DEMOKRASI, CARA PALING DUNGU DALAM MEMILIH PEMIMPIN - Ahmad Sastra.com

Breaking

Senin, 01 Juni 2020

DEMOKRASI, CARA PALING DUNGU DALAM MEMILIH PEMIMPIN



Oleh : Ahmad Sastra

Demokrasi adalah anak kandung ideologi kapitalisme sekuler yang bertumpu kepada keyakinan bahwa pragmatisme materialisme adalah tujuan utama hidup dan kehidupan. Materi diyakini sebagai pangkal kebahagiaan. Demokrasi tidak membutuhkan agama, sebab tuhannya adalah uang. Sekulerisme adalah pangkal kapitalisme dan komunisme.

Kebencian kapitalisme demokrasi kepada agama (Islam) sama dengan komunisme ateis, karena pangkalnya sama, yakni sekulerisme. Paham anti agama ini selalu menjauhkan dan memisahkan agama dari kehidupan. Formalisasi syariah oleh kedua ideologi setan ini dianggap sebagai bentuk radikalisme, terorisme dan intoleran. Sementara komunisme bahkan menganggap Tuhan tidak ada.

Miguel D Lewis mengatakan bahwa capitalism is religion. Banks are churches. Bankers are priests. Wealth is heaven. Poverty is hell. Rich people are sainst. Poor people are sinners. Commodities are blessings. Money is god.

Demokrasi adalah kekuasaan yang berorientasi materialisme tanpa pertimbangan etika dan agama. Korupsi, kolusi dan nepotisme adalah ritual wajib dalam politik demokrasi. Untuk meraih tahta, politikus demokrasi akan menyuap kepada siapa saja. Money politic ini bisa terjadi dari pemilihan kepala desa hingga presiden.

Jeffrey Winters, pengamat oligarki di Indonesa, seorang profesor politik dari Northwestern University mengatakan bahwa tujuan utama politik di Indonesia adalah bagi-bagi kursi. Bahkan istilah gotong-royong dan musyawarah mufakat juga dimaknai sebagai bagi-bagi kursi diantara segelintir elit oligarki.

Prof. Jeffrey Winters lebih lanjut berujar bahwa Indonesia dikuasai para maling. Ada demokrasi, tapi seperti tanpa hukum. Demokrasinya tumbuh, tapi hukumnya tunduk dibawah kendali uang dan jabatan.

Keburukan demokrasi adalah sifat antroposentrisme dan antropomorphisme. Winston Churchil yang menyatakan, “Democracy is worst possible form of government” (demokrasi kemungkinan terburuk dari sebuah bentuk pemerinthan). Abraham Lincoln “Democracy is government of the people, by people, by people, and for people”.

Dengan demikian politik demokrasi adalah sebuah katarsitas atas nafsu kekuasaan tanpa berpijak kepada nilai-nilai moral dan etika agama. Manusia memang secara genetik memiliki nafsu untuk berkuasa. Definisi demokrasi yang diajukan oleh Abraham Lincoln meniscayakan adanya pengabaian nilai-nilai spiritual dalam praktek berdemokrasi.

Demokrasi adalah kontestasi para pemburu harta dan tahta belaka. Siapa yang punya banyak modal, maka dialah yang akan melaju ke muka. Demokrasi hanya menghitung jumlah suara, tak peduli dengan isi kepala. Kecerdasan otak tak dibutuhkan demokrasi, tapi lebih butuh kepada tebalnya pundi-pundi materi.

Muhammad Iqbal mengkritik metode menentukan kebenaran ala demokrasi dengan mengatakan, “Demokrasi menghitung jumlah kepala tanpa memperhatikan isi kepala”. Zaim Saidi menegaskan bahwa demokrasi adalah cara paling dungu dalam memilih pemimpin.

Dengan kondisi ini, maka pemimpin yang terpilih dalam pemilu demokrasi adalah mereka yang mau berbuat curang, pengkhianat, berduit, hobi berbohong dan bermental maling. Sebab politik demokrasi sejak awal telah menghalalkan segala cara. Janji selangit, namun setelah jadi, langsung mengkhianati. Politisi demokrasi hobinya PHP, pengumbar harapan palsu.

Lihatlah apa yang terjadi dalam kekuasaan demokrasi. Sudah berapa banyak pejabat yang meringkuk di jeruji besi karena korupsi. Berapa banyak pejabat yang memalsukan ijazah demi meraih kursi. Berapa banyak pejabat yang dipenjara karena gratifikasi. Berapa banyak pejabat yang dibenci rakyat karena berkhianat.

Dengan orientasi duniawi semata inilah yang menjadikan ideologi barat ini tidak menentukan kriteria khusus bagi yang mau menjadi penguasa. Siapapun punya hak yang sama untuk mencalonkan jadi pemimpin. Dari sinilah sebenarnya malapetaka politik dimulai.

Demokrasi tidak membedakan pemimpin muslim maupun kafir, laki maupun perempuan, cardas atau dungu, jujur maupun pendusta, sholih maupun amoral, pejuang maupun pecundang, amanah atau pengkhianat, adil maupun zalim, berakal maupun gelo, berkompeten maupun tidak, dan ahli ibadah maupun ahli maksiat.

Lihatlah kehidupan sosial di negeri kampium demokrasi yakni Amerika yang kini sedang dilanda karusuhan karena isu rasisme. Di sana semua jenis kemaksiatan terjadi seperti perjudian, perzinahan, homoseksual, korupsi, pembunuhan, diskriminasi, pemerkosaan, mabok-mabokan dan segala kemaksiatan lainnya. Kondisi ini terjadi di hampir seluruh negara yang menerapkan demokrasi, termasuk Indonesia.

John Adams, presiden Amerika kedua sangat pesimis dengan demokrasi dengan mangatakan bahwa demokrasi tidak akan bertahan lama. Dia akan segera terbuang, melemah dan akan membunuh dirinya sendiri. Demokrasi pasti akan bunuh diri. Demokrasi akan segera memburuk menjadi anarki.

(AhmadSastra,KotaHujan,01/06/20 : 03.30 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar