PENDIDIKAN ISLAM, PENCETAK GENERASI GOOD LOOKING - Ahmad Sastra.com

Breaking

Senin, 21 September 2020

PENDIDIKAN ISLAM, PENCETAK GENERASI GOOD LOOKING



 

Oleh : Ahmad Sastra dan Ummu Hannan 

 

Islam adalah agama yang sempurna, sebagai agama yang paripurna, Islam mengatur berbagai interaksi yang terjadi antara manusia sebagai hamba dengan Allah SWT sebagai khaliq. Kedua interaksi ini terwujud dalam aqidah dan aktifitas ibadah. Islampun mengatur hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri, yang terwujud dalam aktifitas berpakaian, memilih dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thoyib, serta dalam berakhlaq.

 

Yang terakhir, Islam mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain, yaitu dalam aktifitas muamalah dan uqubat (sangsi). Demikian maka Allah SWT telah menyiapkan seperangkat aturan hidup yang sesuai untuk manusia karena Allah sebagai kholiq sangat faham terhadap hakikat manusia, maka selayaknya kita menjadikan Allah SWT sebagai kholiqul mudabbir yaitu Allah sebagai pencipta kita dan Allah yang Maha Pengatur.

 

Paradigma pendidikan Islam inilah yang akan melahirkan generasi unggul atau dalam bahasa sekarang sebagai generasi good looking. Generasi good looking adalah generasi qurrota a’yun yang indah dipandang karena kemuliaan adabnya. Generasi beradab, berilmu dan memberikan manfaat bagi kebaikan manusia adalah generasi yang akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan bermartabat.

 

Generasi good looking adalah generasi yang pola pikir dan pola sikapnya dilandasi oleh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Generasi good looking adalah generasi yang kakinya berpijak diatas bumi, namun hatinya senantiasa terikat dengan Allah. Karena itu generasi ini senantiasa memiliki visi untuk menebarkan rahmat bagi alam semesta, sebagaimana Rasulullah SAW.

 

Menjadi ibu tangguh yang dapat mencetak generasi yang unggul adalah cita-cita hebat yang selayaknya diwujudkan oleh setiap muslimah ketika ia mengazzamkan diri untuk menikah. Ikatan pernikahan yang begitu agung (mistaqan gholizha) merupakan gerbang awal terjalinnya hubungan yang halal guna melanjutkan dan memperbanyak keturunan para generasi pelanjut estafet perjuangan Muhammad Rasulullah SAW.

 

Sebab tanggungjawab utama pendidikan sejatinya adalah kedua orang tuanya, yakni ayah dan ibu. Tugas utama seorang ibu adalah sebagai ummun wa rabbatul bait, rasulullah SAW bersabda: ‘”wanita adalah pengurus rumah suaminya dan anak-anaknya dan ia bertanggungjawab atas mereka semua” (al Hadits). Lembaga pendidikan yang sekuleristik, justru akan menghancurkan generasi muslim. Pendidikan Islam akan melahirkan generasi good looking, sementara pendidikan sekuler melahirkan got looking.

 

Rasulullah SAW pun bersabda: Apakah kamu tidak rela salah seorang dari kamu wahai wanita, bahwasanya apabila : Dia hamil dari suaminya, sedangkan suami ridlo padanya, dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa yang aktif berjihad di jalan Allah. Apabila dia merasa sakit (akan melahirkan), maka penduduk langit dan bumi belum pernah melihat pahala yang disediakan kepadanya dari pandangan mata (sangat menyenangkan). Maka ketika dia melahirkan, tiadalah yang keluar seteguk susu dan anaknya menyusui seteguk, melainkan setiap tegukan susu itu berpahala kebaikan.Dan jika ia tidak tidur semalam maka dia mendapatkan pahala seperti pahala memerdekakan tujuh puluh budak di jalan Allah dengan ikhlas.” (HR Al Hasan bin Sufyan, Thabrani dan Ibnu Asakir).

 

Karena itu generasi good looking sebagai hasil dari proses pendidikan Islam senantiasa dekat dengan Al Qur’an dengan cara membaca, menghafal, memahami, mengamalkan serta mendakwahkannya. Generasi good looking bukan hanya pandai menghafal Al Qur’an, pandai berbahasa Arab, namun juga menjadi ilmuwan-ilmuwan yang mampu mewujudkan peradaban Islam yang mulia. Ini adalah daftar ilmuwan yang beragama Islam. Para ilmuwan Muslim telah memainkan pernah yang signifikan selama sejarah keilmuan. Ada ratusan ilmuwan Muslim yang terkenal yang telah memberikan sumbangan terhadap peradaban dunia, terutama ketika Eropa berada dalam zaman kegelapan.

 

Dalam Tafsir Ibnu Katsir diceritakan bahwa ketika turun ayat tentang Ulil Albab (QS Ali Imran : 190 - 191) yang artinya," sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah  bagi orang-orang yang berkal  yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambi berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata,' ya Tuhan, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka", maka Rasulullah menangis hingga air matanya membasahi janggut dan menetes ke bumi. Lantas sahabat Bilal bertanya, wahai Rasulullah kenapa Engkau menangis, bukankah Engkau adalah orang yang telah diampuni dosanya oleh Allah dari dosa-dosa terdahulu hingga yang akan datang". Rasulullah menjawab," Wahai Bilal, bukankah aku belum menjadi hamba yang  bersyukur ?.  aku menangis karena baru saja mendapatkan wahyu tentang Ulil Albab,  maka celakalah bagi orang-orang yang membaca ayat ini lalu tidak bertafakur dan merenungkannya".

 

Spanyol bagian selatan berhasil dikuasai Muslim pada abad ke-8 dan  segera menjadi pusat kebudayaan. Antusiasme Muslim dalam belajar begitu  menakjubkan. Sekolah-sekolah ditemukan di hampir setiap kota yang mereka kuasai dan di antara kota besar tersebut seperti Baghdad, Kairo, Toledo, Cordova, masing-masing telah memiliki universitas-universitas yang dilengkapi pusat observasi, laboratorium, dan perpustakaan terbaik. Di masa kekuasaan khalifah Hakam II (961-976), perpustakaan di Cordova memiliki koleksi tidak kurang dari  600,000 volume dan 44 volume katalog, dan  tentu ini sangat kontras sekali  dengan perpustakaan Royal di Perancis pada 400 tahun kemudian yang hanya  memiliki 900 volume. Berkumpulnya Yahudi, Spaniard dan Arab membuat  wilayah Spanyol bagian Selatan ini menjadi tempat bertemunya kultur Kristen dan  Islam. Di Sicilia yang ditaklukkan Arab, dan dalam periode 878 hingga 1061 telah  menjadi pusat dengan kondisi peradaban yang sama. Demikian juga dengan  Toledo yang telah menjadi wilayah terbesar bersatunya komunitas Yahudi, Spanyol dan Arab. Bahkan di Toledo, ras Spanyol dan Yahudi mengikuti Muslim  dalam tata cara berbicara dan kebiasaan. Toledo telah menjadikan kaum Kristiani tenang berada di wilayah kekuasaan Arab. Didirikannya kemudian sebuah Kampus Penerjemahan menularkan sebagian budaya Arab ke dalam dunia Kristen. (F. Sherwood Taylor, A Short History of Science, hlm. 77).

 

Memasuki abad ke-11 M, ketika peradaban Islam mulai memiliki struktur pendidikan berbasiskan masjid ataupun madrasah  yang definitif, lahirlah kurikulum sains yang dapat dibagi ke dalam 2 (dua) klasifikasi: ‘ulûm aqliyya (rational sciences) dan ‘ulûm naqliyya (transmitted sciences). Inti dari kurikulum Islam tradisional pada saat itu berpusat kepada subyek pembelajaran terkait dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, meliputi teologi (tawhid), hukum Islam (fiqh), penafsiran Al-Qur’an (tafsîr), pembacaan Al-Qur’an (qirâ’ât), tradisi Nabi (al-hadîth), dan bahasa Arab (al-lughah). Sains rasional memasukkan mata pelajaran sintaks (nahw), logika (mantiq), matematika (riyâdhiyyât atau hisâb), pengobatan  (tibb), filsafat (falsafa), dan retorika (balâgha). (Bradley J. Cook, Classical Foundations of Islamic Educational Thought, Utah: Brigham Young, University Press, 2010, hlm. xx.)

 

Pada akhir abad ke-8 M, seiring hancurnya perpustakaan besar Alexandria, Khalifah al-Makmun (786-833) membangun ‘Rumah Hikmah’ di Baghdad, Irak, yang menjadi sangat terkenal sebagai pusat studi dan riset, serta gudang teks-teks akademik yang sangat bernilai. Banyak sarjana dipekerjakan oleh khalifah untuk mentranslasikan karya-karya Matematika di masa lalu dan mengembangkan lebih jauh ide-ide yang telah ada. Seiring membesarnya peradaban Islam hingga 7 (tujuh) abad berikutnya, budaya perburuan intelektual semakin menyebar. Banyak sarjana Eropa di abad ke-12 M dan selanjutnya yang mengunjungi perpustakaan-perpustakaan di Spanyol untuk membaca teks dalam bahasa Arab dan mempelajari pencapaian-pencapaian keilmuan yang telah diraih di Timur selama masa kegelapan di Barat. Sejumlah bahan sains Matematika disebarkan ke Eropa dengan proses ini. (James Tanton, Encyclopedia of Mathematics, New York: Facts on File, 2005, hlm. 17)

 

Aktivitas mendidik anak yang dilakukan oleh ibu adalah untuk dapat mencetak generasi unggul atau good looking. Setidaknya ada tiga karakter anak good looking : (1) Anak Sholeh yaitu anak yang setiap perbuatannya selalu menginginkan keridloan Allah SWT, senantiasa menyenangkan orangtua dan disenangi siapa saja (bersyaksiyah Islam). (2) Anak Cerdas yaitu anak yang senantiasa mau dan yakin dapat melakukan segala sesuatu atau memiliki keterampilan dan keahlian di berbagai bidang sains. (3) Anak Sehat yaitu anak yang mau makan makanan yang bergizi, menjaga kebersihan, cukup istirahat dan olahraga. (kuat fisiknya).

 

Beberapa karakter generasi good looking lainnya adalah : Optimistis, Pemberani, Visioner, Pembelajar, Penyantun, Penebar Kebajikan, Pembela kebenaran, Pengasih dan penyayang, Pengendalian Diri, Pendamai, Pekerja  Keras, berjiwa pemimpin dan ksatria, Bersungguh-sungguh, Penyabar, Berdikari, Berfikir Positif, Kejujuran, Bertanggungjawab, Empati, Bijaksana, Toleran, Penyuka Tantangan, Pemelihara, Kreatif, Produktif, Pemaaf , Pelopor Kebajikan dan Problem Solver

Untuk dapat mencetak good looking maka dibutuhkan ibu yang tangguh, termasuk lembaga pendidikan Islam yang berkualitas. Adapun syarat menjadi ibu yang tangguh adalah ibu memiliki syaksiyah Islamiyah. Yaitu seorang ibu yang memiliki pola fikir Islam dan pola sikap yang islami. Pola fikir yang Islami tercermin dalam setiap aktifitas berfikir yang melandasi pada aqidah Islam sedangkan pola sikap yang islami adalah mampu mensikapi setiap tuntutan pemenuhan thaqatul hayawiyah (potensi hidup) berdasarkan Islam bukan berdasarkan perasaan, omongan orang banyak dan hawa nafsu.

 

Generasi good looking bukan hanya penebar rahmat di dunia, namun juga selamat hingga akhirat. Pendidikan Islam itu holistik antara dunia akhirat, tidak seperti pendidikan sekuler yang hanya fokus duniawi semata. Ingatlah selalu firman Allah SWT dalam QS.At Tahrim ayat 6: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

 

(SastraDewi, KotaHujan, 21/09/20 : 09.40 WIB)

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar