GELOMBANG PERCERAIAN DI TENGAH PANDEMI, MENGAPA ? - Ahmad Sastra.com

Breaking

Sabtu, 05 September 2020

GELOMBANG PERCERAIAN DI TENGAH PANDEMI, MENGAPA ?



 

Oleh : Ahmad Sastra dan Liza Burhan  


Sangat miris membaca infogram di Harian Radar Bogor dengan judul 4.944 Pasangan Bogor, Pilih Cerai. Ditulis di Radar Bogor bahwa pagebluk corona tak hanya berdampak pada sisi kesehatan dan ekonomi. Kehidupan berumah tangga juga terkena imbasnya. Hingga Agustus 2020, tak kurang dari 4.944 kasus perceraian terjadi di Bogor. Perincian data tersebut adalah 1.081 kasus di Kota Bogor dan 3.863 kasus di Kabupaten Bogor.

 

Ditegaskan bahwa perselisihan, pertengkaran dan faktor ekonomi menjadi pemicu melonjaknya kasus perceraian di Bogor. Faktor lainnya adalah karena tidak adanya tanggungjawab dengan meninggalkan pasangan. Fenomena ini tentu saja indikator bahwa betapa rapuhnya pondasi keluarga di wilayah Bogor. Bisa jadi fenomena rapuhnya pondasi keluarga ini juga menimpa keluarga di seluruh Indonesia.   


Menjaga keutuhan keluarga akan berdampak positif bagi kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Sebaliknya, berbagai kasus perceraian akan berdampak negatif bagi masyarakat keseluruhan. Menjaga keutuhan keluarga adalah upaya mencapai kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akherat. Tak mengherankan jika Allah memerintahkan umat Islam untuk menjaga diri dan keluarga dari sisksa api neraka.

 

Perceraian adalah perkara yang dibenci oleh Allah, meski tidak diharamkan. Sebab memang dalam Islam ada beberapa faktor yang kemudian mengharuskan cerai sebagai solusi. Namun faktanya banyak peristiwa mengakibatkan perceraian dikarenakan faktor sistemik, ini yang disayangkan. Jika perceraian karena faktor kemiskinan, tentu saja pemerintah bertanggungjawab atas jaminan kesejehteraan keluarga.

 

Jika perceraian dikarenakan sistem sosial yang bebas tanpa batas, sehingga membuka peluang orang untuk berselingkuh, maka pemerintah harus bertanggungjawab atas sistem sosial yang buruk tersebut. Demokrasi sekuler telah membuka lebar pergaulan bebas yang telah banyak menelan korban keluarga. Ditambah lagi jika pondasi agama sekuluarga itu lemah, maka berbagai pelanggaran syariah bisa terjadi diantara pasangan, sehingga mengakibatkan perceraian.

 

Corona dalam pandangan Islam adalah takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Banyak hikmah yang bisa diambil oleh keluarga dengan adanya corona. Salah satunya justru dengan adanya corona telah menambah kedekatan anggota keluarga yang selama ini mungkin bapak dan ibunya sibuk bekerja. Stay at home adalah kesempatan emas bagi keluarga. Keluarga muslim adalah yang yakin akan jaminan rejeki dari Allah.


Keluarga atau lingkungan rumah tangga merupakan lembaga pertama dan utama yang dikenal anak. Hal ini disebabkan, karena kedua orang tuanyalah orang yang pertama dikenal dan diterimanya pendidikan bagi anak. Bimbingan, perhatian, dan kasih sayang yang terjalin antara kedua orang tua dengan anak-anaknya, merupakan basis yang ampuh bagi pertumbuhan dan perkembangan psikis serta nilai-nilai sosial dan religius pada diri anak didik.

 

Disinilah peran strategis orang tua dalam membangun rumah tangga islami. Keluarga islami adalah keluarga yang senantiasa menjadikan Islam sebagai sumber kebaikan dan sekaligus sumber solusi. Tidak ada keluarga yang sempurna, semua keluarga pasti mengalami berbagai badai masalah. Namun jika keimanan dan ketaqwaan sebagai tolok ukur, maka Allah adalah tempat bersandar untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Setiap penyakit ada obatnya, begitupun setiap masalah pasti ada solusinya.


Penanaman nilai-nilai keislaman dalam keluarga akan semakin mendalam apabila orang tua memiliki konsep dan paradigma pendidikan yang ingin diwujudkan bagi anak-anaknya agar tercapai keturunan yang saleh, berakhlak mulia, cerdas, taat dan patuh kepada orang tua, menghargai orang lain, bermanfaat bagi dunia dan bermakna bagi kelak kehidupan akherat. Konsep dan paradigma pendidikan dalam keluarga tentunya harus dilandasi oleh nilai-nilai yang bersumber dari kebenaran yang datangnya dari Allah dan rasulNya.


Dengan demikian, keluarga merupakan tempat dilakukannya pendidikan yang mendasar tentang pendidikan keagamaan, termasuk pendidikan agama Islam. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa keluarga dipandang sebagai peletak dasar pembinaan komunikasi nilai-nilai agama Islam. dengan kondisi ini, maka pondasi keluarga akan kokoh. Kokohnya pondasi keluarga akan meminimalisir perceraian.


Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang sangat vital, terutama bagi keberlangsungan pendidikan generasi muda maupun bagi pendidikan bangsa pada umumnya. Pendidikan keluarga pada dasarnya merupakan komunikasi timbal balik antara orang tua dengan anak melalui pembinaan bahasa, tanda-tanda tertentu, simbol-simbol yang bermuatan nilai-nilai yang tergambar dalam perilaku sosial di tengah situasi dan interaksi antaranggota keluarga.


Keluarga merupakan kelompok atau unit terkecil dari sebuah masyarakat. Baik tidaknya suatu masyarakat sangat ditentukan oleh baik tidaknya keadaan keluarga umumnya pada masyarakat tersebut. Mewujudkan kondisi masyarakat yang baik harus dimulai dari kondisi keluarga yang baik pula. Jika banyak keluarga yang bercerai, maka itu pertanda betapa buruknya sistem yang ada di negeri ini. Kerusakan keluarga akan berdampak kepada rusaknya suatu bangsa.

 
Pembinaan dan pendidikan yang berlangsung dalam keluarga akan berimplikasi positif terhadap tumbuh kembang anggota keluarga terutama anak agar sesuai dengan fitrah dan diridhai Allah SWT. Orang tua berkewajiban menjaga keluarga dengan cara mendidik dan membina keluarganya. Seorang suami harus bersemangat mencari nafkah, sementara istri harus ridho atas rejeki yang diberikan Allah lewat suaminya.


Untuk memperbaiki masyarakat, diperlukan upaya untuk mereposisikan fungsi dan peran keluarga. Pendidikan dalam keluarga perlu djadikan kurikulum pendidikan, baik di sekolah-sekolah ataupun di masyarakat. Keluarga setidaknya memiliki peran dan fungsi biologis, regeneratif, protektif, ekonomis, psikologis, sosialisasi, religius dan edukatif.


Proses sosialisasi dan penanaman nilai pada diri anak secara praktis dimulai sejak anak dilahirkan. Dalam Islam, secara teoritis upaya penanaman nilai-nilai pendidikan sudah dimulai sejak awal pemilihan jodoh. Karena itu, masa pandemi sesungguhnya bukan satu-satunya faktor banyak perceraian di Bogor atau di wilayah lain, tentu ada faktor yang lebih fundamental.


Dalam konteks ini, nabi SAW telah memberikan isyarat dengan empat kriteria yaitu karena kecantikannya, kekayaannya, keturunannya dan agamanya. Dari keempat kriteria itu jika ingin mewujudkan situasi keluarga sakinah yang bernuansa islami, hendaknya menjadikan kriteria agama menjadi kriteria utama.

 

Menurut pandangan Zakiah Daradjat bahwa pertumbuhan kepribadian anak sangat bergantung kepada pengalamannya dalam keluarga. Sikap dan pandangan hidup orang tuanya, sopan santun mereka dalam pergaulan, baik dengan anggota keluarga, maupun dengan tetangga, atau masyarakat pada umumnya akan diserap oleh anak dalam pribadinya.


Demikian pula sikap mereka pada agama, ketekunan menjalankan ibadah dan kepatuhan terhadap ketentuan agama, serta pelaksanaan nilai-nilai agama dalam kehidupannya sehari-hari, juga akan menjadi faktor pembinaan bagi anak secara tidak sengaja. Aqidahlah yang sesungguhnya menjadi pondasi keluarga. Kuat rapuhnya ikatan keluarga sangat ditentukan oleh faktor aqidah. Faktor lain bisa diselesaikan jika aqidah menjadi sumber nilai yang diyakininya.

 
Disamping itu semua, yang sangat pentingpun adalah cara orang tua memperlakukan anak-anak mereka, apakah ada pengertian dan kasih sayang yang wajar dan sehat. Pemahaman atas nilai-nilai agama, kesadaran dan komitmen terhadap nilai-nilai itu adalah dasar bagi keutuhan keluarga.

 

Gelombang perceraian pada masa pandemi adalah renungan bagi bangsa ini. apakah negara ini telah membangun sistem islami sehingga akan melahirkan individu islami dan keluarga yang sarat dengan kepribadian islami pula. Jika tidak, maka faktor-faktor kecilpun bisa merobohkan tiang keluarga. Hikmah dibalik pandemi adalah pentingnya memperbaiki sistem sosial yang Islami, buang jauh sistem sekuler liberal, apalagi ateisme.


(AhmadSastra,KotaBogor,5/09/20 : 11.40 WIB)

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad



Tidak ada komentar:

Posting Komentar