SEKULERISME DAN PARADOKS MODERASI BERAGAMA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Selasa, 07 Juli 2020

SEKULERISME DAN PARADOKS MODERASI BERAGAMA



Oleh : Ahmad Sastra

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai (QS At Taubah : 32).

Memadamkan cahaya Allah adalah mustahil, seperti mustahilnya manusia yang ingin memadamkan cahaya matahari atau cahaya bulan dengan meniupnya. Semakin banyak manusia yang ingin mengganggu agama Allah, maka Allah semakin menyempurnakan cahaya agamaNya.

Islam adalah manhaj kehidupan holistik bagi kebaikan manusia seluruhnya sebab ia berasal dari sang Pencipta manusia. Islam adalah manhaj kehidupan yang realistik, dengan berbagai susunan, sistematika, kondisi, nilai, akhlak, moralitas, ritual dan begitu juga atribut syiarnya. Ini semuanya menuntut risalah ini ditopang oleh kekuatan institusi yang dapat merealisasikannya secara kaffah. Islam juga harus disokong oleh manusia-manusia amanah dengan ketundukan jiwa secara totalitas.

Islam adalah kesempurnaan kebenaran, tidak ada agama yang paling sempurna selain Islam. Islam adalah ajaran tertinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. Ukuran kebenaran Islam adalah dari sumber hukumnya, yakni Al Qur’an dan Al Hadist. Allah sendiri yang menegaskan bahwa Islam adalah agama yang di ridhoiNya, selain Islam tidak diterima.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya (QS Ali Imran : 19)

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (QS Ali Imran : 85).

Namun demikian, usaha untuk mejauhkan umat Islam dengan ajaran agamanya tidak akan pernah berhenti sampai hari kiamat. Barat kafir kini tengah melancarkan penjajahan pemikiran (imperialisme epistemologi) kepada umat Islam atau negeri-negeri muslim dengan menggunakan para anteknya yang liberal. Imperialisme epistemologis (ghozwul fikr) (QS. Al Baqarah : 120 dan 217) ini setidaknya memiliki empat karakteristik : Harakah At Tasykik, Harakah At Tasywih, Harakah At Tadzwib dan Hakarah At Taghrib.

Liberalisme, sekulerisme, pluralisme, feminisme, multikulturalisme, moderatisme, permisivisme, materialisme, hedonisme dan isme-isme lainnya adalah produk pemikiran Barat yang bertentangan dengan Islam 100 persen. Muslim pengembannya adalah sangat berbahaya bagi perjuangan Islam. Mereka akan menjadi duri dalam daging bagi umat Islam. Itulah mengapa sekulerisme, liberalisme dan pluralisme agama telah difatwakan haram oleh MUI pada tahun 2005.

Harakah At Tasykik yakni menumbuhkan keraguan (skeptis) pada umat Islam akan kebenaran Islam. Diantara keraguan yang mereka lancarkan adalah gugatan tentang otentitas Al Qur’an, Islam sebagai Mohammadanisme, keraguan atas kerasulan Muhammad. Dampak dari at tasykik adalah tumbuhnya sikap netralitas dan relativitas terhadap ajaran Islam. Jika masih ada seorang muslim yang secara fanatik memahami Islam maka mereka kemudian dicap sebagai fundamentalis, radikalis, islamist dan teroris.

Harakah At Tasywih, yaitu menghilangkan rasa kebanggaan terhadap ajaran Islam dengan cara memberikan stigma buruk terhadap Islam. Mereka dengan gencar mencitrakan Islam secara keji melalui media-media. Islam dipresentasikan sebagai agama yang antagonistik terhadap ide-ide kebebasan, HAM, demokrasi, pluralisme dan nilai-nilai Barat lainnya. Dampak dari tasywih ini adalah menggejalanya inferiority complex (rendah diri) pada diri umat Islam, islamopobhia, pemujaan kepada Barat.

Harakah At Tadzwib, yakni gerakan pelarutan (akulturasi) peradaban dan pemikiran. Dampaknya adalah terjebaknya umat Islam dalam pemikiran pluralisme agama. Pluralisme jelas bertentangan dengan Islam. Sebab pluralisme menurut WC Smith bermakna transendent unity of religion (wihdat al adyan), dan global teologi menurut John Hick.

Hakarah At Taghrib yakni gerakan westernisasi. Sebuah upaya penggiringan opini dan paradigma bahwa sumber kemajuan adalah Barat. Maka jika ingin maju, harus mengikuti Barat. Padahal ideologi Barat tak ubahnya sebagai candu dan racun yang akan membunuh pelan-pelan ghirah Islam.

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS Al Baqarah : 109).

Agenda moderasi beragama yang kini tengah digencarkan adalah bagian dari harakah at tadzwib ini. Moderasi beragama sangat membahayakan aqidah sebagai merupakan tranformasi dari pluralitas sosiologis ke pluralisme teologis. Apalagi jika agenda moderasi beragama diiringi oleh penghapusan sebagian ajaran Islam yang tidak sejalan dengan Barat, seperti ajaran jihad dan khilafah.

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat (QS Al Baqarah : 85)

Agenda moderasi beragama bersumber dari paham sekulerisme yang telah lama diadopsi oleh negeri ini. Sekulerisme adalah paham yang memisahkan antara agama dan kehidupan, antara agama dan negara, antara agama dan politik. Sekulerisme menghendaki Islam tidak digunakan sebagai aturan untuk mengatur urusan negara dan seluruh aspeknya. Sekulerisme menghendaki agama hanya dijadikan sebagai urusan pribadi, bukan urusan publik.

Sekuler yang berasal dari bahasa latin saeculum oleh Prof. Dr. Sayed Muhammad Naquib al-Attas diistilahkan dengan paham kedisinikian adalah ideologi Barat yang menolak sistem agama dalam semua urusan dunia seperti politik, sosial, pendidikan, ekonomi dan budaya. Dalam paradigma sekuler, kehidupan harus diatur berasaskan kepada rasional, ilmu dan sains.

Paham pemisah antara agama dan dunia ini menganggap kewujudan sebenarnya adalah melalui pancaindera bukan unsur-unsur rohaniah dan metafisik yang sukar dikesan melalui kajian modern. Prinsip lainnya adalah bahwa nilai baik dan buruk ditentukan oleh akal manusia bukannya teks agama. Bahkan menganggap alam ini terjadi melalui fenomena sains dan kimia tertentu bukannya refleksi kuasa Tuhan.

Islam adalah agama benar dalam timbangan yang benar, yakni Allah dan Rasulullah, bukan dalam timbangan manusia. Kebanaran Islam bersifat mutlak, meskipun kadangan akal manusia tak mampu memahaminya. Islam, jika ditimbang dengan sekulerisme, maka Islam seolah sebagai agama yang salah, radikal, intoleran dan label buruk lainnya. Menimbang ajaran Islam dengan paham sekulerisme adalah bagian dari neomodernisme yang merupakan paham Barat.

Agenda moderasi Islam adalah upaya mensekulerkan Islam dan mendegradasi kesempurnaan Islam. Moderasi Islam adalah blasphemy yakni penistaan atas ajaran Islam. Mederasi Islam dengan cara menghapus sebagian ajaran Islam adalah kejahatan beragama yang tidak boleh dibiarkan. Ibarat mengukur pohon toge dengan ukuran pohon jati, maka tidaklah tepat. Islam tidak boleh ditafsirkan dengan paham kebangsaan yang sekuler, maka Islam menjadi seolah salah.

Sekulerisme menjadikan Indonesia sebagai negara paradoks, karena selalu berusaha menjauhkan Islam dari umatnya. Banyak paradoks yang terjadi di negeri ini, misalnya : Adanya kementerian agama, mestinya menguatkan peran agama, bukan malah melemahnya. Kampus Islam mestinya menguatkan aqidah mahasiwa, tapi banyak yang justru mendangkalkan aqidah, karena penetrasi liberalisme. Fakultas adab mestinya memperkuat adab, namun makin melemahkan adab.

Paradoks bidang ekonomi, adanya kementerian keuangan dan ekonomi, mestinya menjadikan negeri ini terbebas dari transaksi ribawi, namun justru negeri ini terjerembab dengan hutang ribawi dan berbagai transaksi ribawi. Adanya kementerian pendidikan, mestinya menjadikan siswa makin beriman dan bertaqwa, namun faktanya para siswa justru semakin jauh dari agamanya. Berbagai perilaku amoral kerap dilakukan oleh para siswa.

Sementara Islam adalah agama dan peradaban sekaligus. Islam berasal dari kata salima yuslimu istislaam –artinya tunduk atau patuh– selain yaslamu salaam –yang berarti selamat, sejahtera, atau damai. Menurut bahasa Arab, pecahan kata Islam mengandung pengertian: islamul wajh (ikhlas menyerahkan diri kepada Allah), istislama (tunduk secara total kepada Allah), salaamah atau saliim (suci dan bersih), salaam (selamat sejahtera), dan silm (tenang dan damai).

Dari pengertian Islam, maka muslim adalah dia yang menyerahkan segenap wujudnya di jalan Allah taala. Yakni mewakafkan wujudnya untuk Allah, mengikuti kehendak-kehendakNya, serta untuk meraih keridhaanNya. Kemudian dia berdiri teguh diatas perbuatan-perbuatan baik demi Allah semata. Dan dia menyerahkan segenap kekuatan amaliah wujudnya di jalan Allah. Artinya, secara akidah dan secara amalan, dia telah menjadi milik Allah semata.

Karena itu, Allah menegaskan agar umat Islam masuk Islam secara kaffah, tidak sekeluristik. Sebagaimana firmanNya : Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS Al Baqarah : 208). Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS Al Anbiya : 107)

Oleh karena itu agenda moderasi beragama dengan landasan sekulerisme hanya akan menjauhkan masyarakat muslim dari agamanya sendiri. Jika negeri ini telah menjauhi agama, maka keberkahan tidak akan menyapa negeri ini. Jika dengan moderasi beragama diiringi oleh penghapusan sebagian ajaran Islam, maka sama dengan bersiap menghadapi murkanya Allah.

Meski demikian, walaupun seluruh manusia menghalangi dan mencoba memadamkan cahaya Allah, maka Allah akan semakin menyalakan cahayaNya. Sebaliknya manusia yang mencoba memadamkan cahaya Allah, maka akan mendapat siksa Allah di dunia maupun di akhirat. Sebagai ikhtiar seorang muslim, maka agenda moderasi beragama harus ditolak, karena sesat dan menyesatkan.

(AhmadSastra,KotaHujan,7/7/20 : 15.40 WIB)

________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar