HIJRAH DARI HIDUP ABNORMAL SEKULER MENUJU NEW NORMAL ISLAMI - Ahmad Sastra.com

Breaking

Selasa, 26 Mei 2020

HIJRAH DARI HIDUP ABNORMAL SEKULER MENUJU NEW NORMAL ISLAMI



Oleh : Ahmad Sastra

Masyarakat dunia saat ini menganggap hidup dalam keadaan abnormal akibat pandemi covid 19 yang tak kunjung reda. Kehidupan normal yang selama ini terjadi menjadi seolah berubah abnormal. Misalnya selama ini bekerja di kantor, kini di rumah. Biasanya belajar di sekolah dan kampus, kini juga belajar di rumah. Padahal abnormalitas kehidupan sesungguhnya bukan karena pandemi, buktinya ketika terjadi pandemi, justru kemaksiatan publik banyak yang berhenti.

Secara esensi norma dan abnormal kehidupan sesungguhnya dipengaruhi oleh ideologi yang diadopsi. Hidup dibawah hegemoni ideologi sekulerisme adalah hidup dalam kegelapan peradaban yang abnormal. Adalah berbeda antara kegelapan dan cahaya, antara petunjuk dan kesesatan. Sekulerisme adalah kegelapan, sementara adalah cahaya. Kehidupan jahiliah para masa Rasulullah adalah kehidupan abnormal, dan ketika Islam menjadi cahaya, maka kehidupan masyarakat beralih kepada new normal.

Menurut Rawas Qal’ahji, kehidupan jahiliah terdapat banyak kezaliman politik, ekonomi, jiwa, aqidah dan sosial. Kehidupan zaman jahiliah adalah kehidupan abnormal karena tidak sejalan dengan akal dan wahyu. Berbagai perilaku abnormal sudah sangat mashur terjadi pada masyarakat jahiliah karena menjauh dari petunjuk wahyu.

Memisahkan wahyu dengan kehidupan dalam perspektif modern disebut sekulerisme. Kehidupan sekuleristik bisa juga disebut sebagai jahiliah modern, dimana perilaku manusia tak lagi dibimbing oleh wahyu. Akibatnya kehidupan abnormal pada zaman jahiliah juga terjadi pada zaman sekarang, bahkan bisa jadi lebih parah lagi.

Abnormalitas sekulerisme melahirkan sistem politik demokrasi yang berhaluan ideologi anthropomorfisme, yakni menjadikan manusia berperan sebagai pengganti tuhan yang berwenang membuat hukum, sementara Tuhan yang sesungguhnya yakni Allah SWT justru diabaikan hukum-hukumnya. Ukuran kebenaran dalam demokrasi adalah berpusat kepada subyektifitas dan kesepakatan manusia semata.

Politik hukum sekulerisme berpedoman dari manusia, untuk manusia dan oleh manusia. Bahkan berkembang adagium suara rakyat adalah suara tuhan. Inilah yang mengakibatkan kehidupan abnormal berupa pergolakan tiada henti diantara manusia. Sebab dalam menetapkan hukum, manusia didonimasi oleh nafsu dan kepentingannya untuk hanya meraih materi dan kekuasaan. Sekulerisme jahiliah telah melahirkan kekuasaan culas, khianat, korup, dan zalim. Memisahkan agama dari kehidupan menjadikan manusia berjalan dalam kegelapan peradaban.

Abnormalitas sekulerisme melahirkan paham asobiyah kebangsaan yakni nasionalisme sempit yang berpotensi memecah belah persatuan umat Islam di dunia. Normalnya sesama muslim adalah bersatu karena bersaudara. Namun dengan nasionalisme sempit, kaum muslim di seluuh dunia justru berpecah belah karena sekat-sekat kesukuan dan kebangsaan.

Padahal umat Islam di seluruh dunia adalah satu dan bersaudara. Akibat nasionalisme, umat Islam terpecah belah dalam kubangan asobiyah yang mudah diadu domba. Akibat nasionalisme sempit inilah kaum muslimin seringkali terlibat berbagai pertikaian demi membela negaranya, padahal kaum muslimin di seluruh dunia memiliki Tuhan yang satu Allah, memiliki nabi satu Muhammad, memiliki kitab satu al Qur`an, memiliki kiblat satu Kabah dan memiliki tujuan satu yakni menggapai Ridho Allah.

Abnormalitas sekulerisme melahirkan paham pluralisme dimana agama-agama dianggap sebagai pemicu konflik, termasuk Islam. Karena itu pluralisme mencoba menghapus agama-agama dan menggantikannya dengan pemahaman baru yang bersifat humanisme. Pluralisme mengajarkan manusia untuk tidak terikat dengan agamanya, melainkan terikat dengan nilai-nilai universal dengan apologi bahwa seluruh agama adalah sama dan menuju tuhan yang satu.

Pluralisme juga sangat bernafsu menghilangkan agama Islam. Dari sinilah muncul berbagai aksi penghinaan dan penistaan terhadap Islam, ulama, kitab suci al Qur`an bahkan penghinaan terhadap Allah dan Rasulullah. Normalnya agama adalah untuk dihormati dan ditaati ajarannya, namun dengan paham pluralisme, masyarakat menjadi abnormal, karena sering melakukan blasphemy.

Abnormalitas sekulerisme melahirkan liberalisme yang menuhankan kebebasan tiada batas. Liberalisme terus berusaha merusak kaum muslimin dengan serangan pemikiran yang melumpuhkan pilar-pilar fundamental Islam. Dengan logika hermeneutika, nilai-nilai fundamental Islam dirusak dan diracuni. Dalam pemikiran liberal yang halal dianggap haram dan yang haram justru dianggap halal dengan berbagai apologi ngawur.

Dalam pemikiran liberal, penghinaan terhadap Rasulullah dianggap sebagai kebebasan berekspresi, pembelaan terhadap Islam dianggap sebagai radikalisme. Logika-logika abnormal dan ngawur serta dangkal selalu ditujukan untuk merusak nilai-nilai Islam yang mulia. Lebih ironis lagi karena yang berfikir liberal justru agen-agen Barat yang beragama Islam. Banyak muslim liberal yang menjadi pelacur intelektual karena telah diberi makan oleh orang kafir yang memiliki tujuan untuk merusak ajaran Islam. Islam sangat membatasi perilaku manusia berdasarkan syariah demi kehidupan yang lebih normal.

Abnormalitas sekulerisme melahirkan budaya hedonisme dan pragmatisme yang mengukur segala sikap dan perilaku berdasarkan nafsu kenikmatan duniawi semata. Sebab sifat dasar sekulerisme adalah duniawi an sich dengan membuang dan memisahkan orientasi ilahiyah. Akibatnya lahirlah manusia yang berkarakter abnormal seperti binatang, sebagaimana terjadi pada orang-orang barat sekuler liberal.

Abnormalitas hedonisme dan pragmatisme telah melahirkan seks bebas, pornografi pornoaksi, pelacuran, homoseksual, miras, narkoba, dan pergaulan bebas. Hedonisme inilah yang telah menghancurkan kehidupan sosial masyarakat modern. Bagaimana tidak disebut abnormal, ketika ada laki-laki justru menikah dengan laki-laki, dan perempuan menikah juga dengan perempuan.

Abnormalitas sekulerisme juga telah melahirkan sistem ekonomi kapitalisme yang ribawi, penuh praktek perjudian, penipuan dan kezaliman. Kapitalisme adalah bentuk penjajah ekonomi yang hanya mementingkan pemilik modal semata sehingga melahirkan pertumbuhan ekonomi palsu. Kapitalisme melahirkan ketidakadilan karena yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Jeratan riba telah menjerat rakyat miskin hingga tak berdaya lagi. Kapitalisme melahirkan sistem ekonomi abnormal.

Dengan sistem ribawi, kapitalisme telah menjerat bangsa ini dengan hutang yang tidak mungkin terbayarkan. Seluruh SDA dirampok tanpa tersisa. Rakyat dijerat dengan berbagai skema hutang ribawi. Akibatnya negeri ini menjadi bangkrut karena hutang, sementara rakyat makin sengsara. Rakyat Indonesia yang mayoritas muslim kini hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan.

Kapitalisme telah menjadikan negeri ini terjual habis tanpa tersisa. Bahkan rakyat yang telah miskin masih dicekik dengan pajak yang tidak masuk akal. Benar-benar abnormal. Tentu hal ini sangat berbeda dengan sistem ekonomi syariah yang hukumnya datang langsung dari Allah Yang Maha adil.

Abnomralitas sekulerisme telah melahirkan feminisme dan kesetaraan gender yang memporak-porandakan sendi-sendi keluarga muslim. Feminisme telah memaksa kaum perempuan berekspresi berlebihan sehingga tak lagi menjadikan keutuhan keluarga sebagai hal yang penting.

Feminisme telah melahirkan perempuan beramai-ramai keluar rumah untuk mengejar harta. Bahkan ketika harta telah didapat, mereka merasa tak lagi membutuhkan suami dalam hidupnya. Paham feminisme dan kesetaraan gender telah mengakibatkan tingginya tingkat perceraian keluarga muslim. Feminisme telah merusak fungsi utama ibu sebagai pendidik anak dan pengatur rumah tangga yang pada akhirnya mengakibatkan rusaknya ikatan keluarga dan anak-anak.

Konsep ikatan kokoh keluarga dalam Islam dirusak oleh paham feminisme. Feminisme telah merusak hubungan kemitraan dan persahabatan antara laki dan perempuan menjadi musuh antara satu dengan yang lainnya. dengan sekulerisme, hubungan antara laki-laki dan perempuan menjadi abnormal.

Abnormalitas sekulerisme telah melahirkan paham multikulturalisme yang menganggap ekspresi budaya manusia apapun dianggap sah selama diterima oleh masyarakat. Multikulturalisme melarang agama untuk ikut campur dalam urusan budaya. Jika agama melakukan penilaian terhadap budaya masyarakat yang melanggar etika, maka agama itu akan dianggap intoleran. Sekulerisme telah melahirkan budaya abnormal.

Multikulturalisme telah membunuh dakwah Islam. Islam tidak lagi dianggap sebagai ukuran nilai dalam kehidupan budaya manusia. Paham inilah yang telah melahirkan berbagai budaya abnormal alias menyimpang di masyarakat Indonesia karena tidak lagi mengindahkan nilai-nilai etika dan moral. Padahal Islam hadir untuk meluruskan moral masyarakat. Paham multikulturalisme pada hakekatnya adalah bentuk pembunuhan terhadap dakwah Islam.

Abnormalitas sekulerisme telah melahirkan westernisme yang menjadikan seorang muslim kehilangan jati dirinya sebagai seorang muslim. Padahal ajaran Islam melarang seorang muslim meniru gaya hidup (millah) orang-orang Barat yang kafir. Akibat gelombang westernisasi yang dibawa oleh paham sekulerisme lahirlah generasi muslim yang bangga dengan simbol-simbol barat yang dianggap modern dan meninggalkan berbagai simbol Islam yang dianggap kuno. Sekulerisme telah menjadikan seorang muslim abnormal.

Padahal simbol-simbol barat kafir justru menggambarkan tradisi jahiliyah yang ditranformasi pada masa kini, sementara Islam justru gambaran kehidupan yang penuh kemuliaan. Westernisasi telah membelokkan paradigma kemajuan dari kemuliaan Islam menjadi kejahiliahan kafir Barat.

Gaya hidup generasi muslim telah luntur secara drastis akibat adopsi gaya hidup jahiliyah barat. Akibat werternisasi, kini generasi muslim tak lagi memiliki identitas sebagai muslim. Melaui makanan, pakaian dan hiburan yang dilancarkan oleh barat, generasi muslim hampir kehilangan segala-galanya.

Abnormalitas sekulerisme juga telah melahirkan sains dan teknologi yang sekuleristik. Landasan ontologi, epistemologi dan aksiologi sekuler telah melahirkan sains dan teknologi yang menyalahi syariah. Teknologi sekuler cenderung dijadikan sebagai alat penjajah dan perusak moralitas. Teknologi sekuler biasanya hanya digunakan untuk mendukung kemaksiatan. Berbeda dengan sains Islam yang dibangun oleh ontologi, epistemologi dan aksiologi berbasis al Qur'an, sehingga sejalan dengan tujuan syariah (maqosidus syariah).

Abnormalitas sekulerisme telah melahirkan kondisi kaum muslimin di seluruh dunia terjajah, terzalimi, teraniaya, terusir, terfitnah, tertuduh, terbunuh, termiskin, terpecah, tersiksa, terhina, terpuruk, dan tertindas. Padahal kaum muslimin menurut Allah adalah umat terbaik dan termulia. Normalnya kaum muslim adalah umat terbaik, namun dengan sekulerisme berubah menjadi terbelakang, artinya abnormal.

Karena itu tidak ada jalan lain kecuali umat Islam kembali kepada Islam sebagai ideologi yang memancarkan sistem hukum dan pemerintahan sehingga kembali normal, kuat dan mulia. Dengan ideologi Islam inilah kaum muslimin akan bisa dipersatukan kembali dan memperoleh kemuliaannya kembali.

Bahkan bukan hanya itu, dengan ideologi Islam, maka agama ini akan memancarkan peradaban mulia yang memberi rahmat bagi alam semesta sekaligus akan menghapus segala bentuk kezaliman dan kesombongan kaum kafir penjajah. Saatnya hijrah dari kehidupan abnormal karena sekulerisme menuju new normal yang islami.

(AhmadSastra,KotaHujan,26/05/20 : 19.50 WIB) __________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar