Oleh : Ahmad Sastra
Ramadhan adalah bulan di mana manusia belajar
mengurangi kendali atas dirinya dan menyerahkan kembali segala urusan kepada
Allah. Dalam puasa, manusia menahan lapar, haus, dan keinginan, bukan karena
tidak mampu, tetapi karena memilih taat.
Dari sinilah hati mulai belajar makna berserah
(tawakkal), yaitu meyakini bahwa di balik setiap ketetapan Allah terdapat
hikmah yang menenangkan jiwa. Allah menegaskan dalam Al-Qur'an, “Dan barang
siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)”
(QS. ath-Thalaq: 3).
Ayat ini mengajarkan bahwa ketenangan bukan lahir dari
kemampuan mengendalikan segala hal, melainkan dari keyakinan bahwa Allah adalah
sebaik-baik pengatur kehidupan. Ramadhan melatih kesadaran ini, karena seorang
yang berpuasa menyadari betapa lemahnya dirinya tanpa pertolongan Allah.
Berserah bukan berarti pasrah tanpa usaha. Dalam
ajaran Islam, tawakkal datang setelah ikhtiar terbaik dilakukan. Rasulullah ï·º mengajarkan keseimbangan ini dalam hadis
riwayat Sunan at-Tirmidzi ketika seseorang bertanya apakah ia harus mengikat
untanya atau bertawakkal saja.
Nabi menjawab, “Ikatlah terlebih dahulu, kemudian bertawakkallah.”
Hadis ini menunjukkan bahwa berserah adalah sikap hati setelah usaha maksimal
dilakukan, bukan alasan untuk meninggalkan tanggung jawab.
Dalam perjalanan ruhani, berserah sering lahir dari
pengalaman kegagalan, kehilangan, atau ketidakpastian. Ketika manusia menyadari
keterbatasannya, ia mulai memahami bahwa tidak semua hal harus berada dalam
genggamannya.
Ramadhan mengajarkan penerimaan yang menenangkan:
menerima takdir dengan sabar, menerima kekurangan diri dengan rendah hati, dan
menerima proses hidup sebagai bagian dari pendidikan Ilahi.
Saat hati belajar berserah, beban kehidupan terasa
lebih ringan. Kekhawatiran berkurang karena hati percaya bahwa apa yang
ditetapkan Allah pasti mengandung kebaikan, meskipun belum dipahami saat ini. Berserah
juga menumbuhkan keikhlasan, sebab seorang hamba tidak lagi beribadah demi
hasil duniawi, tetapi karena kesadaran bahwa dirinya sepenuhnya milik Allah.
Ramadhan dapat dipahami sebagai madrasah kepercayaan,
tempat hati belajar kembali tentang makna bersandar kepada Allah. Dalam
kehidupan sehari-hari, manusia sering diliputi oleh berbagai kecemasan—tentang
masa depan, rezeki, kesehatan, dan banyak hal lain yang berada di luar
kendalinya. Kecemasan itu kerap muncul karena hati terlalu bergantung pada
kekuatan dunia.
Melalui ibadah puasa dan rangkaian amal di bulan
Ramadhan, manusia dilatih untuk menggeser pusat ketergantungannya, dari dunia
yang terbatas menuju Allah yang Maha Mengatur segala sesuatu.
Di bulan ini, seseorang belajar bahwa tidak semua hal
harus dikendalikan oleh dirinya. Ketika ia menahan lapar dan dahaga sepanjang
hari, ia menyadari bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam kuasa manusia. Ada
ketentuan ilahi yang mengatur segala proses kehidupan.
Kesadaran ini perlahan menumbuhkan sikap
tawakal—sebuah kepercayaan mendalam bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik
bagi hamba-Nya. Dari sinilah hati mulai belajar melepaskan beban kekhawatiran
yang selama ini menghimpit.
Kepercayaan yang tumbuh dalam Ramadhan bukanlah sikap
pasif, melainkan keyakinan aktif yang menguatkan jiwa. Seseorang tetap berusaha,
bekerja, dan menjalani tanggung jawabnya, tetapi hatinya tidak lagi dipenuhi
kegelisahan yang berlebihan.
Ia menyadari bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya berada
dalam genggamannya. Ketika hati benar-benar berserah kepada Allah, muncul
ketenangan yang tidak mudah terguncang oleh perubahan keadaan, karena sumber
ketenteraman itu berasal dari kedekatan dengan-Nya.
Pada akhirnya, Ramadhan mengajarkan bahwa kedamaian
sejati bukanlah keadaan hidup tanpa masalah, melainkan keadaan hati yang tetap
tenang di tengah berbagai ujian. Hati yang telah belajar percaya kepada Allah
tidak lagi mudah diliputi rasa takut atau putus asa.
Ia memandang setiap peristiwa sebagai bagian dari
hikmah dan rencana ilahi. Di titik inilah jiwa merasakan kedamaian yang
hakiki—kedamaian yang lahir dari keyakinan bahwa hidup berada dalam penjagaan
dan kasih sayang Allah.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1284/10/03/26 : 11.10
WIB)

