SOLUSI ULAMA MENGATASI MUSIBAH - Ahmad Sastra.com

Breaking

Sabtu, 30 Januari 2021

SOLUSI ULAMA MENGATASI MUSIBAH

 



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Para ulama dituntut  bisa mencarikan solusi-solusi itu, karena para ulama adalah pemegang mandat dari ajaran Allah SWT," kata Kiai Maruf dalam acara Muhasabah dan Istighasah Untuk Negeri (Republika, Kamis 28 Jan 2021 23:29 WIB).

 

Secara normative, apa yang disampaikan wapres adalah sudah benar, bahwa ulama adalah orang yang mengerti soal hukum-hukum Islam sebagai ajaran sempurna yang bisa dijadikan solusi seluruh persoalan, dari urusan individual, sosial, hingga  kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Ulama adalah mereka yang memegang ajaran Islam, maknanya setiap persoalan di suatu negeri selalu ditimbang berdasarkan ajaran Islam. pokok-pokok ajaran Islam terkait hukum perbuatan meliputi lima, yakni wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Status hukum Islam ini meliputi seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara seperti ekonomi, pendidikan, politik, budaya dan aspek lainnya.

 

Tujuan penerapan hukum Islam (maqosidus syariah) dalam Islam adalah untuk menjaga akal, agama, jiwa, keturunan, harta, dan bahkan syariah juga untuk negara dari penjajahan. Oleh karena itu jika ditimbang berdasarkan ajaran Islam, maka hampir seluruh penerapan hukum di negeri ini bermasalah, sebab tidak didasarkan oleh sumber hukum Allah yakni Al Qur’an dan Al Hadist.

 

Sistem demokrasi sekuler yang kapitalistik meniscayakan hukum dan peraturan Islam diabaikan. Sebaliknya, hukum dan perundang-undangan digali dari kesepakatan manusia berdasarkan kepentingan sesaat. Bahkan lebih jauh, sekulerisme yang telah difatwakan haram oleh MUI tahun 2005 dianggap sebagai aturan terbaik dengan pertimbangan pluralitas bangsa.

 

Sementara syariah Islam adalah solusi bagi kehidupan, alam semesta dan manusia dengan berbagai dimensi persoalannya. Berkaitan dengan alam semesta misalnya, mengapa sekarang di negeri ini terjadi banyak bencana alam maupun non alam. Mari kita simak firman Allah berikut :

 

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar Ruum : 41). Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS Asy Syura : 30).

 

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS An Nisaa : 79). Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, (QS An An’am : 6). 

 

Sepanjang tahun 2020 hingga awal tahun 2021, bencana hidrometereologi seperti banjir, tanah longsor dan banjir bandang sering terjadi. Dalam catatan BNBP tahun 2021, hingga 10 Januari saja, negeri ini telah ditimpa bencana sebanyak 76 kali.

 

Setidaknya ada dua bentuk musibah berupa bencana alam yang menimpa manusia. Pertama adalah bencana alam yang terjadi akibat hukum kausalitas, yakni bencana alam yang terjadi akibat kesalahan pengelolaan lingkungan oleh manusia, seperti banjir yang sering terjadi di negeri ini.   

 

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". (QS Thahaa : 124)

 

Kedua adalah musibah berupa bencana alam yang semata-mata terjadi karena kehendak Allah, tanpa ada campur tangan manusia, seperti gunung meletus, tsunami atau badai. Allah hendak menunjukkan kekuasaanNya kepada manusia untuk menguji hamba-hambanya yang tetap bersabar dan mau mengambil ibrah. Dengan memahami kemahakuasaan Allah, diharapkan manusia hanya bersandar kepada pertolongan Allah.

 

Perhatikan firman Allah : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. (QS Ar Ruum : 24).

 

Adapun berkaitan dengan masalah dosa dan kemaksiatan yang diperbuat oleh individu maupun negara, yang telah mengakitbatkan datangnya musibah, Islam mengajarkan untuk meninggalkan dan bertaubat. Taubat secara individu, kelompok maupun negara. Di negari ini dengan santainya tanpa ada rasa takut kepada Allah, banyak orang melanggar ketentuan Allah di tempat umum, seperti membuka aurat, tidak sholat, berpesta pora, aksi kriminal, berbohong, korupsi dan menipu. Lebih jauh dari itu  para penguasa dengan tenangnya membuat hukum sendiri dalam semua lini kehidupan, politik, pendidikan, ekonomi, pemerintahan, tanpa sedikitpun takut kepada Allah.

 

Penerapan sistem hukum kapitalisme sekuler secara epistemologis dan aksiologis merupakan sumber kerusakan dan datangnya berbagai musibah dan bencana di negeri ini. Apalagi jika negeri ini menerapkan sistem hukum komunisme ateis, maka kehancuran negeri ini akan semakin besar dan meluas. Kedua ideologi itu merupakan paham yang mengajarkan berbagai bentuk kezoliman kepada sesama, tumbuhnya berbagai kemungkaran dan keingkaran kepada Allah.

 

Oleh karena itu sudah tepat, apa yang disampikan oleh Ketua Dewan Pertimbangan MUI yang mengatakan bahwa Islam adalah agama perbaikan. Risalaha islamiyah merupakan risalah islahiyah. Maka ulama harus melakukan perbaikan-perbaikan dalam berbagai masalah termasuk masalah kemasyarakatan. Dia  mengingatkan bahwa melakukan perbaikan-perbaikan adalah tugas ulama. Maka ulama tidak boleh hanya menggerutu dan menyalahkan orang lain.

 

Tapi sayangnya di negeri demokrasi sekuler ini suara ulama justru sering diabaikan. Dakwah amar ma’ruf nahi mungkar justru sering dianggap sebagai sikap intoleransi. Ajaran Islam justru sering disebut sebagai ajaran radikal yang melahirkan ekstrimisme bahkan terorisme. Bahkan lebih parah ada yang mengatakan Islam sebagai agama pendatang yang arogan. Nah, mestinya wapres bisa melihat kesenjangan ini.

 

Wapres juga harus menyadari bahwa banyak ulama yang justru dipersekusi dan dikriminalisasi. Ulama sekelas Habib Rizieq yang menginginkan revolusi akhlak demi perbaikan negeri justru sekarang dipenjara. Akhlak pada dasarnya adalah kepatuhan kepada hukum dan syariat Islam dalam berbagai aktivitas kehidupan. Nah, ketaatan kepada hukum Allah justru sering dipersoalkan. Bahkan dakwah mengajak agar negeri ini taat kepada hukum Allah seringkali dianggap berbahaya bagi negeri ini.

 

Di acara yang sama, kepada bangsa Indonesia, Kiai Ma'ruf menyampaikan bahwa Allah telah membuat aturan-aturan dalam tata kehidupan. Salah satunya adalah tata aturan alam tentang berbagai hal yang menjadi karakteristik dari bumi, langit dan alam semesta. Semua itu ada aturannya untuk manusia dan untuk kebaikan serta kemaslahatan manusia. 

 

Nah, inilah pentingnya menjadikan aturan Allah dalam bidang lingkungan diterapkan di negeri ini. sementara yang terjadi hari ada adalah penerapan sistem kapitalisme sekuler yang mengeksploitasi bumi secara brutal demi meraup keuntungan materi semata. Alam semesta ini rusak oleh ideologi yang kini tengah diterapkan di negeri ini. Jangan malah lantas menyalahkan hujan yang didatangkan Allah.

 

Masih menurut wapres, dalam tata aturan alam ada hukum-hukum alam yang telah diberikan Allah sejak diciptakannya. "Tata aturan ini kalau dilanggar ini akan menimbulkan kerusakan dan akan menimbulkan dampak karena aturan ini sudah baku," ujarnya.

 

Nah untuk itu, jika ulama diminta untuk memberikan solusi atas persoalan negeri, tentu bukan hanya soal hukum lingkungan, sebab Islam adalah sebuah sistem aturan yang holistic yang mesti diterapkan secara kaffah, tidak setengah-setengah. Kerusakan alam bukanlah berdiri sendiri, namun akibat ideologi kapitalisme yang kini dilegitimasi oleh negara. Padahal Islam adalah sempurna, maka harus diterapkan secara kaffah agar menjadi solusi kaffah pula.

 

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al Baqarah : 208). Jika dipelajari, maka sistem kapitalisme sekuler dan komunisme ateis itulah yang merupakan langkah-langkah setan, sebab faktanya telah menjadi sumber kerusakan di negeri ini dan negeri-negeri lainnya.

 

Itulah sebabnya surat Ar Ruum ayat 41 diakhiri dengan kata la’allakum yarji’un yang artinya agar mereka kembali kepada jalan yang benar. Jalan yang benar adalah Islam. Sebab hanya Islamlah jalan hidup yang diridhoi Allah, innaddina ’indallahil Islam. Dan Allah melarang kita untuk mencari-cari jalan selain Islam karena jalan selain Islam adalah jalan yang akan menyesatkan manusia. Jika rakyat dan pemimpin  di negeri ini kembali  beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka Allah berjanji akan menurunkan berbagai keberkahan hidup dari langit dan bumi.

 

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian  kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.  (QS An Nahl : 112)

 

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Qs Al A’raf : 96).

 

Kesimpulannya, solusi ulama adalah solusi Islam itu sendiri, sebab ulama adalah pewaris nabi yang menjadi perpanjangan tangan ajaran-ajaran Islam sebagai tugas utama para nabi demi kebaikan dan perbaikan negeri ini. Maka, jangan pernah ragu untuk menerapkan hukum Islam secara kaffah dan tinggalkan ideologi setan kapitalisme komunisme secara keseluruhan. Contohlah daulah madinah yang dipimpin Rasulullah, sebab beliau adalah teladan utama bagi manusia seluruhnya.

 

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS Al Ahzab : 21).

 

(AhmadSastra,KotaHujan,30/01/21 : 10.10 Wib)  

 

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar