NEWS WORLD ORDER DALAM BALUTAN BEYOND AESTHETIC - Ahmad Sastra.com

Breaking

Minggu, 25 April 2021

NEWS WORLD ORDER DALAM BALUTAN BEYOND AESTHETIC

 




 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Orang kecil adalah orang yang membincangkan dirinya sendiri, sementara orang biasa adalah yang membicarakan peristiwa, adapun orang besar adalah mereka yang mengekspresikan gagasan. Pepatah ini tidak salah, sebab karya-karya besar yang mengisi ruang peradaban manusia berawal dari sebuah gagasan. Gagasan lahir dari sebuah kegelisahan intelektual atas realitas yang kontradiksi, lantas mencurahkan pemikirannya untuk menghadirkan inspirasi dan solusi.

 

Sejarah peradaban manusia dan kemanusiaan selalu diisi oleh dua elemen yakni kebenaran dan kebatilan, keadilan dan kezaliman, cahaya dan kegelapan, keduanya lantas berjuang merebut pikiran dan hati manusia. Pekatnya malam selalu berujung pada cahaya mentari pagi.

 

Imam As Suyuthi mendeskripsikan sejarah sebagai pertarungan potensi kejahatan manusia dan potensi kebaikan manusia, keduanya akan dicatat sebagai sejarah. Bagi Sayyid Qutb sejarah adalah interpretasi peristiwa yang memberikan dinamisme dalam waktu dan tempat.

 

Pekatnya kegelapan fir’aun diiringi hadirnya cahaya Musa, begitulah perjalanan peradaban selalu bergulir. Gagasan-gagasan besar untuk menghadirkan cahaya di tengah pekatnya kegelapan zaman tak pernah berhenti dilakukan oleh umat Islam sepanjang waktu. Mengekspresikan gagasan melalui seni dalam rangka menyadarkan umat akan kegelapan zaman dan harapan akan hadirnya cahaya adalah tugas seorang seniman yang bervisi peradaban.

 

Begitupun apa yang dilakukan KHAT, sebuah jejaring seniman muslim dalam rangka memercikkan cahaya harapan akan datangnya cahaya peradaban Islam sekaligus mengabarkan senjakala peradaban gelap berbasis sekulerisme yang kini sisa-sisanya masih menyelimuti dunia. New World Order telah mengalami senjakala dan saatnya umat Islam menyambut news world order dengan hadirnya peradaban mulia yang dijanjikan Allah, yakni tegaknya kembali khilafah Islam. Cahaya peradaban Islam dilukiskan oleh seniman Lely Noor berupa bulan yang indah bercahaya dalam balutan malam gelap, hitam dan pekat.

 

Karena itulah, sebagai jamaah seniman muslim, menyadarkan umat melalui berbagai karya seni adalah bagian dari dakwah dan perjuangan. Karya seni yang bervisi peradaban Islam tentu saja bukan seni biasa, namun merupakan beyond aesthetic. Mengisi Ramadhan 1442 H tahun ini, KHAT hadir kembali dengan agenda Pameran dan presentasi seni dengan tema News World Order. Berbagai karya seni seperti lukis, photografi, kaligrafi batik, kriya, puisi, hingga desain grafis.  

 

News World Order merujuk kepada bisyarah atau kabar gembira yang telah dijanjikan Rasulullah, yakni akan hadirnya kembali khilafah. Istilah ini merupakan semacam antitheis atas masa new world order yang kini tengah mengalami sekarat. Semua karya seni yang dihadirkan KHAT mengarah kepada satu tujuan yakni memberikan inspirasi kepada umat akan pentingnya keyakinan akan janji Allah sekaligus mengambil peran dakwah Islam dengan berbagai cara dan strategi untuk mewujudkan janji kemenangan itu.

 

Aruman, seorang seniman batik dari Jogjakarta dengan apik telah menuliskan kata khilafah dalam besutan batiknya yang berwarna coklat dibalut warna merah menyala. Karya batik ini bertajuk Menuju Kemenangan dengan narasi bahwa kekuatan umat berada pada pondasi aqidah yang kuat. Aqidah melahirkan ketaatan dan ketaatan melahirkan kekuatan dan kebangkitan untuk menyelamatkan dunia yang rusak ini.

 

Tak mau ketinggalan dari Aruman, Ki Lutfi Caritogomo, seorang dalang wayang kekayon khalifah-pun ikut mencurahkan gagasan besar berupa karya gunungan wayang dengan pesan ideologis yang kuat. Beberapa tokoh pejuang tangguh masa lalu dilukiskan namanya dalam gunungan wayang seperti Mush’ab bin Umair, Abdullah bin Umar dan Mu’adz bin Jabal untuk menjadi inspirasi sekaligus aspirasi bagi para pejuang Islam masa kini.

 

Senjakala new world order bertransformasi kepada news world order adalah upaya para seniman muslim yang bergabung di KHAT untuk memberikan inspirasi akan pentingnya sebuah perubahan dan upaya-upaya mewujudkannya. Sebab kunci perubahan harus dimulai dari kesadaran akan realitas yang buruk diikuti oleh kesadaran akan realitas ideal. Kunci perubahan yang lain adalah kesadaran akan metode perubahan yang benar  dan adanya kelompok pengusung perubahan yang benar tersebut. Disinilah kehadiran karya-karya KHAT bisa ditemukan jejak dan relevansinya.

 

Memang pada faktanya meyakini janji Allah akan hadirnya kembali kejayaan Islam tidaklah mudah, bahkan ada yang terang-terangan mendustakannya. Diperlukan gerakan kesadaran akan jalan menuju keyakinan tersebut. Jalan menuju iman adalah salah satu pesan seni yang dibuat oleh Eko dengan bahan bebatuan kali tak simetrsi namun ditarik  garis lurus untuk menggambarkan jalan menuju iman.

 

Kontemplasi mendalam akan carut-marutnya peradaban berbalut new world order dilukiskan oleh seniman sufistik Andiy Qutus dengan judul Satrio Piningit yang dideskripsikan sebagai ratu adil sinisihan wahyu yang dalam terminologi tasawuf jawa senada dengan apa yang dikabarkan Rasulullah yakni khilafah. News world order adalah sebuah masa depan yang indah bak taman surga karena berlimpah keberkahan. Keindahan masa depan itu digambarkan secara indah oleh seniman Rivai Nugraha dalam karya photografi berjudul The Future is Beautiful.

 

Mewujudkan kesadaran umat ini adalah dengan cara dakwah Islam kaffah. Dakwah itu seperti air, mengalir dari tempat tinggi ke rendah, memenuhi ruang dari sudut ke sudut terdalam. Jika dibendung, maka dakwah akan mencari jalan lain. Inilah narasi yang disusun oleh seniman Joko Triwijayanto  yang diekspresikan dalam karyanya berupa desain grafis.

 

Ekspresi seni untuk peradaban Islam KHAT tak lengkap jika tak ada karya lukis Deni Je, Agus Baqul Purnomo dan Teguh Wiyatno. Kali ini pelukis cat air Deni Je menghadirkan sebuah lukisan dengan judul Pohon Merah Tumbuh Lagi di atas kanvas. Sementara pelukis kaligrafi kontemporer Agus Baqul Purnomo membuat kaligrafi indah berlafat Muhammad dengan judul Kabarnya Tak Pernah Kabur. Sedangkan Teguh Wiyatno, seorang seniman lukis surealistik menghadirkan lukisan dengan judul The Great Falling.

 

Masih banyak seniman yang menghadirkan karya-karya terbaiknya dalam rangka menyongsong news world order seperti Nico Ricardi, Cak Su, Ana Marieza Widiawati, M. Iqbal, Ahadin Ainurahman, Rindoe Arrayah, Syamsul Anim, Rivai Nugraha, Bilqis Inas, Pay Jarot Sujarwo, Abd Rokhim Al Hiwarie, Paikun, Fachruddin, Doni Riw dan yang lainnya.

 

Tak ada gading yang tak retak, tak ada karya yang sempurna, namun sebuah upaya menghadirkan kesadaran akan kebangkitan Islam melalui karya seni adalah bagian dari dakwah dan kemuliaan. Banyak jalan menuju Jogjakarta, banyak jalan menuju kesadaran umat. Tetaplah berkarya meski hanya lewat setetes tinta untuk peradaban Islam, dari pada berjuta tinta, tapi menjadi penghalang agama.

 

 

Bogor, 25 April 2021 : 15.21 WIB

 

 

 

 

 

 

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad


Tidak ada komentar:

Posting Komentar