RAMADHAN STAY AT HOME : TETAP POSITIF, PRODUKTIF DAN KONSTRIBUTIF - Ahmad Sastra.com

Breaking

Sabtu, 02 Mei 2020

RAMADHAN STAY AT HOME : TETAP POSITIF, PRODUKTIF DAN KONSTRIBUTIF



Oleh : Ahmad Sastra

Ramadhan di masa pandemi global tidak akan menghilangkan kemuliaannya. Justru saat umat muslim banyak di rumah (stay at home), mestinya menjadikan bulan suci ini semakin bisa direguk keberkahannya. Ramadhan stay at home mestinya kita jadikan sebagai kesempatan emas untuk semakin menjadi pribadi positif, produktif dan konstributif.

Banyak amal positif yang bisa dilakukan selama Ramadhan stay at home. Mengingat Ramadhan sebagai bulan Al Qur’an, maka membaca, menghafal dan mengkaji Al Qur’an adalah hal positif yang akan mendatangkan banyak kebaikan dan keberkahan.

Al Qur’an adalah sumber petunjuk manusia dan sebagai penjelas segala sesuatu. Al Qur’an merupakan kitab suci yang berfungsi sebagai pembeda yang haq dan bathil. Al Qur’an sebagai kebenaran mutlak yang menjadi petunjuk bagi orang bertaqwa.

Ciri orang bertaqwa adalah beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, menunaikan zakat, beriman kepada kitab-kitab Allah dan percaya kepada kehidupan akherat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Aktivitas positif lainnya yang bernilai ibadah selama stay at home selama Ramadhan adalah sholat tarawih bersama keluarga, kecuali ada masjid terdekat yang dibuka, mengisi kajian-kajian keislaman bersama keluarga, memperbanyak zikir, membaca buku keagamaan dan tentu masih banyak lagi hal positif lainnya.

Satu amal positif yang diilakukan ikhas dan mengikuti sunnah Nabi oleh akan dibalas berlimpah. Allah telah berjanji akan melipatgandakan pahala bagi hamba-hambaNya yang ikhlas berpuasa dan beribadah karena Allah. Saat kaum muslimin membaca al Qur’an di bulan suci Ramadhan.

Jika kaum muslimin membaca satu juz Al Qur’an kira-kira berjumlah 7000 huruf, kalikan satu huruf dengan 10 kebaikan dikalikan pahala 70 kewajiban maka akan menghasilkan 4.900.000 kebaikan. Jika satu kali saja Al Qur’an dikhatamkan selama bulan Ramadhan, maka akan didapat 147 juta kebaikan. Jika tiga kali akan didapatkan 441 juta kebaikan.

Di sela-sela ibadah Ramadhan, kesempatan stay at home juga bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan hobby sehingga menjadi produktif. Mungkin selama ini kita sangat disibukkan dengan pekerjaan rutinitas, sehingga tidak sempat mengembangkan potensi terpendam yang dimiliki.

Produktifitas itu bisa berupa bisnis kuliner, melukis, bermusik, membuat lagu atau menulis artikel atau buku dan masih banyak lagi. Islam mendorong kreatifitas dan produktifitas selama tidak melanggar hukum syara'. Kreatifitas itu biasanya muncul dalam kondisi-kondisi yang menekan seperti saat ini. Sebab dalam kondisi terbatas, pikiran kita akan aktif mencari solusi dan jalan keluar. Berkurangnya pendapatan akibat wabah, mestinya tetap dijadikan peluang kreativitas, jangan sampai berputus ada.

Amalan lainnya yang bisa dilakukan selama bulan suci Ramadhan adalah yang bersifat konstributif. Jika kita banyak diberikan rejeki oleh Allah, maka berkonstribusilah kepada saudara seiman yang sedang kekurangan dengan bersedekah. Jika kita punya ilmu, maka berkontribusilah dengan ilmu dengan cara mengadakan kajian-kajian Islam secara online. Jika kita punya jabatan, maka bisa berkonstribusi memberikan pekerjaan kepada saudara-saudara yang terkena PHK akibat corona.

Dalam zaman Rasulullah, Ramadhan bukan hanya bulan untuk melakukan ibadah individual, melainkan justru banyak peristiwa besar yang terjadi di bulan suci ini. Pada bulan Ramadhan tahun ke 2 Hijriyah, Rasulullah memimpin perang Badar al Kubro antara pasukan Islam yang berjumlah 313 prajurit melawan kafir Quraisy yang berjumlah 1000 prajurit.

Pada bulan Ramadhan juga terjadi peristiwa besar berupa penaklukan kota Mekkah atau futhu Mekkah, tepatnya terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 H yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. Penaklukan kota Thoif juga terjadi di bulan suci Ramadhan dibawah panji Islam yang dibawa oleh Rasulullah.

Bahkan di bulan suci Ramadhan tanggal 15 1294 H juga terjadi perang Yalhiz, antara pasukan Khalifah Utsmani yang berjumlah 34.000 pasukan kaum muslimin melawan tentara kaisar Rusia berjumlah 740.000 dengan kemanangan di tangan kaum muslimin. Berbagai peristiwa perjuangan ini mestinya menjadi ibroh umat Islam untuk senantiasa menjaga spirit Ramadhan dengan berbagai aktivitas ketaatan kepada Allah yang positif, produktif dan konstributif. Jangan sampai Ramadhan justru diisi dengan aktivitas bermalas-malas seperti tidur, menonton TV atau sekedar ngrumpi.

Penting juga menjadikan Ramadhan sebagai kesempatan emas untuk kaum muslimin bermuhasabah memikirkan kondisi kaum muslimin di negeri ini dan di belahan penjuru dunia. Mengapa kaum muslimin di seluruh dunia masih dalam kondisi terpinggirkan, terzolimi dan terjerat kemiskinan. Ramadhan dalah moment yang tepat untuk mencari akar malalah dan mencari solusi fundamental oleh seluruh kaum muslimin di dunia.

Saatnya menjadikan Ramadhan sebagai momentum muhasabah keumatan untuk kembali menjadikan kaum muslimin sebagai umat terbaik dengan kemuliaan Islam yang memberikan rahmat bagi alam semesta. Eratkan persaudaraan seluruh kaum muslimin dan bangkitkan persatuan demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

(AhmadSastra,KotaHujan,02/05/20 : 03.00 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar