INDONESIA DAN PARADOKS CORONA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Kamis, 04 Juni 2020

INDONESIA DAN PARADOKS CORONA



Oleh : Ahmad Sastra

Indonesia itu negeri paradoks. Banyak terjadi kesenjangan antara teori dan praktek. Paradoks politik terjadi saat janji kampanye tidak sesuai dengan kenyataan. Paradoks budaya saat ada kesenjangan antara negara beradab dan perilaku masyarakatnya yang banyak menyimpang. Indonesia negeri paradoks seperti panggung sandiwara.

Secara etimologi, kata paradoks berasal dari bahasa Yunani yang berarti pendapat yang bertentangan. Istilah paradoks merujuk kepada sebuah situasi yang timbul dari sejumlah premis (apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan), namun kontradiksi pada kenyatannya. Paradoks adalah kesenjangan antara pernyataan dan kenyataan.

Sejak muncul virus corona di kota Wuhan China akhir tahun 2019 telah banyak paradoks terjadi di negeri ini. Berikut adalah beberapa catatan paradoksal Indonesia dalam menangani virus corona.

MASALAH SERIUS, TAPI DIHADAPI DENGAN BERCANDA. Sejak muncul corona virus, WHO telah mengingatkan dunia akan ancaman pandemi global covid-19. Beberapa negara lantas bergegas untuk melakukan antisipasi mencegah tersebarnya corona seperti lockdown, social distancing dan stay at home.

Namun, paradoks Indonesia, sebab negeri ini justru terkesan meremehkan dengan mengatakan bahwa corona tidak akan masuk Indonesia. Setelah itu disusul bahwa corona akan hilang dengan doa qunut. Tidak sampai di situ, saat corona telah memapar, masih ada komentar canda dan meremehkan bahwa corona itu seperti istri, sembuh dengan nasi kucing dan candaan lainnya.

Saat corona benar-benar mewabah, negeri ini tidak segera lockdown, namun justru menunda-nunda lockdown karena merasa tidak mampu memberikan jaminan kebutuhan rakyat, sesuai dengan amanah UU kekarantinaan. Bahkan beberapa saat, presiden menyatakan perlawanan kepada corona, namun dengan cepat berubah dengan pernyataan damai dengan corona.

MASALAH BAHAYA, TAPI MISKIN DATA. Ketika dinyatakan oleh presiden bahwa ada 4 orang di Depok yang terpapar corona, setelah sebelumnya ngotot bahwa corona tak akan masuh Indonesia. Namun faktanya, corona setelah itu menjalar begitu cepat ke hampir seluruh daerah di Indonesia. Seperti ada data yang disembunyikan atau justru seperti miskin data.

Upaya menyembunyikan data ini sama dengan apa yang dilakukan oleh China, setidaknya itulah penilaian negara-negara Amerika dan Eropa. Namun faktanya adalah tidak adanya data yang komprehensif atas daerah-daerah yang terpapar virus ini. Fakir data ini berimbas kepada kebijakan PSBB di kemudian hari. Akhirnya PSBB gebyah uyah yang cukup merepotkan masyarakat.

HABIS MELAWAN, TERBITLAH DAMAI. Paradoks corona berikutnya adalah ungkapan pemerintah yang cukup membingungkan rakyat banyak. Sebab tak berjangka waktu lama, namun pernyataan berubah secara diametral. Sesaat setelah menyatakan perang melawan corona, namun setelahnya justru menyatakan damai dengan corona. Nampaknya istilah damai adalah langkah awal menuju apa yang populer dengan istilah new normal.

SERUKAN NEW NORMAL, TAPI PANDEMI MASIH TINGGI. Kebijakan new normal tidak kalah paradoks dengan kebijakan penanganan corona yang lainnya. New normal adalah kenormalan baru dalam arti hidup sebagaimana biasa dengan berbagai aktivitas sebelum ada corona, meskipun tetap berdisiplin dengan protokol corona. Namun, menjadi paradoks karena new normal justru dilakukan di saat pandemi masih berlangsung.

Jika pemerintah benar-benar menjaga nyawa rakyat, maka kebijakannya mestinya tetap stay at home dan social distancing. Sontak memunculkan banyak kritik dari komponen masyarakat bahwa new normal adalah tekanan kaum kapitalis yang mulai lumpuh bisnisnya akibat kebijakan stay at home sekitar dua bulan ini.

Adalah paradoks jika new normal justru dilakukan saat pandemi belum berakhir, sebab akan terjadi lonjakan jumlah masyakarat yang terinfeksi virus corona. Surabaya adalah salah satu contoh kota yang kini telah berstatus merah, karena korban covid-19 makin bertambah. New normal mestinya dilakukan saat kondisi telah melandai, bukan saat masih eksponensial. Lebih ironis lagi, jika benar bahwa new normal adalah tekanan kaum kapitalis.

AJAK NEW NORMAL, TAPI VAKSIN BELUM DITEMUKAN. Covid-19 termasuk jenis virus yang baru, karenanya belum ditemukan vaksinnya. Para dokter dan peneliti masih terus berusaha mencari vaksin corona, namun hingga kini belum ditemukan. Bahkan oleh para dokter, kini anak-anak juga banyak yang telah terdampak corona ini. Entah sudah berapa tenaga medis yang harus kehilangan nyawa dengan asbab corona.

Suatu yang berbahaya, jika pemerintah mengambil kebijakan untuk membuka kembali sekolah dalam rangka new normal, padahal vaksinya belum ditemukan. Sekolah model asrama seperti pesantren akan sangat riskan terdampak corona, mengingat mereka hidup dalam asrama bersama-sama selama 24 jam. Sementara, pesantren rata-rata memiliki santri di atas 1000 orang, bahkan ada pesantren yang memiliki santri hingga 18.000 orang.

TEMPAT IBADAH TETAP TUTUP, TAPI MALL MALAH DIBUKA. Paradoks berikutnya adalah saat menyerukan new normal dengan membuka mall-mall besar, namun tempat ibadah seperti masjid justru masih harus ditutup dan tidak boleh mengadakan sholat jamaah. Padahal orang yang jelas sehat tidaklah ada persoalan sholat berjamaah, meski tetap jaga jarak.

Mestinya yang dilakukan pemerintah adalah memastikan masyarakat yang terpapar dan sehat. Masyarakat yang terinfeksi harus dikarantina, sementara yang sehat bisa beraktivitas. Namun, karena hal ini tidak dilakukan dengan baik, maka sulit rakyat mengetahui siapa yang sehat dan siapa yang terpapar. Jika mall dibuka, sementara masjid ditutup, bisa jadi pandemi corona tidak akan bisa dihentikan dan akan terus bertambah.

Ditutupnya tempat ibadah dan dibukanya mall menandakan ketidakjelasan pemetaan daerah-daerah terkait persebaran corona. Bahkan jikapun pemetaan dilakukan, maka sudah terlambat, sebab sekarang persebaran corona sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Hal ini disebabkan oleh kesalahan sikap sejak awal muncul corona.

PROTOKOL COVID, PADAHAL MATI BUKAN KARENA CORONA. Nah ini juga paradoks yang kadang membuat rakyat marah. Banyak dari masyarakat yang meninggal bukan karena corona, namun oleh tim medis diperlakukan sebagaimana pasien corona. Hal ini telah terjadi di banyak wilayah, bahkan ada kasus seorang dokter yang meminta mayat diperlakukan sebagai pasien corona dengan memberikan sejumlah uang kepada keluarga mayat. Ini ada apa sebenarnya ?. Adakah konspirasi ?. Entahlah.

SERUKAN SOCIAL DISTANCING, TAPI PEMERINTAH MALAH MELANGGAR. Paradoks berikutnya cukup menjengkelkan, di satu sisi pemerintah mendorong rakyat untuk melakukan social distancing dengan tidak membuat acara yang melibatkan kerumunan dengan tetap mengenakan masker pelindung. Namun, di sisi lain, pemerintah justru mengadakan konser amal dengan melanggar protokol social distancing dan tak mengenakan masker.

Sementara Habib Bahar yang mengadakan pengajian usai keluar dari penjara, langsung kembali ditangkap dengan alasan melanggar PSBB. Pelanggar PSBB dari pihak pemerintah sendiri hingga hari ini tidak diberikan hukuman sama sekali. Paradoks bukan ?.

CORONA MAKIN MENGHEBAT, TAPI TAK SEGERA TOBAT. Paradoks berikutnya terkait corona adalah saat pandemi corona makin meningkat, pemerintah tidak segera berobat. Secara spiritual, corona adalah musibah yang dihadirkan Allah untuk manusia. Biasanya musibah datang karena perbuatan maksiat yang dilakukan oleh rakyat atau pemimpin.

Dahulu saat terjadi gempa, maka khalifah Umar Bin Khattab justru bertanya kepada rakyatnya, kemaksiatan apa yang telah dilakukan oleh rakyat saat itu. Umar marah tidak akan hidup bersama rakyat, jika rakyatnya masih terus bermaksiat hingga mendatangkan musibah. Bangsa ini mestinya melakukan tobat nasional, kembali ke jalan Allah, agar Allah segera mencabut wabah ini.

Mestinya bangsa ini punya satu persepsi yang benar bahwa virus adalah bagian dari musibah yang disebabkan karena perilaku manusia yang melanggar hukum Allah. Hadirnya virus adalah cara Allah menghentikan segala kesombongan dan kecongkakan dunia. Setelah semua dihentikan dan dikalahkan oleh corona, maka bangsa ini mestinya sabar, tawakal, doa, tobat dan ikhtiar maksimal. Islam adalah solusi, maka mestinya tobat diikuti dengan penerapan syariah Islam secara kaffah menjadi misi dan aksi jangka panjang. New normal hakiki adalah kembali kepada kehidupan Islami dan meninggalkan kehidupan sekuler.

RAKYAT DI MASA SULIT, PEMERINTAH MALAH NAIKKAN BPJS DAN MENAMBAH UTANG NEGARA. Fakta yang terjadi akibat corona adalah bertambahnya pengangguran akibat PHK. Masyarakat dalam kondisi kesulitan uang pada masa pandemi yang belum jelas kapan akan berakhir. Akibatnya banyak masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan hingga ada yang bunuh diri karena putus asa.

Kondisi ini mestinya disikapi pemerintah dengan memberikan bantuan, membuka lapangan kerja baru dan mengurangi beban rakyat. Namun paradoks, pemerintah justru menaikkan iuran BPJS yang makin memberatkan beban rakyat. Bukan hanya sampai di situ, pemerintah juga malah menambah utang negara ribawi yang harus ditanggung rakyat juga.

Semestinya pemerintah ikut prihatin atas penderitaan rakyat akibat corona, bukan malah menambah beban hidup rakyat. Semestinya seluruh pejabat negara seperti anggota dewan, menteri, presiden, gubernur hingga bupati tidak mengambil gaji selama setahun untuk disedekahkan kepada rakyat. Sebab, mereka toh sudah menjadi orang kaya sebelumnya.

Padahal menteri keuangan Sri Mulyani sendiri sudah memperkirakan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara atau APBN 2020 sebesar 1.028 triliun tahun ini. Nilai tersebut setara dengan 6,27 persen terhadap PDB alias melebihi 3 persen. Dalam situasi pandemi, menkeu mengeluarkan surat utang global (global bonds) dengan tenor 50 tahun. Ini artinya pemerintah telah mewariskan hutang kepada anak cucu bangsa ini, sementara kehidupan ekonomi rakyat justru makin sulit. Paradoks bukan ?.

Nah inilah beberapa paradoks berkaitan dengan penanganan corona di Indonesia. Pembaca bisa setuju, namun juga bisa tidak. Silahkan ditanggapi dengan tulisan juga ya.

(AhmadSastra,KotaHujan,04/06/20 : 00.10 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar