Oleh : Ahmad Sastra
Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering
merasa dirinya kuat, mandiri, bahkan seolah mampu mengendalikan segala sesuatu.
Kekayaan, jabatan, dan kekuasaan kerap membuat seseorang merasa lebih tinggi
dari yang lain. Padahal, jika direnungkan dengan jujur, manusia pada hakikatnya
adalah makhluk yang sangat terbatas dan lemah.
Sekaya apa pun seseorang, ia tidak akan pernah mampu
menguasai bumi ini sepenuhnya. Sebesar apa pun kekuasaan yang dimiliki, ia
tetap tidak mampu menguasai jiwanya sendiri secara mutlak. Di balik segala
pencapaian dunia, manusia tetap bergantung sepenuhnya kepada Allah, Sang
Pencipta kehidupan.
Al-Qur’an mengingatkan dengan sangat jelas tentang
hakikat kelemahan manusia. Allah berfirman, “Dan manusia diciptakan dalam
keadaan lemah.” (QS. An-Nisa: 28). Ayat ini bukan sekadar pernyataan
tentang kondisi biologis manusia, tetapi juga gambaran tentang keterbatasan
eksistensinya.
Manusia membutuhkan makan untuk bertahan hidup,
membutuhkan tidur untuk memulihkan tenaga, dan membutuhkan pertolongan orang
lain dalam berbagai keadaan. Bahkan untuk sekadar bernapas, manusia bergantung
pada udara yang tidak pernah ia ciptakan sendiri. Semua ini menunjukkan bahwa
manusia bukanlah makhluk yang berdiri sendiri, melainkan makhluk yang
sepenuhnya bergantung kepada rahmat Allah.
Jika kita menengok perjalanan hidup manusia sejak awal
hingga akhir, kelemahan itu terlihat sangat nyata. Saat lahir ke dunia, seorang
bayi tidak memiliki daya apa pun. Ia tidak dapat berjalan, tidak dapat
berbicara, bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan paling dasar dirinya sendiri.
Ia hanya bisa menangis, dan tangisan itu menjadi panggilan bagi orang lain
untuk menolongnya.
Allah mengingatkan fase ini dalam firman-Nya: “Allah-lah
yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu)
setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah
kuat itu lemah (kembali) dan beruban.” (QS. Ar-Rum: 54). Ayat ini
menggambarkan perjalanan hidup manusia yang dimulai dari kelemahan, mencapai
puncak kekuatan, lalu kembali kepada kelemahan.
Ironisnya, ketika manusia mencapai masa kuat dan
memiliki berbagai kelebihan, ia sering lupa akan asal-usulnya. Jabatan
membuatnya merasa penting, kekayaan membuatnya merasa aman, dan kekuasaan
membuatnya merasa seolah dapat menentukan segalanya. Padahal semua itu hanyalah
titipan yang bisa diambil kembali kapan saja oleh Allah.
Sejarah manusia penuh dengan kisah orang-orang yang
pernah merasa sangat kuat, tetapi akhirnya runtuh oleh kelemahan mereka
sendiri. Fir’aun pernah mengaku sebagai tuhan, namun akhirnya tenggelam di
laut. Qarun memiliki kekayaan yang melimpah, namun akhirnya ditelan bumi. Semua
kisah itu menjadi pelajaran bahwa kesombongan hanya akan berakhir pada
kehinaan.
Sesungguhnya manusia tidak pernah benar-benar memiliki
apa pun di dunia ini. Harta yang dikumpulkan dengan susah payah tidak akan ikut
dibawa ketika kematian datang. Rumah yang megah tidak akan menjadi tempat
tinggal abadi. Bahkan tubuh yang selama ini dijaga dengan begitu teliti pun
suatu hari akan kembali menjadi tanah.
Allah berfirman, “Setiap yang bernyawa pasti akan
merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185). Ayat ini menegaskan bahwa kematian
adalah kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun, baik orang kaya
maupun miskin, penguasa maupun rakyat biasa.
Kematian juga menjadi pengingat paling jelas tentang
keterbatasan manusia. Saat lahir, manusia ditolong oleh orang lain; saat
meninggal, ia juga digotong oleh orang lain menuju liang kubur.
Seluruh perjalanan hidup manusia berada di antara dua
keadaan yang sama-sama menunjukkan kelemahan. Ia tidak memilih untuk
dilahirkan, dan ia juga tidak mampu menolak kematian ketika waktunya tiba.
Karena itu, tidak ada yang benar-benar pantas untuk disombongkan dalam hidup di
dunia ini.
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan tentang bahaya kesombongan dengan sangat
tegas. Beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya
terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim). Kesombongan
adalah penyakit hati yang membuat manusia lupa akan hakikat dirinya. Ia merasa
lebih baik, lebih kuat, atau lebih mulia daripada orang lain.
Padahal di hadapan Allah, ukuran kemuliaan bukanlah
kekayaan atau kedudukan, melainkan ketakwaan. Allah berfirman, “Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13).
Ketika seseorang benar-benar memahami kelemahan
dirinya, ia akan lebih mudah bersikap rendah hati. Ia tidak lagi merasa perlu
meninggikan diri di hadapan orang lain. Ia menyadari bahwa segala kelebihan
yang dimilikinya hanyalah amanah dari Allah. Kesadaran ini membuatnya lebih bersyukur
atas nikmat yang ada dan lebih sabar ketika menghadapi ujian. Ia juga lebih
mudah menghargai orang lain, karena ia tahu bahwa setiap manusia memiliki
keterbatasan yang sama.
Kesadaran akan kelemahan manusia seharusnya juga
menumbuhkan rasa ketergantungan yang lebih besar kepada Allah. Dalam doa-doa
yang diajarkan Rasulullah ﷺ, sering
kali kita diajarkan untuk mengakui kelemahan diri di hadapan Allah.
Salah satu doa yang sangat terkenal adalah doa yang
dibaca Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan: “Tidak ada Tuhan selain
Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Anbiya: 87). Doa ini adalah pengakuan seorang hamba bahwa ia tidak
memiliki kekuatan selain dengan pertolongan Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali manusia baru
menyadari kelemahannya ketika menghadapi musibah. Ketika sakit datang, ketika
usaha gagal, atau ketika kehilangan orang yang dicintai, barulah manusia merasakan
betapa rapuhnya dirinya. Pada saat-saat seperti itu, segala kesombongan dunia
runtuh dengan sendirinya. Manusia kembali mengangkat tangan kepada Allah,
memohon pertolongan dengan penuh kerendahan hati.
Namun sesungguhnya, kesadaran ini tidak seharusnya
hanya muncul saat musibah datang. Seorang mukmin yang bijak akan selalu
mengingat kelemahannya bahkan ketika hidupnya sedang berada dalam kelapangan.
Ia tidak tertipu oleh keberhasilan dunia. Ia tahu bahwa semua itu hanyalah
ujian yang bisa berubah kapan saja. Karena itu, ia selalu menjaga hatinya agar
tetap rendah di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ sendiri, meskipun merupakan manusia paling mulia, tetap
menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Beliau hidup sederhana, duduk
bersama orang-orang miskin, dan tidak pernah meninggikan diri. Padahal jika
beliau menghendaki, Allah bisa saja memberikan kekayaan dan kemuliaan dunia
yang besar.
Namun beliau memilih hidup sebagai hamba yang
bersyukur. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya
aku hanyalah seorang hamba. Aku makan sebagaimana seorang hamba makan dan aku
duduk sebagaimana seorang hamba duduk.” (HR. Al-Baihaqi).
Teladan Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada
kekuasaan atau kekayaan, tetapi pada kerendahan hati di hadapan Allah. Orang
yang benar-benar mulia adalah orang yang menyadari bahwa dirinya hanyalah
hamba. Ia tidak membanggakan dirinya, tetapi selalu berusaha memperbaiki amal
dan mendekatkan diri kepada Allah.
Akhirnya, jika kita merenungkan perjalanan hidup
manusia dengan jujur, kita akan menyadari satu kebenaran yang sangat sederhana:
manusia itu lemah. Saat lahir ia ditolong orang lain, saat mati ia digotong
orang lain. Di antara dua keadaan itu, ia hanya menjalani kehidupan yang penuh
keterbatasan. Maka tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan diri.
Yang seharusnya dilakukan manusia adalah menjadikan
kelemahan itu sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah. Ketika seseorang
menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan apa pun tanpa pertolongan
Allah, maka ia akan lebih sering berdoa, lebih banyak bersyukur, dan lebih
rendah hati dalam bergaul dengan sesama. Dari kesadaran inilah lahir kehidupan
yang penuh ketenangan, karena ia tidak lagi menggantungkan harapan kepada
dunia, tetapi kepada Allah semata.
Pada akhirnya, semua manusia akan kembali kepada-Nya.
Segala kekuasaan dunia akan berakhir, semua harta akan ditinggalkan, dan setiap
manusia akan berdiri sendirian di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan
amalnya.
Karena itu, selama masih diberi kesempatan hidup,
marilah kita belajar merendahkan hati, memperbanyak amal saleh, dan mengingat
bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah. Sebab di
hadapan-Nya, manusia hanyalah hamba yang lemah—dan justru dalam kesadaran
itulah letak kemuliaan yang sejati.
REFERENSI
Al-Bukhari, M. I. (2002). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
Beirut: Dār Ibn Kathīr.
Al-Ghazālī, A. H. (2010). Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn.
Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Nawawī, Y. (2005). Riyāḍ al-Ṣāliḥīn. Beirut:
Dār al-Ma‘rifah.
Al-Qur’an. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya.
Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Al-Qurṭubī, M. A. (2006). Al-Jāmi‘ li Aḥkām
al-Qur’ān (Tafsir al-Qurṭubi). Beirut: Muassasah al-Risalah.
Al-Ṭabarī, M. J. (2001). Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl
Āy al-Qur’ān (Tafsir al-Ṭabari). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Ibn Kathīr, I. (2000). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.
Riyadh: Dār Ṭayyibah.
Muslim, M. H. (2006). Ṣaḥīḥ Muslim. Riyadh: Dār
al-Salām.
Qardhawi, Y. (2007). Al-‘Ubūdiyyah fi al-Islām.
Cairo: Maktabah Wahbah.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, No.1296/15/03/26 : 09.43
WIB)

