JEJAK ISLAM DALAM MENGUKIR KEMERDEKAAN NUSANTARA - Ahmad Sastra.com

Breaking

Selasa, 11 Agustus 2020

JEJAK ISLAM DALAM MENGUKIR KEMERDEKAAN NUSANTARA


 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Islam masuk Nusantara (Indonesia) pada abad ke 7 Hijriyah, dengan berimannya orang perorang. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui selat Malaka yang menghubungkan dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad ke 7. (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah. Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Uka Tjandrasasmita, Kedatangan dan penyebaran Islam).

 

Meski ada literatur yang menyebutkan Islam masuk Asia Tenggara pada abad 9 atau  13, namun menurut R.K.H Abdullah bin Nuh,  TW Arnold, BH Burger dan Prajudi lebih kuat pada abad ke 7 melalui jalur perdagangan saudagar Arab. Namun berkembang menjadi institusi politik pada abad ke 9, dan abad ke 13 kekuatan politik Islam menjadi sangat kuat.  (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah. TW Arnold, The Preaching of Islam. BH Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomi sosiologis Indonesia).

 

Ini artinya, Islam sudah berkembang cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia kurang lebih seratus tahun setelah wafatnya Rasulullah. Islam lantas dipeluk oleh berbagai bangsa dan suku bangsa yang sangat bervariasi dengan latar belakang sejarahnya masing-masing. Selama lebih 14 abad, Islam telah melekat dengan jumlah pemeluk di awal abad ke-21 sekitar 1,3 miliar, tersebar di berbagai negara. Dari sejumlah 187 negara sekarang ini, hampir dapat dipastikan bahwa tidak satu pun yang kosong dari penguni Muslimnya.

 

Secara kuantitatif, di negara Inggris, Islam telah menjadi agama kedua setelah  Kristen, sekalipun menurut Karen Amstrong warga yang masih setia kepada gereja tinggal sekitar 33%, pertanyaan tetap layak diajukan, dari jumlah 1,3 miliar tadi kira-kira tinggal berapa persen saja yang masih menjadikan agama sebagai pedoman hidup harian mereka ?. Beberapa waktu lalu, bahkan banyak gereja di Eropa yang dijual kepada kaum muslimin dan dijadikan masjid.  Beberapa gereja di Amerika lebih tragis, banyak yang justru dibakar oleh rakyatnya sendiri.

 

Penyebaran agama Islam tidak terlepas dari kisah penjajahan di tiap jengkal negara, terlebih yang kini sudah menjadi agama mayoritas seperti negara Indonesia, kemerdekaan yang diraih oleh negara ini pun tidak lain karena perjuangan para ulama dan santri dengan spirit jihadnya.  Jauh sebelum penjajah hadir di negeri ini, maka Islam telah hadir dengan menebar kedamaian.

 

Bahkan Islam telah hadir di Nusantara jauh sebelum Indonesia lahir. Islam mampu mempengaruhi institusi politik yang ada saat itu. Hal ini nampak pada tahun 100 H (718 M). Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayah meminta dikirimkan dai yang mampu menjelaskan Islam. Ada jejak kuat antara khilafah dan nusantara yang tak mungkin dihapus. (Jejak Syariah dan Khilafah di Indonesia 2007 : 2).

 

Isi surat Raja Sriwijaya : Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang cucunya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kabur barus  yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, namun sekedar tanda persahabatan. Saya ingin anda mengirimkan kepada saya seorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.  

 

Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambipun dikenal dengan nama Sribuza Islam. Sayang, pada tahun 730 M, Sriwijaya Jambi ditawan oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha. (Ayzumardi Azra mengutip dari Ibnu Abi Rabbih, Jaringan Ulama, 2005 : 27-29).

 

Beberapa institusi politik Islam di Nusantara, diantaranya adalah : Kesultanan Islam Peureulak, Sumatera, berdiri 1 Muharam 225 H/12 November 839 M. Kerajaan Islam Ternate Maluku, berdiri tahun 1440 M dengan Raja Muslim Bayang Ullah, menerapkan Islam setelah menjadi Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Zainal Abidin 1486 M.  Kerajaan Islam Tidore dan Bacan Maluku, banyak kepala suku Papua yang masuk Islam. Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjung Pura, Menpawah, Sintang dan Kutai. Samudra Pasai, Aceh Darussalam, Palembang.

 

Institusi politik Islam lainnya yang berdiri di Nusantara adalah sebagai berikut :  Kesultanan Demak dan dilanjutkan kesultanan Jipang, kesultanan Pajang, kesultanan Mataram di Jawa. Kesultanan Banten dan Cirebon didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng, dan Luwu. Di Nusa tenggara, penerapan Islam dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima. 

 

Kelak ketika penjajah seperti Jepang, Inggris, Portugis, Belanda dan lainnya dengan membawa misi glory, gospel dan gold, maka umat Islamlah yang kemudian berdiri tegak terdepan melawan dan mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Resolusi jihad yang diserukan oleh KH Hasyim Asy’ari adalah jejak perjuangan Islam yang tak mungkin bisa dihapus.

 

Para ulama dan kyai serta pejuang-pejuang muslim bahkan muslimah turut andil dalam pergolakan melawan penjajah, khususnya penjajahan Belanda yang berlangsung lebih lama dibandingkan dengan penjajahan Portugis atau Inggris. Di berbagai daerah di nusantara terjadi perlawanan oleh para ulama dan santri. Seperti misalnya peperangan di Maluku, Makassar, Banjar, Minangkabau, Jawa dan Aceh, semuanya dipimpin oleh tokoh-tokoh Muslim setempat, baik ulama maupun bangsawan.

 

Penjajahan (istikhraab)  selalu menimbulkan kehinaan, kerusakan dan kehancuran. Itulah ungkapan yang pernah dilontarkan Ratu Bilqis yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Contoh sosok sang penjajah yang sering ditampilkan dalam Al-Qur’an ialah Fir’aun. “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS.Al Qhashash: 4).

 

Islam adalah satu-satunya agama yang hadir membawa misi untuk memerdekakan manusia di seluruh dunia. Puncak kemerdekaan dalam pandangan Islam adalah terbebasnya perbudakan antara manusia dengan manusia. Ketika jenderal Rustum dari Persia bertanya kepada utusan Islam Rabi bin Amir tentang apa yang ia bawa. Rabi dengan tegas menjawab, ‘ Allah telah mengutus kami. Demi Allah, Allah telah mendatangkan kami agar kami mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan kepada sesama manusia, menuju penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju kelapanyannya dan dari kezaliman agama-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam (At Thabari, Tarikh al Umam wa al Muluk, II/401).

 

Penjajahan oleh bangsa Barat terhadap negeri-negeri Muslim yang diwarnai dengan pemaksaan terhadap budaya dan agama setempat mengakibatkan masyarakat pribumi banyak yang menjadi korban ghazwul fikr (perang pemikiran) sehingga agama baru berkembang di negeri-negeri muslim dan terus berkembang. Tidak sedikit pula yang berpindah agama dari Islam atau lainnya ke agama penjajah yaitu Kristen bahkan Yahudi. Para penjajah berhasil menanam bibit-bibit sekuler yang berkiblat pada Barat ke dalam sistem pemerintahan negara Muslim.

 

Dalam sejarah Islam, tersebutlah seorang militer legendaris di mata kawan dan lawan, bernama Shalahuddin Al-Ayyubi (1137-1193) dikenal juga dengan Saladin. Dia berjaya merebut kembali Jerusalem pada 1187 setelah kota itu berada di tangan tentara Salib selama hampir satu abad. Lalu sudah berapa abad silih berganti syuhada-syuhada Palestina berjuang ?. Tidakkah ada Saladin-saladin lainnya ? Dapatkah seluruh umat Muslim bersatu untuk membasmi Israel dan pengikutnya ?.

 

Nah oleh karena itu, khilafah sebagai institusi Islam skala dunia telah sangat lama memiliki jejak keislaman di nusantara. Terlalu banyak bukti dan peninggalan untuk sejarah ini. Begitupun kaitannya antara Islam dengan kemerdekaan Indonesia bagikan setali mata uang, tak mungkin bisa dipisahkan. Islamlah agama yang anti penjajahan di negeri ini. maka, tak mungkin menghapus jejak Islam dalam mengukir kemerdekaan di negeri ini.

 

Berangkat dari sejarah inilah, maka penjajahan gaya baru yang kini menghegemoni negeri ini oleh Barat Amerika dan Timur China hanya bisa dilawan dengan spirit keislaman. Namun sayang, khilafah tak lagi ada, maka hampir seluruh negeri-negeri muslim justri kini dalam cengkeraman penjajahan asing dan aseng. Menegakkan kembali institusi Islam khilafah adalah jalan satu-satunya untuk mengembalikan kemerdekaan negeri-negeri muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

 

(AhmadSastra,KotaHujan,11/08/20 : 15.00 WIB)

 

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar