WABAH, SAINS DAN POLITIK - Ahmad Sastra.com

Breaking

Rabu, 10 Juni 2020

WABAH, SAINS DAN POLITIK



Oleh : Ahmad Sastra

Berbagai musibah bencana alam kerap terjadi di negeri ini, seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran hutan, tsunami dan badai hingga gunung meletus. Bencana non alam juga kini tengah melanda negeri ini, yakni wabah corona yang kini bahkan telah menjadi pandemi global.

Dalam pandangan Islam, apapun yang menimpa manusia, maka terkategori sebagai musibah. Bagaimana orang beriman menyikapi musibah ?. Di dalam Al Qur’an, Allah telah memberikan petunjuk yang sempurna, bahwa musibah adalah bagian dari qadha Allah. Orang beriman harus meyakini bahwa segala sesuatu itu hakikatnya milik Allah dan akan kembali kepada Allah.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). (QS Al Baqarah : 156).

Selain bersabar, beriman, bertawakal, berikhtiar dan berdoa, semestinya manusia bertobat disaat ditimpa musibah yang menimbukan berbagai kerusakan dan kesulitan. Sebab bisa jadi segala bentuk musibah adalah karena perbuatan manusia itu sendiri. Allah menegaskan hal ini dalam beberapa ayat berikut :

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS Asy Syura : 30)

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS Ar Ruum : 41).

Secara historis, wabah sebenarnya sudah sangat sering terjadi. Dahulu kala ada berbagai wabah yang ditimpakan Allah kepada manusia-manusia sombong dan zalim, seperti wabah kodok, belalang dan kutu kepada fir’aun.

Ada juga wabah nyamuk yang mampu menjungkalkan kekuasaan raja namrud dan bahkan membinasakannya. Sekitar tahun 1400 an juga pernah terjadi wabah black dead di Eropa yang menewaskan puluhan juta manusia.

Akibat wabah corona, timbullah berbagai kesulitan hidup dan kekurangan berbagai kebutuhan hidup. Allah sendiri telah menegaskan bahwa akan menguji manusia dengan berbagai bentuk ujian, seperti rasa takut akan segala kekurangan harta, jiwa, makanan dan buah-buahan.

Begitulah sikap orang beriman dalam menghadapi segala macam musibah, segalanya dikembalikan kepada Allah, makin merunduk kepada Allah dan tidak berbuat sombong atas ketentuan Allah. Persepsi yang sama bahwa musibah dan ujian datangnya dari Allah ini akan melahirkan sikap yang benar saat menghadapinya.

Khalifah Umar bin Khattab saat negaranya mengalami gempa, beliau justru menyikapi dengan sebuah pertanyaan, maksiat apa yang telah dilakukan oleh rakyatnya, lantas mengajak rakyatnya untuk bertobat. Begitulah sikap orang beriman yang percaya kepada yang ghaib (suprarasional) dengan selalu mengkaitkan dengan keberadaan Allah.

Gempa tercatat pernah terjadi di zaman kekhilafahan Umar, sebagaimana yang disampaikan dalam riwayat Ibnu Abid Dun-ya dalam Manaqib Umar. Madinah sebagai pusat pemerintahan kembali bergoncang. Umar menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi, “Ada apa denganmu?” Dan inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi negeri muslim itu kepada masyarakat pasca gempa,“Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”

Berbeda dengan orang-orang kafir, dahulu saat mendapat azab dari Allah, justru mereka menantang dan melawan Allah. Mereka tak mau diberikan peringatan oleh para Nabi sekalipun saat itu.

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat. (QS Al Baqarah : 6 - 7).

Lihatlah bagaimana orang-orang kafir pada zaman Nabi Nuh, Nabi Luth, Nabi Musa dan Nabi Ibrahim yang justru menantang para Nabi agar Allah segera menimpakan azab yang dijanjikan oleh Allah. Sementara para Nabi tetap bersabar mengingatkan agar mereka bertobat, namun hati mereka tertutup, hingga Allah benar-benar mendatangkan azab itu karena kesombongan mereka.

Selain menerima qadha dari Allah dengan penuh keimanan, kesabaran dan tawakal, Islam juga mengajarkan ikhtiar maksimal menghadapi wabah agar tidak semakin meluas penyebarannya. Sebagai bagian dari makhluk Allah, maka virus itu punya karakter dasar yang bisa dipelajari melalui pendekatan saintifik.

Di kalangan saintis masih terjadi perdebatan soal apakah virus itu terkategori makhuk hidup atau sekedar struktur organik yang berinteraksi dengan makhluk hidup. Sebab tidak sebagaimana manusia, hewan dan tumbuhan, virus hanya dapat bereplikasi di dalam sel makhluk hidup karena tidak memiliki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri.

Dalam perspektif virologi, virus disebut virion ketika berbentuk partikel independen karena tidak sedang berada di dalam sel atau tidak dalam proses menginfeksi sel. Virion terdiri atas materi genetik berupa asam nukleat seperti DNA dan atau RNA yang diselubungi lapisan protein yang disebut kapsid.

Karakter dasar virus adalah hanya bisa berkembangbiak disaat berada dalam sel makhluk hidup tertentu seperti manusia, hewan dan bahkan tumbuhan. Dalam bahasa teologis, virus ditakdirkan memiliki sifat-sifat tidak seperti makhluk hidup lainnya. Meski demikian, disaat menginfeksi, virus bisa menyebabkan penyakit dan kematian.

Karena itu karakter dasar virus terasosiasi dengan penyakit tertentu pada makhluk hidup. Banyak virus yang menginfeksi manusia seperti virus HIV dan influenza. Virus yang menginfeksi hewan misalnya virus flu burung dan virus tumbuhan semisal virus mosaik tembakau.

Sejarah mencatat banyak virus yang mewabah sepanjang sejarah peradaban manusia. Namun baru di tahun 1728, virus didefinisikan sebagai agen yang menyebabkan infeksi penyakit dan baru ditemukan oleh Dmitri Ivanovsky pada tahun 1892. Meskipun endemik virus telah terjadi pada zaman sebelum masehi, salah satu yang terkenal adalah virus smallpox yang menyerang masyarakat Tiongkok pada tahun 1000.

Dari beberapa penemuan para ilmuwan dilaporkan adanya infeksi virus dalam hieroglif di Memphis, ibu kota Mesir kuno (1400 SM) yang menunjukkan adanya penyakit poliomyelitis. Selain itu, Raja Firaun Ramses V meninggal pada 1196 SM dan dipercaya meninggal karena terserang virus smallpox.

Sementara coronavirus yang kini menjadi pendemi global di akhir 2019 yang berawal dari Kota Wuhan Tiongkok disinyalir sebagai virus jenis baru, meski SARS dan MERS juga disebabkan oleh coronavirus. Corona Wuhan oleh WHO sebagaimana dikutip dari Popular Mechanics disebut sebagai 2019-nCov.

Jika mempelajari karakter dasar virus corona yang cepat menular melalui interaksi sosial karena disebabkan oleh percikan air ludah, maka kebijakan new normal di tengah perkembangan pandemi yang masih eksponensial adalah kebijakan yang salah dan bisa berakibat fatal. Mestinya apa yang dilakukan Umar Bin Khattab dan Amr bin Ash yang memberlakukan lock down dan social distancing bisa dijadikan contoh, hingga wabah tha'un saat itu bisa berakhir. Bukan malah memberlakukan new normal, sementara virus masih terus berkembang.

Hingga hari ini 10/06, up date data Indonesia dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 : positif 34.316, sembuh 12.129, meninggal 1.959, ODP 43.945, PDP 14.242 orang. New normal di Korea dan Perancis juga mengalami kegagalan karena pandemi masih berlangsung. Dengan pendekatan saintifik, semestinya virus corona bisa dicegah dan dipercepat proses menghilangkan.

Adalah sebuah kejahatan kemanusiaan jika kebijakan new normal di tengah tingginya pandemi karena berorientasi politik kepentingan. Sebab diduga kuat ada kepentingan politik ekonomi kaum kapitalis dibalik kebijakan new normal di tengah pandemi yang notabene belum ditemukan vaksinnya. New normal idealnya adalah saat corona virus telah hilang sama sekali.

Kepentingan politik ekonomi kapitalisme yang mulai runtuh akibat corona menjadikan new normal selayaknya ditolak oleh masyarakat. Sebab kepentingan ekonomi ini memiliki makna tidak adanya kepeduliaan pemerintah akan keselamatan nyawa rakyat Indonesia. Kepentingan kapitalis didahulukan dari keselamatan nyawa rakyat adalah sebuah kebijakan yang salah.

Tidak hanya sebatas itu, politik di tengah wabah juga dilakukan pemerintah dengan menaikkan iuran BPJS. Padahal faktanya, akibat wabah corona, jutaan rakyat terkena PHK yang mengakibatkan kenaikan angka pengangguran. Disaat ekonomi sulit, pemerintah justru menaikkan BPJS dan bahkan listrik yang pada akhirnya bukan menyelesaikan masyarakat, namun justru menambah beban rakyat.

Politik pemerintah yang tidak kalah kontroversial lainnya adalah lahirnya perppu corona yang berpotensi mengakibatkan tindak korupsi besar-besaran. Belum lagi soal UU minerba yang juga lahir bersamaan dengan pandemi corona, dimana UU ini sangat berpihak kepada kaum kapitalis dan mengabaikan kepentingan wong cilik.

Tidak hanya sampai di situ, politik kepentingan yang dilakukan pemerintah dan memicu kontroversi adalah adanya RUU HIP (haluan ideologi pancasila) yang dinilai oleh banyak pihak sangat sarat kepentingan ideologi yang tak sejalan dengan Pancasila dan agama. Berbagai penolakan mencuat dari berbagai komponen masyarakat, sebab diduga kuat RUU HIP ini berhaluan ideologi komunisme.

Kepentingan politik yang tidak berpihak kepada keadilan sosial di tengah wabah ini seolah seperti ‘penumpang gelap’ yang memanfaatkan penderitaan rakyat untuk melakukan berbagai kebijakan yang justru menambah luka dan derita rakyat. Semestinya kebijakan politik yang dilakukan pemerintah berorientasi kepada kepentingan rakyat, bukan malah terkesan mengkhianatinya.

(AhmadSastra,KotaHujan,10/06/20 : 17.20 WIB)

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar