaya di Turki hampir genap berumur 100 tahun, yakni 2024 nanti.

Umat Islam mestinya melihat pandemi global coronavirus ini dalam timbangan akidah dan peradaban. Umat Islam harus mampu mengambil pelajaran dari setiap sejarah peradaban masa lalu, lantas berusaha kembali membangun peradaban yang sudah hilang. Akankah peradaban Islam kembali jaya pascacorona sangat bergantung kepada umat sendiri.

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur'an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS Yusuf : 111).

Allah menegaskan dalam firmanNya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (QS Ar Ra’d : 11).

Oleh karena itu umat Islam harus benar-benar berprasangka baik kepada Allah. Sebab pandemi wabah ini merupakan ujian bagi peningkatan keimanan dan amal sholih sekaligus sebagai kesempatan emas untuk membangun optimisme akan datangnya kembali peradaban mulia yang berbasis spiritualitas dan rasionalitas, menggantikan peradaban kapitalisme sekuler yang materialistik.

Pasca peradaban kapitalistik sekuler, dunia sesungguhnya membutuhkan konstitusi yang membebaskan manusia dari segala bentuk penjajahan dan penindasan. Manusia harus didekatkan kepada tuhannya agar memiliki landasan moral dan kemuliaan. Islam adalah ideologi yang membebaskan manusia dari segala macam bentuk perbudakan, penjajahan dan penindasan.

Islam mengumumkan dengan jelas akan kesatuan manusia di alam semesta antara seluruh penduduk dan masyarakat. Semua itu dalam satu lembah kebenaran, kebaikan dan kemuliaan. Karena itu Islam telah menaklukkan berbagai macam penduduk, memberikan asas yang mengandung pokok-pokok dasar universal yang menghimpun secara nyata. Keunggulan ini tidak dimiliki oleh peradaban manapun di dunia.

Semoga pascacorona adalah kembalinya peradaban Islam yang mulia dan runtuhnya peradaban kapitalisme sekuler yang menjadi sumber malapetaka kehidupan manusia. Marilah umat Islam seluruh dunia kembali bergandengan tangan menyambut janji Allah akan kemenangan Islam di akhir zaman. Marilah kita sambut dengan bahagia dan penuh kesyukuran akan hadirnya peradaban Islam penebar rahmat bagi seluruh manusia dan alam semesta.

(AhmadSastra,KotaHujan, 07/04/20 : 17.30 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar