PANDEMI, SAINS DAN POLITIK - Ahmad Sastra.com

Breaking

Minggu, 22 November 2020

PANDEMI, SAINS DAN POLITIK

 


 

 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Pandemi covid 19 tak kunjung reda di negeri ini, juga di negara lain. Wabah yang sejak Maret ini makin banyak menelan korban dari waktu ke waktu. Mesti ada sinergi pendekatan saintifik, politis dan spiritual agar menjadi solusi tuntas atas musibah ini.  Dalam perspektif spiritual, segala sesuatu yang menimpa manusia, maka terkategori sebagai musibah.

 

Di dalam Al Qur’an, Allah telah memberikan petuntuk yang sempurna dalam dalam menyikapi setiap musibah, bahwa musibah adalah bagian dari qadha Allah. Orang beriman harus meyakini bahwa segala sesuatu itu hakekatnya milik Allah dan akan kembali kepada Allah.

 

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). (QS Al Baqarah : 156).

 

Secara spiritual, selain bersabar, beriman, bertawakal, berikhtiar dan berdoa, semestinya manusia bertobat di saat ditimpa musibah yang menimbulkan berbagai kerusakan dan kesulitan, sebab bisa jadi segala bentuk musibah adalah karena perbuatan manusia itu sendiri. Ada dimensi kausalitas dalam setiap fakta dan peristiwa (lihat QS Asy Syura : 30 dan QS Ar Ruum : 41).

 

Sementara dimensi santifik adalah usaha mengenali virus ini secara ilmiah danterukur melalui sebuah riset untuk kemudian menemukan karakteristik virus corona. Rekomendasi para ilmuwan agar masyarakat menjaga jarak, tidak berkerumun, selalu bermasker dan selalu mencuci tangan pakai sabun adalah bagian dari hasil pendekatan saintifik atas fakta corona.

 

Pendekatan saintifik ini harus menjadi komitmen pemerintah dan rakyat jika masih menginginkan pandemi virus ini segera berakhir. Perberlakukan PSBB mestinya menjadi komitmen kuat bagi pemerintah kepada rakyatnya. Harus tegas siapapun tidak boleh melakukan kerumunan yang berpotensi penularan, baik kaitannya dengan pilkada, hajatan keluarga, maupun berbagai acara hiburan.

 

Dalam perspektif virologi, virus disebut virion ketika berbentuk partikel independen karena tidak sedang berada di dalam sel atau tidak dalam proses menginfeksi sel. Virion terdiri atas materi genetik berupa asam nukleat seperti DNA dan atau RNA yang diselubungi lapisan protein yang disebut kapsid.

 

Karakter dasar virus adalah hanya bisa berkembangbiak di saat berada dalam sel makhluk hidup tertentu seperti manusia, hewan dan bahkan tumbuhan. Dalam bahasa teologis, virus ditakdirkan memiliki sifat-sifat tidak seperti makhluk hidup lainnya. meski demikian, disaat menginfeksi, maka virus bisa menyebabkan penyakit dan kematian.

 

Karena itu karakter khas virus terasosiasi dengan penyakit tertentu pada makhluk hidup. Banyak virus yang menginfeksi manusia seperti virus HIV dan influenza. , virus yang menginfeksi hewan misalnya virus flu burung dan virus tumbuhan semisal virus mosaik tembakau.

 

Sejarah mencatat banyak virus yang mewabah sepanjang sejarah peradaban manusia. Namun baru di tahun 1728, virus didefinisikan sebagai agen yang menyebabkan infeksi penyakit dan baru ditemukan oleh Dmitri Ivanovsky pada tahun 1892. Meskipun endemik virus telah terjadi pada zaman sebelum masehi, salah satu yang terknal adalah virus smallpox yang menyerang masyarakat Tiongkok pada tahun 1000.

 

Dari beberapa penemuan para ilmuwan dilaporkan adanya infeksi virus dalam hieroglif di Memphis, ibu kota Mesir kuno (1400 SM) yang menunjukkan adanya penyakit poliomyelitis. Selain itu, Raja Firaun Ramses V meninggal pada 1196 SM dan dipercaya meninggal karena terserang virus smallpox.

 

Sementara coronavirus yang kini menjadi pendemi global di akhir 2019 yang berawal dari Kota Wuhan Tiongkok disinyalir sebagai virus jenis baru, meski SARS dan MERS juga disebabkan oleh coronavirus. Corona Wuhan oleh WHO sebagaimana dikutif dari Popular Mechanics disebut sebagai 2019-nCov.

 

Jika mempelajari karakter dasar virus corona yang cepat menular melalui interaksi sosial karena disebabkan oleh percikan air ludah, maka membiarkan kerumunan yang melanggar protokol kesehatan di tengah perkembangan pandemic yang masih eksponensial adalah kebijakan yang tidak berbasis saintifik.

 

Sementara dimensi politik dari pandemi corona dimaksudkan pentingnya kebijakan yang tegas dan tepat atas pandemi ini. Kebijakan politik atas musibah mestinya benar-benar diarahkan kepada keselamatan nyawa rakyat dengan mengenyampingkan kepentingan lainnya, seperti ekonomi. Sebab dengan tetap sehatnya rakyat, maka otomatis pemulihan ekonomi akan lebih mudah dan cepat.

 

Sebaliknya, jika salah kebijakan politik atas pandemi dengan mengutamakan kepentingan ekonomi, maka yang akan terjadi adalah kontraproduktif. Sebab jika rakyat justru makin banyak yang terpapar dan bahkan meninggal, maka biaya ekonominya justru akan lebih besar jika dibandingkan dengan subsidi yang diberikan pemerintah dengan kebijakan lock down.

 

Adalah tidak bijak jika kebijakan politik atas pandemi ini dimanfaatkan oleh kepentingan kaum kapitalis semata, tanpa mengindahkan keselamatan nyawa rakyat. Adalah tidak bijak jika situasi pandemi ini justru dimanfaatkan untuk kepentingan politik jahat, semisal untuk menjatuhkan lawan politik dan mengangkat kroni politiknya.

 

Negeri ini mestinya dewasa dan mengutamakan kepentingan kesejahteraan rakyatnya. Intrik-intrik politik tidak adil dengan memanfaatkan situasi pandemi ini adalah sebuah kejahatan kemanusiaan yang akan merugikan negeri ini di masa depan. Sebab, jika politik dibalut oleh dendam, maka kebijakannya akan jauh dari keadilan.

 

Penting dipahami bahwa faktanya rakyat begitu sengsara dengan adanya pandemi corona ini, jangan malah ditambah beban lagi oleh kebijakan politik yang tidak pro rakyat. Pemerintah harus segera menghentikan kebijakan politik yang justru berpotensi ketidakadilan dan kezoliman di tengah wabah yang sedang menimpa negeri ini hanya karena terjebak emosi dan kebencian, apalagi dendam.

 

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al Maidah :

8).

 

(AhmadSastra,KotaBogor, 22/11/20 : 08.30 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar