AMORALITAS PENGUASA DAN MATINYA DEMOKRASI - Ahmad Sastra.com

Breaking

Selasa, 24 November 2020

AMORALITAS PENGUASA DAN MATINYA DEMOKRASI




 

Oleh : Ahmad Sastra

 

But there is another way to break a democracy. It is less dramatic but equally destructive (Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt).

 

Watak asli demokrasi adalah amoralitas. Lihatlah kisah antara kuda, rusa dan pemburu yang dikutif oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam buku Bagaimana Demokrasi Mati (How Democracies Die) pada halaman 19. Seorang pemburu yang menjanjikan membantu kuda mengalahkan rusa dengan cara melakukan mengikat dan mengendalikan kuda tersebut. Saat rusa mati, sang pemburu tidak mau turun dari kuda, dia katakan, ‘Aku sekarang sudah mengendalikanmu dan lebih suka mempertahankanmu seperti sekarang’.

 

Secara sederhana kisah kuda, rusa dan pemburu ini menggambarkan watak imperialisme demokrasi kepada negera-negara berkembang. Semisal meminjamkan utang dengan cara mengendalikan setiap kebijakan negara penghutang tersebut. Utang dalam politik demokrasi adalah hegemoni dan penjajahan.  Persekutuan penentu nasib adalah sub judul yang dipilih oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt ketika mengutip cerita itu.

 

Genealogi demokrasi adalah anti etika agama karena lahir dari rahim ideologi sekulerisme. Konsensus suara terbanyak menjadi timbangan kebenaran, meski tak berkesesuaian dengan norma agama. Konsensus rakyat diwakili oleh wakil-wakil rakyat yang acapkali justru berkomplot dengan para pemodal. Demokrasi hanya menjadi semacam kandang bagi manusia-manusia buas pemburu seonggok nasi basi. Akhirnya demokrasi tak lebih dari drama amoralitas para elit oligarki, tidak lebih dari itu.

 

Esensi demokrasi adalah kebebasan dan kesetaraan dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Kebebasan dalam demokrasi dilindungi atas nama hak asasi manusia. Apapun keinginan setiap individu diberikan ruang yang luas dalam alam demokrasi. Bahkan gerombolan oligarki menjadikan demokrasi sebagai cara legal untuk melakukan perampokan sumber daya alam dan penjajahan.

 

Atas nama konstitusi, sistem demokrasi telah menjadi penipun terbesar atas nama rakyat dan kesejahteraan. Ajal demokrasi justru dipercepat oleh orang-orang yang terpilih saat pemilu. Sebab modal besar saat pemilu menjadi pemicu disorientasi para penguasa saat terpilih. Demokrasi tak lebih sebagai arena perjudian yang berorientasi untung rugi materi.

 

Tak berlebihan jika demokrasi disebut sebagai cara paling dungu dalam memilih pemimpin. Tak berlebihan juga jika demokrasi  disebut sebagai sistem terburuk dalam mengatur rakyat. Ironisnya hampir seluruh negara di dunia menerapkan demokrasi yang maknanya adalah bahwa dunia saat ini tengah dihegemoni oleh para penjahat politik. Maka, lihatlah peradaban demokrasi yang sarat amoralitas.

  

Bagaimana demokrasi mati ?. Jawabnya adalah amoralitas para penguasa. Sebab demokrasi dan amoralitas adalah dua sisi mata uang. Makin tinggi amoralitas penguasa, maka akan semakin cepat ajal demokrasi tiba. Dengan tegas Winston Churchil  menyatakan bahwa demokrasi sebagai sistem terburuk akan segera mati dan bunuh diri. Democracy is worst possible form of government” (demokrasi kemungkinan terburuk dari sebuah bentuk pemerintahan).

 

Abraham Lincoln “Democracy is government of the people, by people, by people, and for people”. Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Menurut John Locke ada dua asas terbentuknya negara. Pertama, pactum unionis yaitu perjanjian antar individu untuk membentuk negara. Kedua, pactum suvjektionis, yaitu perjanjian negara yang dibentuknya.

 

Sifat antroposentrisme demokrasi kini makin memperlihatkan kebusukannya. Kepentingan duniawi para pelaku demokrasi makin merobohkan ideologi absurd ini. Menyerahkan kedaulatan hukum kepada manusia berbuah malapetaka tak berujung. Bahkan di antara pemuja demokrasi kini saling menjegal. Sesama manusia zolim, kini sedang sibuk saling menuduh dan menfitnah.

 

Antropomorpisme demokrasi telah kebablasan memuja manusia seolah sebagai tuhan yang mampu menyelesaikan segala persoalan. Padahal secara genetik, demokrasi justru membawa cacat bawaan sejak lahir. Alih-alih menyelesaikan persoalan, di tangan demokrasi, dunia justru berada di titik terendah.

 

Demokrasi terbukti melegitimasi amoralitas seperti perzinahan, pelacuran, perjudian, seks bebas dan LGBT. Ideologi ini juga terbukti telah melahirkan kemiskinan dan kesengsaraan bagi rakyat. Bahkan dengan money politic, demokrasi telah membudayakan korupsi, kolusi, nepotisme, gratifikasi, dan seabreg perilaku pengkhianatan lainnya.

 

Demokrasi bahkan secara lantang menentang etika agama, mengkriminalisasi ulama, menjegal kebangkitan umat dan memberangus ormas-ormas Islam. Negara pemuja demokrasi bukan menjadi merdeka, justru menjadi budak negara kapitalisme yang lebih besar. Demokrasi korporasi telah mengkayakan yang kaya dan memiskinkan yang miskin.

 

Demokrasi terbukti hanya menumpuk-numpuk utang yang akhirnya dibebankan kepada rakyat. Rakyat hanya menjadi korban kebengisan demokrasi tanpa pernah bisa merasakan sejahtera meski hanya sejenak. Dengan pajak mencekik, PHK besar-besaran, tapi masih juga dibebani biaya kesehatan yang terus naik. Kapitalisasi pendidikan menyempurnakan kesengsaraan rakyat.

 

Kini rakyat tak lagi percaya kepada demokrasi. Rakyat sudah muak menonton segala sandiwara pemilu dan pencitraan tak tahu malu. Rakyat sudah bosan ditipu setiap kali datang pemilu. Bahkan pemilihnyapun kini ditipu dan disengsarakan. Demokrasi telah menjadi terorisme sejati bagi kehidupan rakyat.

 

Ilmuwan politik dari Harvard University yang menulis buku Bagaimana Demokrasi Mati telah dengan tegas mengingatkan bahwa matinya demokrasi adalah sebuah keniscayaan. Siapa yang membunuh demokrasi ?. Pembunuhnya bukan para jenderal tiran, diktator, namun justru para penguasa yang terpilih dalam sistem demokrasi itu sendiri. It is less dramatic but equally destructive (p.3).

 

Bagi seorang muslim, demokrasi tidak lebih dari seonggok sampah busuk yang menyebarkan berbagai penyakit peradaban. Seorang muslim tentu saja akan memilih ideologi Islam yang datangnya dari Allah dan membuang demokrasi ke tong sampah. Muslim sejati pasti anti demokrasi, sebab memilih demokrasi berarti menjadi jongos penjajah. 

 

Tugas kaum muslim bukanlah menanti kapan tumbangnya demokrasi dan kebatilan. Tugas kaum muslim adalah menghadirkan kebenaran Islam di tengah-tengah umat.  Sebab kebatilan akan lenyap jika datang kebenaran.

 

(AhmadSastra,KotaHujan,24/11/20 : 14.00 WIB)  

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar