KISAHKU DARI BALIK PENJARA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Senin, 06 April 2020

KISAHKU DARI BALIK PENJARA



Oleh : Ahmad Sastra

Saat itu usiaku masih sangat belia, baru semester dua sebagai mahasiswa komunikasi di sebuah perguruan tinggi swasta di kota hujan. Rezim orde baru saat itu hampir menemui ajalnya. Batin ini terus menderu melihat ketidakadilan atas kehidupan rakyat.

Berbagai aksi mahasiswa begitu marak silih berganti mempersoalkan kesengsaraan rakyat kepada penguasa yang dianggap tidak adil. Pergerakan mahasiswa saat itu cukup beragam analisa dan solusinya atas kondisi bangsa.

Tak terkecuali saya sendiri. Sebagai mahasiswa muslim, meski belum banyak bersentuhan dengan pergerakan Islam, namun keyakinan saya saat itu begitu kuat bahwa ada yang tidak beres dengan sistem pemerintahan saat itu.

Berbagai kebijakan kapitalistik dan liberalistik begitu kental dalam analisa saya saat itu. Hal ini terbukti meski Indonesia sangat kaya raya akan sumber daya manusia, namun rakyatnya begitu miskin. Masih begitu banyak anak-anak yang putus sekolah, harga kebutuhan naik melangit dan sederetan masalah sosial mendera rakyat.

Di sisi lain, saat itu para pejabat begitu sombongnya memamerkan kekayaan dan kemewahan di atas penderitaan rakyat. Seolah para pejabat itu tak lagi memiliki kepekaan atas penderitaan rakyat. Tanah-tanah luas mereka kuasai bersama para kapitalis, sementara rakyat berdesak-desakan di tanah yang sempit. Tak jarang rakyat kecil digusur atas nama legalisasi kepemilikan tanah. Di mata saya, pemerintah saat itu sangat zalim.

Saya lantas teringat dengan firman Allah, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al Isra’ : 16).

Saat itu saya berkesimpulan bahwa rezim orde baru yang mengalami krisis ekonomi dan telah menyeret kepada penderitaan rakyat adalah teguran Allah karena keingkaran rezim terhadap ketentuan Allah. Sebab tegaknya sistem zalim dan tiadanya sistem Islam telah menjadi biang kerok kerusakan bangsa-bangsa terdahulu.

Bahkan Allah telah memberikan ancaman akan datangnya kesempitan hidup bagi suatu kaum yang mengingkari aturan dan peringatan Allah. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta" [QS Thahaa : 124]

Ada empat faktor yang menyebabkan murka Allah terhadap kaum terdahulu hingga Allah kehancuran dan membinasakan mereka. Pertama adalah ketidaktaatan pada syariah Allah SWT untuk diterapkan dalam kehidupan mereka. Kedua kehidupan para pemimpin dan pejabat yang bermewah-mewah sementara rakyatnya miskin dan menderita.

Ketiga kezaliman kepada rakyat kecil dengan memutuskan berbagai kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Keempat mengingkari kebenaran yang didakwahkan oleh para utusan Allah, bahkan mereka memusuhi, menghina, memburu dan menindas para utusan Allah yang berdakwah kepada mereka.

Dari keyakinan inilah yang mendorong saya untuk melakukan muhasabah kepada pemerintah agar segera kembali kepada jalan Allah dan meninggalkan sistem kapitalisme. Berbagai aksi perlawanan kepada rezim berkuasa saya lakukan bersama kawan-kawan mahasiswa lain. Bukan sadar, rezim orde baru justru bertindak represif kepada mahasiswa.

Singkat kata, saya ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Saat itu perasaan saya kaget dan sedih, namun tidak takut, bahkan semangat perjuangan semakin membara. Saya teringat para Nabi dan pejuang Islam yang dipenjara rezim zalim di masa-masa terdahulu.

Selama di penjara, untuk sesaat saya tidak bisa kuliah, tidak bisa nongkrong di kantin, tidak bisa berkunjung ke teman-teman mahasiswa dan tentu saja tidak bisa tidur di atas kasur.

Sebab penjara yang saya tempati berada di bawah tanah, lembab, sempit, pengab, gelap dan tanpa alas sedikitpun. Alhamdulillah hati saya saat itu tetap lapang, terang, tenang, dan tidak takut sedikitpun.

Saya isi waktu-waktu dalam jeruji besi dengan kegiatan positif, tilawah dan diskusi tentang keumatan. Meski tidak diberikan konsumsi yang memadai, namun kesabaran cukup memberiku energi fisik dan mental. Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesehatan hingga tulisan ini dibuat. Meski peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1998.

Kini usiaku tak muda lagi, telah memasuki kepala empat. Namun jiwa perlawanan terhadap segala bentuk kezaliman tak pernah pudar, malah makin berkobar. Iya, makin berkobar-kobar. Penjara hanyalah cara Allah memanjakan kita agar istirahat sejenak secara fisik.

Rasa takut dalam perjuangan membela agama Allah tidak boleh menyapa seorang muslim. Sebab berjuang atau tidak berjuang, kita semua akan mati. Singgah di penjara maupun singgah di istana negara, toh ujungnya akan mati juga.

Namun berjuang membela agama Allah adalah cara seorang muslim memiliki hujah saat kelak di tanya Allah di akherat. Itu saja, soal kemenangan Islam adalah hak Allah semata. Karena itu tetaplah menyuarakan kalimat tauhid meski setiap rezim akan membencinya. Renungkan beberapa firman Allah berikut :

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu" [QS Al Fushilat : 30]

‘Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta’. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [QS Al Fushilat : 31-32]

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri ? [QS Al Fushilat : 33]

Dakwah dan perjuangan membela agama Allah adalah kewajiban, tanpa harus takut dan ragu terhadap segala bentuk ancaman apapun dan dari siapapun, terutama mereka yang memusuhi Allah.

Dahulu para Nabi dan Rasul saat menyampaikan ISlam kepada pera penguasa juga tidak pernah sepi dari intimidasi, persekusi, kriminalisasi, pembaikotan hingga pembunuhan. Lihatlah Rasulullah yang dipersekusi rezim Abu Jahal, Nabi Musa dipersekusi rezim fir'aun, Nabi Ibrahim dikriminalisasi rezim Namrud dan masih banyak lagi. Para ulama seperti Jenderal Sudirman, Imam Bonjol, Diponegoro bahkan dituduh sebagai ekstrimis dan dipersekusi penjajah.

Profesor HAMKA juga mendapat ujian dipenjara hanya karena mempertahankan keyakinan agamanya terkait fatwa haram mengucapkan hari natal. Mohammad Natsir juga pernah dipenjara oleh rezim orde lama dan bahkan partai Islam Masyumi dibubarkan. Tapi mereka semua justru kini namanya tetap harum di hati umat Islam. Tetaplah jadi pejuang meski dipenjara, dari pada jadi pecuundang walaupun di istana.

Teruslah menjadi muslim dan berjuang membela agama Allah. Sebab begitulah Rasulullah telah memberikan contoh sepanjang hidupnya hingga ajal tiba. Jadi teruslah berjuang dengan hati ikhlas, sabar, kokoh, istiqomah, disiplin, mujahadah, dan rendah hati.

Maka jika hari ini ada aktivis muslim yang memperjuangkan Islam, kemudian dipersekusi, berbahagialah, berarti sudah di jalan yang benar. sebab adalah sunnatullah dalam setiap langkah perjuangan Islam akan dihadapkan dengan berbagai ujian. Yakinlah akan pertolongan Allah, jangan yakin kepada janji manusia.

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu [QS Muhammad : 7]. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam [QS Ali Imran : 102].

Jadi bagaimana ? Masih takut tegak berdiri di jalan dakwah dan perjuangan Islam ?. Semoga semakin berani ya, karena Allah.

[AhmadSastra,KotaHujan,06/04/20 : 14.30 WIB]

EdisiRevisi __________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar