JANGAN JADI PEMIMPIN KAGETAN - Ahmad Sastra.com

Breaking

Kamis, 04 Maret 2021

JANGAN JADI PEMIMPIN KAGETAN



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Menjadi seorang pemimpin adalah amanah berat yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Pemimpin adalah mereka yang sangat tahu kondisi rakyat yang dipimpinnya begitupun pemimpin rumah tangga adalah yang tahu persis persoalan yang dihadapi anggota keluarganya. Pemahaman atas kondisi rakyat atau anggota keluarga diikuti oleh solusi yang benar sebagai bentuk tanggungjawab.

 

Kepemimpinan adalah amanah yang dipimpin dan amanah dari Allah sekaligus. Menjadi pemimpin adalah sebuah pertaruhan besar, apakah kelak akan masuk surga atau terjerumus dalam siksa api neraka. Kepemimpinan yang baik juga adalah yang mempu mengambil kebijakan yang terbaik untuk rakyat. Kebijakan yang benar adalah kebijakan yang didasarkan oleh fakta dan data lapangan. Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang didasarkan oleh syariah sebagai solusi.

 

Jadi pemimpin tidak boleh kagetan, sedikit-sedikit kaget atas kondisi rakyatnya, apalgi jika kemudian mengambil kebijakan yang salah. Kekagetan tidak selamanya buruk, namun kaget atas kondisi rakyatnya yang tidak beruntung dikarenakan ketidaktahuan fakta dan data atau mendapat data salah dari para pembantunya adalah kekagetan yang tidak tidak pantas.

 

Dalam pandangan Islam, seorang pemimpin rakyat adalah mereka yang berjalan di atas jalan Allah dengan mentaati seluruh aturan Allah serta menjauhi apa yang dilarang oleh Allah. Begitupun atas perintah dan larangan Rasulullah akan dipatuhi secara total oleh seorang pemimpin muslim. Setiap kebijakan diukur apakah Allah ridho atau tidak, bukan semata karena kepentingan manusia.

 

Lebih dari itu, seorang pemimpin harus menjadi teladan dengan kemuliaan sikap dan perilakunya bagi rakyat yang dipimpinnya. Rasulullah adalah teladan sempurna .  Keagungan sifat Rasulullah Muhammad SAW dinyatakan Allah dalam firmanNya, Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas khuluq yang agung (QS al-Qalam [68]: 4).

 

Imam Jalalain menafsirkan kata khuluq dalam ayat di atas dengan dîn (agama). Imam Ibn Katsir—seraya mengutip Ibn Abbas, Mujahid, Abu Malik, As-Sadi dan Rabi bin Anas, Adh-Dhahak dan Ibn Zaid—juga menyatakan bahwa ayat di atas bermakna, “Wa innaka la’alâ dîn[in] ‘azhîm (Sesungguhnya engkau [Muhammad] benar-benar berada di atas agama yang agung),” yakni Islam (Ibn Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr, IV/403).

 

Dalam sejarah kepemimpinan Islam, banyak pemimpin teladan, salah satunya adalah Said bin Amir al Jumhi. Dikisahkan  suatu ketika delegasi pemerintah daerah Himsh datang menghadap Khalifah Umar. Himsh adalah sebuah wilayah di Syam yang masuk dalam pengawasan pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab. Gubernur Himsh bernama Said bin Amir al Jumhi. Khalifah Umar terkenal sifah pemurahnya, beliau selalu peduli dengan kaum fakir miskin yang menjadi rakyatnya. Delegasi itu diminta memberikan daftar orang-orang yang tergolong fakir miskin di daerahnya.

 

Diserahkanlah oleh delegasi itu kepada Khalifah Umar sebuah lembaran yang berisi daftar nama-nama orang yang tergolong fakir miskin. Yang menarik adalah terdaftarnya nama Said bin Amir al Jumhi sebagai orang miskin, padahal dia adalah gubernur daerah itu. Karena hampir tak percaya, maka Umar bertanya kepada delegasi siap gerangan Said dalam daftar tadi. Dijawab dialah Said bin Amir al Jumhi sang gubernur. “ Gubernur kalian miskin ?”, tanya sang Khalifah. “ Ya demi Allah, dapurnya sering tidak berasab dalam waktu yang lama”.

 

Mendengar cerita itu, Umar menangis tersedu-sedu sampai air matanya membasahi janggutnya. Sambil terisak Umar mengambil seribu Dinar (sekitar Rp. 600 juta ) lalu dimasukkan dalam satu kantong. Umar berkata sambil terisak ,” Sampaikan salamku kepada gubernur kalian, katakan Umar mengirimkan uang ini agar bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhanya”.

 

Sesampainya delegasi ke Himsh, mereka langsung menghadap Said untuk memberikan titipan Umar lengkap dengan pesan sang Khalifah. Setelah melihat isi kantong, Said terkejut dan menjauhkan kantong itu dari tempat duduknya, seraya berkata,” innalillahi wa inna ilaihi rajiun”. Lantas dia bertanya kepada istrinya, “ wahai istriku, sudikah kau membantuku?”. “ tentu mau wahai suamiku”. Akhirnya mereka berdua berjalan berkeliling ke kampung-kampung membagikan dinar pemberian Khalifah kepada rakyatnya hingga tak tersisa.

 

Selang beberapa waktu kemudian, Umar datang untuk melihat kondisi Syam dan tak lupa singgah di rumah sang gubernur. Melihat kondisi Said, Umarpun memberikan lagi bantuan seribu Dinar kepada Said. Sepulangnya Umar, Said dan istrinya kembali membagikan uang pemberian itu kepada rakyatnya yang tidak mampu. Hal ini Said lakukan dengan penuh ketulusan dan kerelaan. Tanpa ada rasa berat sedikitpun dalam hatinya.

 

Begitulah salah satu kisah kepemimpinan yang sukses dan patut dijadikan guru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Para pemimpin seperti said akan mendapatkan kucuran cinta yang luar biasa dari rakyatnya. Namun betapa sedihnya ketika kita melihat para pemimpin yang justru banyak yang diseret ke penjara karena mengkorupsi uang rakyatnya. Jika Said rela mengorbankan harta pribadinya untuk kepentingan rakyatnya, justru para pemimpin negeri ini merampas uang yang menjadi hak rakyatnya. Keduanya bagai langit dan bumi.

 

Said adalah sosok pemimpin yang dilahirkan dari sistem yang Islami. Sebab, berbicara tentang kepemimpinan seharusnya tidak hanya terbatas pada sosok orangnya, tetapi juga sistem kehidupan yang melingkupinya. Semua nash al-Quran dan al-Hadis yang berbicara tentang kepemimpinan senantiasa menyinggung kedua aspek ini, baik secara tersurat maupun tersirat.

 

Berguru kepada kepemimpinan Said, seorang gubernur mestinya adalah orang mencintai fakir miskin, mengutamakan kesejahteraan mereka dibandingkan dirinya sendiri. Bukan malah berbuat zolim kepada rakyatnya yang miskin dengan melakukan tindak korupsi.

 

Jadi kaget itu adalah perilaku yang biasa, namun pemimpin kagetan bisa jadi persoalan, apalagi jika pemimpin yang mengambil kebijakan yang merugikan rakyat, maka bukan hanya membuat kaget rakyat, tapi justru akan menyengsarakan rakyat. Sesekali kaget tak masalah, kalo kagetan bisa jadi punya penyakit jantung, sementara kalau dikit-dikit kaget bagi seorang pemimpin, maka akan memunculkan persoalan yang rumit.

 

(AhmadSastra,KotaHujan,04/03/21: 08.50 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar