HAGIA SOPHIA : ANTARA SENTIMEN KAUM SEKULER DAN ARGUMEN KEJAYAAN ISLAM - Ahmad Sastra.com

Breaking

Rabu, 29 Juli 2020

HAGIA SOPHIA : ANTARA SENTIMEN KAUM SEKULER DAN ARGUMEN KEJAYAAN ISLAM


Oleh : Ahmad Sastra

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, rasa syukur wajib bagi kaum muslimin seluruh dunia untuk atas kembalinya Museum Hagia Sophia menjadi masjid atas izin Allah. Sejarah penting abad ini ditandai dengan pelaksanaan sholat jumat perdana (Jum’at,24/7/20) di Hagia Sophia setelah 86 tahun bangunan ini diubah jadi museum oleh pengkhianat Islam, gembong sekuler, Mustafa Kamal Attaturk.


Shalat jumat perdana dilaksanakan seturut keputusan Dewan Rakyat Turki yang membatalkan status bangunan gereja peninggalan Kekaisaran Romawi itu sebagai museum pada 1930-an. Di saat yang sama, banyak gereja-gereja di Amerika dan Eropa yang dijual kepada kaum muslimin dan kini menjadi masjid.


Kembalinya Hagia Sophia mengingatkan kaum muslimin sedunia akan kejayaan khilafah Turki Ustmani yang pernah berkuasa dan menjadi mercusuar kemajuan peradaban Islam. Khilafah Turki Ustmani juga telah menjadi inspirasi besar bagi peradaban dunia. Ilmuwan Barat mengakui bahwa Barat berhutang budi kepada peradaban Islam.

 

Michael D Hart, seorang cendekiawan Barat bahkan menempatkan Rasulullah sebagai urutan pertama tokoh dunia paling agung dan berhasil dalam menegakkan peradaban kemanusiaan. Menurutnya, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa dalam hal dunia maupun agama. Dia sukses memimpin masyarakat yang awalnya terbelakang dan terpecah belah menjadi bangsa maju yang bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi di medan pertempuran.

 

Hagia Sophia adalah lambang kejayaan Islam masa lalu, dimana seorang panglima Muslim Muhammad Al Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel yang kini disebut Istanbul. Hingga tiba saatnya seorang agen Inggris Kemal Ataturk yang dengan tangan besinya pada tahun 1923-1924 menjadikan Turki sebagai negeri sekuler berlandasakan ideologi Barat. Olehnya segala simbol Islam dihapus, termasuk masjid Hagia Shopia yang dia jadikan sebagai museum.

 

Maka, kembalinya Hagia Shopia sebagai masjid pada tahun 2020 ini akan membuka kembali kenangan kaum muslimin di seluruh dunia akan kejayaan Khilafah Turki Ustmani. Dalam Islam sejarah bukan sekedar romantisme, namun pelajaran dan petunjuk bagi orang-orang beriman. Sejarah adalah fakta masa lalu yang mampu menggerakkan spirit perjuangan masa kini.

 

Sebuah majalah Turki kemarin (28/07) menyerukan pendirian khilafah Islam setelah bangunan bersejarah Hagia Sophia kembali menjadi masjid. Di sampul depan majalah ‘Gercek Hayat’ atau ‘Kehidupan Sejati’, itu tertulis ‘Kini Hagia Sophia dan Turki sudah independen, mari bersama membangun kekhilafahan’.

 

Allah menghadirkan sejarah para Nabi sebagai pelajaran dan petunjuk bagi orang berakal. ‘Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman’ (QS Yusuf : 111).

 

Warisan sejarah Rasulullah dalam perjuangan Islam bukanlah sekedar romantisme tanpa makna atau hanya sekedar menjadi berhala tanpa ruh yang dibanggakan dan diceritakan dimana-mana. Sejarah Rasulullah juga bukan sekedar dokumentasi naratif yang hanya dipampang di rak-rak perpustakaan. Sejarah Rasulullah adalah warisan nilai agung sarat dengan pelajaran.

 

Bagi Sayyid Qutb sejarah adalah interpretasi peristiwa yang memberikan dinamisme dalam waktu dan tempat. Sejarah adalah interpretasi. Sejarah adalah pelajaran. Bukankah kita diberikan akal oleh Allah untuk senantiasa merenungkan berbagai fakta. Imam As Suyuthi mendeskripsikan sejarah sebagai pertarungan potensi kejahatan manusia dan potensi kebaikan manusia, keduanya akan dicatat sebagai sejarah. Dalam deretan pertarungan antara haq dan bathil, ambil peran pejuang kebenaran jangan berperan sebagai pecundang.

 

Karena itu Hagia Sophia adalah simbol sejarah pertarungan ideologi antara Islam dan sekulerisme Barat. Perjuangan ideologi Islam diwakili oleh Muhammad Al Fatih dan para khalifah setelahnya, sementara ideologi kufur sekuler diwakili oleh Kemal Ataturk dan para penerusnya. Maka, jangan heran jika hari ini, kembalinya Hagia Sophia sangat disyukuri oleh seorang muslim, sementara kaum sekuler justru nyinyir dan muncul rasa dengki.

 

Kaum sekuler melancarkan berbagai fitnah dan tuduhan murahan atas kembalinya Hagia Shopia sebagai masjid. Hal ini menunjukkan kemunafikan hatinya ketika melihat tanda-tanda kebangkitan Islam di akhir zaman ini. Badan intelegen Amerika NIC pernah memprediksi bahwa salah satu yang akan menguasai dunia adalah khilafah Islamiyah di tahun 2020 ini.

 

Khilafah memiliki tiga esensi utama, terlepas dari pola pemilihan khalifah yang telah menjadi ijma` sahabat. Esensi pertama Khilafah adalah penerapan syariah secara kaffah, dimana bidang ekonomi, pendidikan, budaya, politik didasarkan oleh aturan syariah yang memberikan kebaikan dan keadilan bagi seluruh warga negara, tidak memandang ras dan agama.

 

Dalam syariah, manusia dipandang lebih manusiawi dibandingkan ideologi kapitalis dan komunis. Buktinya beberapa negara seperti Jepang dan Inggris justru tertarik dengan sistem ekonomi berbasis syariah. Ukuran perbuatan dalam timbangan syariah adalah halal dan haram, dan ini tidak ada dalam ideologi kapitalis sekuler dan komunis ateis.

 

Esensi kedua dari khilafah adalah ukhuwah. Khilafah dengan kepemimpinan tunggal bagi kaum muslimin seluruh dunia menjawab perpecahan umat Islam selama ini. Dengan Khilafah selain kaum muslimin akan bersatu padu dalam satu kepemimpinan, meski berbeda dalam mazhab. Bahkan Khilafah akan memberikan perlindungan yang maksimal kepada setiap warga negara, meski beda ras dan agama dalam satu naungan pemerintahan yang adil dan beradab. Esensi ini tidak ditemukan sama sekali dalam ideologi kapitalisme dan komunisme. Lihatlah berbagai tragedi kemanusiaan akibat kapitalisme dan komunisme, bukan hanya antar negara, bahkan antar sesama muslim saling bermusuhan akibat politik adu domba.

 

Esensi ketiga Khilafah adalah dakwah Islam rahmatan lil`alamin. Esensi dakwah artinya upaya penyebaran kebenaran Islam dalam rangka menyelamatkan manusia dari jalan kesesatan. dakwah adalah ajakan dan seruan menuju jalan Allah tanpa kekerasan dan paksaan. Dakwah Islam berbeda dengan imperialisme kapitalis dan revolusi komunis yang keduanya menyisakan kesengsaraan manusia. Sementara dakwah justru memberikan ketenangan dan kebahagiaan serta keselamatan manusia. Dengan suka rela Islam bisa diterima masyarakat karena kebenaran dan kemuliaan dimilikinya.

 

Kebangkitan Islam dengan tegaknya kembali khilafah Islam adalah tamparan keras bagi ideologi kufur kapitalisme sekuler demokrasi dan komunsime sosialis ateis. Para gerombolan sekuler munafik dan komunis kafir tidak akan pernah rela melihat kekuasaan Islam kembali berjaya. Padahal kejayaan Islam adalah janji Allah, sebagaimana firmanNya :

 

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik (QS An Nur : 55).

 

Orang-orang kafir dan munafik akan terus merongrong Islam sampai kapanpun. Sementara orang beriman akan terus berjuang sampai kapanpun. Haq dan batil akan terus mengalami benturan ideologis. Tinggal kita memilih berdiri dimana, apakah berdiri tegak sebagai pejuang Islam atau berdiri sebagai pecundang.

 

Hagia Shopia adalah simbol akan kembalinya kekuasaan khilafah di akhir zaman dan pasti akan segera tegak. Meskipun orang kafir dan munafik terus melawan dan menghalanginya. Mereka akan terus berusaha memadamkan cahaya Allah, namun Allah akan semakin menyempurnakan cahayaNya. Mereka akan terus melakukan makar, namun makar Allah lebih baik dari mereka.

 

Maka, bersiaplah menyambut kejayaan Islam dengan izin Allah. Abaikan semua gangguan kaum kafir dan munafik, sebab begitulah pekerjaan mereka. Orang munafik akan selalu menghalangi Islam. Ingatlah akan firman Allah tentang mereka.

 

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu (QS An Nisaa’ : 61)

 

Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai Pelindung. (QS Al Ahzab : 48).

 

(AhmadSastra,29/07/20 : 11.50 WIB)  

 

 

 

 

 

 

 



__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar