[19] Madrasah Jiwa SAAT HATI BELAJAR BERSERAH



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Ramadhan adalah bulan di mana manusia belajar mengurangi kendali atas dirinya dan menyerahkan kembali segala urusan kepada Allah. Dalam puasa, manusia menahan lapar, haus, dan keinginan, bukan karena tidak mampu, tetapi karena memilih taat.

 

Dari sinilah hati mulai belajar makna berserah (tawakkal), yaitu meyakini bahwa di balik setiap ketetapan Allah terdapat hikmah yang menenangkan jiwa. Allah menegaskan dalam Al-Qur'an, “Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)” (QS. ath-Thalaq: 3).

 

Ayat ini mengajarkan bahwa ketenangan bukan lahir dari kemampuan mengendalikan segala hal, melainkan dari keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur kehidupan. Ramadhan melatih kesadaran ini, karena seorang yang berpuasa menyadari betapa lemahnya dirinya tanpa pertolongan Allah.

 

Berserah bukan berarti pasrah tanpa usaha. Dalam ajaran Islam, tawakkal datang setelah ikhtiar terbaik dilakukan. Rasulullah ï·º mengajarkan keseimbangan ini dalam hadis riwayat Sunan at-Tirmidzi ketika seseorang bertanya apakah ia harus mengikat untanya atau bertawakkal saja.

 

Nabi menjawab, “Ikatlah terlebih dahulu, kemudian bertawakkallah.” Hadis ini menunjukkan bahwa berserah adalah sikap hati setelah usaha maksimal dilakukan, bukan alasan untuk meninggalkan tanggung jawab.

 

Dalam perjalanan ruhani, berserah sering lahir dari pengalaman kegagalan, kehilangan, atau ketidakpastian. Ketika manusia menyadari keterbatasannya, ia mulai memahami bahwa tidak semua hal harus berada dalam genggamannya.

 

Ramadhan mengajarkan penerimaan yang menenangkan: menerima takdir dengan sabar, menerima kekurangan diri dengan rendah hati, dan menerima proses hidup sebagai bagian dari pendidikan Ilahi.

 

Saat hati belajar berserah, beban kehidupan terasa lebih ringan. Kekhawatiran berkurang karena hati percaya bahwa apa yang ditetapkan Allah pasti mengandung kebaikan, meskipun belum dipahami saat ini. Berserah juga menumbuhkan keikhlasan, sebab seorang hamba tidak lagi beribadah demi hasil duniawi, tetapi karena kesadaran bahwa dirinya sepenuhnya milik Allah.

 

Ramadhan dapat dipahami sebagai madrasah kepercayaan, tempat hati belajar kembali tentang makna bersandar kepada Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering diliputi oleh berbagai kecemasan—tentang masa depan, rezeki, kesehatan, dan banyak hal lain yang berada di luar kendalinya. Kecemasan itu kerap muncul karena hati terlalu bergantung pada kekuatan dunia.

 

Melalui ibadah puasa dan rangkaian amal di bulan Ramadhan, manusia dilatih untuk menggeser pusat ketergantungannya, dari dunia yang terbatas menuju Allah yang Maha Mengatur segala sesuatu.

 

Di bulan ini, seseorang belajar bahwa tidak semua hal harus dikendalikan oleh dirinya. Ketika ia menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, ia menyadari bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam kuasa manusia. Ada ketentuan ilahi yang mengatur segala proses kehidupan.

 

Kesadaran ini perlahan menumbuhkan sikap tawakal—sebuah kepercayaan mendalam bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Dari sinilah hati mulai belajar melepaskan beban kekhawatiran yang selama ini menghimpit.

 

Kepercayaan yang tumbuh dalam Ramadhan bukanlah sikap pasif, melainkan keyakinan aktif yang menguatkan jiwa. Seseorang tetap berusaha, bekerja, dan menjalani tanggung jawabnya, tetapi hatinya tidak lagi dipenuhi kegelisahan yang berlebihan.

 

Ia menyadari bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya berada dalam genggamannya. Ketika hati benar-benar berserah kepada Allah, muncul ketenangan yang tidak mudah terguncang oleh perubahan keadaan, karena sumber ketenteraman itu berasal dari kedekatan dengan-Nya.

 

Pada akhirnya, Ramadhan mengajarkan bahwa kedamaian sejati bukanlah keadaan hidup tanpa masalah, melainkan keadaan hati yang tetap tenang di tengah berbagai ujian. Hati yang telah belajar percaya kepada Allah tidak lagi mudah diliputi rasa takut atau putus asa.

 

Ia memandang setiap peristiwa sebagai bagian dari hikmah dan rencana ilahi. Di titik inilah jiwa merasakan kedamaian yang hakiki—kedamaian yang lahir dari keyakinan bahwa hidup berada dalam penjagaan dan kasih sayang Allah.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1284/10/03/26 : 11.10 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad